Bab 4 Gelang Seharga 10 Juta

Hari berikutnya, Risa menjalani kegiatan kantornya dengan hati berbunga-bunga.

Wanita ini bagaikan terbang ke sana ke mari seperti manusia bersayap, sangat penuh tenaga dengan wajah penuh senyum. Ini membuat para rekan kerjanya kembali terheran-heran.

“Dia kenapa lagi, sih? Bukannya kemarin dia sudah seperti mau mati saja?” celutuk seorang wanita di depan meja Vera.

Vera, teman Risa hanya memiringkan kepalanya bingung, menatap Risa yang sibuk mengkopi setumpuk kertas sambil bersenandung riang.

Dari sejak datang ke kantor, temannya itu sudah diberi banyak tugas, dan sama sekali tidak menolak atau mengeluh sedikit pun. Malahan dia bertanya pada yang lain apakah ada yang bisa dibantunya?

Sambil bersandar, sambil melipat tangan di kursinya melihat kelakuan ajaib Risa.

“Apa ini ada hubungannya dengan perjodohan yang disebutkannya itu?”

Vera membayangkan kembali kejadian kemarin.

Dia memang setuju jika Risa menikah cepat, tapi kalau menikah dengan cara yang membuatnya melamun seperti orang bodoh hanya gara-gara putus asa karena cinta, bukankah itu terkesan menyedihkan?

Kening Vera mengencang kuat, berdiri dari kursinya dan bergegas menuju Risa yang dengan tampang sedikit bodoh dan bahagianya sibuk mengganti-ganti kertas di mesin fotokopi.

“Risa, bisa bicara sebentar?”

“Oh! Vera~ Ada apa~ Apa perlu bantuanku juga?” tanyanya dengan wajah berseri-seri, sedikit cengegesan.

Wajah Vera mengerut tak suka.

Temannya ini memang sungguh aneh.

Dengan perasaan bingung, Vera menghentikan kegiatan fotokopi lawan bicaranya itu.

“Sini! Jelasin dulu, ada apa sebenarnya denganmu?”

Risa ditarik ke sudut ruangan dekat jendela yang terbuka.

Senyum Risa tak hentinya lepas dari wajahnya, sudah mirip iklan pasta gigi berjalan!

“Bagaimana? Bukankah kau bertemu dengan calon suamimu itu? Kau yang begini aneh, apa mungkin gara-gara pertemuan itu?”

Risa memiringkan kepalanya, masih tersenyum dalam mabuk cintanya.

“Ehehehe~ aku menang lotere kali ini~,” balasnya dengan nada penuh antusias, lalu memeluk Vera dengan kuat, wajah begitu bahagia.

“Ri-Risa! Kau mau bunuh aku, ya? Sesak tahu!”

Risa melepasnya dan minta maaf dengan kedua bahu dikedikkan, bersiul-siul dengan wajah tak berdosa, kedua tangan berada di belakang punggung. Wanita bersifon biru gelap ini melirikkan matanya menatap langit-langit ruangan.

“Soalnya, aku terlalu senang sampai rasanya seperti mimpi,” lanjutnya dengan senyum yang menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya, mata tersenyum. Sangat silau sampai Vera mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Ya, ampun! Kau begitu senang menang lotere. Apa sekarang kau jadi milyarder alih-alih akan dijodohkan? Ayahmu tahu kau punya hobi main hal buruk begitu? Tidak takut kena semprot darinya? Memang dia akan terima uang kotor itu darimu?” Vera memucat, mengelus-elus dadanya yang tertekan kuat oleh tekanan sang lawan bicara tadi.

Rusuknya mungkin sudah ada yang patah!

Risa menggeleng cepat, dengan mata terpejam khidmat sambil telunjuk kanan bergerak-gerak di depan wajah, dia menjelaskan, “ckckck! Salah besar! Siapa bilang aku ikut lotere beneran?”

“Lalu, apa, dong?”

“Kesialan sepertinya sudah meninggalkanku, Vera~ Kyaaaa~ aku suka sekali dengan calon suamiku ini!” jerit Risa kegirangan kecil, memeluk kembali lawan bicaranya, kemeja putih lengan pendeknya sampai kusut bukan main.

Vera sedikit bingung, tapi begitu Risa melepas pelukannya, dia pun mulai menunjukkan sinar-sinar ketertarikan di kedua bola matanya.

“Benarkah? Kau yakin? Dia, kan, belum kau kenal baik, Risa.”

“Huh! Katanya kemarin ‘lama waktu kenalan’ itu bukan masalah? Kalau bisa merasakan getar-getar cinta, tinggal ke pelaminan, kan?”

Vera kehilangan kata-kata, terlihat gelisah.

Memang benar dia berkata begitu kemarin, tapi bukankah ini terlalu mulus?

Tanpa diketahui oleh Risa sendiri, Vera sudah mendengar julukan untuk temannya ini: Sang Penjaga Jodoh Orang.

Entah siapa yang memberikan julukan itu padanya, tapi semuanya tahu hal ini. Sungguh aneh dia tidak tahu sampai sekarang.

Risa mendapat julukan itu karena semuanya tahu kisah cintanya pasti akan gagal terus, sudah mirip sebuah mini series di TV. Bahkan mereka di kantor suka bertaruh berapa lama hubungan wanita itu akan bertahan. Namun, siapa sangka, tiba-tiba akan menikah?

“Kau yakin, Risa? Dia sepertinya sesuai seleramu, ya? Kau benar-benar bercahaya seperti lampu neon.”

Vera menarik Risa yang masih saja tersenyum-senyum bahagia untuk duduk dengan baik di meja di sana.

Risa hanya mengangguk-angguk penuh kegembiraan di wajahnya.

“Malahan dia benar-benar di atas standarku, loh!”

Dengan cepat Risa mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto Adnan Budiraharja dari hasil chatting mereka berdua semalam sampai keduanya begadang.

Mata Vera langsung mengerjap-ngerjap tak percaya, tercengang luar biasa melihat calon suami Risa, ponsel diraih dengan cepat dan menggulir beberapa foto selfie pria itu.

“Gila! Kau benar-benar menang lotere, Risa!” pekik Vera dengan kedua pipi merona merah.

“Apa kubilang, kan? Hehehe! Semua kesialanku selama bertahun-tahun ini, akhirnya terbayar lunas dengan perjodohan misterius ini!” ujarnya dengan nada pongahnya, mengelus-elus bawah hidungnya dengan gaya yang begitu sombong.

“Jadi, kau sudah serius dengannya?” Vera menggulir percakapan di ponsel Risa, pria itu sepertinya sangat sopan dan baik.

Rasa iri dan cemburu langsung menyentak hati Vera, tapi wajahnya tiba-tiba serius.

“Kau yakin dia tidak menyembunyikan apapun darimu?”

“Hah? Apa maksudmu?”

Risa terbengong dengan mata membulat, terbodoh mendengar pertanyaan aneh itu.

“Risa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku tahu, ehem, kalau aku tak memungkiri ada sedikit iri dan cemburu dengan calon suamimu ini,” ungkapnya pelan, memejamkan mata salah tingkah, lalu menatap tajam pada wanita bersifon biru gelap di depannya, “dia terlalu sempurna, Risa. Bagaimana kalau dia punya hal buruk yang disembunyikannya padamu?”

Risa mengulum bibirnya dengan tampang bodoh terkejut, kedua alisnya naik.

Hal buruk yang disembunyikan? batinnya dengan pikiran yang mendadak kosong.

Kedua tangan Vera langsung meraih kedua bahunya, “Risa! Kau selidiki dulu pria ini! Aku tahu kalau ini adalah perjodohan bisnis, tapi kalau kau sampai jatuh cinta padanya tanpa persiapan dan waspada, kau mungkin akan berakhir sakit hati!”

Risa tertawa lepas.

“Eiii~ kau ini paranoid sekali. Adnan orang yang baik, kok! Hal buruk apa?”

Ponselnya langsung direbut, sedikit menahan kesal.

“Teman tercintamu ini akan segera menikah setelah perjuangan bagai perang dunia kedua, kenapa sekarang malah bersikap begini, sih? Lagipula, aku sudah tanya dia, kok, seperti apa kisah cintanya, dan dia katanya tidak punya waktu mikirin soal cinta. Sibuk kerja terus, dan kami cocok karena memang sudah waktunya menikah. Kau senang, ya, lihat aku jadi perawan tua?”

Sudut bibir Risa berkedut kesal, sebelah kening bergerak-gerak dengan tatapan datar padanya.

Vera menghela napas berat.

“Bukan begitu. Aku hanya berpikir ini terlalu bagus, Ris. Coba, deh, pikir-pikir dulu sebelum benar-benar suka dengannya. Kalau dia ada yang bikin kamu tiba-tiba patah hati setelah menikah, bagaimana?”

Risa terdiam.

Dia juga sebenarnya paham itu, tapi sikap Adnan yang begitu gentle membuat sisi hatinya yang kesepian dengan cepat mudah menerima kehadiran pria itu. Mana tampan lagi!

Semua pria yang sudah pacaran dengannya, jika digabung jadi satu, tidak akan bisa mengalahkan ketampanan Adnan!

“Orang-orang bilang, kekecewaan mendalam datang dari harapan yang mendalam juga. Aku senang kau akhirnya akan menikah, tapi jangan terlalu senang dengan perjodohan yang terkait bisnis, Risa.”

Wajah Vera terlihat sedih dan prihatin.

Risa bungkam selama sesaat, lalu menimpali dengan nada riang menyembunyikan kekecewaan dan kesedihan hatinya mendengar hal logis temannya itu: “Kau ini bisa saja. Hahaha. Jangan cemas. Adnan bukan pria seperti yang lainnya, kok. Aku percaya padanya.”

Vera melengos melihat kebulatan tekad Risa, dan memutar bola mata malas.

Senyum paksa hadir di wajah gelisah Risa menanggapi reaksi itu.

***  

“Kau suka?” tanya Adnan, melihat Risa yang sedang mencoba gelang di dekatnya.

“Kami ambil yang ini,” lanjutnya pada wanita di balik meja kaca sebuah toko perhiasan mewah.

Dengan malu-malu, Risa menoleh pada pria berkemeja biru gelap di dekatnya, “tapi, ini, kan, mahal, Adnan.”

Pria itu tersenyum kecil, mata sangat ramah.

“10 juta rupiah itu sama sekali tidak mahal bagiku.”

DEG!

Risa langsung merasa seolah tertembak jantungnya dengan anak panah cinta melihat senyum pria ini, benar-benar sangat dewasa dan berkelas, juga keramahannya membuatnya memberikan aura pria berbudi luhur yang mengagumkan.

Benar-benar pria idaman!

“Tidak jadi saja. Aku tahu uangmu banyak, tapi kalau ini hilang, kan, gawat,” tolak Risa malu-malu, membuka gelang yang dicobanya dengan perasaan canggung.

“Tolong jangan begitu, Risa. Nanti setelah menikah, aku mungkin akan berikan sesuatu yang lebih dari ini. Jadi, terimalah. Anggap saja hadiah pertemuan dariku karena sudah bersyukur mendapat calon istri yang sangat mengagumkan.”

Adnan menghentikan Risa membuka gelang itu, senyumnya sangat manis dan teduh.

Mengagumkan? Bukankah dia yang mengagumkan? batin Risa terpana, merona kecil dengan pujian itu.

“Um? Kau sedang memikirkan apa?” tanya Adnan, memajukan wajahnya hingga sangat dekat, membuat kedua bola mata Risa membelalak kaget.

“Bu-bukan apa-apa! Ini benar-benar mahal, Adnan!” jelasnya dengan nada tawa canggung, menghindari tatapan menarik sang penjaga toko yang tersenyum-senyum manis padanya.

“Ini untukmu. Tolong jangan tolak. Kumohon,” bisiknya lembut, mendekat pada sang wanita.

Tubuh Risa menegang dengan kedekatan itu.

Tidakkah pria ini sebenarnya sangat agresif? 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status