Bab 9 Kelicikan Seorang Adnan

Risa terdengar tertawa kaku tidak enak hati di seberang sana, jadi hanya bisa bergumam pelan ‘um’.

Merasa Risa mulai menjaga jarak dengannya, Adnan pun mengambil alih: “Ada apa meneleponku pagi-pagi begini?”

Risa mulai panik mendengar pertanyaan itu, menatap hadiah di tangannya, merasa ragu-ragu dan takut menjawab pertanyaan itu.

“Kenapa diam saja?” ledek sang pria dengan tawa rendahnya yang renyah.

“I-itu Adnan... um... apa kau yang memberiku hadiah akhir-akhir ini?”

Dengan mata terpejam kuat, Risa akhirnya memberanikan menanyakan hal memalukan itu.

Kalau bukan dari Adnan, bagaimana dia menjelaskannya?

Kalau bukan dari Adnan, pria itu pasti berpikir dirinya sangat berharap dalam hubungan ini sampai merasa kegeeran, kan?

Tidakkah itu agak memalukan meski mereka sudah mau menikah?

“Hadiah?”

“I-iya. Hadiah. Kemarin ada hadiah buku dan polpen. Um... hari ini ada hadiah mahal, kalung berlian dan cokelat. Juga ada bunga tulip untukku. Itu... dari kamu, kan?”

Risa deg-degan parah.

Kacaulah kalau ini bukan dari Adnan!

Sesaat hening.

“Adnan?” sahut Risa ragu-ragu.

“Oh. Itu. Tentu saja itu dariku. Apa kau suka?”

Hati Risa mengembang dengan cepat, layaknya sebuah dentuman supernova dahsyat di alam semesta. Sekujur tubuhnya gemetar terlalu bahagia.

“A-aku suka! Aku suka! Tapi, kalung itu terlalu mahal. Kenapa kasih hadiah seperti itu, sih?”

“Tidak apa-apa. Bukankah aku sudah bilang aku ingin memanjakan wanitaku?”

DEG

DEG

DEG

Jantung Risa rasanya sudah mau melompat dan kabur, terbayang wajah ramah dan tampan pria itu.

“Te-terima kasih. Kalau begitu aku tutup dulu. Nanti kita bicara lagi. Istirahatlah yang baik.”

“Um. Asslamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Risa mengakhiri percakapan itu dengan dada berdebar kuat, bersandar di dinding dengan wajah terpana tidak percaya. Ponsel dan kotak perhiasan itu dipeluknya di dada.

“Ternyata benar itu dari Adnan...” gumamnya dengan perasaan berbunga-bunga, raut wajahnya termenung dalam penuh keharuan menatap lantai di bawahnya.

Kembali ke penthouse Adnan.

“Apa dia itu calon istrimu?” goda sang wanita di dekat Adnan yang tengah menghisap rokoknya.

“Bukan urusanmu.”

Sang wanita mendengus pelan, “sejak kapan kau begitu romantis? Hadiah? Kau bukan tipe pria semanis itu. Apa dia sudah tahu betapa ganasnya kau ini di atas ranjang? Itu seharusnya hadiah yang lebih cocok darimu.”

Adnan meliriknya tajam dan dingin, tapi diabaikan saja oleh sang wanita, memeluknya lebih erat.

Pikiran Adnan melayang pada ucapan Risa.

Hadiah-hadiah itu bukanlah darinya.

Jelas itu dari orang lain, tapi Adnan tidak mau Risa tahu.

Walaupun dia sempat membelikan wanita itu gelang seharga 10 juta, itu sebenarnya hanyalah sebuah simbolis. Dia bukan membelinya untuk menyenangkan hati calon istri yang tidak diinginkannya itu, melainkan merupakan langkah untuk membeli kepercayaannya secara tidak langsung.

Seperti kata wanita di sebelahnya, dia bukan tipe pria manis atau pun romantis.

Itu bukan gayanya!

Tidak masalah bukan jika dia mengklaimnya sebagai hadiah darinya? Wanita itu juga tampaknya senang dan penuh harap di telepon.

Siapa pria yang suka kepada wanita biasa sepertinya jika bukan dirinya ini?

Dalam hati, Adnan tertawa dingin mengejek.

Palingan itu adalah kerjaan ayahnya yang setengah mati ingin mencarikannya pasangan hidup, jadi mungkin saja tengah mencoba mewakili dirinya untuk membuat hati sang wanita menjadi luluh.

Dengan berpikir begini, Adnan tidak ambil pusing lagi masalah yang sangat membuat Risa kepikiran dan tidak nyaman itu.

Pria ini memiliki kepribadian praktis, jadi tidak mau memikirkan hal-hal berat. Jika bisa mengambil keuntungan dari suatu hal atau seseorang, kenapa tidak?

“Mau satu ronde lagi, tidak?” goda sang wanita, mengelus pelan lengan sang pria, senyumnya nakal dan genit.

Adnan mendengus pelan.

“Boleh juga.”

Risa mungkin sempat membuatnya tersentuh semalam dan ingin menciumnya alih-alih ingin mengerjai dan membuatnya menderita, itu adalah nilai plus untuknya di mata Adnan sejauh ini. Tapi kalau urusan ranjang, itu lain lagi.

Belum ada wanita yang bisa memuaskannya sampai merasa benar-benar kenyang sampai detik ini, bahkan dia menilai Risa juga jauh dari standar itu. Wanita polos itu hanyalah makanan ringan di sela-sela bosannya.

Selimut putih dan empuk itu mulai bergerak kacau dan diiringi suara 2 manusia yang membuat kuping orang-orang menjadi merah mendengarnya.

Di sebuah pesawat jet pribadi, di waktu yang sama.

“Apakah dia senang dengan hadiahnya?” tanya Shouhei sembari membaca laporan di depannya. Wajah dingin dan tampan pria berkemeja hijau cobalt gelap ini terlihat serius.

Sang pria muda yang berdiri di dekatnya berkata dengan pelan.

“Ya, tuan muda. Nona Risa sangat suka hadiahnya. Tapi... ada satu masalah...”

Mata Shouhei melirik pelan ke arah sekertaris pribadinya, Renji Makoto.

“Masalah?”

Renji menelan saliva kuat-kuat.

Mata saling tatap dengan sang bos, keringat dingin menuruni punggungnya. Senyum kaku terpasang di wajah gelisah pria muda ini.

*** 

Hari Sabtu pagi, Risa tersenyum-senyum lebar menjejakkan kakinya memasuki kantor.

Minggu ini rasanya adalah minggu paling membahagiakan baginya sebagai seorang wanita.

Sungguh bahagianya Risa saat ini!

Kabar soal pacar kayanya dengan hadiah elitnya sudah menyebar ke seluruh kantor!

Yah, walau sebenarnya mereka belum ada hubungan apa-apa, sih, selain status mereka masing-masing masih calon suami-istri yang belum resmi.

Tidak seperti kasus Vera sebelumnya, kali ini benar-benar membuat mereka satu kantor mulai bergosip ria tentangnya ketimbang bos misterius mereka.

Itu tidak lain karena kalung berlian yang menjadi sorotan semua mata.

Harganya selangit, bahkan orang yang maniak perhiasan di kantor itu sempat memeriksanya dan menilai itu adalah berlian asli dengan kualitas tinggi!

Ketika Vera mendapat pertanyaan bak selebriti bertemu wartawan dari orang-orang di sana, akhirnya terkuak sandirawanya beberapa hari lalu. Tambah kagumlah mereka semua dan mulai merasa iri dengan nasib baik Risa.

“Lihat! Ratu kita sudah tiba rupanya!” sindir seorang karyawan wanita bertubuh gemuk, dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya sepertinya sengaja ingin menjilat kepada Risa.

“Eitss! Bu Sari! Jangan dekat-dekat! Tidak boleh secepat itu!” seru Vera penuh semangat, meraih tubuh Risa yang baru saja ingin duduk di kursi. Tangan wanita berambut pendek sebahu ini mengarah kepada wanita tadi seolah hendak menghentikan mobil di tengah jalan.

“Memang kenapa? Semua orang mau dekat-dekat dengan Risa, kan? Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengannya?” rajuknya dengan nada manja menyebalkan.

Penampilan wanita baru ini sedikit nyentrik dengan kacamata merah lancip dan rambut hitam keriting sebahunya. Ada sebuah tahi lalat di sudut bibir kirinya, membuat kesan dirinya jadi lebih menyebalkan dengan pakaian yang selalu bermotif polkadot.

Wanita polkadot ini adalah wanita yang sudah memeriksa keaslian kalung berlian milik Risa, dan juga wanita yang berada di bidang khusus iklan bagi barang-barang merek ternama.

Dengan angkuh dan bangganya, Vera menggosok bawah hidungnya dan berkata tegas, “dia ini adalah harta karun perusahaan kita! Harus dijaga baik-baik! Aku dengar, calon suaminya adalah pria dari kalangan kelas atas. Bukan begitu, Risa?”

“Ve-vera! Kamu gosip apa, sih, dengan mereka?” keluhnya tidak enak hati, melepas tangan lawan bicaranya, duduk dengan gelisah di kursinya, pura-pura mulai sibuk dengan wajah malu-malu.

Beberapa orang tidak berani mendekat, karena Bu Sari ini terkenal cukup galak dan benar-benar sangat kepo. Apalagi saat sudah tahu kualitas kalung yang diberikan kepada Risa, dia dalam hati sudah tahu kalau itu tidak bisa dibeli sembarangan oleh kalangan biasa. Jadi, tidak perlu Vera jelaskan, dia sudah tahu orang macam apa yang memberikan hadiah istimewa itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status