Share

Bukan Aku

Sebenarnya setelah pulang dari rumah Pak Andre, Nenek berencana untuk mampir sebentar kerumah Bu Ningsih, akan tetapi Nenek memutuskan untuk lain waktu saja karena ada Dinda yang menunggu kami dirumah.

“Mas Adit, tadi ada orang yang nyariin mas terus dia menitipkan sesuatu untuk mas” jelas Toni padaku

“Siapa yang nyariin Mas, dek? Terus dia nitip sesuatu apa dek?” tanyaku bingung

Kemudian Toni menyodorkan sebuah kotak kecil yang tampak asing bagiku, benar-benar kecil sehingga aku penasaran untuk membuka dan melihat isi dari kotak tersebut. Kutemukan secarik kertas dan kubaca perlahan dalam hati.

‘Kenapa surat yang kemarin tidak kamu baca sampai selesai, Dit.’ Aku benar-benar langsung bingung sekaligus merinding setelah membaca apa yang tertulis dari surat itu.

Aku pun berlari menuju kamar untuk mencari surat misterius kemarin. Aku mencari disisi manapun surat itu di kamarku tapi aku tidak dapat menemukannya, yang aku ingat setelah membaca surat itu adalah aku meletakkan surat terebut diatas laci atau lemari tapi aku benar-benar tidak dapat menemukannya. Kucari-cari disetiap sudut di kamar pun tak kutemukan, aku berlari keluar kamar untuk bertanya pada Nenek, Toni dan Fika,

“Nek, Nenek kemarin masuk kamar Adit ngga?” tanyaku pada Nenek

“Engga, Dit.” Jawab Nenek menggelengkan kepala

Aku pun berlari ke Toni dan Fika yang baru saja pulang sekolah.

“Toni sama Fika masuk ke kamar Mas ngga? Kemaren atau hari ini,” tanyaku pada mereka.

“Toni ga masuk kamar Mas Adit kok.” Jawab Toni dengan menggelengkan kepala.

“Fika terakhir kali masuk kamar Mas Adit itu kemarin waktu ngasih paket, habis itu Fika gak masuk kamar Mas Adit lagi.” jawab fika kebingungan karena khawatir melihat tingkahku.

Mereka semua tidak ada yang memasuki kamarku, tapi kenapa surat misterius itu hilang dengan sendirinya? Aku bertanya kembali pada mereka yang masih tampak bingung

“Kalo kalian lihat ngga ada seorang yang masuk kamar Mas Adit?” mereka semua spontan menggelengkan kepala. Aku benar-benar bingung bagaimana bisa surat itu hilang dengan sendirinya? Masa iya terbang terbawa angin? Kan mustahil, lagian kondisi kamarku tertutup tanpa fentilasi.

Aku sangat bingung sekaligus penasaran kenapa aku mendapat surat yang aneh belakangan ini.

“Lho emang ada apa, Dit? Ada yang hilang?” tanya Nenek penasaran yang melihat tingkahku

“Ah bukan apa-apa, Nek.” Jawabku singkat

“Jangan seperti itu, kalo ada sesuatu yang hilang kan kamu bisa ngomong sama kita. Barangkali kita lihat diluar kamar kamu.” ucap Nenek dengan tenang

“Ah itu Nek, paling biasa lupa naruh nanti tak cari lagi pasti keselip disuatu tempat, hehee.” Jawabku sambil cengengesan, sebisa mungkin jangan sampai mereka tahu apa yang sedang kucari, karena isi dari surat tersebut berkaitan dengan hubunganku dan Putri.

Sejujurnya aku merasa adanya penyesalan kenapa aku tidak membaca semua isi dari surat misterius itu, apakah hanya berkaitan dengan diriku atau juga bahkan dengan keluargaku.

“Tadi ada apa, Dit?” tanya Dinda yang membuatku tersadar dari lamunan

“Eh, Din, ngga ada apa-apa kok.” Jawabku sambil tersenyum, memastikan untuk tidak ada yang mencurigaiku.

“Sriusan ngga ada apa-apa? Aku tahu kamu bohong, Dit.” Jawab Dinda dengan mata yang meruncing seperti Elang yang hendak menerkam mangsanya.

“Ih sriusan ngga ada apa-apa, tadi ada barangku yang hilang eh ngga hilang palingan keselip dimana gitu.”

“Hmm yaudah semoga cepet ketemu.” Kata Dinda dengan ekspresi sedikit kecewa.

 Setelah itu Dinda berbincang dengan Nenek diruang tamu, kulihat dari tirai tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius tapi aku tidak berani menguping pembicaraan mereka.

Selang 1 jam setelah Nenek dan Dinda mengobrol, akhirnya Dinda pun meminta izin untuk pulang.

“Lho ko buru-buru Din? Ngga mau nginep disini aja.” Tawarku pada Dinda

“Lain kali ajalah, Dit. Lagian aku udah lama juga disini sama Toni juga yaa.” Jawab Dinda sembari tersenyum pada Toni

“Nanti kapan-kapan mampir lagi ya Din.” Ucapku sembari tersenyum

“Iya Mba, nanti main bareng sama Toni lagi ya.” Pinta Toni pada Dinda

“Hehe, iya Ton, nanti lain kali Mba mampir lagi kesini ko.” Jawab Dinda sembari mengelus kepala Toni

“Nek, aku pulang dulu ya. Assalamualaikum.” Ucap Dinda sembari berpamitan dengan Nenek.

“Waalaikumsalam, hati-hati dijalan yaa.” Jawabku disusul dengan lambaian tangan Toni dan Fika.

Setelah itu aku bersiap untuk mandi dan beristirahat dikamar sejenak. Aku masih memikirkan isi surat misterius yang belum selesai aku baca dan yang menjadi pertanyaan terbesarku  adalah kenapa surat itu tiba-tiba hilang begitu saja, dan apasih isi dari surat yang tebalnya beberapa halaman itu. Aku benar-benar semakin tambah bingung dan penasaran.

Tutt tutt tutt

Tiba-tiba ponselku berbunyi, sepertinya ada telfon masuk, aku pun segera mengambilnya dari kantong celanaku, benar saja ada telfon dari Doni.

Aku mengangkat telfon itu dan berkata “Iya Don, ada apa?”

“Besok setelah pulang kerja ada waktu ngga?” tanya Doni 

“Besok aku ngga ada acara ko, emang kenapa Don?” tanyaku pada Doni

“Bisa nemenin aku ngga besok?” ucap Doni

“Nemenin kemana?” tanyaku lagi

“Pergi ketemu sama temen SMP dulu.” Jawab Doni singkat

“Oh yaudah, bisa.” Jawabku singkat

“Oke, thank you. Good night Dit. Hehe.” Jawab Doni dengan nada mengejek

“Alay banget sih.” Jawabku sambil menutup telfon.

Aku pun melanjutkan untuk tidur untuk bersiap kerja besok.

Pagi telah menyambutku kembali, seperti biasa aku berangkat kerja setelah mengantar Toni kesekolah.

Sesampainya di tempat kerja aku langsung bersiap untuk membereskan bagian-bagian yang ada di etalase sebelum Toserba ini dibuka. Tugasku sebelum Toserba ini dibuka adalah memilah dan menata kembali dengan rapih barang-barang yang terlihat berantakan, terkadang banyak konsumen yang salah meletakkan barang yang tidak jadi diambil.

Tiba-tiba Doni menghampiriku dan berkata “Dit, hari ini Galang izin ga masuk kerja, kamu bisa bantuin aku ngga?” pinta Doni padaku

“Hari ini adalah jadwal aku sama Galang untuk membersihkan gudang disebelah kanan.” Lanjut Doni

“Oh yaudah, tapi nanti ya aku beresin yang disini dulu.” Jawabku

“Oke, thank you, Dit.” Ucap Doni sembari meninggalkanku

Setelah merapikan etalase aku menuju gudang yang disebelah kanan, tempat penyimpanan barang-barang. Aku dan Doni membersihkan dan menata gudang itu sekitar lebih dari 1 jam lamanya. “Capek banget ya, Dit” ucap Doni sembari mengelap keringat

“Iyalah, kerja ya capek. Kalo gamau capek ya pulang terus tidur.” Jawabku meledek Doni.

Kami pun bergegas lagi untuk segera ketempat dimana kami ditugaskan, sayangnya aku dan Doni ditugaskan ditempat yang bereda. Aku dilantai satu tempat makanan dan perlengkapan rumah tangga sedangkan Doni ditugaskan dilantai dua tempat pakaian dan aksesoris.

Tak terasa sudah waktunya pulang, aku dan Doni pun bergegas dan bersiap untuk bertemu dengan teman SMP Doni, kami janjian bertemu di Café yang berada di sekitar Simpang Lima.

“Mau ketemu siapa sih, Don?” tanyaku ditengah perjalanan menuju Café tersebut

“Temen SMP dulu,” jawab Doni singkat

“Iya tau temen SMP, cewek apa cowok?” tanyaku penasaran

“Cewek” jawab Doni singkat

“Jangan-jangan cinta pertamamu dulu yaa” tanyaku meledek Doni

“Bukanlah, bukan Rachel.” Jawab Doni dengan nada datar

“Lah terus siapa dong?” tanyaku kembali

“Jangan banyak tanya ya, Bu Adit.” Kata Doni sambil tertawa

“Hahaa sejak kapan gue punya anak kaya lu Maemunah.” Jawabku dengan tertawa

 “Eh mantap. Bang Adit pake bahasa lu gue sekarang.” Sahut Toni

“Hahah biar keliatan gaul dikitlah.” Jawabku sambil tertawa

Setelah sekitar 15 menit dari tampat kerja aku dan Doni sampai di Café yang dimaksud, sebenarnya kita datang lebih awal dari yang sudah dijanjikan karena kita juga belum makan siang, jadi menurutku sekalian saja makan siang disini sembari menunggu teman Doni datang.

Kulihat sekeliling Café ini bernuasa klasik dan modern yang dipadukan dengan menarik, tempatnya pun cukup nyaman untuk sekedar mengobrol atau nongkrong bersama teman, disamping dari bangunan ini terdapat lukisan Jawa yang begitu estetik, lukisan tersebut menggmbarkan suasana perkampungan yang tertulis sekitar tahun 1950an menggambarkan aktifitas masyarakat dulu sebelum adanya alat elektronik seperti sekarang.

Tak lama makanan yang kami pesan pun datang.

“Bagus yah Cafenya.” Ucap Doni sembari meminum minuman yang dia pesan

“Iya Don, klasik modern tapi gak membosankan.” Sahutku

“Nanti kapan-kapan kesini lagi ah.” Kata Doni

“Ngapain kesini sendirian? Dikira jomblo akut ntar haha.” ledekku pada Doni

“Yee siapa bilang sendirian, ya sama seseoranglah.” jawab Doni sambil melirikku

“Ehem mau ngajak Rachel yaa?” tanyaku sambl menyodorkan kentang goreng ke Doni

“Siapa juga yang mau ngajak dia, ngajak sodara juga bisa.” jawab Doni

“Sodara apa sodara nih.” Ledekku kembali

“Sodaralah masa ngajak kamu lagi, bosen kali haha.”

“Iya-iya sodara, sodara seanak adam yakan haha.”

Diselang obrolan kami, tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampiri kami

“Doni, apa kabar?” sapa gadis tersebut sembari tersenyum dengan ramah pada kami. Gadis tersebut terlihat sangat menawan dengan dress berwarna biru yang ia kenakan.

 “Eh Icha, apa kabar Cha?” sahut Doni setelah melihat gadis nan cantik itu

“Aku baik ko, kamu dari tadi ya disini?” jawab gadis itu dengan nada yang lemah lembut

“Engga ko, aku sengaja buat kesini dulu lebih awal. Oiya silahkan duduk Cha.” Ucap Doni sembari mempersilahkan gadis itu duduk didekat kami.

“Lama ga ketemu kamu jadi tambah ganteng aja.” Ucap gadis tersebut kepada Doni

“Biasa aja, yang ada kamu Cha yang jadi tambah cantik sekarang” goda Doni pada gadis cantik ini

“Engga ko, aku masih biasa aja hehe.”

“Cha, kenalin ini Adit. Dit, kenalin ini Icha.” Kata Doni sambil memperkenalkan kami berdua

“Hai, aku Icha teman Doni waktu SMP dulu.” Ucap gadis ini sembari menyodorkan tangannya padaku

“Oh hai, aku Adit teman kerjanya Doni.” Jawabku sembari menjabat tangan gadis nan cantik ini.

Setelah perbincangan yang ringan tentang perkenalan kami bertiga, tiba-tiba

Tutt tutt tutt ponselku berbunyi. Kulihat ada nomor asing yang menelfon, aku pun langsung mengangkat telfon tersebut dan langsung terdengar suara

“Halo selamat siang, apakah ini dengan saudara Adit?” tanya seseorang diujung telfon ini

“Iya benar.” Jawabku

“Iya saudara Adit, kami dari perusahaan asuransi ingin menyampaikan kepada saudara mengenai...” 

“Maaf mba, saya tidak mendaftarkan diri di asuransi manapun. Sepertinya mba salah orang deh.” Jawabku memotong pembicaraan perempuan yang ada diseberang telfonku

“Mohon maaf ini dengan saudara Adit Prayitno?” tanya perempuan tersebut

“Maaf mba, bukan saya. Sepertinya mba salah nomor deh.” Jawabku

“Oh iya, kami mohon maaf untuk saudara Adit mengenai kesalahan kami.” Jawab perempuan itu

“Iya mba gapapa.” Jawabku singkat

“Siapa Dit?” tanya Doni padaku

“Salah nomor ini, dari perusahaan asuransi deh kayaknya.” Jawabku

“Oh salah nomor ternyata.” Ucap Doni

“Iya, btw aku mau ke kamar mandi dulu yaa.” Ucapku pada mereka

“Oiya silahkan.” Jawab Icha dengan ramah

Aku melangkah pergi menuju kamar mandi yang entah berada disebelah mana. Aku mencari kasana kemari namun tidak dapat aku temukan dimana kamar mandinya, aku pun memutuskan untuk bertanya pada pegawai yang sedang membersihkan makanan di meja makan pengunjung.

“Permisi kak, mau tanya kamar mandi disebelah mana ya?” tanyaku padanya.

“Disana kak, nanti kakak lurus aja, ada kaya sebuah gang kecil masuk aja nanti disitu ada kamar mandi khusus cowok.” Jawab karyawan tersebut sembari menunjukkan jarinya kearah yang dimaksud.

“Baik kak, terima kasih banyak ya.”

“Baik kak, sama-sama.” Jawabnya dengan penuh keramahan.

Aku pun dengan segera melangkahkan kaki kamar mandi tersebut, setelah selesai dari kamar mandi aku langsung kembali ke meja tempat Doni dan Icha mengobrol.

“Eh Dit, itu tadi Dinda telfon, tapi ga aku angkat. Barangkali nanti risih dia.” Kata Doni yang memberitahuku

“Dinda telfon? Ada apa ya” jawabku pada Doni

“Engga tau, coba telfon balik, siapa tau penting.” Saran Doni

“Iya Dit, barangkali penting.” Ucap Icha

Aku langsung menelfon Dinda balik

“Halo Dit, kamu dimana?” kata Dinda diseberang telfon

“Aku lagi di Simpang Lima Din, ada apa ya?” tanyaku

“Bisa pulang sekarang ngga?” 

“Emang ada apa?” tanyaku penasaran

“Udah pulang sekarang. Penting banget soalnya.” Jawab Dinda diseberang telfon

“Oke-oke aku pulang sekarang.” Jawabku

Melihat aku yang tampak serius Doni bertanya padaku

“Kenapa Dit? Ada apa?” tanyanya penasaran

“Gatau Don, aku cuman ditelfon suruh pulang gatau ada apa.” Jawabku dengan bingung

“Yaudah sana pulang, kayaknya penting deh.” Jawab Doni padaku

“Oh kamu pulang sekalian aja Don, aku juga udah mau pulang kok.” Sahut Icha pada kami

“Kalian pulang bareng aja.” Tambahnya

“Aduh aku gak enak nih, maaf banget yaa” kataku pada mereka berdua

“Iya gapapa, nanti lain waktu juga kita bisa ngobrol lagi ko.” Sahut Doni padaku sambil bergegas pulang.

Kami bertiga memutuskan untuk pulang dari Café tersebut.

Ditengah perjalanan Doni membawa motornya dengan kencang, mungkin Doni tau kalau aku sedang dalam buru-buru jadi menambah kecepatan motornya.

Sekitar 10 menit perjalanan dengan kecepatan 70km/ jam aku pun sampai dirumah dengan diantarkan oleh Doni.

Betapa terkejutnya aku mengetahui apa yang aku lihat dari dalam rumahku.

Related chapters

DMCA.com Protection Status