Share

Benarkah Hanya Kebetulan?

Aku berlari mendekati tempat dimana kecelakaan itu terjadi, terlihat seorang perempuan pengendara mobil itu tidaklah asing, seorang perempuan yang cantik dan menawan itu adalah perempuan yang pernah kutemui di halte saat hujan lebat waktu itu, kulihat raut wajahnya yang menahan kesakitan, dari jauh ku berdiri, tanpa sadar langkah kaki ini semakin penasaran dan mendekati perempuan tersebut kutatap matanya dengan tenang berharap semoga dia segera melihatku. Saat perempuan itu menoleh dia juga menatapku lama sekali, seolah dia memberitahuku sesuatu lewat tatapannya.

“Bagaimana kalo kita segera panggil ambulan?” ucap salah seorang warga

“Iya benar, takut nanti tambah parah ini.” Sahut warga yang lain

Semua orang semakin ramai dan bergerombol untuk melihat kecelakaan ini. Tiba tiba terdengar suara

Wiuung wiuuung

Tak lama kemudian mobil ambulan datang untuk membawa perempuan itu dan korban yang terluka parah. Meskipun ambulan sudah sampai perempuan itu masih menatapku dengan sorot mata yang sayu dan penuh kekhawatiran, aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengenalnya atau tidak. Namun dari tatapannya seolah dia menceritakan semua padaku apa yang dia rasakan saat ini.

Mobil ambulan pun membawa mereka berdua, akan tetapi mataku tak bisa lepas dari melihat ambulan yang membawa perempuan itu pergi.

Aku mencoba bertanya pada salah seorang warga “Pak, itu tadi yang kecelakaan siapa ya?” tanyaku pada Bapak berbaju biru disebelahku.

“Oh itu tadi yang pake motor namanya Bu Mirah, dia seorang pedagang daerah sini.” Jelas si Bapak ini

“Kalo yang satunya pak? Yang pake mobil itu siapa ya?” tanyaku kembali

“Wah kalo yang itu saya gak tahu mas.” Jawab Bapak tersebut sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh iya, pak. Terima kasih.” Ucapku setelah menanyai siapakah perempuan itu.

Aku rasa untuk jalan-jalannya cukup, aku putuskan untuk kembali lagi kerumah.

Sesampainya dirumah kurebahkan tubuh ini diatar kasur yang empuk, aku masih bertanya-tanya mengenai siapakah perempuan yang pernah kutemui itu, apakah aku dulu pernah mengenalnya ataukah dia yang mengenalku.

Dari lamunan tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu

Tok tok tok “Assalamu’alaikum” ucap seorang dibalik pintu

“Wa’alaikumsalam” jawabku sembari membukakan pintu

“Iya Pak, ada apa?” tanyaku pada seorang yang paruh baya ini

“Dengan mas Adit, benar?” tanya seorang lelaki paruh baya ini padaku

“Iya Pak benar, ada apa ya?” tanyaku kembali

“Oh ini mas, ada paket atas nama Mas Adit.” Jawab lelaki tersebut yang ternyata adalah seorang kurir.

“Dari siapa ya Pak paketnya?” tanyaku penasaran

“Ini masnya bisa baca sendiri.” Ucap pak kurir ini sembari menunjukkan paketnya

Ku lihat dengan seksama dari paket ini hanya tertulis inisial huruf M.

“Pak maaf, ini ko namanya cuman satu huruf doing yah?” tanyaku

“Apa ga kelunturan ini pak namanya?” lanjutku

“Wah saya kurang tahu mas, mungkin bisa jadi juga kelunturan nama pengirimnya” jelas bapak kurir

“Yaudah Pak, terima kasih ya” ucapku sambil tersenyum 

“Iya Mas, sama-sama.”

Aku penasaran kenapa akhir-akhir ini aku sering menerima paket ya, dan aku benar-benar tidak pernah belanja online, isi paketnya pun terkadang hanya secarik surat “Mana aku tak tahu siapa pengirimnya pula” Gumamku dalam hati.

Aku pun masuk kedalam kamar dan menguncinya rapat-rapat, setelah itu kubuka perlahan bungkusan kotak kecil ini dengan hati-hati.

Benar saja apa yang ku duga sebelumnya. Ternyata isi dari paket ini adalah secarik surat lagi.

“Hai Adit, apa kabar? Semoga kamu kuat dan baik-baik saja ya setelah kejadian kemarin.

Oh iya mengenai surat yang belum selesai kamu baca, sebenarnya tidaklah hilang. Aku mengambilnya kembali, maaf tanpa izin terlebih dahulu padamu.

Kamu pasti bertanya-tanya siapa aku kan? Sudah jangan khawatir, aku orang baik ko. Aku tahu semua apa yang terjadi padamu eitss tapi aku bukan peramal ya.

Oh iya, tentang gadis yang kamu temui tadi saat kecelakaan, dia bukanlah orang asing bagimu”

Hanya sedikit kata yang tertulis dari surat yang kuterima ini, tidak sepeti dulu saat pertama kali aku menerima surat misterius ini, sekitar beberapa halaman waktu itu.

Sekali lagi aku benar-benar merinding, siapakah dia sang pengirim surat? Apakah dia ada kaitannya denganku atau hanya seorang yang iseng yang sengaja menduga-duga semua apa yang pernah kualami. Dan siapah huruf M sang pengirim surat ini? Aku terus bertanya-tanya mengenai surat yang datang padaku ini.

Tunggu disini tertulis kalau dialah yang mengambil surat misterius itu, lantas siapakah dia? Kenapa dia bisa memasuki kamarku tanpa seorang pun dirumah ini yang tahu.

“Dit, sudah makan belum?” tanya Nenek didepan pintu kamarku

“Iya Nek, nanti Adit mau tidur dulu. Capek soalnya.” Sahutku

 “Yaudah, tapi nanti jangan lupa makan ya.” Saran Nenek dari depan pintu kamar.

Aku pun mencoba untuk memejamkan mata namun tetap saja tidak bisa, mungkin karena terlalu banyak yang aku fikiran.

Kemudian kualihkan dengan mendengarkan musik yang ada didaftar HP ku

Saat kau pergi…

Berlinanglah air mataku

Betapa singkat kurasakan kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah o..

Tak pernah ku inginkan

Perpisahan ini terjadi

Ya ampun, kenapa harus lagu mellow seperti ini sih yang ada di HP ku, bukannya tambah semangat tambah galau mah iya.

Aku mencoba untuk menutup mataku kembali, berharap semua ini akan berlalu begitu saja.

“Mas Adit, lagi tidur ya?” tanya Toni diujung pintu kamarku

“Engga, Ton. Ada apa?” tanyaku

“Mas, kata Nenek Mas Adit belum makan ya? Ayo makan bareng sama Toni” tawar Toni padaku

“Iya dek, bentar lagi, Mas juga belum lapar” jawabku

“Sekarang aja Mas, Toni juga udah laper banget.” Bujuk Toni

Aku menghela nafas panjang, aku tidak ingin membuat Adik yang paling aku sayangi juga merasakan apa yang ku rasakan sekarang.

“Makan apa, Dek?” tanyaku pada Toni sembari membuka pintu kamar

“Makan apa aja Mas, hehe” jawab Toni dengan tersenyum.

Bagaimana mungkin aku tega merubah senyum manis anak ini menjadi air mata dan kesedihan karena diriku, aku memang harus selalu terlihat baik-baik saja didepannya.

Aku pun meraih tangan kecil ini dan membawanya ke ruang makan.

Kulihat diatas meja hanyalah nasi, tempe, sayur dan sambal. Terlihat sederhana memang tapi inilah yang biasa ku makan setiap hari bersama keluargaku.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar

Tokk tokk tokk

“Dit, udah makan belum?” disusul dengan suara yang tidaklah asing bagiku

Benar saja setelah kubuka pintunya ada Doni yang baru saja pulang kerja

“Udah makan belum? Nih aku bawain pecel lele kesukaan kamu.” Ucapnya dengan menunjukkanku makanan yang ia bawa.

“Eh ada Toni, udah makan belum? Ini mas Doni bawa pecel lele loh buat kamu” ucap Doni dengan ramah pada Toni

“Toni baru saja mau makan sama Mas Adit, ayo Mas Adit kita makan bareng sama Mas Doni” sambut Toni dengan gembira.

Setelah Doni membawakan makanan, aku beserta Nenek, Toni dan Fika pun makan bersama. Disela-sela kita makan Fika berkata “Mas Doni sebenarnya udah punya pacar belum si?”

Sontak pertanyaan Fika membuat kami tertawa, “Haha Fika pengen tau ya pacar Mas Doni?” jawab Doni dengan menahan tawanya

“Engga juga sih, maksudnya emang Mas Doni pacarnya orang mana?” tanya Fika penasaran

“Pacar Mas tuh jauh Fik, lagi di Korea dia” jawab Doni dengan nada yang penuh keyakinan

“Wah korea yah Mas?” tanya Fika antusias

“Iya Fik, dia kerja jadi penyanyi. Namanya Lisa” jawab Doni berusaha meyakinkan Fika

“Hah? Pacar Mas Doni jadi penyanyi disana?” ucap Fika terkejut

“Mana ada orang Korea yang mau sama remahan nasi uduk” celetukku pada mereka

“Penyanyi Korea namanya Lisa itu ya personil Blackpink. Nah Blackpink ini adalah girlgroup yang udah mendunia dari Korea. Masa kamu ga tau Blackpink si, Fik?” jelasku pada Fika yang nampaknya percaya terhadap ucapan Doni

“Fika gatau Mas, hehe” jawab Fika sembari tertawa

“Haha pantesan Fika percaya aja kalo pacar Mas Doni kerja disana” sahut Doni dengan tertawa lagi, dan kami pun melanjutkan makan siang kami diselingi canda gurau dengan Doni.

Sebenarnya aku haruslah sangat bersyukur dikelilingi orang yang sayang padaku. Dan memang sudah seharusnya aku bangkit dari kesedihan yang menenggelamkanku.

Related chapters

DMCA.com Protection Status