My Mine (Indonesia)
My Mine (Indonesia)
Author: Sixthly
Awal

Bali, Mei 2006

Nadhara sedang melihat pantulan dirinya di cermin, dia memakai gaun selutut berwarna merah. Malam ini, dia akan pergi makan malam dengan kekasihnya untuk merayakan hari jadian mereka. Wajahnya tampak sangat cantik dihiasi dengan riasan tipis, Nadhara juga menggerai rambutnya, rambut lurusnya terurai cantik di punggung menambah kecantikan Nadahra malam ini.

Hari ini, Nadhara sengaja seharian di rumah untuk berdandan dan ia juga sudah membeli gaun khusus yang akan di pakainya untuk menemui Althaf. Nadhara kembali melihat penampilannya di cermin, penampilannya malam ini sedikit lebih feminim dan lebih elegan. Dia sengaja memakai gaun yang sederhara agar tidak terlihat tua dari umurnya

Tidak lama kemudian, Nadhara mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Nadhara langsung pamit kepada kedua orangtuanya dan menghampiri kekasihnya itu dengan senyum mengembang

Malam ini, Althaf tampak sangat tampan dengan kemeja berwarna berwarna cokelat muda yang lengannya di gulung setengah. Pria itu tampak terlihat sangat tampan dan membuat Nadhara tidak bisa mengalihkan tatapannya.

Nadhara masuk ke dalam mobil lalu tersenyum kepada kedua orang tuanya. Di dalam perjalanan Nadhara terus melihat Althaf terus saja meliriknya. Ia menatap ke bawah dan merasa jika penampilannya baik-baik saja.

“Al, kenapa diliatin terus? Aku nggak cocok pakai gaun, ya?”

Althaf langsung menoleh ke arah Nadhara lalu menggeleng pelan. “Nggak, malah cantik banget. Aku nggak nyesal jadiin kamu pacar?”

Nadhara langsung tertawa pelan. “Astaga, kamu gombal banget sih. Tapi, syukurlah. Aku nggak malu-maluin makan di samping kamu yang gantengnya kebangetan.” Ucap Nadhara sembari tersenyu senang.

“Iya, nggak usah khawatir atau pikir yang aneh-aneh. Kamu cantik.” Ucap Althaf sembari tersenyum dan memacu kecepatan mobil menuju tempat acara.

“Terimakasih, kamu tuh pinter banget buat aku senang.” ucap Nadhara sembari berekspresi imut di depan Althaf.

Althaf tersenyum, “Memang kamu cantik, nggak usah di tanya lagi. Itu salah satu yang buat aku naksir kamu.”

Nadhara langsung tersenyum bahagia dan mencium pipi Althaf cepat, membuat pria itu menggelengkan kepalanya pelan. “Ck, udah deh jangan mulai. Nanti aku meleleh di mobil kamu”

Althaf tertawa lebar, “Memangnya kamu cokelat? Tapi, ciumannya segitu aja?”

Bersamaan dengan pertanyaa Althaf itu, mereka telah tiba di parkiran restoran, “Harusnya kayak gini.” Althaf meraih tengkuk Nadhara lalu mencium bibir gadis itu pelan dan melumatnya lembut hingga membuat napas keduanya memburu.

Althaf melepas ciuman mereka setelah terdengar bunyi kelakson dari arah belakang mobilnya. Nadhara langsung memukul bahu Althaf, ia menengok ke kanan dan ke kiri dan hanya melihat sebuah mobil yang melaju tepat di samping mereka.

“Ih, nanti dandanan aku sia-sia..” protes Nadhara lalu menggembungkan pipinya.

Al tersenyum, “Kan bisa di rapihkan lagi. Aku suka, lipbalm kamu, manis.”

“Iya, kemarin aku beli yang rasa apel.” Ucap Nadhara sembari memoleskan lipbalm ke bibirnya lagi.

Nadhara mengigit bibirnya pelan, dia sudah sangat sering berciuman dengan Althaf. Pria itu lah pacar pertamanya, Althaf juga yang mengambil ciuman pertamanya, Nadhara sangat bahagia bisa merasakan semua hal pertama itu dengan Althaf karena pria itu memperlakukannya dengan baik.

Althaf merupakan seorang anak kedokteran yang sekarang sudah hampir menyelesaikan pendidikan koasnya. Sementara, Nadhara baru saja naik ke kelas dua SMA. Mereka kenal sejak kecil dan itu membuat keduanya akrab dan merupakan suatu keajaiban mereka berdua bisa menjadi sepasang kekasih seperti sekarang.

Mereka lalu membahas hal lain hingga sampai di dalam restoran. Nadhara sangat takut jika pria itu akan dijodohkan dengan wanita lain. Mengingat perjodohan sangat ramai terjadi di mana-mana.

Rata-rata di keluarga Althaf sudah mengenalinya sebagai kekasih pria itu. Walaupun memang mereka sering di bicarakan karena perbedaan umur yang terlalu jauh. Tetapi, keduanya memutuskan untuk tidak menanggapi hal itu.

Mereka makan malam dengan romantis diiringi lagu indah yang dilantunkan oleh piano.

Ketika dalam perjalanan pulang, Althaf terus menggenggam tangan Nadhara. “Keringetan Al, lepas dulu ya.” Ucap Nadhara ketika mereka hampir sampai dekat lift.

Althaf menolak, dia terus menggenggam tangan kekasihnya. Dia bahkan mengarahkan lift itu langsung ke tempat parkir. “Mau pegangan terus.”

Nadhara berdecak, “Kamu kenapa sih? Dari pas pulang aneh banget.”

Althaf menggeleng, “Nggak apa-apa, lalu jari telunjuknya menekan tombol berhenti dan seketika lift yang mereka naiki langsung berhenti bergerak.”

“Eh, kenapa? Kok tiba-tiba berhenti? Kamu nggak apa-apa?” tanya Nahdara panik.

Lift itu sepi, hanya mereka berdua yang berada di dalamnya. Nadhara sangat panik karena takut terjadi apa-apa dengan mereka. Nadhara memeriksa ponselnya dan tidak menemukan sinyal karena mereka sedang terkunci di dalam lift.

Tiba-tiba Althaf menghimpit Nahdara di dinding lalu mencium puncak kepala gadis itu cukup lama. Tidak lama kemudian, ciuman Althaf turun dan dia memeluk tubuh Nadhara semakin erat dan

tidak lama kemudian Althaf menciumnya tepat di bibir.

“Al?”

Tanpa aba-aba, Althaf langsung mencium lembut bibir Nadhara, ia kaget tetapi lama-kelamaan menerima ciuman Althaf ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya. Nadhara langsung melingkarkan tangannya di leher Althaf.

Sementara, Althaf terus memperdalam ciumannya, bibirnya bermain di atas bibir Nadhara lembut. Kedua tangannya yang berada di pinggang Nadhara meremas pelan di sana. Napas Nadhara terengah, Althaf melepaskan ciumannya lalu menyampirkan rambut Nadhara ke bahu kanan gadis itu. Ciumannya berpindah ke rahang Nadhara, mengecupnya lembut di sekitar sana dan semakin membuat Nadhara terengah.

“Al, berhenti. Nanti keterusan.” ucap Nadhara terengah ketika merasakan Althaf sudah membuka restelting gaun yang ia kenakan dan mengusap punggungnya lembut.

Al menatap wajah Nadhara, rambut gadis itu berantakan dan entah kenapa terlihat begitu seksi di matanya. “Kenapa?” tanya Althaf.

“Kita di lift!” jawab Nadhara lalu mengigit bibirnya pelan, ia tidak bisa menatap tepat ke arah mata Althaf karena ia malu. Althaf tersenyum kecil lalu mengecup pelan bibir Nadhara, “Untung nggak ada CCTVnya.” Jawab Althaf dengan suara serak.

“Ih, cepetan jalanin liftnya lagi.” ucap Nadhara dengan ekspresi panik.

Althaf mengangguk, “Iya, tenang..” ucap Althaf lalu menarik kembali resteling gaun milik Nadhara lalu membantu gadis itu untuk kembali ke posisinya seperti semula.

Beruntung saat sampai di tempat parkir, tidak ada orang yang melihat mereka. Jadi, mereka bisa pulang dengan aman.

Jakarta, Juni 2010

Hari ini mereka asyik berjalan-jalan ke beberapa tempat termasuk taman bermain, mall dan bioskop. Althaf mengajak Nadhara karena dia akan pergi jauh dan akan jarang pulang setelah masa pendidikan dokternya selesai.

Karena terlalu asyik, mereka sampai lupa jika waktu sudah larut malam. Althaf langsung mengantar Nadhara pulang tepat pukul setengah satu malam tetapi mendapati rumah Nadhara sangat gelap dank arena takut membangunkan kedua orangtuanya, Althaf mengajak Nadhara ke rumahnya.

Di dalam mobil tangan mereka bertautan, sesekali ia akan mengecup punggung tangan atau puncak kepala Nadhara, ia akan sangat rindu dengan kekasihnya ini jika sudah pergi nanti.

Tapi, ketika sampai di rumah Althaf mereka juga mendapati jika rumah itu kosong. Dia sudah berusaha membunyikan bel selama setelah jam tetapi tidak ada tanda-tanda orang yang mendengarnya.

“Ya, terus nginep dimana?” tanya Nadhara lalu memeluk lengan Althaf dengan takut.

Suasana sudah larut dan hawa semakin dingin membuat Nahdara tidak ingin melepaskan tubuhnya dari Althaf karena dia hanya memakai terusan selutut.

“Kamu tau nggak orang rumah kemana?” tanya Althaf sembari terus membunyikan bell rumah.

Nadhara menggeleng, “Nggak tau, Sarah juga nggak ngabarin.”

“Kalau gitu, nginep di hotel aja gimana?” tanya Althaf sembari membuka pintu mobil. Dia juga sudah tidak tahan dengan cuaca yang mulai dingin, tidak lama kemudian hujan deras turun saat mereka masih di depan rumahnya.

“Om sama tante bukannya lagi di rumah?” tanya Nadhara.

Althaf mengangguk, “Iya. Mungkin sudah tidur lelap karena hujan. Ke hotel, gimana? Nggak mau kan tidur di mobil?”

“Boleh deh, dari pada tidur di mobil. Nanti orang mikir aneh.” ucap Nadhara bingung.

“Ya, udah. Yuk.”

Althaf mengangguk lalu menjalankan mobil ke sebuah hotel di Jakarta. Sesampainya mereka di sana, Nadhara langsung berjalan mengelilingi kamar hotel tempat mereka menginap.

Nadhara sudah memberi tahu kedua orangtuanya jika dia bersama dengan Althaf. Sebelumnya, dia memang sudah sering pergi dengan pria itu bahkan terkadang menginap di rumah Althaf. Kedua orangtua mereka yang merupakan sahabat karib membuat mereka dekat, apalagi Nadhara seumuran dengan adik Althaf.

Nadhara langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia memakai jubah mandi yang tersedia dia keluar dan mencari Althaf. Dia lupa tidak membawa baju ganti dan sepertinya harus memakai itu semalaman. Kamar hotel itu terlihat sangat sepi karena hanya mereka yang ada di sana.

Setelah membuka pintu, dia menemukan Althaf sedang berdiri di balkon dengan bertelanjang dada. Nadhara menahan napas ketika melihat Althaf berbalik dengan memperlihatkan bagian atas tubuhnya. Tubuh pria itu hanya di balut handuk berwarna putih dan otot tubuhnya sangat terlihat jelas

“Udah selesai? Gantian ya.” Ucap Althaf sembari menarik Nadhara masuk ke pelukannya.

Nadhara tertawa kecil lalu membalas pelukan Althaf sama eratnya. Dia tidak mencium aroma tidak sedap berasal dari tubuh Althaf karena pria itu memakai farfum yang sangat memabukkan untuknya.

Kamar hotel itu terlihat sederhana dan elegan, semua prabotannya rata-rata berwarna pastel yang membuat tenang dan nyaman. Nadhara sangat suka kamar ini, membuatnya merasa rileks.

“Al, udahan. Mandi gih, aku capek banget.” Ucap Nadhara.

Althaf mengangguk, tetapi bukannya melangkah ke kamar mandi, dia malah mencuri ciuman di bibir kekasihnya.

Nadhara bedecak,

mencoba menjauh dari Althaf tetapi pria itu menahan tubuhnya. Althaf meraih tengkuk kekasihnya itu lalu menciumnya lembut. Mereka berdua tersenyum di tengah ciuman itu, dia langsung menekan tengkuk Nadhara dan semakin memperdalam ciuman mereka. Nadhara langsung melepas tautan bibir mereka, “Kamu curang! Mandi sana!”

“Siap bos, aku mandi dulu ya. Tunggu aku, jangan tidur duluan oke?” ucap Althaf.

Nadhara mencubit perut Althaf, “Iya, aku tungguin kok. Kan mau di peluk kamu.”

Althaf terkekeh, “Kamu seksi banget sih pake jubah kayak gini. Buat mau cium terus.”

“Ih, dasar genit!” Ucap Nadhara lalu mendorong Althaf agar masuk ke kamar mandi.

Nadhara lalu berjalan ke tempat tidur dan berbaring di sana, rasanya sangat empuk dan hangat. Lama-lama, ia tengkurap di tempat tidur itu dan merasa jika tubuh pegalnya langsung hilang.

Nadhara yang hampir terlelap langsung bangun ketika ia merasakan seseorang menggelitik kakinya. Nadhara tertawa geli dan membuat Althaf semakin melancarkan aksinya mengelitik kaki Nadhara, sampai mereka berdua berada di atas ranjang dengan napas memburu saling melawan.

“Kamu tidur, ya/” ucap Althaf sembari tersenyum jahil.

Nadhara menggeleng, “Nggak kok, cuma tutup mata aja.” Ucapnya lalu menutup mulut dengan tangannya karena ingin menguap.

Althaf terkekeh, dia langsung melepaskan tangan Nahdara agar tidak menghalanginya memandangai wajah kekasihnya itu. Tetapi, Althaf tergoda mencium bibir Nahdara.

Nadhara yang mulai hanyut dengan ciuman Althaf mulai mengerang dan tu membuat Althaf semakin bersemangat. Ciuman Altaf mulai turun ke leher gadis itu, dan memberikan ciuman lembut berulang kali. Napas Nadhara mulai memburu dan akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali lalu mencoba menghalangi Althaf.

Tetapi, Althaf tidak berhenti, dorongan Nadhara tidak berarti apa-apa untuknya. Mereka bedua hanyut dalam ciuman panas, hingga keduanya tidak menyadari jika perbuatan mereka sudah membuat keduanya bergairah.

Tubuh Nadahra sudah terbuka seluruhnya, hanya menyisakan jubah mandi yang sudah sangat terbuka tanpa ada sehelai kainpun yang menutup tubuh Nadhara.

Nadhara langsung menutupi tubuhnya dengan selimut yang mudah ia jangkau. Tetapi, Althaf langsung merampas dan melempar selimut itu menjauh dari tempat tidur, “Tubuh kamu indah,”

“Berhenti, Al. Kita sudah terlalu jauh.” ucap Nadhara saat Althaf mulai melepaskan jubah yang masih melekat di ujung lengannya.

Althaf mencium kening Nadhara, “Aku tahu, tapi aku sudah tidak bisa berhenti,” jawab pria itu lalu mulai menciumi dada atas kekasihnya, membuat Nadhara mengigit bibir bawahnya pelan.

“Hm? Al, aku…” erang Nadhara sembari meremas bahu Althaf.

Althaf tersenyum miring, “Tenang aja, aku nggak akan buat kamu kenapa-kenapa. Ini bukti cinta aku sama kamu.” Jawab Althaf sembari melepaskan pakaian terakhir yang ada di tubuh Nadhara.

“Kamu jangan pernah ninggalin aku, ya?” tanya Althaf menatap tepat di kedua mata Nadhara.

Nadhara berusaha membuka matanya lalu mengangguk, “Iya, aku ngak akan ninggalin kamu..”

Althaf kembali mencium puncak kepala Nadhara, “Hari ini kita akan membuat kenangan indah yang tidak akan pernah kita lupakan.”

Nadhara tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Althaf.

Lalu, malam itu Nadhara resmi memberikan hal yang paling berharga kepada Althaf. Pria yang sangat ia sayangi.

Related chapters

DMCA.com Protection Status