Make A Wish (Indonesia)
Make A Wish (Indonesia)
Author: Apple Leaf
1. Make a wish

Jari-jemari Kanya dengan cekatan mengetuk setiap tombol pada keyboard sebuah laptop berwarna hitam. Rangkaian paragraf terus mengalir di layar laptop berukuran 14" tersebut.

Kanya Arundhati saat ini, sedang menggarap novel keduanya setelah sukses dengan novel pertamanya berjudul 'A Mysterious Man' yang mendapatkan popularitas hingga ratusan juta pada salah satu aplikasi menulis. Di sanalah dia mendapatkan penghasilan dan terus menulis.

Novel keduanya berjudul 'Kill Me' masih dengan genre yang sama seperti novel pertamanya yakni, genre horor-thriller, misteri dan dibumbui romantisme.

Kanya tetap fokus mengetik paragraf demi paragraf karena idenya tidak akan putus setelah dia menggebrak drafnya. Namun, jemarinya berhenti sampai pada adegan yang membuatnya bermimpi buruk yaitu, adegan pembunuhan. Adegan yang cukup Kanya sukai dan mendeskripsikan adegan itu tidaklah sulit baginya, meskipun demikian Kanya akan berpikir ulang ketika merangkai adegan tersebut.

"Kanya, lo nggak lagi bikin adegan pembunuhan kan malam-malam begini?" Samuel Wijaya bertanya.

Pria berambut coklat terang—sahabat Kanya yang selalu mendukungnya selama setahun belakangan sejak dia menulis novel. Pria itu semakin akrab dengannya dan menjadi teman juga sahabat satu-satunya.

"Nggak malam, nggak siang sama aja, Sam. Gue harus selesaikan adegan ini. Malam ini juga! Karena ini part terakhir dari chapter." Kanya berujar ngotot.

Meskipun dia tahu dirinya akan bermimpi buruk ketika tidur nanti dan bangun dengan sakit kepala besok pagi. Dia akan tetap menuntaskan part terakhir dari chapter tersebut.

"Kay ...,"

Kay merupakan sapaan akrab dari Kanya Arundhati—lebih tepatnya adalah nama pena yang digunakannya di sebuah platform menulis yang sangat terkenal belakang ini. Platform itulah yang menjadi pundi-pundi penghasilan baginya dan novel perdananya benar-benar booming, meskipun memiliki genre yang sebenarnya kurang diminati lantaran banyaknya adegan seram dan mencekam seperti adegan psikopat sadis yang membunuh targetnya, sehingga membuat pembaca cukup bergidik ngeri, apalagi dengan cara penuturan dan gaya Kanya ketika mendeskripsikan sebuah adegan.

Kanya melirik pada sahabatnya. "Sam, lo pulang aja. Nggak usah nungguin gue! Lagian udah malam ngapain masih di apartemen gue?"

Samuel menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan. "Ya sudah, gue pulang sekarang. Kalau lo mimpi buruk, nggak usah nelpon gue tengah malam nanti." Samuel mendengus sembari membereskan barang-barangnya.

"Tenang aja, gue udah terbiasa dengan mimpi itu. Udah buruan pulang sana! Malam-malam begini masih di apartemen anak gadis." Ledek Kanya.

Samuel Wijaya memasang wajah datar ketika melihat wajah Kanya. "Oke." Balasnya singkat. 

Dirinya terkekeh ketika Samuel Wijaya mengambil langkah dan meletakkan tangannya pada gagang pintu. Sebelum membuka pintu Samuel kembali melirik Kanya.

"Kay, gue beneran pulang."

"Hati-hati di jalan jangan sampai ketemu kuntilanak." Ucapnya dengan nada bercanda. Dia masih melihat ke arah Samuel Wijaya dari duduknya. Namun tidak ada keinginan untuk bangkit dan mengantar pria itu keluar dari apartemennya.

Sekali lagi Samuel menggeleng pelan. "Astaga! Lo nyumpahin gue biar ketemu kunti? Teman macam apa lo?! Mentang-mentang penulis novel horor, nggak ada takut-takutnya."

"Horor-Thriller, Bro." Tukas Kanya.

"Iya, tahu! Gue pulang." Samuel Wijaya lantas membuka pintu dan keluar dari apartemen Kanya.

Kini, tinggal Kanya sendiri di dalam apartemen tipe 21 tersebut. Dia duduk lurus di kursinya sambil menatap kosong pada layar laptop di depannya. "Huh!" Kanya mengerutkan kening dan menghela napas pelan karena memikirkan adegan yang akan dia tulis. "Apa harus gue tulis adegan itu malam ini?!" kedua siku bertumpu di atas meja, sedang kesepuluh jarinya menggaruk lembut pada pucuk kepalanya.

Melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul 23:35 PM, dan sebentar lagi tengah malam tiba.

"Sebentar lagi tengah malam dan gue harus update chapter baru."

Wajahnya berubah lesu ketika sampai pada part yang membuat kepalanya berat seperti dipukul benda keras, namun tak meninggalkan bekas.

Kanya adalah tipe penulis yang berprinsip dan konsisten akan apa yang telah dia kerjakan. Jika update chapter novelnya pada tengah malam, maka dia harus menyelesaikan chapter tersebut dan tentunya dia harus update pada tengah malam pula tidak bisa ditunda.

"25 menit lagi dan ini merupakan part terakhir di dalam chapter 11. Gue harus selesaikan. Semangat, Kanya!" mata berapi-api serta kesepuluh jemari siap mengetik setiap rangkaian kata dalam fantasinya.

Part terakhir yang Kanya tulis dalam chapter-nya telah dia rampungkan kurang dari 25 menit. Setelah melakukan pengecekan ulang selama beberapa menit, dia memposting chapter tersebut. Terlalu lelah, mata Kanya mulai terpejam setelah mematikan laptop dan tertidur di sana.

Dalam suasana berkabut, di mana Kanya berada di sebuah gudang tua. Gudang tempat dia menusuk dada kiri seorang pria berbusana hitam. Dirinya telah masuk ke dalam dunia—entah mimpi seperti nyata ataukah nyata bagaikan halusinasi. Dia sendiri kurang paham akan hal yang disebutnya mimpi buruk berulang.

Berteriak. Kanya terus berteriak ingin lari dari sana, atau bangun secara paksa. Dia memegang kepalanya, rasa getir telah menelusup ke dalam rongga jiwanya.

"Nggak! Nggak! Nggak lagi!"

Ingin berlari, namun cahaya pun tak ada lantaran kabut gelap menguasai tempat itu. Matanya tak melihat satu pun jalan keluar, seperti biasanya Kanya menjadi sosok yang kebingungan dan kehilangan arah.

"Kanya ..., hei, kamu datang lagi?"

Nada halus dari seorang pria yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Selama setahun sejak menulis novel perdananya. Setiap kali part pembunuhan di tulis olehnya, pria ini akan datang dalam kabut gelap pada mimpinya.

Hentakan pelan suara langkah kaki berasal dari pria yang menyapanya barusan. Sesosok pria tinggi nan tampan dengan garis rahang sempurna bak model internasional—pria ini hanya ada dalam mimpi Kanya. Ya, saat ini hanya ada dalam mimpinya.

Selangkah demi selangkah pria dengan senyum memikat itu mendekat ke arah Kanya dan perlahan kabut hitam yang menyelimuti gudang itu—memudar ketika pria itu muncul.

"E, Eros." Lirih Kanya kala menyebut nama pria yang jaraknya beberapa meter darinya. Eros selalu terbunuh dalam mimpi Kanya. "Jangan mendekat!" Kanya mundur beberapa langkah, rasa getir telah menyeruak dalam sanubarinya. Takut untuk membunuh pria itu, takut setiap kali dia harus membunuh pria itu tanpa rasa belas kasih. Air mata Kanya telah membasahi pipi, dia gemetar tatkala senyum hangat Eros menyapanya.

"Kenapa Kanya? Bukankah kamu datang karena merindukanku?"

Setiap langkah Eros semakin mendekat ke arahnya. Dari tangan pria tinggi itu menaburkan kelopak bunga mawar merah di setiap langkah yang diambilnya. Kanya memperhatikan hal sama berulang kali, dan sebentar lagi hal yang ditakutinya akan terjadi.

"Gue bilang jangan mendekat!" pekiknya dengan suara lantang.

Eros sengaja menggelengkan kepala tanda ketidaksetujuannya. "Make a wish, Kanya."

Jantung Kanya seperti merosot ke lambungnya kala kalimat yang ditakutinya meluncur dari bibir Eros.

Kelopak bunga mawar di tangan Eros telah berubah menjadi belati tajam berwarna merah kepekatan. Eros tanpa ragu mengulurkan belati itu pada Kanya. Dia sangat takut melihat belati yang biasa digunakannya, ketika berkali-kali menembus dada pria itu.

"Nggak! Nggak lagi! Gue mohon."

"Ambil, Kanya." Nada tegas Eros ketika memerintah Kanya.

Dengan perlahan tanpa perlawan, tangan kanannya mengambil belati tersebut dari tangan Eros. Iris mata Kanya beralih merah saat belati tergenggam sempurna di tangannya. Dalam relung terdalam, mencoba melawan dirinya sendiri, akan tetapi belati di tangan kanannya siap meluncur ke dada kiri Eros.

"Make a wish, Kanya." Desis Eros. "Make a wish." Sekali lagi Eros mendesis di dekat Kanya.

"Matilah!" 

Belati tersebut lantas menancap pada dada kiri Eros. Rasa dingin dan tak berperasaan itu telah menembus tulang pria itu. Darah mulai menetes dari sana. Rasa sakit dari Eros nampak oleh mata Kanya. Namun, tak ada belas kasih yang dia rasakan saat ini.

"Uhuk!"

Darah langsung mengucur tatkala belati ditarik dengan sengaja oleh Kanya. Dia mulai tersenyum sadis melihat mata penuh kesakitan dari pria tampan di hadapannya. Sayang sekali Eros harus mati berkali-kali di tangan Kanya.

"Hahaha~" tawa Kanya menggema di seluruh gudang.

Eros tak lagi berucap dan Kanya tanpa segan menikam dada kiri Eros sekali lagi, dua kali, tiga kali, hingga kali yang tak terhitung olehnya. Hingga akhirnya Eros tumbang lantaran ujung belati itu telah menembus jantungnya.

Bersambung

Meski mati berkali-kali di tanganmu adalah takdirku, aku akan menerimanya dengan senang hati. — Apple Leaf

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ivan Haws
wuuuiiiiiiiiih keejeereem
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status