Share

Part 3

"Kenapa ekpresimu seperti itu? Apa kau baru saja melihat seorang dewa tampan berbicara padamu?" ucap Alvin dengan santainya dan segera mendudukan dirinya disamping Nayla. Mendekatkan wajahnya Lalu mengecup pipi Nayla sekilas

Nayla menegang dengan perlakuan  Alvin. Pria ini selalu saja bertingkah seenak jidatnya

Nayla mengeram "Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Nayla sengit. Menatap kearah Alvin dengan tidak suka

Alvin menoleh "Kenapa? Kau tidak suka aku berada disini?" ucap Alvin yang juga merasa tidak suka dengan nada bicara Nayla

"Kau seharusnya bersyukur aku ada disini untuk menemanimu. Hingga kau tidak mati dalam kesendirian" cibir Alvin

Hati Nayla mencelos mendengarnya

"Aku sudah terbiasa, kau jangan terlalu bersimpati padaku dalam hal ini" ucapnya datar dan mengalihkan pandangannya dari Alvin. Hatinya merasa panas karna sebuah sendirian itu.

"Bukankah seharusnya kau sedang berkencan dengan kekasihmu itu? Lalu untuk apa kau repot-repot kemari?" ucap Nayla kembali tanpa mau memandang kearah Alvin

Alvin tersenyum miris dan kembali menatap kearah laut di depannya

"Memang" ucap Alvin kemudian.

"Aku memang berkencan dengan Yenata hari ini. Tapi itu tidak berlangsung lama, kami hanya makan siang. Lalu ia menerima telfon dari managernya untuk rapat berangkat pemotretan dadakan"

Alvin kembali menoleh kearah Nayla "Lalu aku tiba-tiba teringat denganmu, bahwa kau sedang liburan di Jeju. Dan ya.... Karna aku juga sudah lama tidak berlibur jadi aku memutuskan menyusulmu dengan jet pribadi milikku" ucap Alvin dengan cengiran diakhir kalimatnya

Mendengar jawaban dari Alvin, mendadak membuat hati Nayla terasa semakin ngilu. Ia tidak tahu kenapa mendadak hatinya merasa seperti itu. Yang jelas itu terasa menyedihkan ketika ia sadar bahwa dirinya hanyalah pemeran yang berada di bangku cadangan.

"Hey, apa kau marah aku ada disini?" tanya Alvin yang melihat Nayla hanya berdiam diri sejak tadi. Tidak seperti wanita itu biasanya. Yang selalu mengatur dan mengomel memerintah nya

"Untuk apa aku marah? Itu semua adalah hakmu" Ucap Nayla dengan senyuman manis miliknya berusaha menyembunyikan perasaan kecewa yang dirasakannya

Alvin membalas senyuman itu, kau dengan sekali tarik ia membawa Nayla dalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya di sekitar jaket tebal milik Nayla

"haahhh.. Memelukmu seperti ini sungguh nyaman untukku" ujar Alvin dengan tulus

Nayla memejamkan matanya kuat-kuat, ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan segala bentuk rasa yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya.

"Bisakah kau berhenti mengucapkan hal-hal seperti ini?" lirih Nayla yang masih berada didalam pelukan Alvin tanpa mau membalasnya

Alvin melepaskan pelukannya dan menatap Nayla, ia mengernyitkan dahinya heran "Kenapa? Bukankah aku sudah sering mengatakan hal itu padamu?"

"Aku... Aku hanya tidak menyukainya" ucap Nayla

Alvin semakin heran menatap tingkah sahabatnya yang mendadak seperti ini ini

"Kau tidak menyukainya? Aku tidak berkata buruk tentangmu! Aku  berkata manis padamu, lalu kau tidak menyukainya ? Ada apa denganmu Nay?" tanya Alvin yang terlihat mulai kesal dan tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya ini

Nayla mendengus kasar "ahh tak tahu. Sudahlah lupakan" ucapnya kemudian dan berdiri melangkahkan kakinya menjauh dari Alvin

Alvin tentu saja dibuat semakin binggung dengan tingkah Nayla, setelah ia dibuat tidak mengerti dengan perkataan wanita muda itu. Dan sekarang dengan gampangnya wanita itu meninggalkannya

"Yakk, Nayla !! Kau mau kemana eoh?" Teriak Alvin lalu berlari mengejar langkah sahabatnya yang mulai menjauh itu

Alvin meraih salah satu tangan Nayla dan membuat wanita itu menghentikan langkahnya 

"Kau mau kemana?" Ucap pria itu yang terlihat terengah-engah

"Ke kamar" ucap Nayla begitu datar

"Apa? " Pekik pria muda itu

"Lalu bagaimana dengan berkemahnya? Bukankah ini adalah hal kesukaanmu?" tanya Alvin

"Aku tidak ingin lagi. Aku ingin istirahat di kamar saja, aku merasa lelah dan angin laut cukup kencang malam ini. Jika kau mau, kau bisa menggunakan tendanya" ucap Nayla  masih dengan nada datarnya dan ingin melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi pria itu mencekal tangan kirinya

"Kau ingin meninggalkanku yang datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menemanimu ?" Sungut Alvin

"Kau benar-benar tak memiliki perasaan" lanjut pria muda itu dengan nada merajuk dan kesalnya

Nayla memutar bola matanya malas lalu menghadap ke arah pria berstatus sahabatnya ini

"Aku tidak memintamu untuk menenamiku. Kau yang datang kesini sendiri. Jika kau tidak suka kau bisa kembali ke Jakarta saat ini juga" ucap Nayla dengan nada yang tak kalah kesal pula.

Hatinya sudah dibuat kesal dengan pria yang ada didepannya ini. Dan sekarang pikirannya juga semakin dibuat kesal dengan perilaku pria ini. Bisakah pria ini mengerti dirinya sedikit saja?

"Tidak !! aku ingin menginap bersamamu saja. Di ka-mar-mu!!" ucap Alvin dengan cepat. Ia tidak ingin kembali ke Jakarta, ia sudah jauh-jauh kemari dan baru saja sampai 1 jam yang lalu. Lalu sekarang wanita ini dengan seenaknya menyuruhnya kembali. Ia pikir Jakarta - Jeju hanya berjarak 2 km?

"APA  ? " Pekik Nayla keras

"Yak!! Kau tidak bisa menginap disini bersama..."

"Aku bisa !!" Potong Alvin dengan cepat

"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau" Ucap Alvin dengan nada datarnya

Nayla menatap heran kearah sahabatnya itu. Kenapa pria ini selalu membuat keadaan semakin sulit untuk dirinya

"Aku tidak memberikan izin untuk kau menginap di kamarku" Sungut Nayla yang mulai jengah dengan sikap Alvin

Alvin tersenyum miring

"aku tidak memerlukan izinmu sama sekali dalam hal itu. Apa kau lupa jika itu adalah kebiasaanku ?" ucap pria itu dengan mendekatkan dirinya pada tubuh Nayla

"Aku tak pernah memerlukan izinmu dalam hal-hal kecil seperti itu. Bahkan aku tidak memerlukan izinmu dalam hal seperti ini"

Alvin melepaskan cekalannya pada tangan Nayla, membawa kedua tangannya keatas dan menangkup kedua pipi milik Nayla. Dan dengan cepat ia mendaratkan bibirnya di setiap inci wajah Nayla. Mengecupnya dengan bertubi-tubi dan berakhir pada kecupan sekilas di bibir wanita itu

Alvin melepaskan cakupannya dan melihat Nayla yang masih menegang dengan apa yang baru saja ia lakukan pada wanita itu

"Hentikan tampang bodohmu itu! Kajja, kita ke kamarmu. Angin lautnya semakin kencang" ucap Alvin dan kembali meraih jemari tangan milik Nayla dan membawa Nayla menuju arah villa milik Jino sahabatnya juga.

Nayla masih saja membisu dalam seretan Alvin. Ia tidak bisa berkata apapun tentang ini, jantung terasa ingin meledak saat ini. Terlebih ketika ia kembali mengingat saat Alvin mengecup bibirnya. Ribuan kupu-kupu seperti melayang dalam perut menuju rongga-rongga hatinya

Di belakang Alvin, Nayla diam-diam menyentuh bibirnya. Ia mengulum senyumnya yang ia coba untuk menyembunyikan. Agar pria yang yang saat ini mengenggam jemarinya tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini

****

Saat ini Nayla baru saja keluar dari kamar mandi didalam kamarnya. Berganti pakaian santai dengan memakai setelah piyama bermotif kakao

Ia melihat pria itu, pria yang beberapa waktu lalu membuatnya terlihat bodoh sedang berdiri menghadap jendela dengan ponsel yang ada ditelingannya

"Aku sedang berada di Jeju saat ini sayang" ucap Alvin dalam telfonnya

"Ya aku kesini karna sesekali aku berlibur untuk menghilangkan penat kesibukanku mengurus perusahaan. Sekaligus mengunjungi Jino Hyung disini"

"Tentu saja, kapan-kapan aku akan mengajakmu kesini. Dan kita akan menikmati liburan menyenangkan disini bersamamu"

"Ya, aku berjanji padamu. Sebaiknya kau segera istirahat saat ini. Kau pasti lelah dengan kegiatan padatmu"

"Selamat tidur dan selamat malam Yenata, aku juga mencintaimu sayang" ucap Alvin di akhir kalimatnya dalam telfonnya

Nayla tidak tuli, ia mendengarnya. Mendengar semua perkataan pria itu yang dikatakannya melalui smartphone miliknya.

Hati yang sempat berbunga-bunga beberapa waktu lalu seakan lenyap seketika dibawa hembusan angin tak terlihat. Berganti dengan rasa sesak yang menguar ke permukaan

Nayla merasa dirinya begitu bodoh saat ini dan sangat-sangat bodoh. Menganggap perlakuan pria itu padanya adalah sebuah keistimewaan. Namun nyatanya itu salah besar. Pria itu tidak menganggapnya seistimewa itu.

Kau hanya sahabatnya Nayla Melody Lim, seharusnya kau sadar itu. Suara jeritan hati Nayla menyeruak berkali-kali di dalam pikirannya pula.

Nayla mneghembuskan nafasnya kasar dan melangkah menuju ranjangnya, membaringkan tubuh serta pikirannya yang terasa begitu melelahkan untuknya. Nayla berbaring memunggungi Alvin yang masih asik dengan ponselnya. Pria itu tidak menyadari jika sedari tadi ada orang lain yang memperhatikannya

Alvin membalikkan badannya, ia melihat Nayla berbaring memunggunginya diranjang. Pria muda itu tersenyum tipis. Meletakkan ponselnya diatas nakas dan ikut berbaring di ranjang sama dengan wanita yang telah bersamanya bertahun-tahun itu.

Ia bergerak mendekat pada punggung Nayla. Menyelinap kan lengannya dipinggang ramping wanita itu. Ia merasakan tubuh wanita itu menegang, menandakan bahwa wanita itu belum benar-benar terjaga

"Bisakah kau menyingkirkan tanganmu? Kau membuatku risih dan menganggu proses tidurku" ucap Nayla dengan suara datarnya dengan posisi yang sama

"Ada apa denganmu hari ini? Kau sangat aneh. Bukankah aku terbiasa memelukmu seperti ini. Dan kau terlihat baik-baik saja dengan itu semua" tanya Alvin dengan nada yang penuh heran dengan tingkah laku sahabatnya ini

Nayla memejamkan matanya kuat-kuat

"Aku hanya ingin tidur nyenyak tanpa gangguan apapun. Dan kali ini tanganmu sangat mengangguku"

Namun apa yang Nayla terima ? Justru pria itu semakin mengeratkan pelukannya di punggung miliknya

"Aku tidak bisa !!! aku juga ingin tidur nyenyak. Salah satunya adalah dengan memelukmu seperti ini" ucap Alvin yang suaranya terdengar dekat di telinga Nayla

"Berhentilah berbicara, kau bilang kau lelah bukan? Jadi segera pejamkan matamu dan mulailah menghitung domba" lanjut Alvin lagi-lagi. Pria itu sedikit mendongak dan mengecup pelipis kepala Nayla

"Tidurlah Nay, selamat malam" ucap pria itu. Dan masih di posisi yang sama yaitu tidur dengan memeluk Nayla dari belakang

Nayla masih belum memejamkan matanya namun dirinya masih asik berdiam diri dengan segala bentuk pemikirannya

Tak lama kemudian ia mendengar suara dengkuran halus yang berasal dari belakang kepalanya. Dan tanpa ia menebak jauh lagi, itu adalah suara dengkuran milik Alvin. 

Nayla memejamkan matanya. Entah ia sadari atau tidak. Dari sudut matanya keluar sebuah cairan bening menetes mengalir membasahi bantal yang ia gunakan saat ini

"Aku tak tahu harus menyikapi dirimu seperti apa? Disisi lain kau adalah sahabatku namun disisi lain kau bertingkah diluar batas dari arti persahabatan itu sendiri" ~ Nayla

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status