Return
Return
Author: Riza Fumiko
Prolog

⚠️ Semua yang ada dicerita ini bersifat fiksi dan fantasi serta dibungkus dalam sajian komedi. Penulis tidak bertanggung jawab atas perbedaan prespektif atas suatu kepercayaan yang ada dalam tulisan ini. Harap untuk menyikapi dengan bijak. ⚠️

Felicia POV

Asap mengepul tebal dari sebuah mobil yang hancur ringsek parah setelah menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Para warga berkerumun mendekat, menyaksikan pengemudi yang sudah terkapar tak berdaya. Beberapa warga segera melakukan pertolongan seadanya, ada juga yang langsung menelepon ambulans.

Sumpah, itu kecelakaan paling parah yang pernah gue lihat seumur hidup.

Gue penasaran dong ya, jadi gue masuk ke kerumunan warga itu. Perlahan dahi gue mengernyit, gue familiar sama mobil ini. Sampai akhirnya tepat di sebelah kursi kemudi, pintu mobil sudah dibuka lebar. Seketika gue merinding.

Itu badan gue.

Badan gue yang terbaring di sana, bercucuran darah. Gue sering diundang ke premiere teman-teman artis gue, nggak sedikit dari mereka yang memainkan peran di film horor. Tapi gue gak pernah semerinding ini. Karena, iya, yang gue lihat badan gue sendiri di sana.

Reaksi gue yang pertama kali seharusnya adalah mual. Tapi kali ini gue nggak merasakan apapun. Semuanya ringan, enteng, seperti kapas. Selama beberapa saat gue masih gak sadar sampai kerumunan bapak-bapak itu menarik badan gue yang ada di mobil untuk keluar. Memakan usaha memang, karena tubuh gue terjepit di antara setir di sana. 

Tapi yang lebih buruk adalah, mereka nembus gue.

Iya, gue ditembus begitu aja.

Gue ingin meneriakkan makian sekeras-kerasnya, tapi itu cuma bayangan di kepala gue. Karena pada faktanya gue masih mematung terdiam melihat semua ini. Gue gak percaya dan gak mau percaya kalo ini semua nyata. Gue butuh seseorang dateng ke gue dan bilang gue high gara-gara anggur atau nikotin.

Tapi seingat gue dengan jelas, gue sudah bersih sejak dua hari lalu. Seperempat jam sebelum gue naik mobil pun, gue masih bisa jalan dan melihat dengan jelas. Terus, ini apa? Prank? Gak masuk akal.

"Mbak?"

Gue hampir tersentak kaget. Tapi di sisi lain gue senang karena ada orang yang mau bicara ke gue buat memastikan semua ini cuma prank. 

Tapi, zonk.

Yang gue liat adalah orang dengan jubah besar panjang bertudung hitam, lengkap dengan sabit di tangan kanannya.

"AAAAAAAAAAA!!!" Gue sontak berteriak kaget. Gue termundur jauh, jauh banget dari orang itu. Gue menutup mata gue dan nggak ingin melihat orang itu. Tapi sial, hawa keberadaannya malah terasa makin mendekat.

Gue baca semua doa yang bisa gue baca. Apa pun itu, yang penting orang ini bisa pergi dari depan mata gue. 

Tapi,

"Mbak?"

"AAA!!! PERGI! PERGI KAMU! AAA!!!" 

Hening sejenak, orang itu tak lagi menjawab. Gue langsung teriak-teriak lagi baca doa sekencang mungkin. Tapi yang gue denger malah helaan napas. Ah, gue justru gak yakin orang di depan gue ini bernapas.

"Ya udah sih, santai aja kali, Mbak. Orang udah liat kan? Udah tau kan?"

Gue membuka sela jemari gue yang menutupi muka gue perlahan. Orang itu ternyata duduk berjongkok tepat di depan gue. Gue sendiri jatuh menyandar di pohon saking takutnya. Dan melihat orang itu, ah, entahlah. Gue menutup wajah gue lagi. Takut.

"Ya elah, Mbak. Kayak setan aja saya," ujar orang itu.

"Emang kalo bukan setan apa?" tanya gue membuka wajah seketika.

Rupa orang itu terlihat jelas, tapi rasa penasaran gue tentang semua ini lebih besar dari rasa takut yang tadi.

"Saya? Oh iya, saya apa ya?" orang itu nampak berpikir. Lalu melanjutkan dengan senyum riang. Ah, gue nggak melihat wajahnya memang. Tapi dari nada dia bicara, gue tahu. "Oh iya! Saya malaikat pencabut nyawa!"

Gue mengumpat, teriak, lalu baca doa lagi. Ada ya, malaikat maut sebahagia ini? 

"Ya udah sih, Mbak, santai aja. Gak capek apa teriak mulu? Saya yang denger aja capek." ujar orang itu berdiri, kemudian melirik catatan di balik jubah hitamnya. "Maaf ya, Mbak belum saatnya mati. Tapi udah saya cabut duluan."

"Jadi elo yang bikin gue kayak gini!" bentak gue langsung.

"Ya, iya sih. Saya orangnya,"

"Eh, tanggung jawab kek lu! Gue itu lagi perjalanan jemput anak gue di sekolah! Enak aja main cabut nyawa orang sembarangan!" omel gue meracau kesal. "Anak gue baru aja mau ikut try out minggu depan, bayangin dong perasaannya nunggu gue! Argh dasar sampah lo!"

Orang itu menatap gue sambil berkedip-kedip. Sekali lagi, gue nggak melihat wajahnya. Tapi gue merasakannya. Entah.

"Ya terus maunya apa sekarang?" tanya orang itu.

"Ya apa kek! Yang bisa apa! Anak gue gimana!" jawab gue cepat.

"Mbak mau saya hidupin lagi? Ya enak di elu dong, Jubaedah. Mana ada kayak begitu," 

"Kalo emang saya beneran mati kan ada banyak kasus orang mati suri. Bisa dong, kenapa enggak?"

"Ya soalnya ini murni kesalahan saya. Sedangkan saya bukan spesialis ngehidupin orang lagi," jawabnya pelan sambil mengusap pundak, segan. "Gini aja, mending Mbak balik ke masa lalu aja. Mbak kan banyak dosa, dari pada—"

"Enak aja bilang gue banyak dosa! Lo tau apa!?"

"Ini, ada catetannya, kok." jawab orang itu santai. Gue langsung terdiam.

Orang itu juga terdiam, ada hening yang cukup lama. Mungkin dia berpikir gue berpikir, tapi gue sebenarnya tidak berpikir. Jadi siapa yang berpikir?

"Gimana?"

"Apanya yang gimana!" sahut gue nyolot.

"Mbak mau dihidupin lagi juga nggak bisa. Anak Mbak tetep bakal jadi piatu."

Gue seketika terdiam mendengar jawaban itu. Kalimat terakhirnya seketika bikin mental gue jatuh sejatuh-jatuhnya.

Zanna, anak yang gue lahirkan 12 tahun lalu dengan jerih payah pertaruhan nyawa harus kehilangan ibunya, gue nggak bisa. Gue nggak bisa kehilangan orang tua satu-satunya. Karena si brengsek Adam itu nggak bertanggung jawab sama sekali. Bahkan setelah nama gue besar, setelah Zanna tumbuh jadi anak yang cantik, Adam nggak pernah akui Zanna.

Hati gue hancur. Gue nggak bisa tinggalkan Zanna.

"Gak bakal ada yang berubah di masa sekarang, Mbak—"

"Yang bisa saya lakuin cuma balik ke masa lalu?" potong gue cepat. "Saya lakuin."

Pikir gue saat ini juga, kalau gue nggak bisa untuk nggak tinggalkan Zanna, maka hal yang lebih baik adalah kalau Zanna nggak pernah terlahir di dunia sekalian. Biar gue nggak perlu terlantarkan siapa pun. Biar gue bisa pergi tanpa rasa bersalah ke Zanna.

"Deal?"

"Deal."

Hari itu, perjanjian gue dengan malaikat maut pun terjalin. Gue kembali ke masa lalu, lahir sebagai diri gue yang sebelumnya. Sari Sartika.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status