02. Sari dan Segudang Mimpi

Sinar matahari belum terlalu menusuk saat kelas X3 melakukan pemanasan. Tidak ada murid yang tahu apa yang akan mereka lakukan hari ini. Materi sepak bola sudah selesai lebih awal dari yang dijadwalkan, seharusnya ini jam kosong bagi mereka.

Tapi Pak Mulyono berkata tidak.

"Ketua kelas silahkan pimpin. Setelah pemanasan, nanti kalian putari sawah sebelah barat satu kali. Saya tunggu kalian di sini, saya catat."

Sari mengumpat kasar dalam hatinya. Sari benci pelajaran olahraga, dia tidak bisa dan fisiknya memang tidak mendukung. Apalagi sawah barat milik warga itu terhitung sangat luas, pelajaran olahraga benar-benar menyiksa. Tertulisnya menyiksa imajinasi, prakteknya menyiksa fisik.

"Ri, ayo lek ndang." ujar Mega, teman dekat Sari.

Sari mengangguk pasrah dan mulai berlari keluar dari sekolah bersama Mega. Masih belum terlalu jauh, Sari yang sedang berlari pelan pun disenggol pundaknya secara sengaja oleh seseorang. Membuat Mega hampir ikut jatuh.

"Lemes tenan awakmu, Ri."

Sari mendesis pendek, tak menjawab dan hanya menatap kesal.

"Gak usah sok ngomong Jowo, Lix! Lidahmu kayang, oon!" sahut Mega sewot, seakan menjadi yang paling tidak terima. 

Felix Wang, anak blasteran Amerika-Tiongkok yang baru pindah ke sekolah Sari semester lalu. Bahasa Indonesianya sudah lancar, tapi aksen Jawanya masih mengambang. Walau terkesan jahil, sebenarnya Felix sangat ramah dan mudah bergaul dengan semua orang di sekolah. Dan anak yang paling sering menjadi target kejahilan Felix adalah Mega, jadi tidak heran kalau Mega menjadi yang paling sewot setiap Felix bertingkah.

"Suka-suka aku, to! Mak Lampir bisanya cuma ngatur," jawab Felix.

"Siapa yang mbok katain Mak Lampir, ha!?" sahut Mega emosi.

Felix menyengir lebar dan lari duluan saat Mega mulai bersiap untuk memukul Felix, seakan sudah siap dan tahu taktik Mega. Sari hanya tersenyum tipis melihat teman-temannya yang bertengkar. Hari-hari ini yang tidak Sari temui di kehidupan Felicia.

Kalau saja Sari bisa bertemu Felicia, mungkin Sari akan bilang kalau hidup Felicia tidak sebahagia hidup Sari. Semuanya penuh kepalsuan, Felicia pun akan akui itu pada Sari. Tapi Sari juga tidak akan ingkar kalau kehidupan Felicia adalah hidup yang dia mau.

Penuh glamor, akses ke sana kemari, dijaga oleh orang-orang sewaan, diakui dan dipuji oleh semua orang, dikagumi dan dijadikan panutan.

"Kakimu kenapa?"

Sari menoleh ketika merasakan ada seseorang berlari pelan di sampingnya. Itu Adam, yang menyadari luka di belakang kaki Sari.

"Oh, ini. Gak papa kok, cuma—"

"Dipukul Bapak lagi?"

Sari seketika terdiam menatap Adam. Lalu perlahan menundukkan kepalanya pada jalanan sawah.

Dari dulu, Adam pun adalah orang yang paling peka. Bahkan bekas luka di betis yang Sari sembunyikan di bawah celana olahraga pun, Adam tahu. Masalah di keluarga dan semua cita-cita Sari, Adam juga yang tahu. Mungkin ini salah satu dari sekian kesalahan Sari yang sudah membuka diri pada Adam tentang kelam dirinya.

"Iya," jawab Sari pelan, akhirnya.

Adam menghela napas, "sakit gak? Mau istirahat dulu?"

"Kan disuruh Pak Yono, ada nilainya juga."

"Tapi kan kamu sakit."

"Enggak, Dam. Ini masih bis—"

Sari tersentak kaget saat Adam sudah berjongkok di depannya. Dua tangan di belakang seakan menyuruh Sari untuk naik ke belakangnya. Sari tahu, sangat tahu itu. Tapi tidak. Sengaja atau tidak, Adam bisa saja membuat Sari jatuh cinta. Pada semuanya, pada apapun itu, bahkan kebaikan kecil Adam.

"Dam, nggak usah,"

"Heh, malah bocah neng kene!" sahut Felix kembali ke tempat Sari dan merusuh di tengah adegan manis itu.

"Bocah opo? Udah dibilang gak usah sok ngomong Jawa," sahut Mega menjewer telinga Felix dan membuat cowok itu mengaduh.

"Ga iya ih, udah! Sakit tau gak!"

Sari maju mendekat, melerai Felix dan Mega yang tidak pernah akur. "Ga, udah Ga. Kasian anak orang."

Setelah dilerai Sari, baru Mega mau melepaskan Felix. Tapi sudah begitu pun, Felix masih saja memancing Mega dan membuat Mega harus menebalkan tembok kesabaran sebelum dia meledak di tempat.

"Beneran bisa?"

Sari menoleh, menyadari Adam yang menatapnya dalam. Seakan ada gambaran khawatir, namun sedikit samar.

Tatapan Adam memang selalu begitu. Dingin, nampak tak peduli, kadang sangat tajam seolah dia benci semua orang. Padahal Adam sangat peduli. Oh atau mungkin, memang Adam hanya peduli pada beberapa orang.

"Iya, bisa kok." jawab Sari tenang.

"He, jalan aja." ujar Adam pada Mega dan Felix. Mereka mengangguk menurut, mungkin karena tatapan Adam yang seolah mengintimidasi. Padahal nada bicaranya biasa saja.

Adam.

Namanya pun sudah tampan. 

Mungkin hidup yang kali ini adalah perang Sari Sartika dengan hatinya sendiri, demi menghindari patah hati dan kecewa. Lebih jauh dari itu, menghindari kelahiran Zenna Adhyaksa.

***

"Maaf, Bang. Aku telat."

Semua orang yang masing-masing sibuk di balik panggung menoleh seketika saat Sari datang. Bang Setyo, sebagai penanggung jawab para penyanyi yang tampil malam ini langsung menghampiri Sari. 

"Kok bisa lo telat? Ini kelewat satu penampilan loh, Ri. Elo seharusnya udah main dari tadi," ujar Bang Setyo mengomel.

Sari hanya bisa menunduk bersalah. "Maaf, Bang."

"Kalo selalu begini mending gak usah tampil aja sekalian."

"Maaf Bang. Tadi aku nunggu Bapak dulu, takut ketahuan."

"Kalo emang gak didukung ya gak usah ikut, tolol! Bikin ribet aja," sahut Tias menambahi dengan lebih sadis. "Kowe gak tau persiapannya di belakang panggung. Bang Setyo yang paling pusing nungguin kowe!"

Sari melirik Tias tajam, tapi tak menjawab apapun. Dari dulu, Tias memang saingan menyanyi Sari yang paling menjengkelkan. Cuma karena sepupu dari Bang Setyo, Tias selalu bersikap seenaknya sendiri. 

Dari kacamata Felicia, Sari tahu Tias tidak akan jadi apa-apa. Selamanya cuma biduan kampung saja. Tias sempat mengajukan rekaman, tapi ditolak karena suranya yang tidak punya ciri khas sama sekali.

Sari menahan diri untuk tidak mengungkapkan semua itu. Bisa-bisa semua orang yang ada di sini membela Tias dan semakin memojokkannya.

"Udah sana, minta dimake up dulu." ujar Bang Setyo melerai. Menyadari potensi adanya adu mulut karena tatapan tajam Sari.

Sari pun mengangguk menurut. Sari memiliki peralatan make up di rumah, tapi bukan berarti dia bisa memakainya. Bang Setyo pun lebih menyuruh Sari dimake up oleh orang di belakang panggung, bukan dirinya sendiri.

Ya mau bagaimana lagi kalau sudah Bang Setyo yang menyuruh, kan. Hanya Bang Setyo yang memiliki saluran ke ibu kota. Bang Setyo hanya akan membantu para penyanyi yang punya bakat. Jadi kalau Sari tidak bersikap baik dan berusaha keras, ya tamat saja.

Setelah make up, Sari harus menunggu lagi. Susunan acara harus diperbaharui sebelum Sari naik agar tidak mengacaukan semuanya.

Jarum jam menunjukan pukul setengah 10 malam setelah Sari selesai bernyanyi, menampilkan suara terbaiknya. Bang Setyo adalah orang yang paling tahu Sari tidak bisa pulang lebih malam dari ini. Jadi ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna ungu, lalu memberikannya pada Sari.

"Kerja bagus. Besok-besok jangan telat lagi, ya."

"Makasih, Bang." jawab Sari tersenyum  lebar. Tias nampak tidak suka, ah dia memang selalu tidak suka setiap kali Sari pulang duluan. Tapi kalau Sari harus berusaha membuat Tias senang, seribu tahun pun tidak akan cukup.

Sari keluar duluan dengan tubuh yang sudah sangat lelah. Dan di sana, Sari mendapat kejutan dari seseorang.

"Udah selesai?"

Adam, dengan sepeda hitamnya. Adam menunggu Sari di atas sepedanya dengan celana panjang, kaos hitam dan cardigan rajutan, entah sudah berapa lama Adam ada di sana. Sari tidak tahu. 

"Kok kamu di sini?" tanya Sari langsung mendekat, merasa tidak enak.

"Jemput kamu." jawab Adam ringan.

"Kamu udah berapa lama—"

"Udah ayo. Nanti ketahuan Bapakmu."

Sari seketika terdiam, raut wajahnya berubah. Sekarang Sari tahu. Sari ingat jelas perasaan itu, debaran setiap kali Adam datang dan ada di sekelilingnya. Sari tahu mengapa ia bisa jatuh dan menjadi bodoh demi pemuda ini.

"Iya." 

Sari pun naik ke pijakan belakang. Dan baru Adam mengayuh sepedanya saat Sari sudah perpegangan pada pundaknya. 

Angin malam, suara jangkrik, dan cahaya lampu yang temaram. Alasan Sari mencintai desa mungkin karena dia mencintai seseorang, Adam Adijaya. 

Seumur hidup Felicia sudah ia habiskan dengan membenci sosok Adam Adijaya. Namun hari ini, detik ini, saat ini, Felicia yang dulu kembali ingat. Kenapa Sari mencintai Adam, kenapa Sari sangat menyayangi Adam. Adam yang nampak diam, Adam yang hilang bila tak dicari, Adam yang nampak dingin dengan sorot matanya itu.

Mungkin. Felicia tahu.

Sari tetap mencintai hidupnya yang kusut, karena ada Adam di sana.

Felicia jadi berandai-andai. Kalau saja Adam memilih untuk bertanggung jawab dan menikahi Sari, betapa bahagianya hidup bersama. Adam, Sari, dan Zenna, buah hati mereka tercinta.

"Dam,"

"Hmm?" jawab Adam singkat.

"Kamu kok tau aku nyanyi hari ini?"

Adam diam sejenak, lalu menjawab dengan kekehan pelan. "Apa yang gak aku tau soal kamu?" ujarnya malah bertanya balik.

"Dam, serius."

"Iya, aku serius." ujar Adam. "Aku liat motornya Bang Setyo tadi sore. Jadi aku tau kamu pasti bakal nyanyi malam ini."

Sari terdiam sejenak, sedikit terpukau dengan jawaban Adam. Ada pertanyaan yang tak sempat Sari tanyakan dulu. Mungkin, malam ini saat semuanya masih baik-baik saja, Sari bisa tahu jawabannya. "Kamu emang selalu peduli sama hal-hal kecil gitu, ya?"

"Emang itu hal kecil?" tanya Adam balik, seolah malah bingung sendiri. "Semua orang juga bakal sadar kali, Ri. Bukan hal kecil itu."

Tapi yang Adam sadari adalah hal-hal yang tidak banyak orang tahu.

Ah, sulit sekali mengatakan hal itu. 

Sari memilih diam menunduk,  mengamati kepala Adam di bawah sinar cahaya yang temaram ini. 

"Kamu masih mau ngejar mimpimu, Ri?" tanya Adam.

Sari mengangguk, walau Adam tak melihat. "Iya, aku mau jadi penyanyi."

"Tapi orang tuamu gak suka." 

"Yang gak suka cuma Bapak. Emak sebenernya ngedukung, cuma Emak gak suka liat aku dimarahi Bapak gara-gara nyanyi."

Adam mengangguk mengerti. Lalu melanjutkan. "Kalo kamu bisa tau masa depan, kamu masih bakal ngejar cita-citamu gak?"

"Ha?" Sari tersentak kaget. "Kenapa emangnya?"

Adam diam sejenak, tidak langsung menjawab. "Gak papa." 

Sari terdiam sesaat, dahinya mengernyit heran. Sampai akhirnya ia sadar, Adam adalah orang satu-satunya yang tidak punya cita-cita pasti di antara Felix, Mega, dan Sari. Orang tuanya menyuruh Adam menjadi polisi. Tapi Adam sendiri tidak merasa punya minat di sana.

"Dam,"

Adam tersentak kaget saat Sari melingkarkan lengan pada pundaknya. Membuat Adam langsung menoleh ke belakang. Dan menyadari Sari memeluknya. Pelukan seorang teman.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status