08. Hari Pertama Ujian

Hembus angin pagi mengelus kulit. Sari berjalan kaki menuju sekolah ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri. Maklum, jalanan desa tak sebaik di kota. Kalau tidak berangkat sekolah awal, bisa-bisa terlambat.

Berpapasan dengan beberapa warga di jalan, Sari tidak lupa untuk menyapa dan menunduk hormat. Adab kebiasaan di kampung. Yang seharusnya masih ada juga di kota. Seharusnya.

Soal kata-kata Mega kemarin, Sari jadi merenung.

"Gak pernah pulang bareng sama cowok selama 16 tahun selain Felix."

Sial, kalimat itu kembali terbayang. Sebenarnya kalau mau diceritakan sih, bukannya tidak ada. Tapi malah ada. Cuma ya, tidak semua berjalan manis.

Mungkin salah satunya, adalah pemilik sepeda onthel yang rajin sekali membunyikan klakson sepedanya padahal jarak dengan Sari masih sangat jauh. Dari nada bicaranya yang bahagia, berani bertaruh cowok itu sudah tersenyum dari kejauhan.

"Kring, kring, ada sepeda. Sepedaku roda lima. Kudapat dari ayah, karena rajin menabung," senandungnya dari jauh. Sari sudah jenuh duluan mendengarnya.

Haikal Amurti, mengaku sebagai ahli catur di kampung. Tapi bagi Sari, dia cuma secuil cowok gak jelas yang ada di kehidupan Sari. 

"Kring, kring, ada traktor. Traktorku roda—" Haikal diam tak melanjutkan melihat raut wajah Sari yang ketus itu. "Dua tiga tutup botol. Heh, kamu kayak lol!"

Sari hampir saja mengumpat kasar saat Haikal menendang tasnya dari belakang. Hingga Sari hampir jatuh ke sawah karenanya. "HAIKAL!"

"Mukamu kenapa? Kayak mau makan orang." tanya Haikal tanpa dosa.

Sari mendengus kasar. Ia mengambil napas panjang dan berusaha menyabarkan diri, lalu kembali berjalan pergi dari sana. 

"Ri, kamu kalo diem jadi kayak cewek, loh." kata Haikal sambil mengayuh sepeda dengan santai tepat di samping Sari yang masih berjalan kaki.

Namun Sari hanya diam. Terus berjalan tanpa menanggapi sedikit pun.

"Tapi belum cewek seratus persen kalo belum cariin aku kenalan." Haikal berdeham pelan, antara malu dan bangga. "Miris gak sih, Ri? Aku ganteng gini, tapi gak punya pacar."

Sari masih diam dan terus berjalan.

"Ri, kamu gak dengerin aku?"

"Sari, kamu udah makan kaktus belum?"

"Kamu suka makan kadal ngga—" Haikal sontak melotot dan tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika melihat Sari bersiap menendang. "RI IYA, RI! BERCANDA! JANGAN TENDANG SEPEDAKU!" 

Haikal langsung mengayuh sepedanya pergi setelah Sari bersiap mengamuk. Melihat itu Sari pun mendengus pendek. Ia merapikan roknya, lalu kembali berjalan dengan tenang. Sampai seseorang meminggirkan sepedanya ke dekat Sari.

Ya, semua orang pun tahu dia siapa.

"Gak kepagian?"

Sari melirik, kemudian menggeleng pelan. "Kan mau ujian."

Adam mengangguk paham. Ia mengayuh sepeda dengan tenang di sebelah Sari. Dan tentu dengan aura yang berbeda dengan Haikal. 

Haikal, manusia paling tidak jelas di kelas. Sementara Adam, bulu  matanya terlihat sangat lentik dari samping. Sangat indah, cantik. Sari sebagai perempuan pun iri melihatnya. 

"Ayo naik."

Adam berhenti ketika sepedanya berada lebih depan dari langkah Sari. Seperti biasa, Sari hanya mendengus pelan dan menggunakan pundak Adam sebagai tumpuan untuk naik ke pijakan belakang sepeda. Lalu setelah memastikan Sari naik, Adam pun mulai mengayuh sepedanya ke sekolah.

Semua berjalan seperti biasanya. Angin pagi menerbangkan bau mint segar dari shampoo Adam yang masuk ke hidung Sari. Seakan kemarin tak pernah ada pertengkaran beberapa hari lalu. Tidak ada saling meneriaki. Tidak ada lemparan sorot mata tajam satu sama lain.

Agak lucu, memang.

Hanya saja, mungkin yang berbeda perasaannya. Sari juga tidak tahu kenapa hatinya sudah tidak berdebar seperti dulu. Padahal Sari tahu jelas, pundak ini masih pundak yang sama seperti yang selalu Sari jadikan sandaran. Bau shampoo ini juga masih bau shampoo yang sama yang selalu masuk ke hidung diterbangkan angin. 

Mungkin, kali ini semuanya akan jadi lebih mudah. Tidak perlu ada Zenna kalau dia hanya lahir untuk mengalami hidup yang buruk.

Ini kemenangan Sari mengalahkan perasaannya untuk Adam.

***

"Good mowrniingggggg," sapa Felix riang gembira memasuki ruang kelas. Tapi tidak dengan ruang kelas yang dimasuki Felix. Semua orang berwajah batu, keras dan tak menoleh, semua fokus dengan buku di tangan masing-masing.

Felix berdecak pelan. Ia bertolak pinggang sambil memperhatikan teman-temannya dari pintu, tidak ada raut bahagia dari mereka.

"Permisi! Apa pintu kelas sekarang punya rambut? Tok tok, amit!"

Felix tersentak kaget. Ia sampai melompat dengan jantung yang seakan terjun bebas menuju ujung tak terbatas. Pemuda itu menoleh, dan mendapati musuh bebuyutannya baru saja datang ke sekolah dengan wajah yang seakan mengajak berkelahi.

"Masih pagi. Gak usah bikin masalah." kata Felix memperingatkan.

"Dih, kamu yang ngalangin jalan tuan putri!" balas Mega mengibaskan rambutnya yang dikuncir dua tinggi ke arah wajah Felix tepat, sengaja.

Felix hampir saja mengumpat. Tapi dia menahan diri. Felix mendengus sengit dan kembali berbalik memperhatikan orang-orang dari pintu. Mega yang penasaran pun ikut mengintip ke dalam. 

"Nyari orang? Siapa sih?" tanya Mega.

"Yang jelas bukan kamu." jawab Felix datar.

Jawaban yang singkat, jelas, padan dan terkesan sangat jujur. Tapi Mega pun tidak tahu kenapa tangannya refleks menjambak Felix dari belakang dan memulai perkelahian pertama mereka di minggu tenang ujian akhir ini.

"Jangan sentuh, Ga! Sentuh bayar satu juta!" ucap Felix.

Tapi Mega tidak peduli. Dia tetap maju dan menerjang Felix. Sari yang tadinya sedang fokus merunduk ke bukunya pun seketika mengangkat wajah mendengar dua suara familiar itu. Heran, padahal ini hari pertama ujian. Kenapa Felix dan Mega selalu berkelahi tak kenal waktu dan tak kenal tempat.

"Ga, udah Ga." Sari berdiri dan hendak melerai.

Tapi di sisi lain, Sadewo justru datang dari lorong dan tertawa pelan. "Woi, taruhan gak nih? Siapa yang menang?" tanyanya pada teman-temannya yang lain.

Mendengar itu, Mega justru berhenti menjambak Felix dan berbalik ke arah Sadewo berserta teman-temannya itu. "Emangnya aku ayam taruhan!?"

"Ayam? Aku kira malah keset." jawab Sadewo tanpa dosa.

Jawaban Sadewo jelas memancing emosi Mega sekali lagi. Cewek itu langsung melinting lengannya dan bersiap maju menghajar Sadewo. Kali ini malah Felix yang kegirangan, senang karena akan ada samsak baru Mega selain dirinya.

Sari yang melihat itu jadi pusing. Antara frustasi dengan Mega yang selalu tempramen dan tertawa bahagia juga melihat Mega mendapat korban baru. 

Namun di tengah dituasi itu, Catur menceletuk dengan gaya khas santainya. "Ayo, yang menang dapet Mas Satrio!"

"Heh! Emang pacarku piala bergilir!?" sahut Mega langsung tak terima.

"Udah pasti kamu menang, Ga. Kalau pun kalah, Mas Satrio gak mau sama Sadewo, dia bau pesing." jawab Felix ikut mengompori suasana.

"Heh kata siapa!?" balas Sadewo tidak terima namanya dibawa-bawa.

"Pas persami, kamu ngompol!" jawab Felix mengungkit bukti.

"Mana ada! Kalian jangan dengerin asbak rokok ngomong!" ucap Sadewo berbalik pada teman-temannya, meminta dukungan. Tapi Catur malah tertawa karena Catur tidur di sebelah Sadewo saat persami dan dia tahu kenyataannya.

"Asbak rokok katanya, Lix." Mega menyikut Felix pelan. Rasa keibuannya pada Felix seakan tak terima temannya dikatai begitu.

Kalau sudah begini, Sari hanya bisa menghela napas. Mau dipisah pun juga tidak akan bisa. Satu-satunya harapan hanya sampai Pak Tirto datang dan membubarkan semua ini.

***

"Ga, mau makan nasi goreng Pak Sulaeman gak?" ajak Sari mengemasi barangnya ke laci setelah bel berbunyi dan para siswa mulai keluar dari kelas usai ujian mapel pertama selesai.

Mega pun menoleh dengan alis berkerut. "Tumben makan di kantin?" ujarnya heran, padahal Sari lebih sering membawa bekal.

"Lupa. Ingetnya cuma harus berangkat pagi, takut telat ujian."

Mega terdiam sejenak, lalu mendengus pendek dan beranjak berdiri. Sebenarnya pada kehidupan yang dulu, Sari juga tidak pernah membawa bekal. Sari dan Mega selalu makan di kantin. Tapi setelah mendapat kesempatan kedua, jelas Sari ingin mengubah sedikit kebiasaannya. Walau hanya sedikit.

"Ri, mau ke mana?" celetuk Haikal bertanya.

Sari menoleh malas. "Club."

"Hah?"

"Ke kantin." jawab Sari tak niat. "Gak buka jasa titip."

Haikal menghela napas kecewa. Sementara itu, Felix yang tadinya sedang merapikan kotak pensilnya seketika langsung menoleh. Cowok itu langsung melompat di tengah Sari dan Mega. 

"Kenapa aku gak diajak? Kalian mau menduakan aku?" tanya Felix.

"Lix, jangan drama." kata Mega mendorong Felix.

"Gerah ih, minggir sana." ucap Sari ikut menyingkirkan Felix.

Felix yang hatinya tersakiti pun mengerang sedih. Tapi tak sampai tiga detik kemudian, cowok itu kembali berjalan di tengah Sari dan Mega dengan riang.

"Mau makan apa? Bakso mau, bakso?" tanya Felix girang.

"Lagi pengen nasi goreng," jawab Sari datar.

"Heem, nasi goreng Pak Eman." sahut Mega mengangguk setuju.

"Baiklah kawanku, mari kita raid lapak Pak Eman!" Felix mengepalkan tangannya kemudian mengangkatnya tinggi ke udara. "Mari kita—"

"ASTAGA KADAL GORENG!" pekik Sari latah melompat saat berpapasan dengan seseorang di belokan koridor.

Adam yang datang dari arah berlawanan pun refleks termundur, sama kagetnya. 

Melihat itu, ekspresi Felix pun berubah seketika. Ada hening sesaat, sampai Felix dengan senyum lebarnya pun mendorong Mega maju bersamanya. "Nah, udah ada temen, kan. Sekarang Mas Felix sama Mbak Mega duluan, ya."

Sari mengerjap, "eh, Lix—"

"Bye~" Felix mendorong Mega lebih cepat dari sana.

Meninggalkan Sari dan Adam yang akhirnya terdiam saling menatap. Tidak tahu harus apa dan tidak tahu harus bagaimana.

Adam berdeham, "mau ke mana?"

"Makan."

"Oh, ya udah. Ayo bareng aja."

"Kamu bukannya mau ke... tempat lain?"

"Nggak. Udah, ayo."

Sari terdiam sejenak, lalu mengangguk. Adam pun berbalik dan berjalan bersama Sari menuju ke kantin dengan langkah tenang.

DMCA.com Protection Status