Part 4

Ivy menatap horor seseorang yang ada di depannya, ia tidak menyangka kalau sampai sejauh ini.

"Bram, ayo di nikmati makan malamnya!" Abraham tersenyum mengangguk.

Abraham mengedipkan sebelah matanya pada Ivy, Ivy memasang wajah mual melihat Bram, bukannya marah tapi Abraham malah tertawa geli.

Ivy melotot ke arah Abraham, namun yang terjadi Abraham memajukan bibirnya, seperti sebuah ciuman, hahaha.

Ivy kesal dengan kedua orang tuanya, yang mengundang Abraham untuk makan malam. Abraham juga bukannya menolak, malah kesenangan, astaga! Ivy benar-benar kesal sekali.

"Ma pa, Ivy permisi masuk ke kamar." Ivy bangkit dan berjalan naik ke tangga.

"Maaf ya Abraham, sepertinya Ivy lagi badmood."

"Iya, tidak apa-apa." jawab Abraham santai, namun matanya menatap ke arah atas.

Ivy tiduran tengkurap di ranjangnya, sambil mendengarkan lagu. ia tidak sadar saat seseorang masuk ke kamarnya, seseorang itu menatap Ivy intens sambil bersedekap dada.

Perlahan ia mendekati ranjang Ivy, di tatapnya tubuh Ivy dari kaki sampai kepala. sesuatu di balik celananya bangun, dan terasa sesak.

Ivy menggeliat saat merasakan kecupan basah di bahu terbukanya, ia menolehkan kepalanya yang otomatis bibirnya langsung di cium Abraham.

Abraham terus mencumbu Ivy, sampai Ivy merasakan sesak nafas karena Bram tidak memberinya jeda.

"Om gila!" ketus Ivy marah setelah ciuman terlepas.

"Iya om tau kok, kalau om ini tampan." Ivy melirik sinis Abraham yang pedenya tingkat dewa.

"Pede banget sih om, gak malu sama umur." Abraham tertawa.

"Kenapa mesti malu sama umur? memang ketampanan seseorang harus di ukur dari segi umur ya?" Ivy merasa pusing dengan ocehan Bram.

"Buang waktu banget tahu gak! om ngoceh tambah bikin Ivy pusing." jelas Ivy, Abraham hanya santai menanggapinya.

"Om ngapain masuk ke kamar Ivy? ASTAGA!" ucap Ivy kaget, sepertinya Ivy baru sadar jika Abraham masuk ke kamarnya.

"Dasar om mesum! keluar sana!! ma...," teriakan Ivy terhenti, karena Abraham membungkam mulutnya.

Abraham melepaskan tangannya. "Silahkan berteriak sepuasnya!" Abraham tersenyum lebar, Ivy mengerutkan dahinya bingung.

Ivy keluar dari kamar, berjalan mengitari seluruh ruangan di rumah. berteriak memanggil kedua orang tuanya, namun tidak ada sahutan sama sekali.

Ivy merasa ada yang tidak beres sekarang ini. "Dimana kedua orang tuaku?" tanya Ivy pada Abraham.

"Mereka pergi sebentar, dan menitipkan mu padaku." jawab Abraham santai, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.

"APA?!" tanya Ivy kaget.

"Iya Ivy, biasa saja dong sayang, sampai kaget gitu, Ivy terlalu senang ya karena om Bram jagain!" goda Abraham.

"Ciiiihh, menjijikkan mendengarnya." Ivy membuang pandangannya ke arah lain.

Abraham berjalan mendekati Ivy. "Orang tuamu menitipkan anak gadisnya, pada orang yang sangat tepat!" ujar Abraham bangga.

"Haha, justru orang tuaku sangat salah besar. menitipkan diriku pada orang yang salah, mereka tidak tahu jika selama ini memiliki tetangga yang gila dan mesum." Abraham tertawa ngakak, entah kenapa setiap kata-kata pedas Ivy terdengar lucu bagi Abraham.

"Berhenti tertawa sialan, dasar om sinting mesum." Ivy sebal melihat Abraham yang tertawa, ia memutar tubuhnya masuk ke dalam kamar.

Ivy mengunci pintu kamarnya, takut-takut jika Abraham masuk lagi, dan melakukan tindakan gilanya.

Suara pintu kamar Ivy yang di gedor-gedor, membuat Ivy terbangun dari tidur nyenyaknya. Ivy menguap dan menetralkan rasa kantuknya.

Rasanya Ivy masih mengantuk dan enggan untuk berangkat kuliah pagi, ini semua gara-gara Abraham, yang membuatnya terjaga semalaman.

Ivy sudah selesai dan turun ke bawah untuk sarapan, ia melihat kedua orang tuanya tengah menikmati sarapan.

"Pagi mama, papa." ucap Ivy mencium pipi kedua orang tuanya bergantian.

"Pagi sayang." balas keduanya bersamaan.

"Mama sama papa pergi kemana tadi malam?" tanya Ivy yang sedang mengolesi rotinya.

"Ah mama sama papa pergi ke rumah sakit sayang." jawab sang mama.

"Lalu meninggalkan Ivy bersama om Bram?!" terang Ivy yang merasa kesal.

"Tadinya kami mau mengajak kamu sayang, tapi Bram bilang tidak usah, dia akan menjaga kamu." kini sang papa yang angkat bicara.

"Dan kalian percaya begitu saja pada seseorang? sekali pun itu orang terdekat kita?" Ivy meluapkan segala kekesalannya.

"Memangnya kenapa dengan Abraham Ivy?" Ivy terdiam mendengar pertanyaan sang papa.

"Apa dia melakukan sesuatu hal jahat sama kamu?" skakmat, Ivy benar-benar bungkam mendengar pertanyaan mamanya.

Tidak mungkin kan Ivy mengatakan, jika dia dan Abraham sudah lebih dari dua kali berciuman. melihat Ivy yang diam seribu bahasa, kedua orang tuanya saling melempar pandangan, dan tersenyum sembunyi.

Ivy yang merasa kesal pun berdiri, dan pamit pergi pada kedua orang tuanya. "Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara anak kita dan Bram." ujar mama Ivy yang di angguki papanya.

Baru saja Ivy keluar, mobil Abraham keluar dan melewati rumahnya begitu saja. Ivy pun berusaha acuh dan segera masuk mobil.

Di dalam kelas Ivy lebih banyak melamun, ia bahkan tidak fokus dengan apa yang di jelaskan dosennya.

Ivy merasa aneh dengan sikap Abraham yang sekarang, lebih terkesan genit dan mesum, tidak seperti dulu yang dinginnya seperti es.

Ivy harus mencari tahu mengenai perubahan sikap Abraham, jika terus di biarkan maka Abraham semakin seenaknya. lihatlah, bahkan Bram sesuka hatinya mencium Ivy, memangnya dia kira Ivy apa? Ivy juga butuh kepastian dan kejelasan ini.

Apa hubungan mereka sekarang ini?

Ivy tidak mau jika Abraham hanya mempermainkan dirinya, sudah cukup saja yang dulu, dan Ivy tidak ingin lagi.

Tbc...

Ivy : iiiihh om Bram mesum!!!

Abraham :

Author :

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status