Part 7

Mobil Bram berhenti di suatu tempat yang membuat Ivy tercengang, Bram berkunjung ke panti asuhan dimana dia menjadi donatur tetap disana. dan kali ini Abraham mengajak Ivy, karena sebelumnya, beberapa minggu yang lalu Abraham sudah berjanji pada ibu pengurus panti, dan juga anak-anak akan memperkenalkan Ivy pada mereka.

"Ini kan panti asuhan?" tanya Ivy heran karena Bram membawanya kesini.

Bram hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ivy, jujur dia sangat senang bisa membawa gadisnya kemari.

"Tapi kenapa om membawa ku kemari?" lagi Ivy bertanya.

"Ayo masuk!" Abraham tersenyum dan mengajak Ivy masuk, tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan gadis itu.

Abraham menggenggam erat tangan Ivy, hingga mereka masuk ke dalam panti asuhan yang di sambut hangat, dan gembira oleh anak-anak dan para ibu pengurus panti.

Semuanya sangat ramah pada Ivy, begitu pun Ivy yang sangat senang datang ke panti.

"Syukurlah dia senang, aku pikir dia bosan jika aku ajak kemari." batin Abraham.

Abraham asyik melihat Ivy yang sedang bermain bersama anak-anak panti, senyum terukir di wajah tampannya saat melihat gadis pujaannya tersenyum ceria, dan sesekali berteriak girang di selingi canda dan tawa.

"Bram." panggil ibu panti bernama Melisa.

"Iya bunda?" jawab Abraham yang memang sudah terbiasa memanggil Melisa dengan sebutan bunda.

"Jadi dia yang bernama Ivy?" Abraham tersenyum.

"Cantik, bahkan sangat cantik." puji Melisa.

"Dia sangat baik, ceria dan sikapnya manis sekali. pantas saja kau sangat tergila-gila padanya Bram." Abraham senang mendengar pendapat Melisa mengenai Ivy.

"Ya, aku sangat mencintainya dari dia kecil. bahkan aku sangat ingin sekali segera memilikinya, aku ingin menikahinya bunda tapi...." Abraham menggantungkan kalimatnya.

"Tapi kenapa Bram?" tanya Melisa penasaran.

"Perbedaan umur kami berdua bunda, sangat berbeda jauh! 11 tahun jarak umur di antara kami, aku malah lebih pantas menjadi kakak ataupun om-nya." jawab Abraham tersenyum kecut.

"Kenapa kau menjadi pesimis begitu Bram? apakah kau sudah pernah mengungkapkan perasaan mu pada gadis itu?" tanya Melisa sambil matanya sesekali memperhatikan Ivy.

"Bram bahkan sama sekali tidak mampu mengatakannya bunda, rasa takut di tolak itu lebih besar. dan ya, aku takut jika Ivy menikah denganku Ivy malah jadi tidak bisa bahagia karena memiliki suami lebih tua darinya." ucap Bram lirih namun masih bisa di dengar Melisa.

Melisa menggenggam lembut tangan kekar Abraham. "kau jangan langsung memutuskan pikiran seperti itu begitu saja, kenapa bisa Ivy tidak bahagia jika menikah dengan mu?" Ucap Melisa pura-pura galak.

Abraham hanya terdiam dengan pikirannya, jika di dekat Ivy dia seperti seseorang yang sangat gatal dan suka menggoda gadisnya.

Abraham menatap Ivy, yang tidak sengaja secara bersamaan Ivy juga melihat ke arahnya. Ivy tersenyum bahagia sekali, Abraham pun membalas senyumannya.

Hal itu tertangkap di kedua mata Melisa. "saranku... kalau kau benar-benar mencintainya, maka segeralah menikah dengannya sebelum orang lain merebutnya lebih dulu. lupakan gengsi mu mengenai jarak umur kalian." kata Melisa dan pergi meninggalkan Abraham dengan segala pikirannya.

Apa yang di katakan Melisa ada benarnya juga, dia harus secepatnya memiliki Ivy sebelum orang lain lebih dulu.

Ia bangkit dan bergabung bermain bersama Ivy dan anak-anak panti, mereka semua tanpa bahagianya sekali.

*********

Tak terasa hari sudah semakin sore, Abraham dan Ivy pamit pulang pada semuanya.

Sebelum itu, semua anak-anak berlarian memeluk tubuh Ivy dengan sayang.

"Kakak janji ya, jika nanti kapan-kapan datang lagi kemari, dan kita bisa bermain lagi mengalahkan papa Bram." Ucap Rio bocah laki-laki di panti.

"Siaaapppp." Ucap Ivy sambil tangannya membentuk tanda hormat.

"Kami pulang bunda," Bram pamit pada Melisa dan ibu panti lainnya.

Begitu pun Ivy yang juga ikutan pamit dan memeluk para ibu panti, meskipun baru bertemu tapi Ivy adalah gadis yang menyenangkan, hingga mudah baginya untuk saling mengenal.

"Bagaimana?" tanya Bram.

Saat ini mereka sudah di dalam mobil menuju perjalanan pulang ke rumah, senyum yang tak pernah luntur di wajah Ivy, menandakan bahwa ia sangat senang sekali.

"Menyenangkan," jawabnya dengan ceria.

"Om takut kalau kamu bosan tadinya." Ivy menggeleng.

"Bagaimana mungkin aku bosan om, mereka sangat lucu dan manis sekali dan ibu panti juga sangat baik dan ramah." Ucapnya memuji.

"Oh ya, mengapa mereka memanggil mu dengan sebutan papa om?" tanya Ivy, yang teringat ketika Rio menyebutkan nama Abraham dengan embel-embel papa.

"Ya, mereka semua memang memanggil ku papa." jelas Abraham menolehkan wajahnya melihat Ivy.

Sejenak mereka saling tatap, namun dengan cepat Abraham mengalihkan pandangannya dan kembali fokus menyetir.

Tanpa di duga-duga Abraham memegang tangan kanan Ivy dengan tangan kirinya, Ivy ingin melepaskan tangganya namun entah kenapa dia merasa nyaman.

"Aku sudah tidak tahan lagi." gumam Bram lebih ke sebuah geraman.

Ia memberhentikan mobilnya di tepi jalan, dan langsung membalikkan badannya menghadap Ivy.

Ivy terbelalak kaget melihat Abraham menciumnya tiba-tiba, di kulumnya bibir Ivy dengan rakus.

"Balas ciuman ku Ivy," pinta Abraham di sela-sela ciumannya.

Ivy pun menurutinya karena ia juga sudah mulai terbuai, sejenak mereka melepaskan ciumannya saat merasakan pasokan udara mulai menipis.

Nafas mereka terengah-engah dengan memburu, Abraham melihat dada Ivy yang naik turun. entah kenapa tiba-tiba saat menyetir tadi muncul bayang-bayang dirinya dan Ivy bercumbu, itulah yang membuatnya tidak tahan.

Dengan cepat Abraham menggoda Ivy lagi, ia melepaskan safety belt Ivy dan menepuk kedua pahanya agar Ivy duduk di pangkuannya.

Ivy tampak malu-malu tapi tak ayal menuruti keinginan Abraham, ia naik ke atas pangkuan Abraham.

Mereka saling tatap dengan intens, Abraham membelai wajah Ivy dengan sangat lembut, satu tangan Abraham memegang pinggang ramping Ivy dengan mesra.

Dan...

Dan apa hayo...? 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jasmin Mubarak
wkwkwkwkwkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status