DIA
DIA
Author: Azeela Danastri
PROLOG

          Davka masih setia mematut diri di depan cermin setinggi tubuhnya. Memastikan penampilannya saat ini tidak mengecewakan, pasalnya sekarang adalah malam terakhir ia menikmati kebersamaan dengan teman-teman kuliahnya. Ya, malam ini adalah pesta perayaan sebelum wisuda mereka bulan depan. Karena setelah acara wisuda, otomatis para mahasiswa banyak yang segera kembali ke kampung halaman mereka kembali.

Suara gelak tawa dan candaan teman-temannya terdengar nyaring dari balik pintu kamarnya. Mereka juga sangat antusias seperti juga dengan dirinya untuk menikmati pesta. Davka membalikkan badan dan kemudian keluar  dari kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu. Di ujung lorong sepupunya Eric sudah menanti dirinya.

“Siap untuk berpesta, brother?” tanya Eric seraya merangkul bahu saudaranya itu.

“Tentu saja,” jawab Davka.

Davka dan juga Eric akhirnya bergabung dengan teman-temannya yang lain meninggalkan gedung asrama Arjuna dan berjalan bersamaan menuju gedung serbaguna tempat pesta berlangsung yang kebetulan tepat berada di tengah halaman komplek asrama itu. Baru saja Davka akan menapakkan kakinya pada anak tangga menuju ke dalam gedung pesta, panggilan dari seorang gadis menghentikan laju langkahnya.

Lidya nama gadis tersebut, salah seorang teman kuliah Davka. Lidya menghampiri Davka bersama dengan keempat teman wanitanya yang lain. Davka mengerutkan dahinya, tatapan malas ia tunjukkan pada gadis itu. Bukannya Davka tidak sopan kepada perempuan, tetapi memang gadis yang satu ini merupakan pengecualian untuknya. Gadis yang dengan terang-terangan suka menggodanya, bahkan tidak merasa sungkan langsung menggelayut di lengannya tanpa permisi. Sedangkan kekasih hatinya sendiri saja tidak berani melakukan hal itu jika tidak Davka yang meminta, gadisnya yang polos dan pemalu.

Ah, Davka rindu tentu saja.

Lidya sendiri bukannya tidak tahu jika Davka sudah memiliki kekasih, tetapi karena ia juga tertarik pada Davka maka segala upaya akan ia tempuh demi meluluhkan hati sang pria pujaan. Bagaimanapun caranya sebelum wisuda dan pria ini kembali ke kotanya ia harus sudah mendapatkan Davka. Seperti saat ini, ia dengan tidak tahu malu sudah menggelayut manja di lengan kanan Davka.

Davka memegangi pergelangan tangan Lidya mencoba melerai genggaman gadis itu, tetapi gadis itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Sorot mata Davka tajam menghunus manik mata Lidya tetapi dasar gadis kepala batu. Lidya bukannya merasa takut tetapi gadis itu kembali balas menatap Davka.

“Lepasin tanganku,” bentak Davka.

“Kalau aku nggak mau lepasin, kamu mau apa?” balas Lidya.

Davka melotot dengan rona merah mulai menjalar dari leher sampai ke wajahnya. Kedua telak tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

Eric yang merasakan gelagat tidak baik pada Davka, akhirnya iapun turun tangan.

Eric merengsek ke depan dan meremas bahu Davka dan berkata, “Sabar Dav, ayo kita pergi. Ingat dia perempuan.”

Davka memalingkan wajah menatap Eric dengan raut wajah datar. Kemudian meyentakkan cengkeraman tangan Lidya dengan kasar seraya berbisik, “Sebaiknya kamu menjauh dariku jika tidak ingin aku berbuat kasar padamu.” Setelah berkata demikian Davka beserta rombongannya meninggalkan Lidya dan teman-temannya juga.

Lidya menyentakkan kakinya seperti anak kecil, kemudian ia berseru seraya menunjuk ke punggung Davka, “Davka Alsaki! Pegang kata-kataku ini ya. Suatu hari nanti kamu akan tunduk di bawah kakiku!”

Davka membalikan badannya menatap Lydia dengan tatapan mata malas dan memutar kedua bola matanya, kemudian kembali membalikkan badannya dan berlalu.

“Dasar pria sombong! Tapi walau begitu aku tetap suka,” gumam Lydia.

“Sudahlah Lydia, kayak nggak ada cowok tajir lainnya. Deketin aja Eric,” saran Dini salah seorang teman Lydia.

“Dan berurusan dengan Yora? Sama saja aku cari mati kalau goda Eric,” balas Lydia.

“Kenapa begitu?”

“Karena ayah Yora itu bos Bokap gue!” jawab Lydia jengkel seraya melotot sinis.

“Beda sama pacar si Davka itu, pacarnya itu cuma gadis miskin biasa. Heran sama Davka kok bisa-bisanya mau sama gadis begitu,” ujar Lidya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dipelet mungkin si Davka,” timpal temannya yang lain.

Kelima gadis muda itu akhirnya berlalu dengan derai tawa meyertai.

***

Davka mendengkus jengkel, pasalnya Lydia kembali menghampirinya dengan membawa dua gelas minuman. Padahal posisi Davka saat ini sedang berbincang dengan para karyawan kantor fakultasnya. Otomatis Davka tidak bisa mengusir Lydia begitu saja.

Lydia tersenyum tipis, ia tahu sekali Davka tidak mungkin akan mengusirnya saat ini. Sekali-sekali bolehlah berbuat licik, Lydia mengulurkan salah satu  gelas kepada Davka. Davka dengan terpaksa mererimanya karena saat ini ia juga tidak membawa minuman apapun.

Senyum culas terbit di bibir manis Lydia saat ia melihat Davka menyesap minuman yang dibawakannya. Setelah memastikan Davka menyesap minuman yang dibawakannya itu, Lidya kemudian berlalu meninggalkan Davka. Lydia kemudian menemui sesosok pria yang berdiri di sudut ruangan.

“Bagaimana, sudah dia minum?” tanya sosok itu.

“Sudah, makasih ya,” jawab Lydia dengan wajah puas.

Di sudut kota lainnya, Almira sedang sibuk mencari keberadaan ponselnya yang terlupakan karena kesibukannya hari ini. Hari ini adalah hari penuh duka untuknya, bagaimana tidak hari ini ia harus menguburkan kedua orangtua berserta dengan kedua adik-adiknya akibat kecelakaan yang menimpa keempatnya saat liburan kemarin. Dan baru saja selesai diadakan acara sembahyang bersama dengan para tetangganya.

Almira membuka ponselnya dan tersenyum membaca pesan yang ditinggalkan oleh Davka, yang menanyakan kabarnya. Almira mendesah, ia merasa serba salah pasalnya sang kekasih belum mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Jangankan Davka, para sahabatnya saja tidak tahu menahu tentang hal ini.

“Nak Al, kalau nggak  berani tinggal sendiri bisa tinggal di rumah ibu dulu,” tawar ibu RT.

Almira menaruh ponselnya di atas pangkuannya dan tersenyum lembut kepada ibu RT itu dan berkata, “Ndak perlu Bu, Al berani kok. Anggap kenang-kengan Al sama keluarga disini. Karena sesuai dengan pesan Bapak, rumah dan tanah akan Al jual nanti setelah empat puluh harinya.”

“Kok cepat banget Nak?”

“Al, juga nggak paham Bu. Itu pesan terakhir Bapak sebelum meninggal kemarin di rumah sakit. Al nggak mungkin bisa menolak ‘kan, Bu?”

“Sabar ya Nak. Semua sudah di atur oleh-Nya. Ada sebab pasti ada akibat. Pasti Bapak juga sudah memikirkan semuanya untuk Nak Al.” Bu RT mengusap punggung Almira menenagkan gadis itu yang sudah tampak akan kembali menitikkan airmatanya.

Banyak orang mengungkapkan rasa simpatik mereka kepada Almira dan juga keluarganya, karena mereka keluarga yang baik dan ramah. Tak pernah segan membanttu para tetangga yang kesusahan dan tak pernah meminta imbalan apapun. Kerena banyaknya orang yang peduli padanya dan keluarganya membuatnya sangat bersyukur sekali. Bahkan tadi ada salah seorang tetangganya ynag ingin mengajaknya menikah tetapi jelas di tolak oleh Almira. Gadis itu tentu berhqarap setelah Davka menyelesaikan pendidikannya, mereka akan segera menikah. Sesuai dengan apa yang pernah  pria itu janjikan dulu kepadanya. Satu bulan lagi ia akan bertemu dengan sang kekasih dan ia akan menceritakan semuanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status