Share

Chapter 5

Begitu berada dalam mobil online Almira segera menghubungi bu Suci, untung saja panggilan teleponnya dengan cepat direspon oleh mantan guru sekaligus bosnya sekarang. Ia beranggapan dengan menerima tawaran bu Suci, Davka tidak akan menemukannya disini. ia juga mengirimkan pesan singkat kepada Sinta dan juga Johnny bahwa ia sudah putus dengan Davka dan ia juga meminta kedua sahabatnya itu untuk merahasiakan keberadaannya jika Davka atau anggota keluarganya yang lain menanyai mereka termasuk juga Valentina yang adalah sahabat mereka juga, tetapi disisi lain Valentina juga adalah sepupu Davka jadi ia juga tidak diberi tahu.

"Halo Nak."

​"Ibu, masih ada tempat kosong nggak di mess untuk Al?"

"Tentu masih Nak, kenapa pagi sekali? kamu baik-baik saja?" Suci merasa gelisah dari nada suara Almira yang bergetar serta parau itu pasti telah terjadi sesuatu yang menimpa anak murid kesayangannya itu.

"Nanti Al ceritakan di sana ya Bu."

Suara Al yang semakin parau terdengar dan melemah membuat Suci memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

"Iya Nak, hati-hati ya."

Tepat pukul enam pagi, mobil yang ditumpangi oleh Almira tiba di depan gerbang rumah Suci. Saat ia membuka pintu penumpang Suci sudah menyambutnya dengan membuka pintu gerbang lebar-lebar. Pak supir membantunya menurunkan barang-barang bawaannya sedangkan Almira sudah berhambur dalam pelukan hangat Suci yang sudah seperti ibu kandungnya tersebut. Suci merangkum kedua sisi wajah Almira, wanita paruh baya itu mengulum senyum dan tampak gurat kekhawatiran kepadanya. Suci merengkuh bahu Almira yang terlihat parasnya sungguh pucat dan jelas tidak sehat.

"Mas Pri!" panggil Suci pada salah seorang pegawainya yang sedang menyapu halaman.

kemudian pria yabg dipanggil 'Pri' itu menghentikan kegiatannya dan mendekati Suci dan Almira.

"Nggih, Bu?"

"Tolong bawa masuk barang-barang Al ke dalam rumah ya."

"Baik,Bu."

Suci kemudian membimbing Almira masuk ke dalam rumah. Priyanto memandang kepergian keduanya dengan raut wajah prihatin. Prihatin pada keadaan Almira, ia tahu apa yang terjadi kemarin di rumah makan.Dan apa yang ia lihat sekarang sudah pasti tidak berakhir dengan baik.

"Orang baik pasti mendapatkan yang terbaik, Nduk. tidak sekarang tetapi nanti hidupmu pasti akan jaya," gumam Priyanto.

Di dalam ruang tamu Suci dan Almira duduk bersandingan. Almira sudah tidak bisa membendung lagi airmatanya yang sudah sedari tadi mendesak ingin ditumpahkan. Dengan tersedu Almira menceritakan semua yang terjadi. Apa yang terjadi di rumah makan dan sampai apa yang telah dilakukan oleh Davka kepadanya. Suci menyuruhnya untuk melakukan visum. Tetapi Almira tidak mau, ia sudah tidak mau berurusan dengan keluarga Alsaki lagi. terlebih mereka keluarga kaya dan terpandang apalagi yang ia harapkan. Toh Davla tidak mungkin bisa ia miliki kembali.

Akhirnya untuk sementara waktu agar Almira bisa menenangkan diri dan menghindari pertemuan dengan keluarga Alsaki, Almira bekerja membantu usaha catering saja. Ia tidak lagi di tempatkan di rumah makan, terlebih karena seringnya keluarga Alsaki dan Mahanta berkunjung ke sana.

***

Sedangkan di kamar kos Almira, Davka terbangun dengan kebingungan serta perasaan yang teramat kecewa karena mendapati kekasihnya telah pergi meninggalkannya. Hanya selembar kertas bertuliskan kata 'maaf' di atas meja rias yang di tinggalkan Almira.

Aku yang seharusnya meminta maaf, aku yang sudah menggaulimu tanpa ampun. Aku pasti akan mencarimu sayang, kita tak akan pernah terpisahkan. Batin Davka sembari memasukkan kertas yang sudah ia lipat dengan rapi itu ke dalam saku celananya.

Raut kesedihan dan kehilangan tampak jelas di wajahnya yang datar dengan mata sembab yang memerah. Dadanya terasa sesak, kecewa karena kekasihnya pergi.

Davka beruntung terbangun di tempat orang lain. Karena kost tempat tinggal Almira termasuk bebas jadi tidak akan ada orang yang peduli, akan urusan pribadi masing-masing penghuninya.

Tiga bulan berselang saat memindahkan sayuran ke atas meja dapur, tiba-tiba Almira merasa dunianya berputar dan pandangan matanya kabur dan tiba-tiba semua menjadi gelap, ia pingsan tak sadarkan diri. Teman-teman Almira kemudian mengangkat tubuhnya dan di letakkan di atas ranjang. Suci kemudian memanggil anaknya Dokter Ryan untuk memeriksa, dan benar saja tebakan Suci benar. Almira sedang berbadan dua, walaupun ia tidak mengalami morning sicknes. Tapi ia terlihat sering cepat lelah akhir-akhir ini. Apalagi ia masih juga memberikan les privat untuk murid-murid TK.

"Bagaimana Ryan keadaan Almira?" tanya ibu Suci cemas.

"Almira hamil Bu, Ryan akan panggil Dr Dona Syabilla SpOG untuk memeriksa kandungannya," terang Ryan.

"Ibu sudah menebak, terima kasih ya Nak." Suci tersenyum lembut sembari mengusap lengan Ryan.

Setelah Dokter Dona datang memeriksa Almira, Dokter menyarankan untuk Almira ke klinik. Karena diperkirakan kalau janinnya kembar. Dokter Dona sudah memberikan resep vitamin kepadanya. Segera ia pergi ke klinik bersama Suci untuk memastikan keadaan janinnya dan benar saja janin dalam kandungannya kembar. Rasa getir dan haru memenuhi hatinya. Di saat ia sebatang kara tanpa keluarga dan suami. Terlebih lagi sekarang ia hamil di luar nikah, hanya Suci dan teman-temannya di sini yang bisa menerimanya tanpa menghakimi.

***

"Ibu, sepertinya saya akan segera menjual rumah dan tanah peninggalan orangtua saya saja. saya tidak bisa kembali ke kampung apalagi saya akan memiliki anak tanpa suami." Almira mengutarakan keinginannya suatu waktu saat duduk santai di ruang keluarga ibu Suci.

Suci tampak berpikir "Bagaimana kalau ibu saja yang membelinya?" pinta Suci.

Senyum terbit di bibir ranum Almira. "Baiklah Bu, Al senang jika ibu yang mau membelinya, terima kasih Bu."

Agus salah satu karyawan di dapur rumah makan mengetuk pintu ruang keluarga. Setelah dipersilahkan masuk, lalu menghampiri Almira dan Suci.

"Maaf mengganggu Bu, sebulan terakhir ini ada yang mencari Dek Almira ke rumah makan menanyakan dimana tempat tinggal Adek. Kami bilang kalau Dek Al sudah tidak bekerja di rumah makan lagi. Orang yang sama yang mencari Dek Al, dengan orang yang waktu ini datang itu Dek," terang Agus.

Mata Almira membulat terkejut seraya menutup mulutnya yang ternganga ke arah Agus.

"Bagus, bilang begitu saja. Jangan bilang kalau Almira tinggal di sini," perintah Suci.

"Baik Bu, saya permisi." Agus undur diri.

"Mas Agus terima kasih," ucap Almira.

"Sama-sama Al, kamu adalah keluarga kami. Kita harus saling melindungi bukan?" balas Agus seraya tersenyum menenangkan.

"Bu, Al pamit mengajar dulu ya?" pamit Almira sembari bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya.

"Hati-hati ya Nak, kamu masih kuat naik motor?"

"Masih Bu, tidak apa-apa Dokter Dona bilang jika kandungan Al kuat kok," jawab Almira seraya tersenyum.

"Kalau ada apa-apa segera telepon Ibu atau Ryan ya?"

"Nggih Bu."

Almira kemudian melajukan kendaraannya ke rumah salah satu murid privat-nya di daerah Condongcatur.

Sesaat setelah memarkirkan sepeda motornya. Terdengar isak tangis dan suara-suara panik dari ruang tamu rumah anak didiknya. Almira segera bergegas masuk, ia terperangah melihat bayi berumur sekitar sembilan bulan seperti sedang tersedak sesuatu sang ibu dan pengasuhnya kebingungan.

Segera ia merengkuh bayi tersebut dan melakukan pertolongan pertama, akhirnya biji rambutan keluar dari tenggorokan bayi tersebut. Sang ibu menangis terharu, tak henti-hentinya berterima kasih pada Almira. Ayah sang bayi juga begitu, mereka ingin memberikan imbalan kepada Almira untuk ungkapan terima kasih berkat pertolongannya sang bayi selamat, tapi Almira menolaknya.

Related chapters

DMCA.com Protection Status