Share

Chapter 7

"Tolong terima ya Mbak, Mbak Al mau apa? Akan kami beri apapun itu," bujuk ayah dari Ratan Jaya Parvis. Untuk kesekian kalinya, sejak Almira menyelamatkan nyawa Ratan tadi.

Almira saat ini duduk di sofa berseberangan dengan Bayanaka Parvis sang ayah. Almira dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Terima kasih Pak Naka,  tetapi maaf sungguh tidak perlu sampai seperti ini . Itu semua saya lakukan karena rasa kemanusiaan saja kok Pak. Kalau bukan saya, orang lain juga pasti juga akan menolong," ucap Almira sembari meringis segan.

"Kami tidak hanya berhutang budi tetapi berhutang nyawa lho Mbak. Kalau nggak ada Mbak Al, entah bagaimana nasib anak kami Ratan," timpal Yohanna.

"Yang terpenting sekarang Ratan sudah baik-baik saja. Emm ... Pak, Bu. Saya lanjutkan untuk mengajar Ribka ya? Permisi." Almira segera beranjak setelah mendapatkan anggukan dari Bayanaka.

Bayanaka mendesah dan saling bertukar pandang dengan Yohanna istrinya yang menggendong bayi Ratan yang sudah tertidur pulas. Susah sekali membujuk wanita lugu seperti Almira ini. Bayanaka berjanji akan mencari tahu kelemahan gadis baik hati itu.

Dua Minggu berlalu, saat Almira tiba di rumah Bayanaka, ia disambut oleh sang tuan rumah ada juga Bagas Pangestu yang ia ketahui sebagai seorang notaris. kebetulan beliau juga orang yang sedang mengurusi penjualan tanah dan rumah almarhumah orangtua Almira di kampung. Kemudian ia diminta untuk bergabung dengan dua pria parlente itu dan Yohanna sang istri. Almira duduk disebelah Yohanna yang kemudian merengkuh bahunya tersenyum manis.

"Jadi begini Mbak Al kami berdua, saya dan suami memutuskan memberikan sebidang tanah dan rumah di daerah Cianjur untuk Mbak dan kami berharap Mbak Al tidak menolak ya. Sebagai tanda terima kasih karena Mbak sudah menyelamatkan nyawa anak kami Ratan. Kami sudah menyiapkan semuanya Mbak Al tinggal tanda tangan saja." Yohanna memulai percakapan.

Bayanaka hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan ucapan sang istri.

"Tidak baik menolak rejeki lho Dek Al," timpal Bagas yang kenal betul dengan keluarga Almira di kampung sana karena kebetulan rumah mereka satu desa.

Seketika Almira tertegun dan terharu, ia tidak menyangka banyaknya orang baik di hidupnya. Sambil membekap mulutnya tak terasa airmata mengalir, bukan airmata kesedihan tapi bahagia. Ia pun tak kuasa menolak saat Bagas Pangestu sudah mengulurkan dokumen kepemilikan didepannya siap ditanda tangani. Ia juga takut menyinggung sang tuan rumah. Matanya melihat sekeliling, kearah semua orang di ruang tamu tersebut. Wajah-wajah ramah penuh ketulusan hati untuknya.

Almira membuka dokumen tersebut yang ternyata sudah dibubuhi tanda tangan Bayanaka. Jadi tinggal ia sendiri yang belum menanda tanganinya. Setelah semua selesai, dokumen kembali diberikan kepada Almira.

"Kamu bisa melihat kapanpun kamu mau atau mungkin mau pindah ke sana," ujar Bayanaka ramah.

"Akan saya pikirkan Pak, terima kasih sekali lagi. Saya tidak bisa berkata-kata lagi."

"Dengan Mbak Al menerima pemberian kami. Itu saja sudah cukup kok Mbak."

***

Setelah mengajari Ribka, Almira segera kembali dan menemui Suci yang sedang membaca majalah.

"Ibu, Al dapat rejeki," ujarnya berseri-seri.

Suci mengulum senyum dan menatap Almira yang sekarang sedang mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkan kepadanya. Suci menerimanya dan matanya melotot melihat luas tanah tang tertera dalam dokumen sertifikat tanah tersebut. Tidak hanya itu di sana juga terdapat dokumen IMB.

"Nduk, luas banget ini. Perkebunan ini ya?" tanya Suci.

Almira melongo menatap Suci dengan tatapan bertanya, "Al, belum lihat kok Bu, masa luas?"

"Iya, sini coba lihat nih lima hekter lho mana ada bangunan rumahnya juga."

"Puji Tuhan ya Bu. Rejeki buat jabang bayi ini."

Suci ikut bahagia dengan apa yang dimiliki oleh Almira. "Paling tidak sekarang kamu udah punya banyak bekal ya Nak. Pikirkan masak-masak mungkin setelah anak-anak lahir kamu bisa pindah kesana. karena tanahmu ini merupakan perkebunan teh lho," terang Suci.

"Tadi Pak Naka bilang untuk sementara selama Al belum pindah urusan perkebunan dan juga rumah akan dibantu Pak Naka nanti hasil panennya akan diberikan pada Al sekalian dengan laporan bulanannya."

"Syukurlah kalau begitu. Jadi bekal masa depan kalian lebih banyak lagi."

***

Davka masih berusaha mencari tahu keberadaan Almira. Kadang kala itu menjadi sebab pertengkaran antara dirinya dan juga Lydia. Sungguh membuat Davka semakin jengkel pasalnya kandungan Lydia lemah sehingga saat usia kandungannya menginjak empat bulan Dokter tidak mengijinkan untuk pengambilan sampel DNA. Davka masih harus banyak bersabar menghadapi Lydia.

Sikap Lydia juga tidak ada baik-baiknya di sana. Ia merasa bagaikan tuan putri, selalu saja menyruh para pelayan melakukan hal-hal sepele. Membentak mereka dengan kata-kata kasar dan banyak lagi perlakuan tidak terpuji Lydia. Bahkan penjaga keamanan beberapa kali memergoki Lydia kembali dalam keadaan mabuk dan diantarkan oleh pria asing.

Mereka jelas tidak berani mengantarkan Lydia sampai di depan pintu gerbang kediaman Alsaki. Oleh karenanya ia selalu di turunkan pada ujung persimpangan jalan, persis dengan wanita jalang.

Bagaimana bisa mengharapkan jika kandungannya akan baik-baik saja. Jika kelakuan sang bunda seperti itu.  Suatu hari Davka murka setelah mengetahui kebohongan yang dibuat oleh wanita ular itu, dan mereka bertengar sehingga membuat Lidya tersulut emosi dan pergi dari kediaman Alsaki. Ia mengebut di jalan hingga terjadi kecelakan dan mengalami pendarahan pada usia kandungan menginjak enam bulan.

Saat perjalanan ke rumah sakit, janin tersebut tidak dapat di selamatkan. Ia sebenarnya tidak sampai hati tetapi demi kebenaran semuanya harus di lakukan. Walaupun begitu bayi yang meninggal itu dikuburkan juga dengan cara yang terhormat di makam keluarga Alsaki. Janin tak berdosa akibat nafsu bejat orangtuanya.

Lidya di ketemukan dengan keadaan kedua kakinya hancur dari lutut ke bawah. Ia sempat mendapatkan perawatan di ICU selama kurang lebih dua bulan. Karena memang karena keadaan fisiknya yang mengenaskan keadaan mentalnya juga tidak terlalu baik. Apalagi setelah ia mengetahui fakta Davka telah melakukan tes DNA pada janinnya yang memang bukan merupakan buah hati Davka. Hatinya sungguh tidak rela karena harta kekayaan Davka juga pastinya akan semakin jauh dari genggamannya. Ia harus mengikuti perjanjian yang telah ia tanda tangani dahulu kala. Perjanjian yang mengharuskannya membatalkan perkawinan jika janin yang di kandungnya bukan benih Davka. Suram sudah masa depan Lydia, karma harus is tanggung karena sudah berani bermain api dengan keluarga Alsaki.

***

Beberapa tahun kemudian disuatu sore yang sejuk, "Al, sepertinya si kembar bisa ikut kelas akselerasi. Kita test IQ mereka dulu yuk? Sepertinya anakmu ini jenius," ujar Suci sembari merapikan jajanan pasar di meja dapur.

"Apa tidak terlalu cepat Bu? Kita tunggu mereka SD dulu?" tanya Almira sembari menatap kedua buah hatinya Adyatama Affandra Putra Cahaya dan Anulika Sakya Putri Cahaya, yang sedang membaca buku cerita rakyat di ruang tengah. Almira sengaja menyematkan nama tengah Davka untuk anak lelakinya alih-alih nama belakangnya. Ia sengaja menyembunyikan mereka, ia takut kalau buah hatinya akan direbut oleh keluarga Alsaki.

Hanya mereka berdua miliknya, cahaya dan sumber semangat hidupnya. Anak-anaknya memang masih berusia tiga tahun tapi mereka sudah bisa membaca dengan lancar bahkan sudah mulai belajar aritmatika. Sungguh anugerah terindah untuknya. Tak pernah berhenti ia mengucap syukur.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status