Bintang untuk Angkasa
Bintang untuk Angkasa
Author: Septi Nofia Sari
1. Makanya Jangan Macam-macam
"Tuhan, bolehkah aku menjadi pengemis, kali ini? Bisakah aku kembali bersikap egois, detik ini? Tolong aku. Kembalikan dia ke dalam jangkauanku.  Aku ingin lebih lama menatap mata indahnya, senyum cantiknya, dan ketegarannya. Karena aku hanyalah sebuah kekosongan dan kegelapan, tanpa cahayanya."

—Angkasa Yudhistira—

"Saat jasad ini tak lagi bisa mereka jangkau, aku ingin menjelma jadi bintang paling terang di angkasa yang gelap. Biarkan mereka bisa memandangku ketika malam mulai menyapa. Aku akan hidup di langit mereka. Selamanya."

—Bintang Aurora—

*

"Bi, besok pas pertandingan basket di lapangan bawah lo harus ikut gue nonton."

Aku menghentikan langkahku dan menatap Intan sejenak. "Ogah." 

"Ih kenapa?" Intan berjalan cepat menyusulku yang sudah beberapa anak tangga di bawahnya. Aku mengangkat bahu. "Nggak percaya gue kalo lo nggak tertarik. Biasanya juga nemenin si Galang kalo dia lagi latihan di taman kompleks."

Aku menghentikan langkahku mendengar Intan menyebut nama Galang. Menghela napas sambil mengeratkan genggaman kedua tanganku pada tali tas, dan berusaha memasang ekspresi normal. Kemudian melanjutkan langkah lagi.

"Si Galang masih jauhin lo, ya?" 

Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Intan memang sudah tahu perihal Galang, karena Galang dan Intan juga berteman sejak SMP. Tapi tidak tentang perasaanku pada Galang yang melebihi rasa teman.

"Gue bener-bener nggak habis pikir sama si Nina. Dia harusnya nggak punya hak buat larang-larang Galang temenan sama siapa aja."

"Nina kan pacarnya." Entah kenapa ada rasa sakit saat aku mengatakan itu.

"Baru pacar kan? Belum istri."

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan Galang dan Nina saat ini. Menyadari cowok itu mencintai gadis lain membuat hatiku nyeri. Apalagi sebulan ini, saat mendapati sikapnya hanya gara-gara permintaan pacarnya itu. Menyebalkan. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kami sama-sama tumbuh dewasa sejak umur lima tahun, tapi dia dengan mudahnya menjauh dariku demi seseorang yang baru dikenal. Sepuluh bulan tidak bisa dibandingkan dengan dua belas tahun yang kami lalui bersama, kan? Harusnya begitu. Tapi entah apa yang ada di kepala cowok itu. Cukup tahu saja!

"Mending lo ikut nonton deh. Sekalian biar bisa liat Galang gitu. Dia kan juga anggota tim basket lawan."

Aku menoleh. Intan juga tengah menatapku dengan tatapan membujuk. Aku menunduk, memandangi flatshoes hitam yang kupakai. Benar juga kata Intan, aku bisa melihat Galang, atau kalau beruntung bisa mengobrol sedikit dengannya. Apalagi aku memang sudah merindukannya. Iya, dengan berat hati kuakui itu. 

Baru saja aku ingin membuka mulut, Intan sudah menggoyang-goyangkan lenganku sambil berjingkrak-jingkrak tidak jelas. "Apa sih?!"

"Itu lihat."

Aku mengikuti arah telunjuk Intan. Para anggota tim basket sedang berlatih, seperti biasa. Lalu apa istimewanya? Keningku berkerut. "Kenapa sama mereka?" 

Saat ini kami berdua sudah sampai di koridor pinggir lapangan basket, sehingga wajah-wajah anggota tim basket kelihatan dengan jelas.

"Bukan mereka tapi dia, Bi." 

"Maksudnya?" Aku benar-benar masih tidak mengerti maksud Intan.

Intan memutar bola matanya padaku membuat keningku semakin berkerut. "Lo belum pernah liat muka Kak Angkasa, kan?"

Aku mengangguk, tidak paham. Yeah, Angkasa adalah nama yang belakangan ini disebut-sebut Intan dalam setiap obrolan kami. Siswa yang tiga bulan ini pindah dari SMA Bina Nusantara—yang merupakan tetangga sekolah kami. Cowok yang katanya keren, tampan, tinggi, dan langsung masuk tim basket di sekolah ini. Juga ramah dan murah senyum, hingga Intan dan kebanyakan siswi di angkatan kami mulai mengidolakannya. 

Aku heran. Bagaimana bisa mereka sebegitu mengidolakan siswa yang sekarang jadi senior kami itu. Apa istimewanya sih cowok bernama Angkasa itu sampai dipuja-puja begitu? Tapi untungnya seorang Bintang Aurora tidak termasuk dalam jajaran siswi aneh itu. Novel jauh lebih menarik daripada memuja orang yang nyatanya tidak bisa digapai. Iya, kan?

"Nah itu loh yang namanya Kak Angkasa. Keren banget kan, dia?"

Aku mengikuti arah telunjuk Intan lagi. Mataku menyipit. Cowok itu? Masa, sih?

"Udah liat belum? Keren, kan?"

"Maksud lo yang lagi minum itu kan? Jadi idola kalian tuh, Kak Bisma?" Aku lebih setuju kalau tokoh idola Intan adalah pacar Kak Viny, kakak tiriku.

Tapi Intan malah berdecak kesal. "Ih bukan Kak Bisma, Bi. Itu loh yang lagi masukin bola."

Mataku membulat seketika. Yang sedang memasukkan bola kan si iris tinta spidol. Jadi Angkasa itu orang yang sama dengan cowok kemarin pagi itu?

"Kak Angkasa keren banget kan, Bi? Bisa masuk sekali lemparan gitu bolanya."

Ucapan takjub Intan terdengar samar-samar di telingaku. Aku masih mengontrol keterkejutanku ini.

"Hei malah bengong. Tuh, kan liatin terus? Naksir kan, lo? Sok-sokan nggak tertarik segala. Tau-taunya lihat pertama kali terpesona gitu aja."

Cibiran Intan barusan menyadarkanku kalau sedari tadi aku memandangi lekat-lekat cowok menyebalkan yang ternyata bernama Angkasa itu. Langsung saja kualihkan pandanganku ke arah lain dan melanjutkan langkahku kembali. Aku berjalan di sisi kiri sekitar lima puluh sentimeter daei tembok koridor sedangkan Intan berjalan di samping kananku.

"Bi, tunggu!"

Intan menyejajarkan langkahnya denganku. "Lo juga suka kan sama Kak Angkasa? Ngeliatinnya aja sampai segitunya. Ngaku lo." 

"Gue lagi mikir aja." 

"Mikir apaan?"

"Idola kalian itu bener-bener cowok itu? Nggak salah orang?"

"Pertanyaan lo aneh."

"Maksud gue, apa sih yang spesial dari dia yang bikin kalian suka?"

"Masak lo nggak ngerti. Lo liat sendiri kan? Kak Angkasa tuh tinggi, keren, murah senyum–"

"Salah orang kali lo." 

"Mana mungkin gue salah tunjuk idola gue sendiri? Emang lo beneran nggak tertarik sama kak Angkasa?"

"Ya enggak lah!" 

"Aneh lo, Bi."

"Kalian yang aneh. Masak cowok kayak gitu diidolain sih? Mending Kak Bisma kemana-mana."

"Ya sama aja kali. Kak Bisma kan kembaran Kak Angkasa."

"Apa?!"

Intan menabok lenganku pelan. "Biasa aja kali reaksinya."

"Dia kembaran Kak Bisma? Kok beda banget ya?"

"Ya iyalah, kan mereka kembar nggak identik."

"Maksud gue kelakuannya." 

Sungguh aku tidak menyangka kalau kembaran Kak Bisma adalah cowok mengesalkan itu. Memang sih Kak Viny pernah bercerita kalau Kak Bisma punya kembaran yang tidak identik. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kembarannya itu adalah dia!

"Beda banget gimana? Orang mereka sama-sama ramah dan murah senyum kok."

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku heran. "Cowok kayak gitu lo bilang ramah?" 

"Bisa jelasin apa maksud kalimat 'cowok kayak gitu'?"

Aku dan Intan menoleh bersamaan ke arah suara yang bertanya barusan. Cowok yang kami bicarakan sekarang entah bagaimana bisa, sekarang sudah berdiri tepat di depan kami, menghalangi jalan tepat saat kami hampir sampai di ujung koridor. Cowok yang sekarang sedang melipat kedua tangannya di depan dada itu adalah si iris tinta spidol, atau Angkasa. Dan biar lebih mudah mulai sekarang aku memanggilnya 'Angkasa' bukan 'si iris tinta spidol' lagi. Yeah, meskipun aku sedikit tidak rela menyebut namanya.

"Cowok kayak gitu gimana maksud lo?" ulangnya dengan nada tajam, tak lupa tatapan mengintimidasi miliknya itu. Hanya ke arahku.

Tanpa sadar aku menelan ludah. Kulirik Intan sekilas. Lihatlah ekspresi terpesonanya itu, membuat aku tambah sebal. Dasar Intan!

Perlahan aku menggenggam pergelangan tangan kiri Intan dan menariknya melewati Angkasa melalui celah antara tubuhnya dengan dinding sehingga bahuku menempel di dinding koridor. Namun tanpa diduga, gerakan tangan Angkasa lebih cepat dari gerakanku. Hampir saja hidungku menabrak lengannya yang Angkasa rentangkan hingga telapak tangan kanannya menempel di dinding.

"Bi." Intan berbisik. 

Aku berdecak kesal dan semakin mengeratkan genggaman tangan kananku pada pergelangan tangan kiri Intan.

"Bisa lo tinggal temen lo sama gue?" 

Aku mengernyit mendengar pertanyaannya yang dibuat selembut mungkin. Kuikuti arah pandang dari bola mata berwarna hitam sehitam tinta spidol itu, dan ternyata sedang menatap Intan. Dapat kudengar Intan menelan ludah ditatap seperti itu oleh idolanya, bahkan cowok ini melempar senyum yang dibuat semanis mungkin membuatku jijik.

"Tapi...." ucap Intan sambil menoleh padaku.

Aku mendelik pada Intan, mengisyaratkan agar tidak menuruti permintaan Angkasa.

"Tenang temen lo nggak bakal lecet kok sama gue. Gue janji."

Dasar gila!

Aku menoleh pada Intan, menggenggam erat pergelangan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Intan meringis pelan, antara kesakitan karena genggaman tanganku yang terlalu erat atau bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba tangan kanan Intan bergerak melepaskan genggaman tanganku. Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku, tapi Intan berhasil melepaskannya.

"Maaf." Intan berucap tanpa suara dan langsung lari secepat kilat saat aku ingin menarik tangannya lagi. Dasar Intan teman pengkhianat. Awas saja anak itu besok!

Aku mendesis pelan, menatap punggung Intan yang sudah sampai pintu gerbang. Kupejamkan mataku dua detik, memikirkan ide agar bisa lari dari cowok gila ini. Sebuah ide langsung muncul, aku bergerak pelan memutar tubuhku untuk melarikan diri dari sisi yang lain. Tapi apa yang terjadi? Gerakannya lagi-lagi lebih cepat dari gerakan tubuhku, dan dengan cepat dia langsung menempelkan telapak tangan kirinya pada dinding. Sehingga posisiku sekarang diapit kedua telapak tangannya yang menempel di sisi kanan dan kiri tubuhku sedangkan punggungku sudah menabrak dinding.

Perlahan aku mendongak. Dan tatapanku langsung bersibobrok dengan tatapan mengintimidasi miliknya yang entah sejak kapan dia menatapku. Kepalanya menunduk karena puncak kepalaku hanya setinggi bahunya.

"Jawab pertanyaan gue tadi."

"Per-pertan-nyaan ap-apa?" Sial. Kenapa aku gugup, coba?

Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Membentuk senyum sinis. "Lo nggak mau jawab?"

Hei, dia itu kenapa sih? Kenapa dia semakin menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajahku? Oh, siapapun tolong aku! Aku terjebak!

"Lo lo ma--mau ap-pa?" tanyaku mulai panik.

Dia tidak menjawab pertanyaan ku dan melanjutkan aksinya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sekarang jarak wajah kami hanya tidak lebih dari lima sentimeter saja. Jantungku mulai beralih fungsi menjadi tim marching band dan entah kenapa kerja organ pernapasanku mulai melemah merasakan deru napasnya yang menyapu wajahku. Aroma kayu-kayuan bercampur mint menyeruak di rongga hidungku. Siapapun selamatkan aku!

"Sekarang gue tunjukin ke elo cowok kayak apa gue," bisiknya, semakin mempertipis jarak wajah kami dengan memiringkan kepalanya ke arahku.

Aku memejamkan mata dan meremas kedua tepian rok abu-abu yang kupakai. Oke, sepertinya tidak ada pilihan lain selain menyelamatkan diri sendiri. Karena itu, dengan segenap tenaga kuayunkan satu kaki sebelum dia melakukan hal entah apa yang mungkin nanti akan merugikanku. Dan...

"ARGH ANJ*R SH*T!" 

Kubuka mata. Tersenyum puas melihat dia kesakitan memegang tulang kering, setelah mengumpat keras. Yup, aku menendangnya dengan sekuat tenaga. Mungkin tidak terlalu berefek kalau dia siap. Tapi kalau tidak ... oh dude, itu tetap sakit.

"Makanya jangan macam-macam sama gue!" ejekku, sebelum melenggang angkuh meninggalkannya.

Saat sampai pintu gerbang tanpa sadar aku menoleh ke belakang. Cowok itu masih menatapku lekat dan tajam. Aku membalasnya tak kalah tajam sambil mengacungkan jempol ke bawah. Dia mendelik. Aku menjulurkan lidah sebelum cepat-cepat pergi dari sana.

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kiki iqy
lanjut duluuu
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status