HIDE AND SEEK (INDONESIA)
HIDE AND SEEK (INDONESIA)
Author: Nhana
Chapter 1 : Permulaan

Seorang gadis remaja tengah meringkuk dibawah guyuran hujan dekat halte bus. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka memar dan dibeberapa bagian tampak darah masih mengalir segar. Jelas sekali kalau dia baru saja dipukuli, atau lebih tepatnya sering dipukuli. Terlihat dari luka dan bekas luka yang menghiasi tubuh putih kurusnya.

Hari ini Nara pulang telat karena harus mengikuti beberapa les tambahan. Namun supirnya masih belum sampai karena hujan deras yang tiba-tiba mengguyur kota membuat beberapa jalur dialihkan. Nara yang mulai bosan menunggu akhirnya memilih untuk berpindah tempat menuju halte yang memang tidak jauh dari sana. Ia berfikir jika supirnya masih lama maka dia akan naik bus saja.

Nara mendudukan dirinya dibangku halte. Disana tampak sepi, tak ada seorangpun manusia yang berlalu-lalang atau sekedar meneduh seperti dirinya, mungkin karena hujan dan juga sudah malam. Samar-samar Nara mendengar isakan tangis seseorang. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang, jujur saja dia benci dengan segala sesuatu berbau horor. Nara mencoba mengabaikannya, namun suara tersebut semakin lama terdengar semakin jelas namun tetap lirih. Akhirnya Nara mencoba memberanikan dirinya melirik kanan dan kiri untuk mencari sumber suara.

Pelan namun pasti, Nara melangkah perlahan mendekati sumber suara tersebut. Namun betapa terkejutnya dia ketika mendapati seorang gadis remaja yang sebaya dengannya tengah meringkuk dan menggigil kedinginan dibawah lampu halte.

"Astaga, kau kenapa?" Nara terkejut dan segera menghampiri gadis tersebut.

"Hey, kau dengar aku?" Nara menggenggam tangan perempuan itu. "Bertahanlah aku akan membawamu kerumah sakit." segera Nara melepaskan jaket miliknya dan memakaikannya kepada perempuan itu.

"T-tolong." ucap perempuan tersebut lemah disela isakan tangisnya.

"Bagaimana ini, aku harus bagaimana?" Nara panik, dia baru pertama kali dihadapkan dengan situasi seperti ini.

"Aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Nara segera menghubungi supirnya agar sampai lebih cepat. Beruntung supirnya sudah berada tidak jauh dari tempat Nara menunggu.

Nara kembali meringis kala melihat sekujur tubuh perempuan di pangkuannya penuh dengan luka. Ini kali pertama bagi Nara melihat hal seperti ini secara langsung. Dia membayangkan betapa sakit dan perihnya luka yang masih segar dan diguyur oleh air hujan. Tentu saja Nara tidak pernah tahu bagaimana rasanya, karena selama ini dia tidak pernah terluka parah. Bahkan hanya digigit nyamuk saja ibunya akan panik dan segera mengobatinya.

Tidak lama dari itu supirnya datang dan mereka membawa perempuan itu kerumah sakit. Nara tidak lupa menghubungi orang tuanya dan menceritakan semua yang terjadi pada mereka. Oleh karena itu sekarang mereka semua sudah berkumpul dirumah sakit.

Perempuan yang Nara tolong pun sudah mendapat perawatan dan kini mereka tengah berbincang-bincang santai. Walaupun sebenarnya Nara lah yang lebih banyak berbicara sedangkan perempuan yang diketahui bernama Wina itu hanya tersenyum dan berkata iya atau tidak untuk menanggapi perkataan Nara.

Setelah dua minggu berlalu dan keluarga Nara sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Wina mereka memilih untuk membawa Wina tinggal bersama mereka, tentu saja atas dasar permintaan Nara yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh kedua orang tuanya.

✿✿✿✿✿

Enam tahun telah berlalu sejak kejadian tersebut. Kini Nara, Wina, Nanda dan juga kedua orang tua mereka hidup dalam satu atap.

"Ra hari ini kau akan ke sekolah?" tanya sang ibu.

Nara yang sedang menikmati sarapan paginya hanya mengangguk. "Kak, aku akan mampir nanti siang," ucap Nara pada Wina.

Belum sempat Wina menanggapi, ibu nya sudah lebih dulu memukul lengan Nara pelan. "Berhenti mengganggu pekerjaan Wina. Kau ini selalu saja merepotkan dia." tegur sang ibu.

"Ibu aku tidak me-- "

"Benar ibu, dia sering mengganggu dan merepotkan." potong Wina yang kini terkekeh melihat wajah kesal Nara, adiknya.

"Bagaimana dengan kantor Nanda?" Tanya sang ayah datar. Suara sang kepala keluarga selalu sukses membuat semua orang yang sebelumnya ribut kini diam.

"Berjalan dengan baik." Nanda memasukan wortel kedalam mulutnya sambil menunggu reaksi dari ayahnya.

"Headline news pagi ini penuh dengan pemberitaan KC"

"Aku juga sudah melihatnya. Tapi dia memang hebat," tutur Nanda.

"Kau mengenalnya?" tanya ayahnya yang sepertinya mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.

Nanda mengangguk. "Dia dulu seniorku di kampus. Dan memang semua orang mengakui kemampuannya," jelas Nanda.

"Pantas saja Daniel terburu-buru mengganti posisi dirinya, ternyata anaknya menjadi senjata untuknya." Siwon menyeringai.

"Kakak dan ayah selalu saja berbicara tentang pekerjaan. Kalian benar-benar sangat membosankan." Nara mencebikkan bibirnya. Sementara Wina hanya tersenyum, dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini selama enam tahun terakhir.

"Karena kami laki-laki Ra." ucap Siwon santai.

"Laki-laki semuanya menyebalkan, sekedar mengingatkan." Kali ini sang ibu yang berkata dengan penuh penekanan, dia kesal hanya karena anak dan suaminya selalu saja menjadikan gender sebagai pembenaran atas kelakuan mereka.

"Kenapa ayah dan kakak sangat menyukai kantor? Padahal uang kita sudah banyak, aku yakin semua itu sudah sangat cukup sekalipun kita semua menganggur." Nara bertanya serius tapi pertanyaan sekaligus pernyataannya terdengar seperti sindiran.

"Ini bukan hanya tentang uang sayang, tapi juga kekuasaan dan harga diri tentunya," jawab Siwon.

"Aku tidak mengerti, dan aku memang tidak ingin mengerti." Nara tersenyum miring. Hanya Nara memang yang bisa bersikap santai kepada ayahnya.

"Tugasmu memang untuk bermain. Jadi nikmati saja keseharianmu bersama anak-anak itu sayang." Ledek Nanda sambil menggerakan alisnya. Sementara Nara sudah bersiap untuk mengumpati kakaknya itu sebelum akhirnya tindakannya terhenti karena panggilan sang ayah.

"Nara."

Nara mengangkat alisnya. "Kenapa ayah?" tanya Nara penasaran dengan panggilan tiba-tiba dari ayahnya.

"Ayah menyiapkan Nanda sebagai pewaris, dan ayah juga menyiapkanmu sebagai sekretaris. Menurutmu apa tujuan ayah?" Siwon menatap putrinya dengan serius. Sementara Nara terlihat sedang berpikir. Yona, Nanda dan Wina hanya saling melempar pandangan.

"Untuk membantu kak Nanda mungkin," jawab Nara asal. Padahal sejak tadi dia terlihat berfikir namun tetap saja jawabannya seperti tidak dipikirkan sama sekali.

"Benar untuk membantu sang pewaris. Tapi bukan Nanda." Nara mengernyitkan alisnya, tanda menginginkan penjelasan lebih.

"Jika salah satu anak ayah adalah pewaris, maka yang lainnya harus menjadi pasangan dari pewaris yang lain." ucapan siwon membuat suasana semakin serius.

"Maksud ayah?" tanya Nanda yang kini mulai ikut berbincang.

"Adikmu akan aku nikahkan dengan seorang pewaris lainnya."

"Wahh ayah luar biasa. Ayah sepertinya benar-benar berniat menguasai ekonomi negara ini." Sindir Nara.

Siwon terkekeh. "Kenapa tidak? karena ayah mampu. Dan ayah serius dengan ucapan yang barusan."

"Terserah ayah saja. Asalkan dia lebih tampan dari kak Nanda, sepertinya aku tidak akan keberatan." jawab Nara asal. Sementara Nanda sudah menyeringai puas. Visual Nanda memang tidak bisa diragukan. Dia bahkan lebih cocok jadi seorang model daripada pebisnis.

"Selera mu bagus juga Nara. Sayangnya tidak akan ada yang lebih tampan dariku." Nanda terkekeh pelan.

"Kakak mu benar, tidak akan ada yang bisa menandingi visual anakku." kini giliran Yona yang menanggapi.

Sementara Wina, lagi-lagi dia hanya tersenyum. Tidak pernah berniat menanggapi ataupun pergi.

"Kurasa pewaris KC cukup menarik dalam hal visual." Siwon kembali menyuarakan pendapatnya.

"Terserah ayah saja pokoknya. Ayo kak kita berangkat sekarang." Nara menarik tangan Wina untuk meninggalkan meja makan.

"Ibu, ayah kita berangkat dulu." Wina berpamitan sambil memeluk Yona dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Siwon.

✿✿✿✿✿

Sama seperti biasa, setiap jam istirahat Nara selalu pergi kekantor Wina yang memang tidak jauh dari tempat dia mengajar. Wina merupakan seorang aktris dari sebuah agensi yang cukup terkenal. Dia menolak untuk bekerja di kantor keluarga Nara karena ingin mandiri dan bekerja sesuai dengan keinginan dan usahanya sendiri.

"Kak, ayo temani aku makan siang," rengek Nara kepada seorang pria yang masih sibuk dengan beberapa proposal di mejanya.

"Sebentar Ra, aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu." tolak nya halus.

"Kak, pekerjaanmu masih banyak, dan kalau aku harus menunggu sampai semuanya selesai, aku akan mati kelaparan." Nara merajuk dan melemparkan dirinya keatas sofa yang berada di pojok ruangan tersebut.

"Baiklah. Ayo kita makan." Dion beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Nara. "Ya ampun, kau semakin manis sayang jika merajuk." Dion mencubit pipi Nara gemas.

"Kakak itu menyebalkan." Nara memajukan bibirnya.

"Kakak juga sayang kamu." Dion terkekeh kemudian mencium pipi Nara sekilas.

Sementara itu, Wina yang kebetulan berada tak jauh dari ruangan mereka sedikit menyaksikan interaksi sepasang kekasih itu melalui pintu yang terbuka dengan sorot mata yang sulit diartikan.

-TBC-

With Love : Nhana

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status