3 - Mungkin

NOTE : Maafkan aku yang salah-salah dalam memasukkan nama tokoh. Jadi di Bab awal aku memasukkan nama Gading, bab kedua aku masukin nama Gilang dan bab ketiga ini aku memutuskan (sumpah, nggak nyadar aku salah masukin nama wkwkwk) memberi nama yang lebih simple.

B I M A

Di antara kalian, ada yang namanya Bima? Kalau ada jangan angkat tangan, sembunyi saja hihihi...

Happy Reading!

***

Sudah dua bulan lamanya Starla tinggal bersama Bima. Ia merasa cukup bahagia. Dulu mungkin hanya panggilan telepon dan pertukaran chat yang bisa menjadi pengobat rindu, tapi sekarang, setiap hari, Starla bisa selalu melihatnya, menyentuhnya, menciumnya... Starla tidak tau jika tinggal berdua bersama seorang yang amat ia cintai bisa menyebabkan hari-harinya menjadi seindah ini.

"Selamat pagi," sapa Bima serak. Tangannya memeluk tubuh telanjang Starla yang berada di balik selimut. Tadi malam merupakan satu dari sekian banyak malam penuh gairah yang telah dihabiskan Starla bersama Bima.

"Pagi," jawab Starla.

"Jam berapa ini?" tanya Bima saat ia merasa Starla mencoba untuk beringsut bangun. Matanya mengerjab tipis, mencari-cari di mana letak jam dinding berada.

"Sudah jam tujuh. Aku harus bangun dan siap-siap berangkat kerja sekarang," jawab Starla.

Bima mendesah, mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Ia mengusap wajahnya yang masih mengantuk.

"Oke," tukasnya kemudian.

"Kamu nggak bangun buat kerja?" tanya Starla mengernyit heran. Ia ingat jika sudah dua minggu ini ia selalu mendapati Bima ada di rumah.

Bima menghela napas dan beringsut duduk. Rambut gondrong merahnya acak-acakan. "Aku bakal nyari. Kamu tau kan aku seorang fotografer lepas? Akhir-akhir ini belum ada yang sewa jasaku lagi," jelas Bima. Wajahnya terlihat sedikit tertekan karena hal ini.

"Kamu pasti bakal dapat orderan lagi secepatnya," tukas Starla menenangkan. Gadis itu menyentuh bahu Bima dan bergerak mendekat. Bima pun langsung menariknya dalam pelukan.

"Ya, semoga," do'a Bima.

"Bagaimana kalau kamu mulai dari pesta pernikahan? Ulang tahun anak-anak? Foto random buat wisuda siswa-siswi yang baru lulus?" saran Starla menyebutkan tempat-tempat yang mungkin sangat membutuhkan jasa fotografer.

Bima terkekeh. "Ide bagus. Hari ini aku akan ke rumah salah satu temanku. Kebetulan dia menikah hari ini."

"Benarkah?"

"Hmmm," angguk Bima.

"Kamu mau aku ikut?" tawar Starla sembari menaik turunkan alis. Membuat Bima mengacak gemas rambut Starla.

"Acaranya jam 10 dan kamu masih kerja, Sayang."

Oh, iya benar, batin Starla. Diam-diam mengutuk perusahaannya yang memiliki peraturan tegas.

"Oke, aku mandi dulu sebelum terlambat." Starla mengecup sekilas bibir Bima, lalu dengan melilitkan selimut tebal untuk menutupi badannya yang telanjang Starla segera pergi ke kamar mandi.

Sepeninggal Starla, Bima menjatuhkan tubuh kembali di atas kasur. Ia hampir kembali terlelap tetapi sebuah suara handphone membuatnya urung.

Dengan malas, tangan Bima meraba nakas. Ia sempat mengernyit saat melihat nomor baru yang masuk.

"Halo," ucap Bima setelah menggeser tombol hijau di layar.

Dari seberang, Bima sempat mendengar suara grasak-grusuk, benda-benda yang dibanting dan kekacauan lainnya. Bima mengernyit, ia merasa bahwa panggilan telepon iu hanyalah salah sambung. Tapi baru saja ia hendak memutuskan sambungan telepon tersebut, sebuah suara familiar menyapa.

"Bima...,"

Tubuh Bima menegang. Matanya terbelalak lebar. Jantung Bima pun berdebar kencang.

"Intan? Kamu Intan?" tanya Bima terburu-buru. Ia pun langsung duduk.

Jeda beberapa detik, hingga suara wanita itu kembali lagi. "Iya. Ini aku Bima... Intan."

Bima menutup mulut dengan sebelah tangan. Tubuhnya menjadi gusar hingga berdiri. Ia berjalan mondar-mandir dalam kamar. Kaus mana kaus? Celana? Entahlah, otak Bima mendadak menjadi konslet.

"Kamu... di mana saja kamu? Aku cari kamu ke mana-mana!" seru Bima dengan suara setengah bergetar.

Intan terisak melalui seberang telepon, dan Bima menghembuskan nafas frustasi. "Intan, jawab aku! Di mana kamu sekarang?"

"Aku...,"

Belum selesai Intan menjawab, suara piring dipecahkan terdengar. Bima menjadi semakin gusar dan khawatir.

"Intan...,"

"Tolong aku, Bima... Tolong...," jawab Intan sebelum sambungan telepon itu tertutup.

"Intan! Intan!" panggil Bima frustasi. Ia mencoba menghubungi kembali nomor tersebut tapi sudah tidak aktif.

"Sial!" umpat Bima. Ia melempar handphone-nya ke atas kasur, lalu mengusap wajah frustasi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Intan?

Demi menjaga kewarasan, Bima pun segera mengambil kaus dan celananya yang tergeletak di lantai. Ia memakainya dengan cepat lalu segera keluar dari kamar. Mungkin menyiapkan sarapan bisa sedikit menjernihkan pikirannya yang sedikit kacau pagi itu.

***

Sementara Bima di dapur, Starla keluar dari kamar mandi. Ia bersiap-siap dengan cepat. Memakai kemeja merah, blouse putih dan rok. Starla mengoleskan make-up tipis ke wajahnya. Ia memang tidak suka dandanan yang terlalu menor.

Dirasa sudah cukup, Starla mengambil tas kulit kerjanya dan segera keluar kamar. Tak lupa sebelumnya ia juga merapikan kasur agar tidak lagi tampak berantakan. Rutinitas ini memang selalu ia lakukan setiap hari. Dan jujur saja kontrakan Bima jauh lebih bersih dan tertata rpi sejak ia tinggal di sana.

"Sarapan dulu, Sayang." Bima menegur Starla yang melewati dapur. Starla menoleh dan langsung mencium bau harum masakan yang berasal dari dapur.

"Tumben masak?" tanya Starla setengah geli. Ia yang tadi berniat sarapan di depan kantor seperti hari-hari sebelumnya jadi urung.

"Yah, cuma mie instan sama telur doang, kok!" jawab Bima, mengajak Starla duduk di meja makan.

Starla mengangguk. Memang sarapan ini terbilang sangat sederhana, namun tetap saja yang memasak adalah Bima. Dan Starla menyukai hal apapun yang Bima lakukan untuknya.

"Terimakasih," tukas Starla yang langsung memakan sarapannya. Bima mengikuti kemudian.

"Aku jemput kamu di jam biasa. Oke?" Bima berkata setelah Starla selesai mencuci piring bekas sarapan. Ia memeluk tubuh Starla dari belakang. Hidungnya ia tempelkan ke leher jenjang Starla yang berbau harum lavender. Bima selalu menyukai bau tubuh Starla.

Starla tersenyum. "Oke," jawabnya. Ia meraih lap yang tergantung dekat wastafel untuk mengeringkan tangannya yang basah lalu berbalik. Saat itu juga, bibir Bima langsung menemukan bibir Starla.

Bima mencium Starla, menggigit bibir bawah Starla dan menyusupkan lidahnya dalam mulut Starla yang sudah terbuka. Mereka berciuman cukup lama, hingga terdengar bunyi kecipak yang nyata. Lidah mereka saling menggoda dan membelit satu sama lain.

"Kita harus berhenti di sini sebelum kita berbuat lebih jauh lagi," kata Starla saat Bima melepas ciumannya demi memasok udara kembali ke paru-parunya.

Napas Bima terdengar berat, matanya pun sudah berkabut menatap Starla penuh gairah.

"Bagaimana dengan sex 15 menit? Aku akan melakukannya dengan cepat. Aku janji."

Sejujurnya, Starla sempat tergoda. Namun saat ia melirik arloji di tangannya, ia tau ia harus menolak atau ia akan terlambat dan beresiko diberi SP 3 oleh perusahaan tempat ia bekerja. Benar kata Darma, sejak ia kenal dengan Bima, Starla jadi sering terlambat ke kantor. Kali terakhir adalah satu minggu yang lalu. Bosnya marah karena ia sering terlambat dan memberikan SP 2 setelah SP pertama yang ia terima dua bulan lalu.

"Mungkin jam 5, setelah kita sampai rumah. Itupun jika kamu nggak keberatan dengan bau keringatku setelah seharian bekerja," goda Starla. Tangannya bermain-main di rahang Bima.

"Kamu tau aku tidak pernah keberatan dengan hal itu." Bima mencium Starla lagi. Namun di saat tangannya mulai meraba dada Starla, Starla segera mendorong Bima menjauh.

"Aku harus berangkat sekarang," tukas Starla.

Bima mengerang kecewa. "5 menit?"

Starla tertawa lalu menggeleng tegas. "Jika aku terlambat lagi, aku akan dipecat."

Dengan berat hati akhirnya Bima mundur ke belakang. Memberi ruang bagi Starla untuk pergi  dari dapur.

"Hati-hati di jalan!" ucap Darma.

"Iya."

Setelah itu Starla meninggalkan rumah. Selama perjalanan ke kantor dengan naik bis, sebuah senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Hubungannya dan Bima sejauh ini baik-baik saja, dan ia berdoa agar selalu bisa seperti ini.

Mungkin sampai mereka berdua siap menikah nanti.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status