4 - Motel

Sudah sekitar satu jam lamanya Starla berdiri di depan gerbang kantor. K epalanya menoleh ke kanan dan kiri, di mana banyak kendaraan berlalu lalang. Awan yang tadinya cerah sudah berubah gelap diiringi kilat dan gemuruh petir yang sesekali menyambar di angkasa. Angin yang bertiup semakin kencang menit ke menit dan Starla memeluk tubuhnya sendiri karena rasa dingin yang menusuk kulit.

"Neng masih di sini?" Pak Tarjo, satpam yang berjaga di gerbang bertanya pada Starla. Ia mendongak menatap langit yang kian menggelap karena selain sudah masuk jam setengah 6 sore, mendung tebal juga bergelayut siap menjatuhkan titik-titik air kapan saja.

"Iya, Pak."

"Nunggu siapa, Neng? Jemputan?" tanya Pak Tarjo lagi, sesekali mengusap kedua telapak tangannya karena ia juga merasa kedinginan setelah keluar dari ruang pos jaga demi menghampiri Starla. "Mending pulang aja sekarang, Neng. Mau hujan ini," saran Pak Tarjo.

Starla menghela napas. Ia melirik arloji lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Starla mencoba menghubungi nomor Bima namun hanya suara operator seluler yang ia dengar.

Bima... kamu di mana, sih?

"Atau Neng masuk aja ke dalam pos sana! Nanti sakit lho!" Pak Tarjo lagi-lagi memberi tawaran.

"Makasih, Pak. Kayaknya aku pulang aja, deh," senyum Starla.

"Nggak jadi nunggu jemputan?"

Starla menggeleng. "Mungkin yang jemput lagi nggak bisa, Pak."

"Oh. oke. Hati-hati, Neng!"

Starla mengiyakan saja lalu segera meninggalkan pintu gerbang perusahaan. Ia berjalan cepat menuju halte terdekat yang ada, namun baru setengah jalan hujan sudah turun dengan lebat. Mau tidak mau, Starla pun berlari agar segera sampai ke halte dan bisa berteduh.

Sesampainya di halte, Starla mengibaskan rambutnya yang sudah setengah basah, juga mengusap pada seluruh badan agar lebih kering. Angin yang bertiup semakin kencang membuat bibir Starla bergemeletuk. Ia memeluk tubuh, berharap agar bis segera datang. Starla ingin cepat sampai rumah dan ganti baju hangat.

Doa Starla terkabul dengan cepat karena sebuah bis berwarna biru berhenti tak lama kemudian. Starla pun segera masuk dan semakin menggigil kala AC menyambutnya dari dalam bis.

Starla mengambil tempat duduk di dekat jendela. Ia mendesah lega setelah menyamankan diri duduk di atas kursi. Sembari terus memeluk dirinya demi mengurangi rasa dingin, kepalanya menatap pada jalan raya. Hujan benar-benar turun dengan deras.

Cukup lama Starla menatap ke luar jendela hingga rasa kantuk menyergap. Mata Starla sudah siap terpejam saat bis berhenti karena ada salah satu penumpang yang turun. Tapi bersamaan dengan hal itu juga Starla menangkap sosok pria yang sangat ia kenal. Pria itu menyeberangi jalan sembari membawa payung dan kantung plastik putih yang entah berisi apa.

Bukankah itu Bima?

Demi memastikan, Starla menyipitkan mata. Tinggi, postur, siluet, cara berjalan atau apapun itu benar-benar mirip Bima. Jadi Starla menyimpulkan dengan cepat bahwa pria yang ia lihat memang sungguh-sungguh Bima.

Tapi kenapa ia ada di sini?

Starla bingung, dan semakin bingung saat melihat Bima berjalan di trotoar dengan tergesa menuju arah sebaliknya dari rumah.

Bis akan kembali berjalan membuat Starla tersentak. Buru-buru ia bangun dan menekan tombol di sebelah kiri agar supir bis menghentikan laju.

"Kenapa nggak dari tadi?" Supir bis itu tampak sedikit kesal dan Starla mengabaikannya saja. Ia mengeluarkan uang lima ribu dua lembar dan menyerahkannya pada supir bis. Tanpa menagatakan sepatah katapun, Starla segera turun. Tak peduli lagi dengan air hujan yang masih mengguyur cukup deras.

Starla menyeberang jalan dengan cepat, sesekali berteriak memanggil nama Bima yang semakin jauh dari pandangannya. Gadis itu tidak menyerah, ia berlari cepat untuk menyusul pria itu. Dihiraukannya pakaiannya yang sudah basah kuyup.

"BIMA!!" Starla berteriak mengalahkan air hujan. Sia-sia saja, Bima terus beralan tanpa menoleh.

Hingga saat Bima masuk ke sebuah bangunan berlantai dua, kaki Starla berhenti. Ia mengerjab, menoleh demi membaca ulang tulisan dari lampu yang bersinar terang di sisi kiri bangunan.

M O T E L

Perasaan Starla jadi tidak enak. Sekali lagi menatap bangunan berlantai dua tersebut. Untuk apa Bima datang ke tempat ini?

Starla tau jika ia ingin jawaban maka ia harus mencarinya. Starla pun segera masuk ke dalam tempat itu.

Dengan baju basah kuyup, Starla menuju meja resepsionis. Di sana ada seorang wanita gemuk paruh baya yang sedang menonton TV sembari memakan keripik kentang.

"Oh, hai, selamat datang di motel kami!" sapanya begitu melihat Starla. "Mau pesan kamar untuk berapa malam?" Wanita itu berdiri, sedikit kesusahan karena berat badannya yang berlebih. Ia membuka buku tamu siap mencatat sebuah nama.

"Bisa tunjukkan KTP kamu?"

Starla mengangguk. Cepat-cepat merogoh tas dan mengambil dompet yang masih kering karena tasnya merupakan tas kulit dan tahan air.

"Biaya sewa satu malam 250 ribu," terangnya tanpa basa-basi. Ia mengembalikan KTP Starla setelah selesai mencatat dalam buku tamu. "Kamu bisa bayar lebih 100 ribu dan aku bakal ngasih kamu baju kering," tawarnya setelah melihat penampilan Starla yang memprihatinkan.

Starla hanya mengangguk, mengambil dompet dan membayar sebanyak 350 ribu.

"Tunggu sebentar," tukas wanita itu berlalu setelah mengambil uang pembayaran dari Starla. Tak lama kemudian ia sudah kembali dan membawa satu set pakaian kering, juga sebuah handuk kecil.

"Aku tadi nggak bilang ukuran ini cocok dengan kamu, okay? Jadi dilarang protes," tukasnya sembari menyerahkan pakaian yang ia bawa. Semua itu adalah baju bekas milik putrinya yang sudah menikah, jadi tidak masalah ia memberikannya pada orang lain.

Starla menerimanya tanpa banyak bicara. Ia juga mengambil kunci yang diserahkan oleh wanita itu.

Baru saja berbalik untuk mencari kamarnya, Starla kembali menghadap wanita itu. Dalam keraguannya, Starla memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa... ada cowok bernama Bima yang juga menginap di sini?" tanya Starla.

"Bima?" Wanita itu tampak berpikir sejenak. Matanya memicing curiga pada Starla. "Entahlah, aku nggak ingat," jawabnya mengindikkan bahu. "Tapi kalau kamu mau bayar 50 ribu mungkin aku bisa periksa buku tamu."

Starla tau ia sedang diperas, tapi untuk saat ini, mengetahui keberadaan Bima jauh lebih penting daripada apapun. Ia pun akhirnya mengeluarkan uang 50 ribu dan menyerahkannya pada wanita itu.

Wanita itu tersenyum puas.

"Oke, sebutkan ciri-cirinya," tukasnya.

"Dia tinggi, rambutnya panjang disemir merah, dan ... ah, dia baru masuk beberapa menit sebelum aku masuk ke sini."

"Oh, dia!" seru wanita itu. "Ada di lantai dua, kamar nomor 15," lanjutnya. "Tapi ... apa hubungan kamu sama dia?" Ia tampak kepo.

Starla hanya menggeleng tipis lalu segera mengucapkan terima kasih dan meninggalkan meja resepsionis. Ia pun menaiki lantai dua sembari terus bertanya-tanya dalam hati.

Untuk apa Bima ada di sini?

Berbagai pikiran buruk sempat melintas di otak Starla tapi ia segera mengenyahkannya. Ia yakin jika Bima tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Starla percaya pada kekasihnya itu.

Setelah mencari-cari nomor kamar 15, akhirnya Starla menemukannya. Ia berhenti tepat di depan pintu itu dan mendadak hatinya menjadi ragu. Benarkah yang sedang ia lakukan kini?

Perlahan, tangan Starla terangkat. Ia siap mengetuk pintu tersebut. Namun kala kepalan tangannya tinggal satu sentimeter, ia berhenti. Dengan cepat, tangannya meraih handle pintu dan membukanya. Starla sedikit terkejut karena pintu itu tidak terkunci.

Starla menyentakkan kepala, mengahadap depan. Lalu semua pakaian dan kunci kamar yang ia bawa jatuh ke lantai karena pemandangan yang ia lihat.

Ia tidak mungkin salah. Di sana ada Bima dan ia sedang mencumbu dan menindih tubuh seorang perempuan asing di atas kasur.

Bima yang mendengar suara aneh dari arah pintu menoleh dan terkejut melihat sosok Starla ada di sana. Buru-buru ia bangun dari kasur, diikuti perempuan asing tersebut. Meskipun mereka masih memakai baju lengkap, tapi baju tersebut sudah acak-acakan.

Starla menggelengkan kepala, kedua tangannya menutup mulut demi menahan isak tangis yang ingin keluar dari bibirnya. Hatinya terasa sakit melihat penghianatan Bima.

Sebenarnya apa yang salah? Dari mana? Dan sejak kapan Bima menusuknya dari belakang? Kenapa Starla tidak pernah tau hal ini sebelumnya? Berbagai pertanyaan langsung menyeruak da;am pikirannya, menambah rasa sakit bertubi-tubi di dadanya.

"Starla, aku bisa jelasin ini." Bima berjalan mendekat pada Starla, namun seiring Bima mendekat, Starla berjalan mundur menjauh.

"Starla... ini nggak seperti yang kamu-- Starla!!" Bima berteriak begitu Starla langsung berbalik dan berlari meninggalkannya. Ia sudah siap mengejar namun sebuah tangan lemah menahannya untuk pergi. Bima menoleh dan menatap wanita berwajah sayu.

"Kamu sudah berjanji, Bima... Jangan tinggalin aku. Aku takut."

Bima memejamkan mata, rahangnya mengeras. Tangannya pun terkepal kuat. Dalam hati ia sedang berteriak karena rasa bersalah yang luar biasa.

"Maafin aku... Starla."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status