9 - Kamu Adalah Pelacurku

Semua terlambat, saat Starla menyadari bahwa itu bukanlah mobil abang grab yang dia pesan. Gadis itu otomatis melepaskan pegangannya pada koper dan berbalik untuk berlari. Perasaan takut muncul begitu saja kala melihat pria tua itu.

Namun, tepat saat itu juga tangannya sudah dicekal dengan cepat. "Kamu pikir kamu mau lari ke mana jalang kecil?"

Starla memberontak, berusaha melepas tangannya. Dia mulai berteriak tapi Lion dengan cepat menamparnya keras sampai pandangan Starla terasa berkunang-kunang.

"Apa yang kamu lakukan?! Lepasin dia!" teriak Bima murka, dia tidak terima pada perlakuan kasar Lion pada Starla.

"Aku? AKu hanya akan membawa wanita ini bersamaku," jawab Lion santai. Dia tersenyum miring menatap Lion yang berusaha menerobos dua preman yang dia bawa untuk melindunginya.

"Nggak! Lepasin Starla! Perjanjian kita batal! Aku nggak mau kamu bawa dia, bajingan!" seru Bima.

"Aku bajingan? Haha! Kamu pikir siapa yang menjual kekasihnya untuk menukarnya dengan wanita lain? Itu kamu goblok!" maki Lion. Dia pun langsung menarik Starla masuk ke dalam mobil. Starla lagi-lagi sempat memberontak namun Lion melayangkan sebuah tamparan lagi.

"STARLA!" teriak Lion saat mobil itu tertutup.

Pintu kaca mobil itu dibuka, menampilkan Lion yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Di sampingnya, ada Starla yang menangis dan terus berusaha memberontak, melepaskan tangan yang dicengkeram kuat oleh Lion.

"Urus dia!" perintah Lion. Lalu mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.

Dua preman yang ada di sana menyeringai lalu mulai memukuli Bima. Perkelahian itu terjadi selama kurang lebih 10 menit, karena orang-orang yang ada di warung melihat perkelahian itu, dua preman itu segera kabur dari sana. Meninggalkan Bima yang sudah babak belur tak berdaya di tepi jalan.

Dalam kesakitannya, Bima menatap koper Starla yang tertinggal. Dia menitikkan air mata dengan penyesalan yang sangat. Lalu kegelapan pun menghampirinya.

***

Lion menyeret Starla memasuki sebuah gedung tua yang jauh dari keramaian. Bau apak dari tempat tersebut tercium, beserta aroma tanaman liar yang merambati dinding.

Starla tidak tau sejauh apa Lion mengajaknya masuk ke dalam, yang jelas gedung tua ini sangatlah besar dan luas.

"Ketua datang, ketua datang!" Terdengar seruan sahut menyahut dari balik dinding. Lion terus menyeret Starla mengikutinya hingga dia sampai pada sebuah pintu kayu besar. Di sana, ada dua orang yang menjaga. Badan mereka kekar-kekar dan besar, membuat nyali Starla menciut saat itu juga.

"Ketua!" sapa dua penjaga itu dengan sigap. Mereka melirik Starla sekilas.

"Apa semuanya aman?" tanya Lion.

"Ya, Ketua!"

"Bagus," ucapnya. Lalu pintu pun dibukakan.

Starla melihat bagian dalam gedung ini terang benderang oleh lampu, berbeda saat dia berjalan memasukinya. Sepertinya tempat ini dibuat secara tersembunyi. Dari luar gedung ini tidak terlihat berpenghuni, namun nyatanya salah. Saat Starla masuk ke sana, ratusan preman dengan berbagai bentuk dan ukuran ada di sana. Ada yang botak, gondrong, besar, gemuk, jangkung, kekar, kurus, kecil dan entahlah. Starla hanya mengernyit karena bau di sana penuh dengan asap rokok dan minuman beralkohol.

Orang-orang di sana tersenyum dan menyapa Lion. Beberapa dari mereka menyempatkan diri untuk menatap Starla dengan pandangan penuh nafsu. Starla semakin menunduk karena tubuhnya mendadak gemetar takut melihat mereka semua.

"Ingatlah wajah-wajah ini. Jika kamu macam-macam dan berani melawanku, aku tidak segan-segan melemparmu pada mereka semua!" ancam Lion yang didengar oleh para preman yang ada di sana. Mereka pun bersorak kegirangan mengetahui hal itu. Beberapa berteriak 'sekarang saja, Bos!' dan sebagian lagi berteriak 'gangbang aja rame-rame!'

Sungguh, Starla dibuat semakin memucat dan merindik. Refleks saja memeluk tubuhnya dengan sebelah tangan yang masih bebas.

Lion kembali membawanya menaiki lantai dua.

Berbeda dengan lantai satu yang terlihat acak-acakan dan kumuh, lantai dua ini sangat rapi. Lantainya bersih dan terlihat seperti sebuah rumah pada umumnya. Beberapa perabotan yang ada di sana pun adalah barang mewah. Pokoknya sangat berbeda jauh dengan lantai satu.

Di sini Starla merasa seperti memasuki sebuah rumah mewah yang dimiliki oleh orang kaya.

"Bos!"

Jika di lantai satu ada ratusan preman, di lantai dua ini ada sepuluh pria dengan pakaian santai dan lebih bersih. Dari penampilannya, mereka cukup merawat diri. Starla pikir mungkin kedudukan mereka jauh di atas para preman itu.

"Laporannya nanti saja. Aku akan sibuk semalaman dengan jalang kecil ini. Selamat malam anak-anak!" tukas Lion ketika mereka semua berdiri karena kedatangannya.

Starla sempat melihat ada mata prihatin, tidak peduli dan lagi-lagi penuh nafsu saat melihatnya diseret masuk ke kamar Lion. Cepat-cepat Starla menunduk. Kini dia kian takut.

Lion menutup pintu dan menguncinya cepat. Dia berbalik dan menyeringai mendapati Starla yang perlahan mundur  menjauhinya.

"Tolong, tolong jangan lakuin ini sama aku lagi," tukas Starla memelas.

Lion mendengus, melepas dan melempar jas yang dia pakai, berikut dengan dasinya. Dia berjalan mendekati Starla yang langkahnya terhenti karena menabrak sofa.

"Aku mohon," mohon Starla, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Entah sudah berapa kali dia menangis dalam sehari, yang jelas orang-orang disini, dan terutama Lion membuatnya ketakutan setengah mati.

Tentu saja, Lion sama sekali tidak menggubris Starla. Dia terus melangkah ke depan hingga jarak antara dia dan Starla terkikis, membuat Starla jatuh terduduk di atas sofa. Hal itu tidak disia-siakan oleh Lion. Pria berwajah tambun itu langsung naik ke atas sofa untuk menindih Starla.

Lion mencium bibir Starla, namun Starla dengan cepat menoleh ke samping sehingga Lion hanya bisa mengenai pipi lembutnya. Itu tidak masalah bagi Lion. Pria itu malah mengendus dan mulai menjilati wajah cantik itu, turun hingga ke leher putih Starla.

"Aku berani bertaruh, kamu adalah wanita yang langka. Hanya dengan mencium aroma lehermu saja, kejantananku sudah mulai mengeras di bawah sana," bisik Lion jujur.

Starla menggeleng, dia menggigit bibir. Menahan rasa mual yang tiba-tiba hadir. Ingatan tentang kilas yang terjadi tadi malam menyeruak dan membuat dia bangkit. Starla, menjambak rambut Lion ke atas, dan langsung menggigit kupingnya. Membuat Lion berteriak.

"BANGSAT!" umpatnya

Kesempatan itu dipakai Starla untuk berguling ke bawah dan segera berdiri. Dia harus kabur dari kamar ini.

Baru saja Starla berlari beberapa langkah, tubuhnya sudah ditimpa sesuatu yang berat dari belakang. Itu Lion, mendekap dan menindih tubuhnya yang ambruk ke lantai. Starla mengerang kesakitan.

"Sakit, bukan?" desis Lion tajam. Dihiraukannya saja telinga yang sudah memerah karena gigitan Starla. Dia beruntung karena Starla tidak menggigitnya sampai berdarah.

"Aku mohon, lepaskan aku," isak Starla mulai putus asa. Dia berusaha bangkit namun Lion menduduki pinggangnya. Perut Starla terasa sakit tergencet ke lantai karena tubuhnya yang mungil.

Bukannya menjawab permohonan Starla, Lion justru menjambak rambut Starla, membuat gadis itu lagi-kagi mengerang karena dipaksa mendongak ke atas dengan sangat.

Lion membungkukkan badan hanya untuk kembali mendesis tajam. "Ingat ucapanku, pelacur sialan! Jika kamu sekali lagi berani melawanku, aku akan menendangmu keluar dari kamar ini!"

Starla menggigit bibir karena merasa kepalanya ingin terlepas dari leher. Jambakan Lion sangat kuat hingga terasa akar rambutnya sudah akan tercabut dari kulitnya.

" ... Dan itu berarti kamu harus siap menjadi boneka seks mereka!" lanjut Lion. Lalu tanpa peringatan, pria itu membenturkan kepala Starla ke lantai yang beruntung masih terlapisi oleh karpet tebal.

Namun setebal-tebalnya karpet tersebut, tetap terasa sangat kuat bagi kepala Starla. Lion membuat lagi-lagi pandangannya terasa berputar-putar.

Dalam keadaan setengah sadar itu, Lion membali tubuh Starla hingga telentang, menyeretnya ke tengah ruangan yang lebih luas dan langsung melucuti pakaian Starla.

Tanpa bisa melawan, Starla hanya bisa pasrah. Dalam setiap hentakan Lion di dalam tubuhnya, dia menangis dan menjerit pilu, namun itu semua justru menjadikan Lion semakin bersemangat menyetubuhinya.

"Kamu ... adalah ... pelacurku... ," kalimat Lion saat dia mencapai puncak kenikmatan. Wajahnya menyiratkan kepuasan yang sangat. Tubuh bagian bawahnya menyentak-nyentak kejantanan untuk semakin masuk ke dalam.

Saat itu Starla tau, jika dia tidak akan pernah bisa keluar dari sini.

Bersambung ...

***

Hai, Jihanna Yvonne di sini!

Hmmm, alurnya kelambatan nggak sih? Hehe... Kayaknya sih iya tapi ya sudahlah, namanya juga menulis tanpa plot yang pasti wkwkkwkw...

Sampai jumpa di part selanjutnya!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status