11 - Pergi

Starla tidak tau sudah berapa lama dia berada di tempat ini, yang jelas cukup lama Lion tidak datang berkunjung untuk menyentuhnya dan itu membuat dia lega. Luka-luka lebam yang dia derita pun sudah berangsur membaik dan hampir hilang sama sekali. Salep yang selalu diberikan Xander ternyata sangat manjur untuk menyembuhkan dan menghilangkan bekas lebam di kulit putihnya.

Terdiam dalam sunyi lampu temaram, rasanya sungguh membosankan. Starla rindu sinar terik matahari, rindu melihat bulan dan kemerlap bintang, suara klakson mobil dan bau asap motor, bahkan Starla rindu pada hembusan angin di bawah pohon.

Menarik selimut karena tidak ingin membiarkan harapannya membumbung tinggi, Starla memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya didobrak dengan keras dari luar, membuat Starla otomatis langsung duduk tegak.

"Starla!"

Itu Xander. Dia berjalan cepat menghampirinya dan menarik tangan Starla hingga berdiri.

"Kita harus pergi dari sini segera," ucapnya.

Sebelum Starla memberi respon atau pertanyaan apapun, Xander sudah menariknya keluar. Hal yang membuat Starla terkejut adalah kericuhan yang sedang terjadi. Para preman berlarian ke sana kemari, terdengar teriakan-teriakan keras lalu yang lebih mengejutkan adalah banyak di antara mereka yang membawa parang, golok, pisau, tongkat besi dan entah senjata apa lagi.

"Kau sudah menghubungi Ketua?" Xander berhenti di depan salah seorang pria berpakaian serba hitam sama dengannya. Pria itu mengangguk.

"Kau cepatlah pergi dari sini. Kami akan menangani mereka dan secepatnya mencari jalan untuk kabur. Sial! Siapa penghianat di antara kita? Aku pasti akan membunuh cecunguk sialan itu jika sampai tertangkap olehku!" umpatnya berlalu pergi.

Starla sempat melihat pria itu mengambil sebuah pistol yang terselip di pinggangnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

"Ada yang menghianati organisasi dan membocorkan keberadaan kami," jelas Xander tanpa di minta. Dia sudah menyeret Starla buru-buru melewati lorong yang lembab dan gelap.

"Mereka polisi?" tanya Starla penasaran. Dia sedikit kesulitan menyamai langkah Xander.

"Tidak!" Tiba-tiba Xander berhenti dan berbalik menatap Starla dengan pandangan yang sulit di artikan. "Kenapa? Jika itu polisi kau ingin tetap tinggal di sini?"

Starla mengibaskan tangannya hingga terlepas dari Xander. "Tentu saja! Ini kesempatanku untuk terbebas dari orang-orang sepertimu!"

"Sayangnya mereka bukan polisi," desis Xander. Dia meraih tangan Starla lagi dan menariknya mengikuti. "Mereka mafia organisasi lain. Kau bisa menyebutnya saingan kami. Mereka mulai memburu kami karena banyak daerah yang kami kuasai dari pada mereka dan-"

"Itu terdengar bagus untukku. Kuharap mereka menemukan kalian semua!"

Xander berdecak. "Kau memang penuh kejutan!"

Saat mereka keluar dari lorong, di sana mereka di sambut ilalang rumput yang tinggi-tinggi. Xander mengajak Starla untuk menerobos ilalang itu tapi Starla tidak bodoh.  Tak jauh dari tempat mereka berada, gadis itu melihat jalan raya dan ini benar-benar kesempatan bagus untuk melarikan diri.

"Lepaskan aku!" Starla berusaha memberontak. Dia bahkan tidak segan-segan untuk berteriak minta tolong.

Karena geram, Xander langsung membekap mulut perempuan itu dan menyeret tubuh mungilnya masuk ke dalam ilalang. Setelah dirasa cukup masuk ke dalam dan aman, barulah Xander mendorong tubuh Starla hingga tersungkur ke tanah.

"Kau gila! Kita bisa saja tertangkap dan mati di sana!" geramnya murka.

Starla mendengus. Dia berdiri dan menantang Xander. "Bukan aku tapi kau yang akan mati!"

Xander menatap Starla tidak percaya. Jika bukan karena sedikit ketertarikannya pada gadis keras kepala ini, dia pasti sudah membiarkannya membusuk dalam ruangan pengap itu.

"Dengar!" Xander meraih dan mencengkeram rahang Starla kuat-kuat, siap untuk meremukkannya. Dia mengabaikan ringisan Starla yang menahan sakit.

"Jika kau aku tinggalkan di sana, kau akan menjadi pelacur yang harus memuaskan puluhan laki-laki tiap malam! Apa itu yang kau mau?!"

Starla tidak berkata apapun, dia lebih sibuk untuk berusaha membebaskan rahangnya dari cengkeraman Xander. Hingga akhirnya pria tersebut menghempaskan tubuhnya kasar.

"Bukankah selama ini aku sudah menjadi pelacur?" suara Starla dengan nada dingin. Dia ingat jika Lion sudah beberapa kali menidurinya secara paksa.

Xander mendengus, sudut bibirnya terangkat kecil. "Benar. Kau adalah pelacurnya Lion. Tapi aku tidak percaya jika kau ingin menjadi pelacur murahan dari banyak pria!"

Wajah Starla memerah. Marah mendengar penghinaan dari Xander. "Aku tidak-" Belum selesai bantahan Starla, Xander sudah menariknya dan membekap mulutnya.

Awalnya Starla bingung dan hendak melawan, namun suara gemerisik dan ilalang dari kejauhan yang bergerak-gerak membuat Starla ikut diam. Sepertinya ada beberapa orang yang mengikuti mereka berdua.

Ekspresi Xander terlihat serius. Pria itu mendengarkan dengan seksama dan menarik pelan tubuh Starla agar lebih dekat dengannya. Diam-diam dia pun menarik sebuah pistol dari pinggangnya.

Jantung Starla berdegup kencang. Padahal tadi dia ingin kabur tapi sekarang entah kenapa dia merasa ketakutan setengah mati. Dia pun mencengkeram pakaian Xander dan pria itu mengerti. Xander memeluk tubuh Starla, membuat wanita itu bisa mendengar detak jantung Xander yang tak kalah cepat dengannya.

Saat ilalang tempat mereka bersembunyi disibak dan seseorang di belakang Starla berteriak "Aku menemukan mereka!" Saat itulah Starla mendengar suara tembakan.

Starla terkejut namun Xander tidak membiarkannya terpaku. Dia menarik tangan Starla cepat dan berlari menerobos rumput ilalang lagi. Keributan di belakang mereka menjelaskan jika masih ada beberapa orang yang mencoba mengejar mereka.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Xander berhasil membawa Starla keluar dari sana. Sebuah mobil hitam berhenti tak lama kemudian dan Xander langsung masuk ke dalam. Dia menembak kepala preman yang mengendarai dan menarik tubuhnya begitu saja keluar dari mobil.

Kejadian yang terus mengejutkan dan tidak pernah Starla alami membuat adrenalin Starla terpacu. Selama proses tersebut dia tidak banyak mengingat bagaimana dia masuk ke dalam mobil bersama dengan Xander. Yang dia ingat secara samar adalah, Xander melajukan mobil dengan kecepatan penuh dan menghindari beberapa tembakan yang di arahkan pada mereka. Berkali-kali Starla terpaksa menunduk ketakutan karena tembakan tersebut berhasil mengenai kaca bagian belakang.

Hingga akhirnya mereka lolos.

"Kau membunuh orang," gumam Starla kemudian. Sekarang langit sudah berganti menjadi gelap dan mereka telah menaiki sebuah kapal besar.

"Aku tau," kata Xander sembari mengusap wajah. "Maaf jika kau harus menyaksikan-"

"Jangan sentuh aku!" Starla mundur saat Xander berusaha menyentuh untuk menenangkannya.

Menghela napas, Xander berkata. "Aku di sini bukan untuk melihatmu seperti ini. Kau boleh mengutukku tapi aku tidak menyesal melakukannya karena tugasku hanya membawamu pergi dari sana."

Xander melemparkan sebuah kunci pada Starla. "Pergi ke dalam kamarmu dan beristirahatlah. Perjalanan kita akan sangat jauh."

Setelah mengetakan demikian Xander berbalik dan memasuki kabin kapal. Dia pun lelah dan ingin beristirahat setelah semua yang terjadi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status