13 - Harga Diri

"Bangun, bitch! Pakai pakaian ini dan segera keluar!"

Starla tersentak saat seorang wanita dengan pakaian yang hampir tidak bisa menutupi separuh paha masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan sebuah pakaian hingga tepat mengenai wajah. Beringsut bangun, Starla meneliti jenis pakaian yang baru saja wanita itu berikan lalu mengernyit tidak suka.

Jelas saja, itu adalah pakaian mini seperti yang dipakai wanita tersebut, hanya saja memiliki warna dan bentuk yang berbeda.

"Aku tidak mau memakai ini," tolak Starla, membuang pakaian itu begitu saja ke lantai.

Wanita dengan lipstik berwarna coklat gelap tersebut mendengus. Tampak kentara dari pandangan mata jika dia tidak menyukai keberadaan Starla.

"Kau harus memakainya. Semua wanita di sini harus memakai pakaian seperti itu. Kau pikir ini panti asuhan?" sindirnya ketus.

"Keluar dari kamarku!" usir Starla sama sekali tidak mencoba untuk beramah tamah. Dia berdiri lalu mendorong pergi perempuan itu dan menutup pintu dengan kasar. Baru saja berniat untuk mengunci pintu kamarnya, Starla baru menyadari jika tidak ada kunci di sana. Membuatnya mendesah kasar.

Starla menyandarkan tubuh di pintu kamar, kepalanya mendongak menatap atap kamar berwarna krem. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu ketika Xander membawanya ke tempat ini.

~ Flashback on ~

"Aku tidak mau tinggal di sini!" tolak Starla saat Xander menjelaskan dia harus tinggal di kelab malam. Meskipun di sini Xander sudah menjelaskan jika banyak kamar kosong yang disediakan untuk para karyawan (yang lebih banyak dihuni oleh para wanita pekerja seks komersial), Xander juga menjanjikan bahwa Starla akan baik-baik saja.

"Dengar, aku sudah berbicara dengan Karel dan dia tidak akan menyentuhmu! Aku sudah membayarnya untuk itu!"

"Kau membayarnya untuk menjualku?!" desis Starla tajam.

"Aku tidak menjualmu!" bantah Xander tegas. Dia mengusap wajah kasar lalu menatap Starla dengan mimik muka melas. "Starla, percayalah padaku hanya ini yang bisa kulakukan padamu."

Starla diam, menunggu penjelasan lebih lanjut. Dia tau sebenarnya tidaklah pantas dia meminta hal lebih jika ingat pada masa lalunya. Bukankah memang dia sudah dijual Bima pada Lion? Yang berarti juga seluruh mafia itu bisa berhak melakukan apa pun padanya tanpa bisa dia tolak?

Tapi persetan! Starla tidak akan tunduk begitu saja dengan perlakuan mereka semua. Meskipun mereka menganggapnya seorang pelacur pun, Starla akan tetap dengan wajah angkuh dan sombong menolak.

Xander menghela napas, lalu memegang dua pundak Starla. Mata hitamnya menatap Starla serius. "Kau tau kau tidak memiliki identitas resmi di sini. Aku membawamu melalui cara yang ilegal. Aku tidak bisa membiarkanmu tertangkap oleh pihak kepolisian karena hal itu dan tempat ini adalah satu-satunya cara agar kau tetap aman." Jeda sejenak sebelum Xander melanjutkan kalimatnya. " ... setidaknya sampai aku kembali."

"Ke mana kau akan pergi?" tanya Starla kemudian. Setelah mendengar penjelasan Xander yang masuk akal, akhirnya dia mengerti jika Xander bermaksud baik padanya. Bahkan jika diingat-ingat pria itu memang selalu baik padanya dari dulu.

"Banyak yang harus aku urus," jawabnya. "Untuk saat ini aku akan ke Jepang, Amerika, lalu kembali ke Indonesia."

Mendengar nama negaranya disebut, wajah Starla tersentak. Dan hal itu tidak luput dari penglihatan Xander.

Dia mengelus lembut pipi Starla dan sungguh Starla tidak tau apa maksud pria itu menciumnya. Starla sama sekali tidak membalas sehingga ciuman itu bisa dikatakan hanya sepihak.

Xander memejamkan mata, lalu menjauhkan sedikit wajahnya dari Starla. Tatapannya melembut sembari tersenyum lemah. "Aku pasti akan membawamu pulang ke Indonesia. Hanya, tunggulah sampai situasinya lebih baik. Kau bisa memegang janjiku."

~ Flashback off ~

"Buka pintunya!"

Gedoran dari pintu yang masih dijadikan Starla tempat bersandar mengganggu lamunan gadis itu. Starla mengusap wajah, menghela napas sedikit frustasi lalu berbalik. Tepat saat itu juga pintu terbuka lebar. Kali ini bukan hanya wanita lipstik coklat gelap yang dia lihat, melainkan juga sosok Karel.

Pria berkuncir itu tersenyum miring pada Starla, sekali lagi meneliti penampilan Starla dari atas ke bawah.

Karel menoleh dan mengisyaratkan pada wanita itu untuk pergi, sedangkan dia masuk ke dalam kamar Starla. Merasa harus waspada, Starla memilih untuk berdiri di tengah pintu kamar, menyandarkan tubuh di sana sementara dia menatap awas pada gerak-gerik Karel di dalam kamarnya.

"Kau tidak mau duduk?" tanya Karel kemudian setelah mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk di kasur Starla. Wajahnya sama sekali nampak tidak canggung atau merasa bersalah. Pria itu justru menyunggingkan senyum yang menampakkan lesung pipit di kedua sisi wajahnya.

"Kau sudah duduk di satu-satunya tempat yang kumiliki," jawab Starla dengan nada datar. Dia mengatakan yang sejujurnya karena di kamar kecil tersebut hanya ada kasur yang muat untuk satu orang saja. Tidak ada meja atau kursi, atau bahkan almari kecil sekalipun. Yang ada hanya sebuah cermin dinding besar yang berada tepat di depan kamar mandi mini sudut kamar.

Mengindikkan bahu, Karel menyilangkan kaki. Kembali, dia mengamati penampilan Starla lalu mendengus geli. "Sudah berhari-hari kau tidak mengganti pakaianmu."

"Jika kau ke sini hanya untuk membahas soal pakaianku, kau bisa pegi," tukas Starla dengan niat mengusir.

"Oh, seriously? Aku hanya berniat baik padamu kau tau?"

"Terima kasih," jawab Starla. "Sekarang kau bisa pergi? Aku ingin istirahat."

Mendengar keramah tamahannya dibalas dengan hal yang sebaliknya membuat Karel menggertakkan gigi. Dia berdiri, lalu berjalan menuju Starla dengan aura mengintimidasi.

"Kau pikir kau bisa tinggal di sini secara gratis?"

Tubuh Starla menegang sejenak tapi dia berusaha tampak tetap tenang. "Xander sudah membayarmu."

Karel mendengus. "Aku tidak peduli dengan Xander tapi semua orang yang tinggal di sini harus mau bekerja."

Starla diam.

Karel semakin mempersempit jarak di antara mereka, lalu meraih dagu Starla hingga wajah mereka saling berdekatan. Saat itu Starla bisa mencium bau rokok dari nafas Karel. Membuat Starla refleks menahan napas.

"Jadi sekarang aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Ganti bajumu dan gunakan pakaian itu atau aku sendiri yang akan memakaikan pakaian itu padamu." Karel melepas tangannya dari dagu Starla lalu mundur satu langkah ke belakang. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. "Dan percayalah, aku tidak keberatan untuk membantumu."

Starla tau jenis tatapan Xander yang sedang mencoba untuk menelanjanginya tapi Starla tidak gentar. Gadis itu justru membuang muka dengan muak. Dan hal itu membuat harga diri Karel sedikit terluka.

"Aku akan meninggalkanmu dan kau harus segera bersiap. Dua jam lagi kelab akan buka," perintah terakhir Karel sebelum meninggalkan kamar Starla. 

Starla mendesah lalu segera menutup pintu kamarnya. Dia mengumpat kecil dan menendang kasurnya sendiri yang berakhir dengan kakinya yang kesakitan karena terantuk kayu kusen. Lagi-lagi Starla mengumpat.

Menatap pakaian mini yang tergeletak di lantai, Starla mengambilnya lalu membawanya ke kamar mandi. Gadis itu melemparnya ke sana dan membiarkannya basah.

Demi apapun juga, Starla tidak akan memakai pakaian itu dan memuaskan permintaan Karel. Dia benci tempat ini dan pasti akan keluar dari sini segera. Karena itulah Starla mulai mencari cara.

Tapi apa? Dan bagaimana?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status