14 - Konsekuensi 1

"Kau! Kau tidak mendengarkan apa kataku?!"

Starla terkejut saat Karel tiba-tiba membuka pintunya keras dan menariknya berdiri dengan kasar. Tatapannya tajam menusuk seolah siap ingin membunuh Starla saat itu juga.

Benar saja, karena pria berkuncir dan berbau alkohol tersebut langsung mendorong Starla ke dinding dan mencekik lehernya. Membuat Starla kesulitan bernapas.

Starla berusaha melepasnya dengan kedua tangannya namun tenaga Karel sungguh luar biasa. Otot-otot tangan yang penuh tatoo tersebut menonjol akibat kerasnya dia menekan leher Starla sebab ingin meremukkannya.

Seperti orang-orang yang dicekik pada umumnya, hal yang Starla lakukan adalah membuka mulut, mencoba berteriak ataupun mengambil napas jika mampu. Tangannya mencoba memukul lemah lengan Karel. Wajah Starla memerah karena kehabisan pasokan udara.

Tepat saat itu juga, Karel menarik tubuhnya lagi dan melemparkan Starla tepat di atas ranjang kecilnya. Belum selesai Starla terbatuk-batuk, Karel sudah mencekal kedua tangannya dan mengunci di samping wajah Starla. Pria itu mencoba mendaratkan ciuman paksa ke bibir Starla namun Starla terus menolak dengan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.

"Baiklah jika itu maumu! Kau tidak mau menurutiku, hm? Jadi kau harus menerima konsekuensinya," ucap Karel di sela-sela usahanya memaksa Starla.

"Lepaskan aku!"

"Kau pikir kau siapa?! Dasar pelacur sialan!" maki Karel sembari menampar pipi Starla.

Starla meringis, namun dia tetap memberontak dari usaha Karel yang sekarang siap untuk melucuti pakaiannya.

"Karel, no!" teriak Starla mencoba melawan.

Karel tidak peduli sama sekali. Pembangkangan Starla terhadapnya membuat dia marah. Sebenarnya itu bercampur dengan gairah. Sejak pertama kali Xander membawa wanita berambut hitam ini dihadapannya, Karel sudah merasa sedikit tertarik. Tapi pendekatan apapun yang coba dia lakukan tidak bisa menggerakkan hati Starla sama sekali. Justru kalimat penolakanlah yang sering dia dengar.

Sekarang rasanya kesabaran Karel sudah habis. Dia tidak tahan lagi. Tidak tahan untuk memberi pelajaran dan untuk mendengarnya berteriak memohon ampun padanya.

"Tidak untuk apa? Lihat saja bagaimana aku akan membuatmu meneriakkan namaku ketika aku sudah memasukimu. Tapi pertama, kau harus membuka kain sialan ini!"

Karel menyentak celana dalam Starla dan membuangnya asal. Pria itu menindih tubuh Starla dan membuka resleting celananya dengan cepat. Sesekali mencium leher jenjang Starla yang lembut dan harum.

Tangan Karel turun ke bawah untuk membuka kedua paha Starla. Kemudian mulai meraba-raba di mana bagian inti tubuh perempuan itu. Karel tersenyum kala menemukannya. Jari-jari panjangnya mulai meremas dan mencari sebuah lubang sempit yang nanti akan dia nikmati di bawah sana.

Starla terbelalak karena merasakan sebuah jemari yang mencoba memaksa memasukinya. Dia berteriak, tapi Karel membungkamnya dengan ciuman panjang. Sampai-sampai Starla bisa merasakan alkohol yang telah Karel minum dari air liur pria itu.

Lidah Karel membelit lidah Starla. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Starla untuk bernapas. Sementara di bawah sana, dia telah berhasil memasuki Starla dengan satu jarinya. Karel mengerang kala merasakan kehangatan dari diri Starla.

 Saat itu Starla memejamkan mata. Otaknya menyuruh berpikir cepat dan berakhir dengan menggigit lidah Karel. Terkejut dengan balasan mendadak Starla, Karel terbelalak dan langsung menarik tubuh darinya. Pria bertato itu mengerang dan mengumpat karena lidahnya berdarah.

"Jalang sialan!" Karel kembali menampar Starla. "Jadi kau mau bermain sangat kasar! Oke, kau akan mendapatkannya karena aku lebih dari mampu untuk melakukannya!"

Starla berteriak sekuat tenaga, berharap seseorang akan datang menolongnya. Tapi sepertinya sia-sia saja. Pada jam segini, semua orang ada di kelab. Banyak tamu yang harus mereka layani dan tidak pernah ada seorang pun yang tinggal di kamar. Starla tau itu karena dia sudah beberapa hari tinggal di sana dan hampir hafal seluruh kebiasaan tempat itu.

Lagipula jika pun ada seseorang, mereka pasti tidak akan menolong Starla. Karel adalah bos di tempat ini dan jika mereka masih mau bekerja di tempat itu, mereka tidak akan mengambil masalah dengan Karel.

Sekali lagi, Karel sudah berada di atas tubuh Starla. Pria itu berusaha mengendalikan dan mencekal kedua tangan Starla yang terus memberontak. Bahkan dia menduduki paha Starla agar dia tidak banyak bergerak dan menendang.

Karel menciumi leher Starla kembali. Dia merobek kaus Starla yang sudah kusut sama sekali, menjadikannya sebagai seonggok kain bekas sekarang.

Saat Karel siap untuk memasukinya, saat itulah Starla melihat sebuah celah. Gadis itu pun menendang kemaluan Karel hingga membuat pria itu mengaduh dan terjatuh ke lantai. Apalagi Starla tidak segan untuk menambahinya dengan pukulan bertubi-tubi setelah itu.

***

"Aku akan melaporkanmu ke polisi jika sampai dia mati!" Itu adalah Bianca, gadis yang sama dengan tadi pagi yang melemparkan baju minim padanya. Matanya menatap murka pada Starla yang berdiri tak jauh dari sana.

Semua wanita pekerja di sana juga melihat Starla dengan tatapan menghakimi penuh tuduhan. Nampaknya, mereka tetap akan berpihak pada Karel meski mereka tau jika Karel berbuat kejahatan.

Starla diam, menatap tubuh Karel yang sudah lemah. Pria itu masih mengerang kesakitan sembari memegang benda masa depannya. Itu terasa sangat ngilu, melebihi rasa sakit di tubuh akibat pukulan Starla padanya tadi.

Seorang pria tiba-tiba masuk. Dia mengecek kondisi Karel dan dia meminta bantuan para gadis untuk membawanya keluar. Para gadis itu setuju.

Pria asing itu sudah beberapa kali Starla melihatnya. Dia adalah tangan kanan Karel. Mungkin semacam asisten.

"Kau yang membuatnya seperti itu?" tanya pria itu dengan sebelah alis yang terangkat naik.

Starla tidak menjawab. Dia sudah sangat malas berurusan dengan orang-orang yang ada di sini.

Andrew mendengus karena sikap tidak hormat yang ditunjukkan Starla padanya. "Pantas saja Karel jadi ingin sekali menaklukkanmu," ucapnya. "Yah, sebenarnya itu bukan urusanku tapi ... aku harap kau akan baik-baik saja setelah ini. Xander sudah membayar banyak untukmu tapi Karel sepertinya punya rencana lain."

Mengernyit karena sama sekali tidak mengerti perkataan Andrew, Starla justru bertanya. "Apakah ... ada cara supaya aku bisa pergi dari tempat ini?"

Andrew yang akan keluar dari kamar Starla menoleh, lalu menghela napas. Dia menggelengkan kepala prihatin. "Kalau pun ada ke mana kau akan pergi? Kau akan menjadi gelandangan di luar sana dan kemungkinan paling buruk kau akan diculik, diperkosa lalu dibunuh," terang Andrew jujur. "Sebagai laki-laki aku akan berkata jujur jika kau cukup cantik," lanjut Andrew. Sekarang dia sudah kembali berbalik dan berhadapan dengan Starla. Matanya bergerak mengamati tubuh Starla yang tertutup pakaian yang sudah sobek-sobek, membuat beberapa bagian perut dan dadanya terekspos.

Refleks, Starla memeluk tubuhnya sendiri.

"Lagipula kau di sini tanpa identitas. Tidak akan ada yang mengusut kasus kematianmu." Andrew menjeda kalimatnya sejenak. "Itu hanya akan menjadi berita hangat satu minggu, seorang wanita tanoa identitas ditemukan tidak bernyawa lagi."

Starla meneguk salivanya kasar. Memikirkannya saja membuatnya merinding. Jika dia mati begitu saja, berarti dia tidak akan pernah pulang ke negaranya. Lalu bagaimana dengan Darma ayahnya? Starla tidak akan tega jika dia harus mati di negara orang tanpa ayahnya ketahui. Starla ingin pulang hingga bisa melihat Darma lagi, bersujud dan meminta maaf karena kesalahan bodohnya di masa lalu.

"Aku harus pergi sekarang. Mungkin Karel sudah mencari-cari diriku untuk memanggilkan dokter pribadinya," ucapnya geli. Dia berbalik dan melangkah pergi, namun saat sampai di pintu dia menambahkan. "Dan jika aku menjadi dirimu, aku sudah akan ganti baju. Sebuah pakaian seksi lebih bisa menutup tubuhmu daripada pakaian sobek-sobek yang menampilkan kulit di bagian dada dan perutmu."

Starla menghela napas. Inilah akhirnya, dia harus melepas satu-satunya pakaian sopan di tempat ini dan mulai menggunakan pakaian minim kekurangan bahan dari Karel.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status