15 - Konsekuensi 2

Selama tiga hari lamanya Starla cukup senang karena dirinya tidak diusik kembali. Dia makan saat waktunya makan dan sekarang dia juga memakai pakaian-pakaian mini yang terus dilemparkan Bianca padanya setiap pagi untuk ganti baju. Beruntung pakaian-pakaian itu bersih, jadi Starla dengan cepat bisa menyamankan diri memakainya. Menurut Starla itu lebih baik daripada telanjang atau memakai pakaiannya kemarin yang sudah sobek-sobek.

Ini sudah malam hari, pikir Starla. Karena dia bisa mendengar para wanita di lorong sedang tertawa dan mengobrol menuju ke kelab untuk melayani para tamu. Suara sepatu high heels mereka sangat jelas terdengar menjauh.

Sebenarnya Starla mulai merasa jenuh di tempat dan ruangan ini. Dulu saat di Indonesia dia disekap oleh Lion tanpa bisa melihat cahaya matahari atau rembulan, dan sekarang meskipun dia bisa keluar saat siang hari tidak banyak yang bisa dia lakukan. Starla tidak mempunyai uang sepeserpun dan dia tidak mengerti Bahasa Belanda. Meskipun mayoritas dari orang-orang sana bisa memakai bahasa inggris namun untuk mencari pekerjaan sementara dia tidak mempunyai identitas resmi sangatlah sulit dan hampir mustahil.

Memejamkan mata, Starla menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Kapan dia bisa kembali ke Indonesia? Starla sangat merindukan Darma dan rumahnya.

Tanpa terasa, setitik air mata keluar dari sudut matanya.

"Seret dan bawa dia ke mobil!"

Starla tersentak saat untuk kesekian kalinya pintu kamar dibuka secara tiba-tiba. Ada dua pria berpakaian hitam yang masuk dan membuat Starla ingat pada beberapa kejadian di Indonesia. Baisanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang suruhan yang dibayar utnuk melakukan sesuatu.

Belum sempat Starla mencerna apa yang terjadi maupun mengelak, kedua tangannya sudah dicekal oleh dua pria berbeda. Membuat tubuh Starla terkunci dan tidak bisa memberontak banyak.

"Apa yang kalian lakukan?" seru Starla. "Bianca, lepaskan aku!" lanjut Starla berteriak pada sosok gadis yang memberi intruksi pada dua pria yang kini sedang membawanya.

Bianca sama sekali tidak merespon Starla. Dia berjalan mendahului diikuti dua orang pria yang menyeret Starla untuk ikut. Saat itu Starla menebak-nebak jika mungkin dia akan dibawa ke kelab untuk ikut bekerja melayani para tamu. Tapi dia salah. Bianca ternyata membawanya ke pintu belakang.

"Lepaskan aku!" Lagi-lagi Starla mencoba melepaskan diri. Dia yang melihat sebuah mobil Alphard hitam di sana semakin mencoba untuk menahan kaki melangkah. Sia-sia saja, kekuatan kakinya tidak sebanding dengan kekuatan dua pria yang menyeretnya.

Bianca membuka pintu belakang Alphard dan mata Starla terbelalak lebar. Dia melihat beberapa gadis tengah disekap di dalam sana. Kedua tangan dan kaki mereka diikat dengan kuat, sementara mulut mereka tertutup lakban. Kedua mata mereka bahkan juga ditutup menggunakan kain.

Hal itu membuat Starla sedikit bergetar ketakutan.

Melihat hal tersebut, Bianca jadi tersenyum senang. Dengan isyarat tangan, dia menyuruh seorang pria lain yang sedang berjaga di sana untuk mendekat. Ternyata pria itu sudah membawa tali berikut dengan lakban dan penutup mata.

"Bind vast en haal het meisje weg." (Ikat dan bawa gadis itu pergi.)

Pria itu mengangguk lalu berjalan ke arah Starla.

"Tidak, tidak!" Starla mencoba lagi memberontak sementara tangan dan kakinya mulai diikat kencang. Itu benar-benar membuat kulit Starla sakit. Dia yakin itu akan meninggalkan bekas memar beberapa hari.

"Jalang sialan! Aku akan membunu-" Starla tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena tepat saat itu juga mulutnya sudah ditempel dengan lakban. Kedua matanya juga sudah ditutup menggunakan kain. Kini praktis Starla tidak bisa bergerak atau melihat apapun. Hanya sebuah gumaman tidak berarti yang mencoba dia teriakkan.

Setelah itu Starla merasa tubuhnya di bopong lalu didudukkan berdesakkan dengan para gadis yang ada di sana. Starla tidak tau ada berapa namun yang pasti mereka semua sedang ketakutan.

Oh, Tuhan. Masalah apa lagi ini? batin Starla berteriak.

Detik berikutnya, Starla merasa dagunya ditarik lalu dicengkeram dengan kuat sampai ingin meremukkannya. Starla hanya bisa mengerang tertahan.

"Ini adalah konsekuensi yang harus kau terima atas perlakuanmu pada Karel. Dan, bukankah kau selalu ingin pergi dari tempat ini?" Starla merasa saat itu Bianca sedang menyeringai. "Ya, kau akhirnya mendapatkannya. Karel akhirnya membuatmu pergi dari tempat ini. Jadi kurasa kau cukup puas karena kebaikan Karel padamu."

Starla mencoba mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Dan ikatan yang melilit tangan, kaki hingga tubuhnya membuat dia kesulitan bergerak.

"Ya, ya, akan kusampaikan ucapan terima kasihmu pada Karel. Selamat tinggal, jalang!" Itu adalah kalimat terakhir Bianca sebab setelahnya Starla meras pintu sudah ditutup. Dalam pandangan yang gelap Starla merasakan jika mobil itu sudah melaju jauh di jalan raya.

***

Entah berapa lama kemudian, mobil itu berhenti. Pintu Alphard dibuka sehingga membuat kediaman para gadis yang disekap dalam mobil menghilang berganti dengan ketakutan dan kegelisahan yang tidak mereka tutupi.

Satu persatu tubuh mereka ditarik keluar, tak terkecuali dengan Starla. Mereka dipaksa berdiri di tempat yang sama sekali tidak mereka tau ada di mana. Lalu, hanya ikatan pada kaki mereka yang dilepaskan.

"Hmmm, lumayan. Jadi kali ini kita mendapat 10 barang baru?"

Starla bisa mendengar suara berat seorang pria mungkin berada di jarak 1 meter dari mereka semua. Meski Starla tidak bisa melihat tapi Starla yakin mereka dalam keadaan yang sedang dipaksa berbaris sehingga siapapun pria yang sedang bersuara tadi bebas mengamati mereka semua.

"Bawa mereka semua masuk!"

Perintah dari pria itu membuat Starla dan para wanita lain digiring berjalan menuju entah kemana. Starla hanya tau jika setelah itu, dia mendengar beberapa gadis memekik dan suara pintu tertutup. Lalu Starla pun mengalami hal yang sama. Dia memekik saat seseorang mendorongnya kasar ke sebuah ruangan. Starla tau karena setelah itu dia mendengar pintu yang ditutup keras.

Di mana ini? batin Starla tidak tenang. Dia tidak bisa melakukan apapun karena tangannya masih terikat. Beberapa saat kemudian dia dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Itu seseorang.

Orang tersebut memasangkan sebuah borgol besi di kaki Starla. Setelah dirasa semua terkunci dengan baik, barulah dia melepas penutup mata Starla berikut dengan lakban di mulutnya.

Itu adalah seorang pria berbadan besar dan botak. Wajahnya terlihat mengerikan hingga membuat Starla menahan napas. Entah kenapa Starla merasa pria itu sangat berbahaya hingga mampu menimbulkan rasa takut yang luar biasa pada tubuh Starla.

Pria itu tetap diam menjalankan tugasnya. Dia membawa sebuah borgol yang lain lalu dengan pisau lipat yang dia ambil dari dalam sabuknya, pria itu memotong tali yang mengikat tubuh dan tangan Starla. Lalu belum sempat Starla melakukan apapun, tali tersebut sudah berganti dengan sebuah borgol di tangannya.

"Apa yang-"

Kalimat Starla berhenti. Pria itu sudah mendorongnya dan menekan tubuhnya untuk duduk di atas kasur. Dengan jari telunjuknya yang gemuk, dia menempelkan itu pada bibir Starla, sebagai isyarat bahwa Starla harus diam.

Menit berikutnya, pria itu sudah keluar dari kamar yang baru Starla sadari seperti sebuah penjara. Hanya ada sebuah ventilasi berbentuk jeruji kecil di pintu besi yang telah dikunci dari luar.

Starla mengedarkan pandangan ke ruangan yang dia tempati lalu mendesah putus asa.

Sekali lagi, dia terkurung dalam ruangan gelap berukuran sempit dan hanya ada sebuah kasur di sana. Tapi yang membuat lebih parah dari sebelumnya adalah benda yang memborgol tangan dan kakinya yang dirantai kuat di tembok.

Bukankah ini sudah sangat keterlaluan? Lagi pula tempat apa ini sebenarnya? tanya Starla dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status