16 - Menolak untuk Bebas

BYUR!

Starla tersentak saat satu ember air dingin disiram tepat ke wajahnya yang baru saja bisa tidur sekitar dua jam yang lalu akibat bertarung dengan rasa dingin yang terus menusuk hingga ke tulang. Gadis itu mendongak, menatap lemah pada sosok pria besar berwajah mengerikan yang selalu datang ke tempat ini di jam-jam yang sama.

Dia Herold, yang diketahui Starla sebagai orang yang bisu. Sebenarnya bukan bisu akan tetapi dia tidak bisa berbicara karena lidahnya terpotong. Meski Starla tidak tau bagaimana bisa hal itu terjadi tapi Starla yakin, masa lalu Herold sangatlah buruk. Lihat saja, sekarang dia berakhir di sini dan menjadi salah satu penjaga yang paling ditakuti para gadis, termasuk Starla sendiri.

Herold melemparkan sepotong roti pada Starla, berikut dengan satu botol yogurt berwarna kuning. Minuman itu berukuran hanya 35 liter dan rasanya tidak terlalu enak, tapi itu adalah satu-satunya minuman yang sangat berharga di dalam tempat ini. Selain karena roti yang selalu diberikan keras dan dingin, tidak akan ada lagi makanan yang akan diberikan hingga nanti menjelang waktu malam hari.

Di sini, Starla hanya makan dua kali sehari.

Starla mengambil cepat roti dan botol yogurt itu. Tanpa mau memikirkan bagaimana rasanya, Starla melahapnya sedikit demi sedikit hingga habis. Rasa dingin semalaman membuat ia kelaparan setengah mati.

Herold yang melihat tersebut hanya menatap datar kemudian menutup pintu dan menguncinya kembali dari luar.

Mendesah setengah lega, Starla menatap nanar pada tangannya yang masih terikat dengan borgol besi, lalu pada kakinya yang terbelenggu oleh rantai yang menancap kuat di dinding ruangannya.

Sebenarnya apa tempat ini? batin Starla.

Dia menggigit bibir, lalu memeluk tubuhnya yang setengah telanjang.

Benar, sejak kedatangannya di sini, dia tidak diijinkan memakai apapun selain pakaian dalam yang sudah disediakan. Dulu Starla dengan kekeuh mempertahankan pakaian mininya namun beberapa wanita berbaju seksi dengan riasan wajah menor masuk lalu memegangi tangan Starla. Satu dari mereka memegang pemukul dari kayu dan dia memukul tubuh Starla setiap kali Starla hendak memberontak. Dan di sanalah pakaiannya raib.

Dia bukan satu-satunya, sebab saat jadwal untuk mandi, para gadis yang berada di bangunan ini dikumpulkan menjadi satu di sebuah ruangan, lalu dengan tanpa ampun mereka disiram dengan air dingin yang memancar dari atap. Di situlah Starla tau jika mereka memakai pakaian dalam berwarna sama semua setiap hari.

Jika dihitung-hitung, ini sudah hari ketiga Starla ada di tempat ini. Dia tidak mungkin salah sebab meski dia dikurung, Starla masih bisa membedakan siang dan malam. Ada ventilasi kecil di tembok bagian atas yang setiap pagi membuat sinar matahari menembus masuk dan memberikan sedikit kehangatan di ruangan pengap itu.

Tak banyak yang bisa Starla lakukan di sana selain menunggu.

Ceklek

Tidak sadrar sudah berapa lama waktu berlalu, pintu ruangan Starla dibuka. Kepala Starla dengan cepat menoleh, sedikit heran karena yakin ini belum masuk waktu makan malam. Lantas siapa yang membuka pintu tersebut?

Pertanyaan Starla terjawab dengan cepat kala dia mendapati sesosok laki-laki tidak asing masuk dan tersenyum padanya. Senyuman itu jelas bukan senyuman ramah, akan tetapi senyum penuh penghinaan dan ejekan. Tatapan yang terpancar di mata pria itu pun sangat merendahkan Starla.

"Jadi, di sinilah kau akhirnya berada." Karel bersandar pada pintu yang dia tutup karena ingin mendapatkan privasi-nya. Mungkin pria itu memang mengenal dan mempunyai koneksi dengan orang-orang di sini sehingga dia bisa dengan mudah mengunjungi salah satu 'tahanan'.

"Bagaimana rasanya?" tanya Karel lagi, nadanya terdengar ingin tau.

Starla mendengus. Dia tau jika dia berada di tempat ini karena ulah dari Karel. Pria itu pasti tidak terima dan sangat marah pada apa yang Starla lakukan padanya terakhir kali.

Karel merogoh saku, mengambil sebatang rokok berikut dengan pemantik api. Dia menyulut ujung rokok tersebut lalu menghisapnya kuat. Setelah merasa mulutnya penuh, Karel mengeluarkan zat nikotin yang terasa manis di lidah melalui hidung dan mulut.

Dalam hitungan menit saja, ruangan sempit yang Starla tempati sudah penuh dengan bau asap rokok. Starla yang tidak terlalu menyukainya dan tidak terbiasa dengan hal itu pun terbatuk-batuk lemah.

"Bisakah kau melakukannya di luar saja? Udara di sini sudah cukup pengap hanya untuk pembuangan dari asap rokok yang kau hisap," tukas Starla sarkatik. Akan tetapi suaranya tetap terdengar lemah.

Karel terkekeh, sekali lagi menghisap rokoknya dengan tanpa bersalah lalu menghembuskan asap untuk semakin memenuhi ruangan dengan bau tembakau yang dibakar. Baru setelahnya dia membuang putung rokok yang masih sisa separuh ke lantai dan menginjaknya dengan sepatu kulit yang dia pakai.

Menatap Starla lama, Karel menyeringai. Dia menyukai pemandangan di depannya. Dulu saat di tempatnya, Starla selalu memakai pakaian kebesaran yang membosankan. Sekarang tanpa dia harus memaksa lagi, akhirnya Karel bisa melihatnya hanya memakai pakaian dalam yang sangat menggoda.

Kulit sawo terang milik Starla terlihat lembut dan kontras di sana. Sekali lagi mengundang hasrat kelelakiannya untuk menyentuh lebih. Karel pun pasrah menuruti inginnya, dia berjalan menuju Starla.

"Kau tau ... kau memang cantik," ucap Karel sembari mencengkeram dagu Starla, membuat gadis itu mendongak untuk menatap matanya secara langsung. Mata hitam kecoklatan, hidung yang tidak terlalu mancung dan bibir tipis berwarna pink pucat yang mengundang. Karel sungguh menyukainya.

"Tapi kau tau dan aku juga tau jika di sini bukan tempatmu." Dengan tangan yang lain, jemari Karel menyentuh pipi Starla. Membelainya lembut lalu bergerak turun menyusuri leher jenjang gadis itu, memberikan sensasi menggelitik di kulit telanjang Starla.

Kedua mata Starla terpejam. Rasa itu begitu kuat untuk mengusir rasa dingin yang terus menusuk kulitnya siang dan malam. Membuat pertahanan yang selama ini Starla bangun untuk menjauhi Karel mulai runtuh berganti dengan rasa ingin disentuh lebih, demi secuil rasa hangat yang sudah lama tidak dia rasakan.

Saat jemari Karel sampai di perut ratanya, Starla menahan napas.

"Katakan padaku Starla, kau ingin pergi dari sini bukan?" bisik Karel tepat di telinganya. Embusan napasnya terasa begitu menggelitik dan hangat di sana.

"Karel ...," suara serak Starla memanggil Karel.

Menyeringai, bibir Karel mulai mencium bagian belakang telinga Starla, sementara tangan yang tadinya berputar-putar mengelus perut Starla kini kembali bergerak turun, mulai menyusuri celana dalam ketat yang Starla pakai.

Starla memekik kala telapak tangan Karel sampai di antara kedua pahanya dan meremas bagian itu lembut. Demi waktu, Starla sudah bisa merasakan hawa panas yang selama ini dia rindukan setelah sekian lama terkurung dalam ruangan lembab ini.

"K-Karel ...,"

Yes, that's me," bisik Karel lembut. Mulutnya turun ke leher jenjang Starla, mencium demi meninggalkan jejak basah di sana.

"Akh ...,"

Erangan Starla saat dia mengusap bagian inti tubuh Starla membuat Karel menggeram. Dia hampir tidak bisa menahan nafsu yang sudah ada di ubun-ubunnya.

"Katakan padaku, Starla, jika kau mau menjadi wanitaku. Kau akan selalu memuaskanku di ranjang setiap malam dan menuruti apapun yang aku inginkan darimu. Katakan itu dan aku akan membawamu pergi dari sini," ucap Karel setengah menahan geraman. Nadanya terdengar tidak sabar dan menuntut, sementara tangannya mulai merayap lebih jauh, menyusup ke dalam kain tipis yang masih menempel ketat menutup bagian inti Starla.

Merasa bahwa ini sudah lebih dari cukup, Starla membuka kedua matanya dengan berat. Dia tidak ingin menjadi jauh dengan Karel. Dan apa katanya? Menjadi wanitanya? Starla pasti sudah tidak waras jika menyetujui keinginan pria itu.

"Tidak, Karel. Aku tidak mau," jawab Starla setengah menahan desahan. Dia tidak akan memungkiri jika sentuhan Karel mampu mempengaruhi kinerja otaknya. Beruntung di sela kesadaran, masih ada sel-sel yang mampu mengambil alih untuk menolak semua yang ditawarkan oleh pria berambut gondrong ini.

Kalimat tidak terduga yang didengar oleh Karel membuat pria itu berhenti. Berhenti menciumi leher Starla dan berhenti untuk menyusup lebih jauh lagi ke dalam bagian inti dari Starla.

Karel menjauhkan wajah, menatap bingung setengah marah. Bagaimana mungkin di sela gairahnya, gadis ini masih bisa bersifat seangkuh ini?!

"Kau menolakku? Lagi?" geram Karel rendah. Menciptakan hawa dingin yang kembali merasuk ke dalam sel-sel kulit Starla.

Tidak ada keraguan dalam mata Starla untuk menolak Karel sekali lagi. Mata hitam kecoklatannya menatapnya lurus tanpa rasa takut. Dan itu membuat Karel marah.

Dia berdiri lalu menampar pipi Starla hingg tubuh gadis itu limbung ke kasur.

"Oke, jika itu maumu!" bentak Karel. "Maka kau akan benar-benar mendapatkan akibatnya!" Karel mencengkeram dagu Starla sekali lagi, kali ini lebih seperti ingin meremukkannya.

"Aku akan memastikan kau menjadi budak sex-ku. Malam ini juga!"

Karel menghempaskan kasar wajah Starla lalu berlalu pergi. Meninggalkan Starla yang mengerang lemah karena rahangnya terasa ngilu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status