17 - Ketakutan

Sejak tadi Starla memang merasa ada yang aneh. Setelah dia dan para tahanan perempuan lain yang ada di sana dipaksa untuk mandi dalam satu ruangan yang sama seperti biasa, kini mereka digiring ke sebuah tempat berukuran 5x5 meter. Dalam ruangan tersebut, mereka yang semuanya berjumlah 23 orang di perintahkan untuk memilih pakaian yang mereka suka di dalam sana.

Tapi tentu saja semua pakaian itu tidak lebih dari sepasang bikini yang terlihat sangat seksi dan bahkan kekecilan bagi sebagian perempuan yang memiliki ukuran dada besar. Selain dari bikini, ada juga pakaian lain yang menurut Starla akan lebih baik menggunakan bikini dari pada pakaian itu; yakni sebuah pakaian yang mirip dengan jaring. Pakaian itu melekat sempurna di sebuah manekin berwarna putih, yang membuat Starla berpikir pasti tidak akan ada dari mereka yang akan memilih menggunakan pakaian itu. Karena itu sama halnya mengekspos semua bagian tubuh secara sempurna.

"Waktu kalian 30 detik dari sekarang. Jika kalian belum memilih dan tidak berganti pakaian dengan cepat, itu berarti kalian ingin keluar dari sini dalam keadaan telanjang bulat. Well, sebenarnya itu malah lebih baik."

Sebuah suara menguar dari speaker yang terpasang di sudut atas ruangan. Mendnegar hal tersebut, mereka semua mulai bergerak dan mencari dalaman mana saja yang menurut mereka baik.

Begitu pun dengan Starla. Dia tidak ingin mengambil resiko apapun dari tidak menuruti perintah tersebut.

Pilihan Starla jatuh pada sebuah bikini bertali. Bra yang dia pakai tidak mempunyai pengait, dan talinya menyilang di bagian punggung, sementara celana dalamnya harus diikat pita di bagian samping.

Tidak ada rasa malu ketika mereka serempak mengganti bikini seragam mereka sebelumnya dengan bikini mereka saat ini. Karena lagi-lagi bagi mereka lebih baik menurut dari pada harus tidak memakai sehelai benang pun saat keluar dari sini.

"Aku takut," tukas salah seorang gadis berambut merah. Rambutnya bergelombang indah, tampak kontras dengan wajah putih bule-nya. Di bagian wajah dan hidung terdapat freakless berwarna hitam, tapi tetap tidak menjadikannya buruk.

"Tidak apa, kita semua takut di sini." Seorang gadis berambut hitam meraih dan memeluk tubuh mungil perempuan itu. Dia berusaha menenangkan.

"Kau tidak berganti pakaian?" Kali ini semua perhatian tersedot ke arah lain. Serempak, mereka menatap satu-satunya wanita yang tidak mengganti pakaian dalamnya. Dia berada di barisan paling belakang, wajahnya tampak pucat.

"Kau sakit?" Gadis lain kembali bertanya.

Tentu saja, di tempat asing ini mereka seolah ingin saling membantu dan menguatkan satu sama lain. Tidak ada siapa-siapa di sini yang bisa menghibur selain diri mereka sendiri. Mereka adalah korban penculikan secara paksa yang masih belum tau apa tujuan mereka ada di tempat mengerikan ini. Sama seperti Starla.

"Tolong aku." Tiba-tiba wanita itu bergumam, menatap bergantian pada seluruh perempuan yang sudah mengganti pakaian dalam. "Aku tidak mau lagi."

Mereka semua menatap perempuan itu tidak mengerti. Namun belum sempat mereka menanyakan lebih apa maksudnya, tiba-tiba pintu dibuka. Di sana ada seorang pria berkemeja biru masuk. Dia memakai kalung dan cincin di hampir semua jarinya yang terbuat dari emas dan batu mulia. Matanya memakai kacamata hitam, sementara di mulutnya ada sebuah cerutu yang siap untuk dihisap.

Di belakangnya, dua pria berpakaian hitam masuk. Yang membuat semua wanita di dalam sana mundur adalah, mereka membawa senjata. Itu senapan laras panjang.

"Jadi, di sinilah akhir dari kalian." Pria yang memimpin itu berkata. Dia mengisap cerutunya dengan gaya santai, lalu menghembuskan asap di udara. Matanya bergerak, mengamati seluruh wanita yang ada di sana lalu sudut bibirnya terangkat naik.

"Aku suka pakaian kalian," tukasnya melanjutkan. "Sekarang, berbarislah yang teratur. Biarkan aku melihat kalian lebih jelas lagi."

Semua wanita bergerak patuh, lebih karena dua pria berbaju hitam yang membawa senjata sudah memantik senjata mereka dan mengambil posisi siap menembak siapapun yang menentang. Saat semua sudah berbaris rapi, pria itu mulai melangkah ke depan. Dia mengeluarkan sebuah spidol berwarna merah dari dalam sakunya.

"Satu ...," Dia mulai menulis angka satu di perut seorang wanita yang berbaris di paling ujung depan.

"Dua ...,"

Kini semua tau jika pria itu sedang memberi nomor pada mereka. Starla menahan napas kala sudah sampai pada gilirannya. Meski mata pria itu tertutup kacamata hitam yang dia kenakan, Starla bisa merasakan jika dia sedang mengerling penuh pelecehan.

"Lima belas ...,"

Hingga sampailah pada nomor terakhir. Tidak ada yang bersuara dan berani bergerak karena dua pria di depan sana masih dalam posisi siaga siap menembak.

BRAK!

"Aaaargh!" Semua wanita di sana berteriak dan menyingkir. Ternyata pria itu baru saja menjambak dan melemparkan gadis yang tadi tidak mengganti pakaian dalamnya ke lantai dengan keras. Gadis itu meringis dan mulai menangis tapi pria itu tampak tidak peduli.

"Bukankah perintahku sudah jelas, hm?" Pria itu mencengkeram dagu si gadis. Nadanya terdengar sangat marah, namun beberapa detik kemudian dia mendengus dan tersenyum miring.

"Oh, aku ingat kau," tukasnya kemudian. Dia mengelus wajah perempuan itu yang ternyata memiliki luka di bagian pipi. Luka itu berbentuk goresan panjang dan dalam. Dari telinga hingga hampir mencapai bibir.

"Itu semua karena ulahmu sendiri. Kau, merusak wajah cantikmu hingga tidak ada satu pria pun yang tertarik padamu." Tangan besar pria tersebut menyusuri bekas luka gores si gadis. Lalu dengan cepat menghempaskannya kembali.

"Herold!" teriak si pria keras. Dalam hitungan detik, sebuah wajah mengerikan muncul. Membuat semua gadis menahan  napas dan saling merapatkan tubuh karena takut. Siituasi ini terlalu menakutkan untuk mereka lihat dan pahami.

Herold mengangguk, mengisyaratkan jika dia siap menjalankan apapun perintah dari tuannya.

"Seret dan telanjangi dia!" Perintah pria itu tegas.

Pria berambut botak itu mengangguk patuh. Dengan badan sebesar petinju kelas dunia dan otot-otot kekar yang menonjol di balik lengannya, Herold dengan mudah menyeret tubuh gadis tersebut. Si gadis meronta namun kekuatannya bukan apa-apa bagi pria itu.

Setelah Herold dan perempuan itu tidak ada, pria pemimpin itu kembali fokus pada 22 wanita di depannya. "Itulah yang akan terjadi jika tadi kalian tidak mengindahkan peraturanku," ucapnya. Dia membuang cerutunya begitu saja ke lantai. Sepertinya mood-nya tiba-tiba memburuk.

"Dan percayalah, itu bukanlah akhir," seringainya. "Karena hukuman gadis itu baru saja di mulai dan kalian semua akan menyaksikannya. Hahahaha." Pria itu tertawa sangat keras, sedangkan para tahanan mengerut takut. Seorang perempuan bermata biru menggenggam tangan Starla, membuat Starla menoleh. Gadis itu terlihat cemas dan khawatir.

Starla hanya mampu memberikan sebuah senyum tipis dan menggenggam balik tangannya. Hal yang baru dia sadari adalah semua wanita itu saling menggenggam, memberikan kekuatan dan dukungan pada satu sama lain.

"Lalu kalian. Aku ingin kalian bersiap. Makan malam hari ini adalah steik daging. Masing-masing dari kalian mendapatkan dua porsi dan aku menyarankan kalian menghabiskannya." Pria itu melangkah pergi. "Karena malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir kalian ada di tempat ini." Dia menghentikan langkah, menoleh dengan senyum penuh arti.

Starla merasa jika pria itu sedang menatap ke arahnya.

"Yah, tentu saja, jika kalian beruntung. Karena jika tidak ...," jeda sejenak. Semua menunggu takut-takut. "Kalian harus bersiap untuk dinikmati beramai-ramai ..." Pria itu tersenyum bahagia. "Oh, dan aku sangat suka bagian itu!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status