18 - Akibat dari Masa Lalu

Starla berdiri dengan tegang di balik sebuah kaca hitam satu arah. Dia dan para wanita yang lain dibariskan sesuai dengan nomor urut yang tertulis di perut mereka. Beberapa dari wanita itu sudah menahan isak tangis karena rasa takut, beberapa lagi nampak pasrah dan beberapa wanita nampak menunjukkan ekspresi datar.

Seperti Starla saat ini.

Meskipun jantungnya bertalu-talu dan ingin lari dari sana yang mana itu sangat mustahil dia lakukan, Starla berusaha menunjukkan wajah dingin dan datar. Dia takut tapi dia berpikir bahwa ini tidaklah seburuk bersama dengan Lion dulu.

Di balik kaca dinding tempat para wanita itu berada, telah duduk ratusan pria maupun wanita di kursi yang dibariskan rapi memenuhi aula. Lampu di sana terbilang tidak cukup terang sebab hanya lampu kuning yang mereka gunakan. Tapi itu semua cukup untuk mampu melihat dengan jelas di sekitar mereka.

Sementara di depan ada sebuah panggung besar. Seorang pria masuk ke atas panggung diikuti oleh dua bodyguardnya lalu suara tepuk tangan yang meriah terdengar.

Starla tidak tau apa yang sedang pria itu bicarakan di atas panggung karena dia praktis menggunakan bahasa Belanda yang sama sekali tidak dia mengerti. Namun saat Starla menoleh ke para gadis lain, wajah mereka tampak shock dan semakin takut. Ada juga yang bahkan langsung menangis seolah telah menerima eksekusi mati.

Panggung berubah menjadi lebih terang dengan lampu sorot putih. Starla dan para wanita di balik kaca terbelalak lebar saat seorang gadis diseret paksa masuk di atas sana.

Dia adalah gadis dengan luka gores di pipi!

Lebih parahnya lagi, dia benar-benar diseret dalam tanpa busana apapun yang melekat di kulit putihnya. Gadis itu menangis, meronta dan memohon namun orang-orang di sana nampak tidak peduli. Dengan cepat mereka mengikat gadis itu di atas sebuah meja.

Kaki dan tangannya tidak bisa bergerak. Dia menangis namun justru tepuk tangan dan sorak sorai yang dia dapatkan dari para tamu undangan.

Starla bergidik ngeri melihat wajah-wajah mereka berubah menjadi wajah liar penuh nafsu. Ternyata ancaman yang pria itu maksudkan tadi memang bukan main-main.

"Dan sebagai pembuka acara pada malam hari ini, saya mempunyai hadiah gratis untuk kalian. Gadis yang tidak diinginkan dan siap kalian nikmati!"

Kejadian tersebut terjadi mengerikan di mata Starla dan para perempuan lain yang berdiri di balik kaca. Mereka menyaksikan betapa brutal para pria itu maju untuk minta dipuaskan. Dia hanya satu orang gadis sementara pria itu berjumlah sekitar sepuluh orang.

Starla memejamkan mata tidak ingin melihat. Wajah dingin yang sedari tadi coba dia tampakkan berubah menjadi wajah takut penuh rasa sakit. Air mata mengalir di pipi halusnya sementara tangannya bertautan karena gemetar.

Itu berkali-kali lipat lebih buruk daripada perlakuan Lion padanya. Setidaknya Lion hanya satu orang, tapi di sana, para pria itu menggilir si gadis tanpa ampun, tanpa jeda dan tanpa rasa kasihan. Berbagai pukulan dan hinaan gadis itu terima. Berulang kali dia ingin pingsan namun sebuah tamparan akan melayang di kulit putihnya, membuat hampir seluruh tubuhnya memerah.

"Kalian lihat, itulah akibatnya jika kalian berani menentangku!"

Entah sejak kapan pria yang Starla yakin sebagai bos di sini ada di belakang mereka. Dia berjalan angkuh menebarkan kengerian di belakang para gadis yang masih menyaksikan kengerian di depan mereka.

"Itu adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu karena merusak wajah cantiknya." Pria itu berkata, tangannya terjulur mengelus pinggang dari para gadis yang malam ini akan dia jual. Dari pinggang satu pindah ke pinggang yang lain. Dia tersenyum.

"Dan sebagai peringatan, jika malam ini kalian tidak dipilih oleh seorang pembeli ...," jeda sejenak. Para perempuan di sana merinding ngeri saat tangan besar pria itu menyentuh kulit mereka. " ... kalian harus siap untuk berada di posisi seperti gadis itu."

Semua terkesiap. Suasana di balik kaca tersebut semakin mencekam. Mereka semua jelas takut dengan hal itu.

 "Jadi, tampilah sebaik mungkin malam ini dan biarkan salah satu dari para tamuku membeli kalian. Jika kalian beruntung, kalian akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, aku bisa menjaminnya."

Starla merasa pria itu belum selesai bicara sampai dia berdiri tepat di belakang Starla. Tangan kasarnya meraba pinggang ramping Starla dan meremasnya, membuat Starla terkesiap.

"Namun apabila tidak ...," pria itu mendekatkan wajah tepat di telinga Starla. " ... nasib kalian akan jauh, jauuuuhhh lebih buruk dari pada dia."

Dia yang dia maksud adalah gadis yang sedang mereka lihat di panggung saat ini. Kini bukan hanya satu lawan satu lagi, akan tetapi gadis itu dikerubuti oleh banyak pria. Dari arah bawah, dari belakang, depan, samping kanan maupun kiri. Gadis itu dipaksa untuk terus melayani mereka tanpa henti.

Starla meneguk saliva kasar. Mana mungkin ada nasib yang lebih buruk dibandingkan gadis itu? batinnya.

"Jadi para wanita-wanita cantikku." Pria itu berjalan lagi, melanjutkan membelai pinggul dari para gadis yang masih berbaris rapi dengan keadaan ketakutan. "Hapus air mata kalian dan tersenyumlah. Mungkin, kalian akan mendapatkan nasib baik dengan itu."

Setelah berkata demikian, pria itu keluar meninggalkan para gadis yang menangis karena tidak kuat terhadap rasa yang mereka dapatkan. Ini semua terlalu menakutkan daripada mati. Ditambah suara teriakan kesakitan dari gadis di panggung yang semakin terdengar menyayat hati mereka.

"Bersiaplah. Kalian akan keluar satu per satu sesuai nomor kalian." Seorang pria didampingi Herold masuk beberapa menit kemudian.

Si gadis yang berada di panggung sudah pingsan dan diseret keluar dari sana.

Starla berharap dari lubuk hatinya yang paling dalam agar gadis itu masih hidup.

S gadis nomor satu buru-buru menghapus air matanya. Dia menarik napas beberapa kali dan gadis nomor dua dan nomor 3 membantunya merapikan rambutnya yang sudah sedikit berantakan.

Sesuai saran yang mereka dengar sebelumnya bahwa mereka harus dibeli oleh salah satu tamu di aula sana. Karena jika tidak, maka nasib mereka akan sama seperti gadis tadi dan tidak ada di antara mereka yang menginginkannya.

"Kau akan baik-baik saja," bisik si gadis nomor 2 menenangkan.

Gadis nomor satu berusaha tersenyum dan mengangguk. Dia memeluk si gadis nomor 2 dan 3 bergantian lalu menggumamkan kata terima kasih. Setelah itu, dia pun keluar dari sana dan mulai naik ke atas panggung.

Lalu satu persatu dari para tamu menaikkan papan nomor mereka, mulai memberikan tawaran harga untuk membeli gadis si nomor satu tersebut.

Para perempuan yang masih ada di balik kaca saling menatap satu sama lain. Ini adalah hari terakhir mereka bertemu karena setelah ini mereka akan menemui nasib mereka masing-masing. Hidup mereka akan sepenuhnya bergantung pada pembeli mereka.

Mereka hanya berharap nasib baiklah yang akan menyapa.

DMCA.com Protection Status