Pucuk dicinta Aleta pun tiba

Langit mulai redup, sedang jarum pendek jam baru melalui setengah putaran. Pertanda hujan memberi aba-aba kedatangannya. Beberapa orang mulai berlarian, terkecuali Jhon.

Selepas bermandikan keringat bersama tiga pelatih bela diri sekaligus. Jhon memutuskan keluar membeli sesuatu, tentu sebagai pengganjal kekosongan perutnya.

Ia menyusuri setiap toko, berharap ada makanan yang bisa diterima lambung Indonesianya. Akan tetapi perjalanan hampir 15 menit, tak satupun isi toko memuaskan pencarian Jhon.

Kedua bola matanya memutar kesal. "Apa Aku harus makan mie setiap hari," gerutunya, sambil berjalan.

Tetiba Jhon berhenti. Ia yang sudah melewati tiga langkah dari satu toko ke toko lain. Pun berjalan mundur, kepalanya menoleh ke dalam toko.

Seketika rasa lapar di perutnya menghilang, sehingga ia enggan melanjutkan berburu sesuap nutrisi. 

"Aleta …" Mulut Jhon berucap lirih dan memanjang.

Tak salah lagi, sesuatu yang bisa mengalihkan dunia Jhon hanyalah gadis bengis itu, Aleta. Di dalam ia tengah memindahkan beberapa barang belanjaan dari tangannya ke meja kasir. 

Rambutnya tergerai ke bawah ia kibaskan, menjadikan bibir Jhon menganga. 

Secara bersamaan hujan mulai turun, rintikan kecil membrondong deras, siapapun tak akan mampu menahannya.

Orang-orang di sekitar Jhon berlarian ke segala arah, ada yang memasuki kendaraan ada pula yang menepi pada emperan toko. Namun, hujan ini tak berlaku untuk Jhon.

Bagi Jhon derasnya air yang menghujani dirinya bagaikan seribu kelopak bunga di musim semi, suara gemericik air dan petir menggelegar ibarat lantunan musik cinta sebagai teman ia mengagumi Aleta.

Jhon benar-benar terkesima akan wanita dibalik pintu kaca supermarket tersebut. 

Ia tak sadar jika tubuhnya sudah basah kuyup, hingga kotak-kotak tertera jelas dibalik kaos tipis yang ia kenakan. 

Para wanita di depan emperan toko saling berbisik memandangi tubuh Jhon. Sayang, Jhon menganggap mereka angin lalu.

"Minggir!"

Mendadak Jhon tersadar. Sepasang mata kehijauan memicing ke arahnya. 

"Minggir!" ulang Aleta. 

Ya, gadis itu telah berdiri di hadapan Jhon. Tak lupa sebuah payung hitam melindungi kepalanya. 

"Apa kau tuli?" bentak Aleta. 

Jhon tersenyum simpu. Lalu, menggeser kakinya, memberikan Aleta jalan melangkah.

Tatapan Jhon tak mau berpaling. Ia terus memandangi punggung lurus Aleta. Gadis yang menjadi alasan ia mendatangi Rusia, pada hari ini dapat Jhon temukan. 

"Kau masih sama seperti tahun-tahun lalu, Aleta."

Seperti mendengar suara Jhon, Aleta melengos ke belakang. Matanya mengkilat senada dengan kilatan petir di langit. 

Aku suka Roti basahnya, kata Aleta menyeringai sambil menyebrangi jalan.

Sky membukakan pintu mobil, Aleta membungkuk masuk. Payung dari tangan gadis itu ia serahkan pada Sky diikuti langkah Sky mengitari badan mobil seraya menatap ke arah toko. 

Apa alasan Aleta tersenyum, pikir Sky penasaran.

Dalam hitungan detik Mobil pun meluncur menembus derasnya air hujan.

Tap …

"Hei! Kenapa hujan-hujanan jagoan. Bukankah kau izin membeli makan?"

Jhon hanya tersenyum, arah matanya masih memandang badan mobil yang kian menjauh. Tanpa menjawab pertanyaan teman satu pelatihannya, Jhon melanjutkan langkah.

"Gila! Kau gila …" ucap temannya sambil mengikuti Jhon.

**

Jhon menghadap ke arah para lawannya secara bergantian, kedua kaki dibuka selebar bahu dan lutut sedikit ditekuk. Sedang Posisi badan masih agak tegak, kedua tangan membentuk siku-siku serta berbalut sarung tangan. Keduanya sama-sama bergerak beraturan siap menangkis segala serangan.

Bukkk … bukkk … bukkk …

Teramat lihai Jhon menangkap pukulan mereka, tapi serangan tak berhenti begitu saja. Pria berdarah murni Indonesia itu terus beradu pada ketiga pelatihnya. 

Di tengah latihan para bodyguard, pintu kaca tebal 5 inci sebagai jalur masuk ke gedung ini terbuka lebar.

Muncul dua sosok tak asing dalam pandangan Jhon, Mereka adalah Pak Romis dan Louison.

Kemudian disusul dua orang lain di belakang mereka. 

"Aleta?"

Bukk …

Bagai mendapat daya kekuatan 10 Miliar Watt. Cukup sekali pukulan, Jhon membuat salah-satu pelatihnya tersungkur pingsan.

"Hei! Kau melanggar batasmu!" timpal pelatih lain.

Jhon baru ngeh, darah segar mengalir deras dari lubang hidung pelatih yang pingsan.

"Sorry," ucap Jhon santai.

Lantas mereka semua melihat ke arah yang sama seperti Jhon. 

"Itu Mr Louison, pembayar pajak terbesar ketiga setelah Anggota pemerintah." 

Jhon baru tahu, ia berdecak kagum. "Wahh, sungguh?"

"Dia membawa putrinya," tambah si pelatih.

"Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan sumber kekayaan Mr Louison."

Jhon mendelik. Ia kira semua orang di Negeri ini tahu siapa Louison sebenarnya. Tapi dugaan Jhon salah. Justru tak satupun dari mereka tahu menahu profesi apa yang Louison pilih dalam menimbun kekayaan. 

"Mereka dalam fase pelatihan menuju kelas berikutnya, Mr. Jika kau ingin satu untuk Nona Aleta, maka pilihannya hanya ada di kelas utama. Mari ikuti saya," tutur Pak Romis berjalan melalui semua orang di lantai bawah.

Mereka masuk lift, tentu menuju ruangan khusus untuk bodyguard kelas utama.

Pandangan Jhon belum berubah. Ia seakan tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menatap wajah Aleta.

Firasat Jhon mengatakan, jika Aleta tak menyadari kehadirannya. Terbukti saat pintu lift setengah tertutup, Aleta membulatkan mata melihat Jhon tersenyum kecil.

"Pria itu disini," ucap Aleta lirih, hampir tak jelas terdengar.

"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Sky dibalas gelengan cepat.

Tiit …

Pintu lift terbuka, semua keluar berurutan, terkecuali Aleta. Gadis itu menekan tombol satu supaya ia kembali ke lantai satu. 

"Mereka semua sangat terlatih dan berpengalaman, Mr," tutur Pak Romis.

Louison memutar badan, Ia menggertakkan gigi saat melihat hanya Sky yang masih berdiri di belakang.

"Bocah sialan!"

Pak Romis ikut berbalik. "Lho, dimana Nona Aleta?"

Tiit …

Mata Aleta langsung tertuju pada Jhon, bodyguard yang masih sibuk beradu pukulan. 

Entah hal apa yang membuat Aleta berniat menghampiri Jhon, jelasnya ia merasa familiar dengan pria itu. Bukan karena beberapa jam lalu ia sempat bertemu, tapi memang Aleta sendiri merasakan sedari pertemuan tadi. 

"Siapa dia?"

Baru saja ia mengangkat kaki, tangan Sky menahan pundaknya. "Ayah menunggu kita, Ayo!"

"Aku akan menyusul, pilih saja sesuka kalian."

"Kau mau kemana?"

"Ke … em, kemana emang?" Ia malah balik bertanya.

Tukk …

Diketuknya jidat Aleta, menjadikan gadis itu memicingkan mata. "Ayo naik!"

"Iya-iya."

Terpaksa Aleta mengikuti ajakan Sky. Mereka kembali menaiki lift yang sama. 

Aleta sempat menoleh ke belakang. Namun, lagi dan lagi Sky membuat gadis itu tak berpaling darinya.

Ketika mereka tiba, seorang pria berpostur besar dan tinggi berdiri di sisi Louison. 

"Perkenalkan diri kamu!" Titah Louison.

"Selamat sore, Nona Aleta. Nama saya Pieter, untuk kedepannya penjagaan Nona Aleta adalah prioritas utama saya," ucap Pieter penuh keyakinan. 

Aleta menarik sudut-sudut bibirnya. Sebuah senyum tanpa garis halus di bawah mata

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status