Kuliah Bareng Anak
Kuliah Bareng Anak
Author: Mars Mipai
Episode 1 & 2

Author POV

      Hari ini, Brian akan mendaftarkan dirinya dan ibunya di Universitas Pratama. Luna, ibu Brian masih terus menolak ajakan Brian untuk melanjutkan kuliah.

"Bu, ayo siap-siap kita daftar kuliah."  Seru Brian dari depan pintu kamar mandi kepada ibunya yang sedang memasak di dapur.

"Enggak,enggak Ibu sudah tua Brian.." Jawab Ibu Brian sambil menyiapkan makanan.

Setelah mandi dan siap-siap, Brian ke ruang makan untuk sarapan.

"Nih, Ibu sudah siapkan sarapan kesukaan kamu." Ucap Luna sambil menuangkan nasi goreng ke piring Brian.

"Bu, aku serius ingin mendaftarkan Ibu kuliah." Brian berbicara sambil mengunyah sarapannya.

"Brian, Ibu juga serius enggak mau kuliah. Ibu sudah tidak muda lagi,Ibu sudah tua." Tolak Luna dengan tegas.

"Ya Ampun.. Ibu itu masih muda,belum tua-tua banget. Lihat deh di cermin! Ibu masih terlihat cantik dan awet muda." Puji Brian untuk meyakinkan ibunya.

"Halah kamu ini, bisa aja muji Ibu." Ucap Luna dengan senyuman malu-malu.

"Ayolah Bu! Ibu itu kan lulusan terakhir SMP,sudah ikut paket SMA dan selanjutnya kuliah Bu. Jangan pandang karena Ibu sudah tidak muda lagi, pandanglah dari segi ilmunya. Umur Ibu tidak dipermasalahkan yang penting niatnya. Ibu selalu bilang ke aku, teruslah mencari ilmu sampai akhir hayat. Itu juga berlaku untuk Ibu dong. Ibu bebas mau masuk jurusan apa saja Brian pasti setuju." Jelas Brian dengan nada yang lembut dan menatap mata ibunya.

"Tapi Ibu malu Brian. Masa Ibu sama anak, kuliah bareng." Ucap Luna memasang muka sendu.

"Bu,kalau Ibu bisa melanjutkan kuliah,almarhum ayah pasti senang." Ujar Brian.

"Brian.. Ayahmu dulu pernah bilang sama Ibu. Ayah ingin menyekolahkan Ibu sampai sarjana. Tapi, Allah lebih sayang sama ayahmu." Tutur Luna sedih.

"Maka dari itu, karena ayah sudah tidak ada, sekarang tugas Brian untuk mendaftarkan Ibu ke Universitas." Kata Brian dengan semangat.

"Ibu tidak bisa ambil keputusan sekarang. Ibu pikir-pikir dulu ya." Ucap ibu,lalu langsung berjalan menuju kamar.

Hhmm, Brian sedih kalau melihat ibunya sedih. Ibu kalau sudah mengingat ayah pasti dia akan sedih dan menyendiri. Rencana Brian mengajak ibunya kuliah adalah agar Ibu bisa besosialisasi dengan orang banyak dan Brian mengharapkan ayah baru agar Ibu tidak terlarut dalam kesedihan terus.

 Luna masih tidak bisa melupakan suaminya yang telah tiada. Banyak kenangan bersama suaminya yang sangat tidak bisa terlupakan.

Author POV

#Flashback on

Luna adalah anak yang penurut,dia akan melakukan apa saja yang orangtuanya inginkan,termasuk menikah dengan Dodi. Luna yakin dengan pilihan orangtuanya pasti akan bahagia. 

Dodi dikenal sebagai orang yang baik di kampung. Dia memiliki pabrik kerupuk udang. Di usianya yang menginjak 29 tahun dia ingin segera melepas masa lajangnya dengan menikahi Luna.

Menurut Dodi, selain cantik & manis. Luna juga orang yang sangat baik & penurut. Maka dari itu, sebelum Luna di ambil orang lain Dodi segera ingin menikahinya.

Saat itu, baru saja Luna lulus SMP. Dodi, suami Luna, langsung melamar Luna yang berusia 13 tahun. Dodi langsung meminta Luna kepada ayahnya agar segera merestui lamaran Dodi. 

"Assalamu'alaikum.." Dodi mengetuk pintu rumah Pak Ahmad, ayah Luna.

"Wa'alaikumussalam,eh nak Dodi! Mari, silakan masuk!" Jawab salam Pak Ahmad dan mempersilakan Dodi untuk masuk ke dalam rumah.

"Luna! Tolong buatkan minuman untuk nak Dodi!" Seru Pak Ahmad kepada Luna yang sedang ada di kamar.

"Iya Pak. Luna akan buatkan." Jawab Luna dengan menundukan kepala menandakan kesopanan.

"Bagaimana nak Dodi,ada yang ingin disampaikan kah kepada saya? Maaf kemarin saya pulang lebih cepat dari pabrik, karena saya sedikit sakit perut." Tanya Pak Ahmad dengan wajah yang sedikit khawatir karena dia takut dipecat dari pabrik dan menjelaskan kepulangannya dari pabrik.

"Iya pak, tidak apa-apa. Tujuan saya ke sini bukan untuk menanyakan itu pak. Tapi saya ingin meminta Luna untuk saya nikahi." Ucap Dodi serius,meskipun jantungnya berdetak lebih kecang. Dia khawatir Pak Ahmad tidak mengizinkan.

"Ya Allah! Nak Dodi! Kami hanya orang sederhana yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan, untuk kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah Luna pun saya harus bekerja di pabrik milik nak Dodi. Apa pantas pemilik pabrik kerupuk udang di kampung ini menikahi anak karyawannya yang tidak memiliki banyak harta." Pak Ahmad kaget dengan ucapan yang di sampaikan Dodi sekaligus Dia meringis menjelelaskan keadaan dirinya.

"Saya tidak melihat dari sisi itu Pak, tapi saya tertarik dan benar-benar tulus ingin menikahi Luna." Jelas Dodi agar pak Ahmad tidak merendahkan diri.

"Nak Dodi! Hiks hiks hiks. Saya tidak tahu harus bilang apa. Kalau nak Dodi memang benar-benar ingin menikahi Luna, saya sangat berterima kasih sekali kepada nak Dodi dan saya pasti akan merestui kalian. Saya sudah tua, mungkin umur saya tidak akan lama lagi. Luna tidak memiliki siapa-siapa lagi selain saya. Kalau memang nanti Luna menerima menikah dengan nak Dodi, saya akan tenang ketika pergi meninggalkan Luna. Karena sudah ada yang menjaga Luna. Tapi, semua keputusan akan saya kembalikan kepada Luna." Pak Ahmad menangis dengan wajah yang antara sedih dan bahagia.

"Iya Pak. Insyaallah saya akan menjaga Luna semampu saya kalau Dia mau menjadi istri saya. Tapi, saya tidak akan memaksa Luna kalau memang Dia tidak bersedia." Dengan mantap Dodi ingin benar-benar menjaga Luna saat pak Ahmad nanti sudah tidak ada lagi.

Ternyata diam-diam Luna mendengar percakapan Bapaknya dan Dodi. Dia sangat syok mendengar Dodi akan menikahinya. Dia juga sedih melihat bapaknya yang menangis. Luna membayangkan jika suatu saat bapaknya tiada,dia akan hidup sebatang kara. Akhirnya,Luna meninggalkan dapur dan pergi ke ruang tamu untuk memberikan minuman.

"Ini minumnya. Silakan diminum!" Ucap Luna membungkuk sambil menyodorkan gelas minuman kepada bapaknya dan Dodi.

Saat luna hendak ingin kembali, bapaknya memerintahkan agar Luna duduk di sampingnya.

"Nak, sini duduk dulu! Ada yang ingin bapak bicarakan." Pinta pak Ahmad sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya.

"Iya Pak." Jawab Luna yang langsung duduk di sebelah pak Ahmad. Luna bingung harus menjawab apa ketika Dia ditanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Wajah Luna terlihat cemas sekali.

"Jadi begini Nak, sekarang Bapak sudah tua,sebentar lagi pasti Bapak akan meninggalkan Luna." Ucap Pak Ahmad sedih.

" Bapak tidak boleh bicara seperti itu. Luna tidak suka." Ucap Luna yang sedikit kesal dengan perkataan bapaknya.

"Iya Nak. Ibu sudah meninggalkan kita 5 tahun yang lalu. Bapak ingin menyusul Ibu. Tapi bapak tidak akan tenang kalau nanti sepeninggal bapak,Luna hidup sebatang kara. Hiks hiks hiks." Ucapan dan tangisan pak Ahmad membuat Luna tak tahan membendung air matanya.

"Bapak...!" Seru Luna yang langsung menangis memeluk bapaknya.

Melihat pemandangan ini, hati Dodi pun terbawa suasana sedih. Dia semakin mantap dengan keputusannya menikahi Luna. Agar Luna tidak hidup sebatang kara sepeninggal bapaknya dan agar bapaknya tenang meninggalkan Luna.

"Nak..! Ini nak Dodi. Dia adalah pemilik pabrik di tempat bapak bekerja. Dia memiliki niat baik untuk datang ke rumah ini. Dia ingin menikahimu,Nak." Jelas Pak Ahmad sambil menunjuk Dodi.

"Bapak.. Bapak setuju tidak kalau Luna menikah dengan orang ini." Tutur lembut Luna kepada bapaknya dengan mata sayu dan lembab.

"Bapak akan serahkan keputusannya kepada Luna. Kalau Luna setuju,bapak akan merestui dan senang sekali. Kalau tidak, tidak apa-apa. Bapak tidak akan memaksa." Tutur pak Ahmad.

"Kalau memang itu yang membuat bapak senang. Luna akan setuju menikah dengan orang ini." Jawab luna sambil menunjuk Dodi.

Dodi kaget dan tidak menyangka dengan jawaban Luna. Di luar dugaan Dodi bahwa Luna akan menerimanya. Wajah Dodi dan pak Ahmad pun terlihat terharu bahagia.

"Alhamdulillah, benar Luna setuju tanpa ada paksaan?" Tanya pak Ahmad untuk meyakinkan.

"Iya Pak. Tanpa ada paksaan Luna setuju." Jawab Luna dengan mantap menatap mata bapaknya.

"Nak Dodi! Nak Dodi sudah dengar sendirikan jawaban dari Luna?" Tanya pak Ahmad dengan badan bergetar.

"Iya pak,saya dengar. Kalau begitu, pernikahannya akan dilangsungkan minggu depan saja bagaimana Pak? Agar lebih cepat lebih baik." Ucap Dodi yang tidak sabar untuk menikahi Luna.

"Luna? Setuju tidak?" Tanya pak Ahmad menatap Luna.

"Iya, Luna setuju." Jawab Luna sambil menunduk.

"Baik kalau begitu. Nanti akan saya persiapkan acaranya. Saya pamit pulang ya Pak, Luna." Ucap Dodi langsung berdiri ingin pamit pulang dan segera mempersiapkan acara pernikahnnya.

"Iya, iya. Nak Dodi terima kasih banyak. Saya titip Luna, jangan sakiti Dia,berikan Dia kebahagiaan." Tutur pak Ahmad.

"Insyaallah Pak. Mari pak, assalamu'alaikum." Jawab Dodi sambil mencium tangan pak Ahmad.

"Wa'alaikumusalam." Jawab salam Pak Ahmad dan Luna.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status