Share

Kakak ipar

Tuan dalih tertawa melihat tingkah Fiza yang polos, di dalam hati lelaki berperawakan kekar itu ia tahu Fiza pasti takut melihatnya. Tubuh yang menjulang tinggi, perawakan yang tegap dan wibawa seorang juragan tentu saja membuat ciut nyali orang-orang rendahan seperti Fiza 

Tuan Dalih membenarkan posisi duduknya,mengambil beberapa lembar uang seratus ribu lalu menyodorkannya kepada Fiza 

Fiza menatap kakaknya Faiz meminta persetujuan, 

Faiz tersenyum " ayo diambil, itu uang jajan dari kakak iparmu, jangan ditolak, buat jajan baso besok disekolahan " 

Fiza menerima uang itu dengan hati-hati 

"Te...rima...kas...ih tu...tuan Dalih" ucap Fiza terbata-bata 

Tuan Dalih tertawa 

Ha ha ha ha ha suaranya memenuhi seisi ruangan rumah. 

"Kak, Fiza naik ke kamar atas ya"  

Faiz mengangguk mengiyakan. 

Fiza sudah terbiasa menginap di rumah Faiz kakak perempuannya untuk sekedar menemaninya, karena kebetulan kakaknya belum mempunyai anak dan suaminya hanya dua kali seminggu ada di rumah

Rumah pemberian tuan Dalih adalah rumah 2 lantai bermarmer serba putih yang baru dibangun setelah kakaknya resmi menjadi istri siri ketiga tuan Dalih . 

🥀🥀🥀🥀

Satu jam kemudian dari kamar atas Fiza menangkap suara desahan dua orang yang sedang bercinta. Ini bukan kali pertama Fiza mendengarnya tapi tetap saja untuk gadis seusianya yang polos dan sama sekali belum berpacaran , ia merasa penasaran. Akhirnya Fiza memutuskan untuk turun ke lantai bawah 

Suara itu berasal dari kamar utama kakaknya, pintu nya setengah terbuka kedua mata Fiza melihat dua orang manusia yang sedang bermandi keringat tanpa sehelai pakaian yang menyelimuti tubuh mereka 

Fiza tahu mengintip persetubuhan kakaknya bukan hal yang benar namun rasa penasaran itu terlalu besar sudah memenuhi kepalanya. Ia sering diceritakan adegan percintaan dari teman-temannya saat disekolah dan disekolah Fiza hanya mendengarkan cerita-cerita mereka. 

Kini saat ini , hanya berjarak beberapa meter dari kedua kakinya berdiri , dua insan manusia sedang memadu kasih, mendesah dan menggeliat disertai erangan yang menggairahkan. Fiza berjalan dua langkah lagi kedepan lebih dekat ke arah kamar kakaknya 

Ahhhhh..... Desah pelan dri bibir kakaknya yang berparas cantik itu, nafasnya terengah-engah dengan mulut terbuka seperti ikan yang hampir mati menggelepar di darat 

"Sayang..... Kau tiada duanya" puji tuan Dalih kepada Faiz , ia melumat bibir istrinya 

Tubuh mereka berdua tersentak-sentak , terus berpacu mengejar kenikmatan duniawi bersama-sama 

Fiza menelan ludahnya sendiri, secara alami dirasakan tubuhnya sendiri memanas dan berpusat ke area kewanitaannya 

Fiza mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya, ia tahu sensasi yang menjalar di sekujur tubuhnya harus dihentikan 

Jari telunjuknya hampir saja masuk membelai area sensitifnya sendiri ketika suara jeritan kakaknya terdengar amat keras 

Aaaaaa........ Jangan ucap keras Faiz

Splash....splash....splash.... Bunyi pecutan berulang kali 

Fiza memberanikan diri melihat apa yang terjadi 

tuan Dalih memecut Faiz dengan tali pinggang kulitnya di punggung Faiz berkali-kali, meninggalkan bekas goresan merah yang panjang 

Kedua kaki Fiza gemetar , ia tahu kakaknya sedang meraung kesakitan sekarang tapi ia harus apa.... 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status