Menikahi CEO (INDONESIA)
Menikahi CEO (INDONESIA)
Author: Sabrina Angelitta
1. Pernikahan

LONDON...

"Kaira, maaf! Aku tidak punya pilihan lain!"

  Kaira mengepalkan tangannya setelah menerima sebuah pesan singkat dari Keysana. Sebuah pernyataan yang menohok hatinya. Sebuah pesan, yang membuat sekujur tubuhnya seperti mati rasa. 

  Di luar mobil yang di pakainya, sudah ada segerombolan orang-orang yang berpakaian sangat elit, berbaris rapi dan di tengah-tengah mereka, ada karpet merah yang di penuhi taburan bunga. Di ujung barisan, ada pria tampan yang memakai pakaian pengantin dengan sangat gagah. 

  Pria itu adalah pengantin yang seharusnya menikah dengan Keysana, tapi keysana memilih pergi untuk mengejar mimpinya. Keysana mengorbankan masa depan Kaira demi keegoisan dirinya sendiri.

  Pria itu berjalan mendekat ke arah Kaira yang tak kunjung turun dari mobil setelah pintunya terbuka. Pria itu mengulurkan tangannya tapi Kaira yang masih bingung, hanya diam menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

"Jay!" panggil pria paruh baya pada pria yang ada di hadapan Kaira.

  Jay hanya menoleh lalu mengangguk. Jay menggendong tubuh Kaira, yang sedari tadi tidak ada pergerakan sama sekali. Kaira terkejut dengan dengan tindakan Jay yang sangat tiba-tiba baginya.

"Ehem... Saya... Saya bisa jalan sendiri!" ucap Kaira dengan suara yang terbata-bata setelah sadar dari lamunan.

"Kalau mau berakting, tuntaskan hingga akhir!" bisik Jay.

DEG... DEG... DEG...

  Suara detak jantung Jay, maupun Kaira saling bersahutan satu sama lain. Wajah Kaira memerah seketika setelah Jay menurunkannya di hadapan semua orang yang siap menyambutnya untuk menyelesaikan upacara pernikahan yang tertunda karena harus mengganti nama pengantin wanita.

  Kaira tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengatakan bahwa dirinya bukan wanita yang seharusnya di jodohkan dengan pria yang saat ini ada di hadapannya. Keluar Keysanapun, tidak ada yang muncul di pesta pernikahan. 

"Jangan katakan apapun! Aku sudah mengetahuinya. Kau, hanya perlu menyelesaikan akting yang sudah kau lakukan hingga selesai. Apa kau paham?" bisik Jay, saat melihat Kaira dengan wajah takut.

  Kaira hanya mengangguk dan mengikuti saran Jay, karena posisinya saat ini tidak bisa bernegosiasi. Posisi yang hanya membuatnya memiliki 1 pilihan, yaitu menikah dengan pria yang sama sekali tidak di kenalnya. 

  Suasana di ruang pernikahan, penuh dengan tangis haru setelah kedua pengantin berjanji di hadapan Tuhan untuk hidup sehidup semati.

  Jay menyematkan cincin di jari Kaira, begitu yang di lakukan oleh Kaira. Tanpa menunggu lama, Jay mengecup hangat bibir Kaira yang memakai lipstik berwarna peach. Mata Kaira terbelalak karena ciuman itu adalah ciuman pertamanya. 

"Apa kau menyukainya?" bisik Jay di telinga Kaira.

  Tepuk tangan para tamu, terdengar begitu ramai. Tubuh yang di buat merinding oleh bisikan Jay, teralihkan dengan suara para tamu.

***

MALAM PERTAMA

  Acara pernikahan yang sama sekali tidak Kaira inginkan, berakhir tanpa sebuah hambatan. Jay yang pada saat di dalam ruang pernikahan terlihat sangat cerewet, sekarang menjadi pendiam dan begitu dingin. Auranya sangat berbeda, hingga Kaira tidak berani mengucapkan sepatah kata sekalipun dari mulutnya.

  Jay menarik tangan Kaira yang sedang berusaha melepaskan gaun pengantin yang di pakainya. Kaira hanya menoleh dan matanya bertatapan dengan mata bening yang di miliki Jay.

"Kau bisa membuka mulutmu untuk meminta tolong!" ucap Jay sembari tangannya melepaskan resleting gaun yang di pakai Kaira.

  Bibir Kaira seperti kelu, meskipun hanya ingin mengucapkan kata terimakasih. Kata yang sangat sederhana, tapi seperti tertanam di tenggorokannya.

"Tuan, terimakasih!" akhirnya suara Kaira keluar dari bibir mungilnya.

"Cepat mandi dan keluar dari kamarku!" jawab Jay dengan tegas.

  Air dingin mulai membasahi tubuh Kaira. Kaira menangisi nasib yang selalu di penuhi ketidak beruntungan. Kaira bersyukur, selama ini Keysana mau menjadi sahabatnya. Tapi, mengingat dirinya di korbankan oleh Keysana untuk menikah, hatinya terasa sangat sakit.

"Key, kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau tidak mengajakku untuk kabur bersamamu? Kenapa kau menjebakku? Hiks... Hiks... Hiks.." tangis Kaira terdengar oleh telinga Jay.

  Jay tetap sibuk dengan laptopnya. Ponselnya juga berdering tanpa henti tapi Jay tidak menghiraukannya. Jay sedang teliti membaca berkas yang di kirim sekretarisnya, Jade. Bibirnya tersenyum senang setelah membaca hal itu.

"Rupanya, hidupmu sangat sulit," batin Jay.

  Kaira keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur yang di belikan oleh Jay. Jay melihat rambut Kaira yang sedang di lilit dengan handuk. Dengan cepat, Jay memberikan hairdryer pada Kaira.

"Cepat keringkan rambutmu dan tidurlah di sampingku. Aku tidak jadi mengusirmu keluar," ucap Jay dengan sombong.

  Kaira tidak bisa berkata apa-apa untuk menghadapi prianyang bersikap misterius seperti Jay. Pria yang berhati hangat tapi bersikap begitu dingin. Kaira di buat bingung oleh sikap Jay yang sebenarnya.

  Jay mematikan laptop dan meletakkannya di atas meja. Jay menarik selimut dan segera memejamkan matanya tanpa menunggu Kaira.

"Apa aku harus tidur bersamanya?" batin Kaira dengan kebimbangan hatinya.

"Tuan, emmm... Besok, bolehkah saya tetap masuk bekerja?" tanya Kaira dengan hati-hati.

"Terserah!" jawab Jay.

   Kaira tidak tidur di samping Jay, melainkan tidur di atas sofa tanpa selimut. Diam-diam, Jay mendatangi Kaira dengan langkah hati-hati supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Kaira.

   Lagi-lagi, Jay tersenyum dengan wajah dinginnya itu saat melihat Kaira tertidur dengan sangat pulas setelah kelelahan dengan pesta pernikahan yang begitu mewah dan ribuan tamu yang datang.

"Kalau aku menciummu, apa kau akan bangun?" gumam Jay.

  Jay mencium bibir Kaira yang sedang tertidur dengan pulas. Kaira merasakan sesuatu yang basah dan kenyal sedang menempel pada bibirnya yang tertutup dengan rapat. Mata Kaira terbelalak seketika, saat melihat Jay sedang memejamkan matanya dan menikmati bibirnya.

"Hukumanmu karena tidak mendengarkan perintahku! Aku sudah perintahkan untuk tidur di sebelahku, tapi kau memilih di atas sofa. Kalau kau..."

"Saya akan tidur di sana, sekarang!" Kaira yang terkejut, memotong ucapan Jay lalu berlari dan tidur di tempat tidur. 

"Sangat kekanak-kanakan!" gumam Jay.

DEG... DEG... DEG...

  Suara detak jantung Kaira berdetak sangat cepat. Debaran itu terdengar hingga ke telinga Jay. Jay meletakkan tangannya untuk memeluk perut Kaira. Bibirnya mengecup ujung kepala Kaira. Debaran jantung Kaira, saling bersahutan dengan jantung Jay.

"Aku kira dia sudah tidur," batin Jay.

"Apa ini tidak terlalu dekat? Bagaimana bisa, dia memeluk wanita yang baru di kenalnya?" batin Kaira.

  Jay membalikkan tubuh Kaira untuk duduk di atas tubuhnya. Tubuh Kaira yang kecil, bisa dengan mudah di angkat oleh Jay.

"Ternyata kau belum tidur? Aku akan menidurkanmu!" ucap Jay.

"Maaf!" Kaira berusaha melepaskan diri tapi Jay sengaja menjatuhkan dirinya di atas tubuh Kaira.

"Kau ingin bermain kucing-kucingan?" 

Comments (5)
goodnovel comment avatar
Sri Fatmawati
semangat thor
goodnovel comment avatar
S Rohmah
keren ih,ceritanya gak bertele²😁😁😁 langsung nyosor,dan aku syukaaaa😂😂😂
goodnovel comment avatar
Jasmin Mubarak
knpa hrs slalu ciuman prtma klo crita nya lg cium bibir..... 😏😏😏😏😏😏
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status