Share

02. Tukang Palak

Anjani Pov

“Bab empat sudah ditandatangani pak Broto?”

Aku mendongak, lalu mengangguk, “Sudah pak,” jawabku sambil menatap Pak Ardan yang tengah fokus mengecek bab empat draf skripsiku.

Sesuai janji yang di buat Pak Ardan dua hari lalu via pesan singkat, hari ini aku mulai bimbingan dengannya di cafe Camilla sejak beberapa menit lalu.

Deadline skripsimu bulan depan?” tanya Pak Ardan tanpa menatap kearahku.

“Iya, Pak.”

“Dan kamu baru sampai bab empat?”

Aku mematung, bingung harus menjawab apa. Wajah dingin Pak Ardan membuatku mengulas senyum tipis saja tak mampu.

“Satu minggu,” kata Pak Ardan sambil menaruh draf skripsiku ke atas meja, “Selesaikan bab lima dalam waktu satu minggu. Lusa temui saya lagi."

Aku menghela nafas panjang. Mau protes pun sepertinya hanya akan membuang - buang waktu dan tenaga saja. Wajah angkuh Pak Ardan sudah menunjukan kalau beliau bukan orang yang mudah diajak negosiasi.

Setelah mengangguk, aku mengulas senyum, “Baik, Pak.” Jawabku singkat.

Pak Ardan membenarkan letak kacamata beningnya, melipat tangannya di depan dada lalu menatapku dalam. Membuatku sedikit salah tingkah karena di tatap seperti itu olehnya.

Jila Pak Ardan adalah sosok pria tua bangka dengan rambut penuh uban mungkin aku bersikap akan biasa saja.

Tapi masalahnya, Pak Ardan adalah sosok pria dengan kadar ketampanan melampaui batas normal, tubuh atletis dan pahatan wajah yang nyaris sempurna. Aku saja sempat terkejut dan grogi mengetahui dospem baruku ternyata masih muda, mungkin umurnya tidak terpaut terlalu dariku. Tapi sayang, Pak Ardan tidak tau caranya tersenyum. Wajahnya selalu angkuh dan datar.

Aku mengusap perutku, karena kata Mamah, aku harus bilang amit-amit jika melihat hal yang tidak baik.

“Amit-amit, semoga anakku kelak tidak angkuh seperti nya.” ujarku dalam hati.

Wajah angkuh itu terlihat menyebalkan, dan aku tidak ingin anakku kelak menjadi menyebalkan seperti Pak Ardan. 

Kening Pak Ardan mengerut, “Perutmu kenapa? Lapar?” tanyanya, mungkin ia bingung karena tanganku terus-terusan mengusap perut.

Aku menggeleng, “Nggak, Pak. Saya lagi hamil hehe...”

Wajah Pak Ardan tampak terkejut. Maklum saja, aku memakai jaket tebal yang membuat perut buncitku tidak terlalu nampak.

“Berapa bulan?”

Wow ! Aku tidak menyangka kalau Pak Ardan punya rasa penasaran juga.

“Tiga, Pak.” Jawabku canggung.

Pak Ardan manggut-manggut saja, mungkin bingung harus menanggapinya seperti apa. Makanya gelagatnya aneh.

“Omong-omong, sampai detik ini kamu belum ingat siapa saya?”

Aku mengernyit. Sementara dalam hati aku bertanya – tanya. Siapa yang mengingat siapa?

Peka dengan kebingunganku, Pak Ardan akhirnya buka suara atas inisiatifnya sendiri.

“Saya kakak kelas kamu waktu SMP,”

Jelas aku terpekik. Rasanya aku tidak ingat memiliki kakak kelas setampan dia. Dan juga, kalaupun ada, ia tidak akan mengingatku. Aku tidak sepopuler itu di sekolah sampai harus diingat kakak kelas tampan semacam Pak Ardan.

Aku terkikik kecil mencairkan suasana, “Ngaco sih bapak! Salah orang kali Pak, senior saya dulu nggak ada yang seganteng bapak,” kataku, setelahnya aku meneguk milkshake vanilla pesananku.

Pak Ardan mengusap tengkuknya, lalu tersenyum tipis, tipis sekali hampir tidak terlihat, “Saya Ardan Mahesa yang pernah ngompol waktu upacara,”

“Uhuk!”

Aku tersedak, menepuk - nepuk dadaku cepat sambil terbatuk - batuk.

“Hati - hati,” ujar Pak Ardan sambil menyodorkan tisu. Aku mengambilnya cepat dan mengelap sisi bibirku tak sabaran.

“Kak Esa?” panggilku ke Pak Ardan setelah batukku mereda.

Pak Ardan mengangguk tanpa menyahut, “Saya Esa, yang pernah bikin kamu nangis waktu itu,”

Untuk beberapa detik nafasku tercekat, aku menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin Kak Esa yang bertubuh gempal dengan pipi bulat macam bakpao bisa berubah sembilan puluh sembila persen seperti ini?

Pantas saja aku merasa tidak asing dengan nama Ardan Mahesa, ternyata dia memang Ardan yang aku kira.

“Sekarang saya sudah berubah jadi Ardan, Esa sudah menghilang bersama lemak ditubuh saya,”

Aku menghirup oksigen dalam - dalam, masih mencoba mencerna situasi tak terduga ini.

Mataku menatap Pak Ardan yang juga tengah menatap kearahku. Tatapan kita beradu, saling menelisik.

Masih tidak menyangka bahwa Pak Ardan adalah Kak Esa, kakak kelas ku yang dulu menyebalkan dan sering membuatku menangis.

Kak Esa dulu bulan-bulanan bully disekolah. Sering memalak uang sakuku karena disuruh oleh yang merundungnya, jika aku tidak memberinya uang ia akan langsung menarik kerah bajuku hingga tubuhku terangkat. Kejam sekali, kan? mentang-mentang tenaganya besar!

'Sudah gendut, bodoh lagi! Punya badan besar apa gunanya kalo tidak digunakan untuk melawan mereka?!' Sambil menangis, aku memaki Kak Esa saat itu. Dan setelah itu ia tidak pernah memalakku lagi, karena kabarnya ia pindah sekolah setelah terlibat perkelahian dengan teman-teman yang merundungnya.

Seharusnya dulu aku merasa senang karena tidak ada yang memalak ku lagi. Tapi ntah kenapa kehilangan Kak Esa membuatku sedih, aku selalu merasa bersalah jika mengingat makian ku padanya waktu itu.

“Sekarang saya tidak gendut dan bodoh lagi kan?” ujar Pak Ardan membuat ulu hatiku seperti tertembak tepat sasaran. Tertohok dan agak malu. Dia yang dulu aku sebut bodoh kini duduk di hadapanku sebagai orang yang harus ke hormati. Balas dendam yang sempurna, Kak Esa!

Mataku berkaca, menatap Pak Ardan yang tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku.

Ragu-ragu tanganku membalas uluran tangannya.

“Apa kabar?” tanyanya sambil tersenyum manis. 

“Baik, kak.” Jawabku lalu melepaskan tautan tangan kami. 

“Sudah lama nggak ketemu, kamu masih belum berubah ya, masih gampang dibikin nangis.” Kata Pak Ardan yang membuatku mengusap mataku yang sudah berair.

Pak Ardan tertawa, “Kamu sudah menikah?” tanya Pak Ardan membuka topik pembicaraan kita yang melenceng dari topik sebelumnya. Mode teman lama di buka sejak kita berjabat tangan.

“Kalau belum masa iya saya bisa hamil kak--sori-sori, Pak, maksudnya,”

Pak Ardan tertawa kecil menutupi kebodohannya, “Iya juga, ya. Santai aja, Jan, panggil Ardan aja juga gakpapa kok, asal di luar kampus,”

Perubahan yang drastis. Dari wajah angkuh yang ku kira tidak tau caranya tersenyum, kini tanpa sebab ia tertawa dengan sendirinya.

“Oke, Ar...” ucapku ragu.

Pak Ardan menyilangkan kakinya, “Kegiatanmu saat ini selain kuliah apa Jan?”

Aku mengulum bibirku, “Em, kuliah aja. Mau fokus selesaiin skripsi biar cepat lulus,”

Pak Ardan tertawa kecil, “Memangnya kalau udah lulus mau ngapain, sih?” tanya Pak Ardan dengan nada mengejek.

“Nyusul suami, ke Jogja.”

Mata Pak Ardan melebar seketika, “Loh, suamimu di Jogja?”

Aku mengangguk singkat.

“Ternyata LDR nggak berlaku buat yang pacaran aja ya,” katanya jenaka.

Obrolan kita terjeda, ponsel Pak Ardan berbunyi. Ia beranjak menjauh setelah meminta izin padaku untuk menerima panggilan telepon tersebut.

Aku melirik jam yang melingkar di lenganku, sudah jam tiga, waktu cepat sekali berlalu, perasaan baru saja aku mendaratkan pantat di kursi ini beberapa menit lalu.

Tak lama, Pak Ardan datang kembali.

“Jan, kayaknya saya harus pergi sekarang. Kamu di pulang sama siapa?” tanya Pak Ardan sambil merapikan tasnya.

Aku ikut berdiri, “Aku naik taksi Ar,” kataku.

Pak Ardan memasukan ponselnya kedalam kantung celana bahan yang ia kenakan, “Kalo gitu saya antar aja, ayo.”

Aku panik, “Nggak perlu Ar, makasih, nanti merepotkan. Aku naik taksi aja, serius gakpapa,” kataku meyakinkan Pak Ardan. Kalau Arsya tau aku diantar pulang dengan laki-laki lain, dia pasti akan marah.

Pak Ardan menghela nafas panjang. Sepertinya ia menyerah untuk membujukku.

“Ya sudah. Kalo gitu saya duluan, lusa kita ketemu lagi buat liat progress mu, tempatnya kamu aja yang tentukan”

***

Sepulangnya dari pertemuan dengan Pak Ardan, aku langsung membersihkan tubuhku dan melaksanakan sholat ashar.

Selesai sholat, aku beranjak ke meja belajar lalu membuka laptop. Dalam waktu satu minggu bab lima sudah harus selesai, satu minggu... Dengan jam pakai laptop yang dibatasi sampai jam sembilan malam, apa mungkin aku bisa menyelesaikan bab lima dalam waktu satu minggu?

Langkahku hanya tinggal satu bab lagi, tapi itu tidak mudah.

Terlalu singkat. Aku tidak yakin bisa mencapai target.

Drt ...

Ponselku bergetar, chat masuk dari Arsya mengintruksi.

Suamiku: udah sholat?

Jariku menari diatas keyboard, mengetik balasan.

Me: udah mas

Suamiku: gimana bimbingan sama dospem barunya tadi?

Tentang Dosen pembimbingku yang baru, aku memang sudah cerita pada Arsya sejak dua hari lalu.

Me: ya begitu... Tau gak mas, masa ternyata dospem nya kakak kelas ku waktu SMP dulu!

Suamiku: Oh ya??? Terus??

Me: kok respon mas kayak ibu - ibu mancing ghibah sih?

Suamiku: mana ada. Mas mau denger kamu cerita

Me: dospemku itu dulunya suka dibully mas, tapi hebat ya sekarang jadi dosen

Suamiku: wow ... Keren dong!

Me: dulu dia suka malak aku setiap hari

Suamiku: gak jadi keren

Suamiku: nanti kalo mas pulang, mas mau ketemu sama dospemmu, biar aku palak dia balik

Aku terkekeh, Arsya ada-ada saja.

Me: tapi dia malak aku gara – gara disuruh sama temannya, mas

Me: aslinya baik kok

Me: sekarang juga berubah banget penampilan nya

Suamiku: berubah gimana? jadi ganteng gitu?

Me: iya, tapi masih gantengan mas kok

Suamiku: dia udah nikah?

Me: gak tau, aku lupa tanya tadi

Suamiku: nanti kalo ketemu lagi tanya ya

Me: kayaknya sih belum, aku gak liat dia pakai cincin tadi

Suamiku: yaudah, kalau gitu besok kamu ke kampus, minta ganti dospem baru lagi sama Pak Galih

Me: LOH KOK GITU ?!

Suamiku: perintah suami nggak boleh dibantah, ingat ....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status