Arjuna & Julia (INDONESIA).
Arjuna & Julia (INDONESIA).
Author: SIM
1. Beban.

Arjuna mencengkram kemudi mobilnya dengan erat. Rahangnya mengetat. Pintu mobilnya dibukanya dengan keras. Ia berjalan ke belakang dengan langkah lebar. Menatap lampu mobilnya yang pecah dan beberapa goresan lecet menghiasi bodi belakang mobil BMW-nya. Itu mobilnya keluaran terbaru. Dan Arjuna baru membelinya beberapa hari yang lalu. 

"Bisa dijelaskan Nona, apa yang sudah terjadi?" celetuk Arjuna marah sambil memandangi pemilik mobil Jazz putih yang baru saja menabrak mobil sportnya tanpa sebab. Teledor, tentu saja.

Gadis yang diketahui benarma Julia itu mendekat takut-takut. Ia menatap Arjuna dengan raut penuh penyesalan. Wajah gadis itu terlihat kusut mungkin karena kelelahan. Tapi Arjuna tak mau peduli. Di luar sana banyak orang yang memang sengaja memperhatikan wajah melas supaya bebas dari hukum dan tanggung jawab. 

"P-Pak Arjuna?! Maaf, saya-"

"Kamu mengenalku?" Arjuna memotong pembicaraan Julia. Alisya saling menaut menatap gadis di depannya dengan rasa penuh ingin tahu.

"Saya staf anda-"

"Bagus, aku bisa dengan mudah mengeluarkanmu dari kantor," potong Arjuna lagi dengan geram karena ia bisa menebak ke mana arah pembicaraan Julia. Sangat beruntung bagi Arjuna karena ternyata gadis di depannya ini adalah salah satu karyawannya di kantor. Mudah saja memecat gadis itu, hanya dengan kuasanya dan beberapa bumbu yang mengandung 'tuduhan', maka besok Arjuna pastikan gadis itu tidak akan muncul di kantor lagi.

Julia maju selangkah. Ia menatap Arjuna dengan tampang lelah bercampur melasnya. Kedua telapak tanganya saling menyatu sejajar dengan wajahnya, membuat gerakan memohon pengampunan pada Arjuna. Lelaki itu balas dengan meludah di aspal. Tak peduli. 

Arjuna menatap wajah gadis kusam itu tak tertarik. Malahan ia membuang muka karena muak menatap Julia yang terus memohon meminta maaf. Arjuna paling benci bila ada seseorang yang melakukan kesalahan hanya cuma bisanya mengemis minta maaf.

"Pak Arjuna tolong, Pak. Jangan pecat saya. Saya janji saya akan membayar ganti rugi. Saya benar-benar ti-"

"Dengan apa?! Dengan apa kamu menggantinya? Dengan gajimu yang tidak seberapa itu?" bentak Arjuna dengan intonasi tingginya, "dengarkan baik-baik Nona, bahkan dengan bekerja selama sepuluh tahun di perusahaanku, itu tidak akan cukup untuk menggantikan kerusakannya," lanjut Arjuna lagi dengan kemarahan yang sudah tak bisa ditahannya. Telapak tangannya juga ikut menggebrak kap mesin mobil Jazz milik Julia, menyalurkan kemarahan. 

"Pak saya moh-"

"Kamu tahu apa kesalahannmu?" lagi-lagi Arjuna memotong pembicaraan Julia, geram.

"Saya telah menabrak mob-"

Arjuna mencengkram dagu gadis itu. Memaksanya untuk menatap ke dalam matanya yang tajam. Julia menatap Arjuna dengan ketakutan. Cengkraman pria itu sangat kuat. Sang bos tidak main-main saat marah.

Arjuna sungguh geram karena dari tadi Julia terus menunduk tak berani bertatapan dengan matanya langsung. Beruntung hari masih terlalu pagi. Jalanan masih sangat sepi. Seandainya saja kalau jalanan ramai, Arjuna akan habis dihakimi massa karena telah menganiaya seorang perempuan di jalan.

"Kalau memang sedang mengantuk, jangan mengemudikan mobil di jalan. Kamu bisa saja membunuh orang lain! Kamu tahukan, betapa menyebalkannya ketika kita sudah berhati-hati, tapi malah orang lain yang teledor dan merugikan kita," bentak Arjuna marah. 

Arjuna melonggarkan cengkraman tangannya. Merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang terus berbunyi nyaring. Sangat menganggu. Sembelum mengangkat telpon tersebut, Arjuna menatap Julia tajam.

"Tunggu sebentar. Urusan kita belum selesai." Arjuna pergi menjahui Julia. Lalu beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah yang lebih seram. "Sepertinya kamu kali ini sangat beruntung, Nona. Tapi lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu lain kali."

Seusai mengatakan itu, Arjuna memasuki mobilnya dengan langkah tergesa-gesa. Meninggalkan Julia yang masih terpaku di tempat dengan jantung yang masih berpacu dengan cepat. Setelah mobil Arjuna menghilang dari pandangannya, barulah Julia dapat bernafas lega disertai cairan bening yang merembes di matanya. 

***

Hari Minggu seharusnya hari untuk merefresingkan pikiran. Namun tidak dengan Julia. Setiap hari dia diberi tekanan oleh dunia yang kejam untuk terus-terusan menghadapi masalah yang begitu menyebalkan. Rasanya menyebalkan sekali menjadi manusia yang selalu dirundung masalah bertubi-tubi. 

Julia menghembuskan nafas lelah. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. 

"Loh, Kak. Kapan sampai rumah?" Vino, adiknya yang berusia 15 tahun tertatih-tatih menghampirinya dengan sepiring nasi di tanganya. Dia ikut duduk di sofa ruang tamu bersama Julia, lalu menyalakan tv. 

Julia tersenyum, "belum ada lima menit."

Vino mengangguk. Dia menggigit krupuk beserta tempe lalu memasukan nasi ke dalam mulutnya. Vino mengunyah dengan nikmat. Julia mencuri pandang, lalu kembali fokus ke tv menonton berita. 

"Kak Julia sudah sarapan?" 

"Tadi sudah." 

"Kak Julia berbohong. Nasinya masih utuh sebelum Vino ambil. Jangan diet Kak. Nggak perlu." 

"Siapa yang diet. Kakak cuma nggak selera mau makan."

"Lah... katanya Kakak sudah sarapan. Kakak ada masalah lagi, ya?" tanya Vino penuh perhatian. 

"Cuma masalah sepele. Kamu nggak perlu tahu. Fokus saja sama sekolahmu. Cepat atau lambat masalah Kakak bakal selesai kok. Tenang saja, kamu nggak perlu khawatir." Julia mengusap rambut Vino dengan sayang. Ingin sekali Vino menepis tangan Kakanya, karena geli. Bagaimanapun juga Vino kan sudah puber. Masih saja diperlukan seperti adik kecil. 

Vino memang cukup mengerti dengan berbagai masalah yang ada pada keluarga mereka. Tetapi dia lebih memilih diam, sebagai anak yang paling muda dia memang belum terlalu berhak ikut campur. Ia tidak mau sok mengerti dengan berbagai masalah yang dihadapi keluarga. Walaupun begitu sebenarnya Vino terus memikirkan keluarganya. Diam-diam dia selalu berdoa supaya keluarganya baik-baik saja. Dia juga selalu perhatian dengan Julia. Dia juga berjuang untuk mendapat peringkat pertama di sekolah agar kelak menjadi orang sukses dan berguna untuk keluarganya. Untuk sekarang, cukuplah bagi Vino agar tidak berbuat masalah supaya tidak memperburuk keadaan. 

"Iya. Vino nggak akan ikut campur. Tapi setidaknya Kakak berbagilah sedikit masalah yang Kakak punya. Entah sekedar cerita. Yah... walaupun Vino belum bisa memberikan solusi seperti orang dewasa, setidaknya beban Kakak akan berkurang sedikit," balas Vino, ia kembali menyendok makanan ke mulut sambil fokus melihat acara di tv. 

"Makannya cepatlah tumbuh besar, biar bisa bantu Kakak dalam hal ini itu." 

"Memangnya Vino masih kecil. Vino udah SMA loh Kak. Udah pubertas juga. Nih, bukti kalau Vino udah pantes dipanggil mas-mas." Vino menunjuk jerawat yang meradang di pipi kirinya. 

"Iya deh... iya. Habiskan dulu makanan kamu." 

Vino mengangguk dan menyuap sampai habis tidak tersisa makanannya. 

"Tadi Vino lihat, lampu mobil depan Kakak pecah. Kakak nggak apa-apakan?" tanya Vino setelah meletakkan piring di atas meja. 

"Enggak. Cuma nyerempet pagar orang tadi pagi." 

"Beneran?" tanya Vino curiga. Pasalnya apa yang Vino lihat tadi, itu lebih mirip mobil tertabrak mobil dibandingkan ketabrak pagar orang. Sepertinya Vino harus terpaksa pura-pura percaya lagi dengan apa yang Julia katakan. 

"Bener. Udah, jangan banyak tanya. Kakak mau ke kamar dulu. Jangan lupa piringnya sekalian dicuci," perintah Julia seraya pergi dengan langkah lelah. 

Vino tidak menyahut. Ia tahu Julia sedang menyembunyikan berbagai hal. Vino tahu kakaknya lebih memilih menyimpan semuanya sendiri daripada berbagi cerita. Vino menatap kepergian kakaknya dengan perasaan campur aduk, lebih tepatnya ia sedih.

***

Di dalam kamar, Julia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Air matanya merembes lagi. Ia meratapi nasibnya sendiri. Ia tidak mau membuat Vino khawatir padanya. Cukuplah dia yang menanggung beban ini, tak mengapa. Di tempat ini, di kamarnya juga Julia selalu menangis sendiri. Berharap tidak ada yang tahu beban yang ia tanggung di pundaknya. Lalu nanti ketika ia keluar, ia akan tersenyum pada dunia seolah-olah dia baik-baik saja. 

Tbc... 

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Sima Saidaturohim
Bantu jawab
goodnovel comment avatar
Charlotte Lee
menarik ceritanya.. boleh tau akun medsosnya gaa biar bisa aku follow?
goodnovel comment avatar
Boedi
👍👍👍👍😁
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status