Lilac Calilac Tale
Lilac Calilac Tale
Author: Ailana Misha
Prologue - Bad Morning!

This Novel is owned by Ailana Misha

Please, don’t copy and remake!

Indonesia

In 2015

Harus ada yang bertanya sekarang jam berapa?

Harus ada yang menjemputnya?

Harus ada juga yang memukul kepalanya...

Ya, begitulah isi kepala seorang gadis yang memiliki gigi kelinci itu. Panjang rambutnya, panjang juga durasi telat mikirnya. Lilac Seanna Swan adalah gadis yang sering mendapat sanjungan terkait semua hal berkonotasi kecerobohan, kelemotan dan keluyuran. Gadis itu adalah ratunya masalah telat datang ke sekolah dan masuk kelas.

Lihat sekarang? Jam berapa ini, dia seharusnya lekas berangkat ke sekolahnya! Lucunya, gadis itu masih berjalan hilir mudik di depan halte bis, rok pendek seragam SMA-nya berombak tertiup angin pagi. Bis yang ia tunggu belum juga nampak batang spionnya. Lilac, Gadis itu kebingungan, gadis bergigi tupai yang bodoh itu sudah panik melihat jam tangannya.

“Si bis-nya pada kemana sih?” Teriak gadis itu sendiri, Lilac mulai kesal sendiri. Gadis itu menghentakkan sepatu kets abu – abunya. “Jika kayak begini terus aku pasti dilarang ikut ujian tengah semester, aih....”

Ibu – ibu kantoran di sampingnya menatapnya dengan tatapan mencela. Maklum si putri Lilac itu bahkan lupa tidak mengenakan kaus kakinya sendiri. Sang kaus kaki terlihat menyembul di saku tas ransel Lilac. Sepertinya itu kaus kaki bekas hari kemarin.

Baunya tak sedap itu kaus kaki

Sudah tak sedap, si empu tak peka lagi

“Cantik – cantik jorok, anak zaman sekarang....” Desis ibu kantoran tadi. Ibu kantoran tersebut sudah mundur satu langkah agak menjauh dari posisi Lilac berada awalnya.

“Apa bu?” Si gadis berambut panjang itu berbalik, menatap ibu tadi. Gadis itu seperti mendengar kata cantik dan anak zaman sekarang. Benar – benar telinga Lilac seharusnya sudah masuk ke dokter spesialis THT.

“Ahh terima kasih, banyak yang bilang aku memang cantik bu....” Ucap Lilac dengan kadar narsisme yang sangat natural bodohnya.

“Heh apa?” Kata ibu tadi. Jelas ibu kantoran tadi merasa heran sekarang, respons gadis itu tak sesuai dengan celaan yang ia berikan.

“Ibu juga cantik, sepertiku.”

Gadis satu ini besar sekali tingkat kepercaya diriannya, kacapun sepertinya dia tak punya di rumah. Kekurangannya Lilac satu lagi adalah gadis ini jika dipuji akan besar kepala, dan lupa semuanya, lupa juga dia sudah hampir terlambat ke sekolah. Ceroboh sekali gadis satu ini.

Lilac berbalik menatap jalanan lagi, gadis itu melihat jam tangannya untuk kesekian kali. Di jam seperti sekarang dia seharusnya sudah berada di dalam bis, dimana dia seharusnya sudah sampai ke sekolahnya, bukan malah sedang berada di jalanan seperti sekarang. Seharusnya tadi ia tidak sok – sok-an menolak ajakan Danial berangkat ke sekolah bersama – sama. Ah dia mungkin terkena karma menolak ajakan cowok sebaik Danial ini.

Lilac sudah akan mencaci maki kondektur bisnya hingga ia melihat sosok yang membuat mata bulatnya semakin bulat. Gadis itu berubah menjadi kegirangan. Gadis itu sudah loncat – loncat menuju tengah jalan raya. Dia melihat sesuatu yang seertinya di lemparkan tuhan ke bumi buat menolongnya. Tuhan baik sekali, bukan?

“HEI... HEII KAMUU!!!” Teriak Lilac dengan suara melengkingnya. Suara gadis itu cempreng sekali.

“STOPP AKU BILANG!!! DENGAR AKU ENGGAK SIHHH!!!”

Lilac sudah menarik ransel anak laki – laki itu. Membuat pemilik ransel kesulitan untuk melajukan sepedanya dengan benar. Arah laju sepedanya menjadi oleng, dan ban depan sepeda anak laki – laki itu menikung ke kiri dan berhenti. Lilac tersenyum lebar di belakangnya, dia bahkan tidak menampilkan perasaan bersalah setelah bersikap salah seperti itu.

Anak laki – laki itu menoleh kebelakang, cowok itu memelototinya. Ia menatap marah pada gadis yang giginya mirip tupai itu.

“APAA!!!?? Bisa lepaskan tasku enggak??” Ucap pemuda itu dengan kesalnya.

Lilac hanya cengengesan ditatap oleh anak laki – laki yang sumpah demi tuhan baru pertama kali ia jumpai. Normalnya orang normal, dia tidak akan membuat ulah pada orang yang pertama kali ia temui, tetapi tidak berlaku bagi Lilac, gadis itu seperti tak peka akan satupun hal yang terlalu normal.

“Hehe... Kamu siswa SMA Benediktus kan? Kan?” Ucap Lilac, menyapa anak laki  laki itu.

Cowok itu tidak lekas menjawab pertanyaan dari Lilac, dia hanya menaikkan alisnya yang tebal dan panjang, matanya hitam pekat, dengan bulu mata yang indah. Lilac dibuat terkesima melihat kejernihan mata milik pemuda itu.

“Gadis aneh!” Ujar cowok tadi, singkat padat dan sangat tepat sekali!

“Tuh benar, kita ini sealmamater!!” Dasar Lilac, gadis ini malah mengoceh tidak jelas, dijawab apa, responsnya apa.

Gadis itu malah menghiraukan tatapan aneh cowok tadi, dan malah menarik ujung seragam sekolah milik pemuda itu. Cowok tadi memakai seragam sekolah yang dipakai sebelum jaket cokelatnya. Seragam yang corak dan motifnya sama dengan yang ia pakai. Pasti benar jika anak laki – laki ini siswa SMA Benediktus!

“Berarti nasib kita sama, ayok dahh bonceng aku!!” Lilac langsung mendudukkan pantat teposnya di atas boncengan sepeda putih anak itu. Cowok itu semakin mendelikkan matanya. Mengapa gadis tupai ini duduk di atas sepedanya?

“Cepetan!!! Mau jam tujuh ini lho!!”

Apa – apaan anak perempuan ini!!?

“HEEIII, Nona asing!! Jangan sok duduk duduk minta bonceng seperti ini ya!!!”

Cowok itu masih tak mau mengayuh sepedanya. Kedua kakinya bahkan sudah menginjak tanah, tak ada niat untuk mengayuh sepedanya. Lagipula dia sibuk mengusir gadis aneh di belakangnya. Tangannya terus menjauhkan bahu Lilac darinya, dia takut gadis ini gadis gila yang ada rabiesnya.

“Aku tak kenal ya siapa kamu!” Gerutunya kesal.

“Asing apaan sihh!!! Sudah jelas kita ini sealmamater. Pakai enggak kenal segala? Masak enggak tahu aku?” Cerocos Lilac.

Gadis itu meremas rambutnya, Lilac jadi tidak sabar. Dia itu hobby buat sesi

pengenalan diri, tetapi bukan sekarang, tidak saat ini. Jangan sekarang ya, dimana Ibu Mona, guru matematikanya terkenal galak dan bertaringnya, sampai – sampai ia bisa dihadiahi soal satu bab jika sampai telat masuk kelasnya.

“Gila sudah gadis ini.” Cowok itu menepuk keningnya, Lilac menatap lekat – lekat wajah asing itu.

“Masih kelihatan muda.” Bisik Lilac pada dirinya sendiri. “Jangan – jangan kamu adik kelasku. Aduh kamu adik kelasku ya? Kenapa enggak bilang, sini minggir, kamu minggir saja!”

“Apa?”

Cowok itu terlihat bingung disuruh minggir oleh gadis di depannya. Gadis asing itu kini yang naik di sadel sepedanya, mengisyaratkannya untuk duduk di kursi boncengan sepedanya sementara ia yang akan mengayuh sepedanya. Apalagi yang mau dilakukan oleh gadis tupai satu ini?

“Biar aku yang memboncengmu, aku kan kakak kelasmu!”

“Kamu kira aku laki – laki macam apa, sampai dibonceng anak perempuan ke sekolah!!” Ucap cowok asing itu tak percaya masih ada gadis gila macam gadis di depannya ini. Dia hampir tak mempercayai pendengarannya. Teman – temannya pasti akan gempar jika melihat dirinya dibonceng oleh seorang anak perempuan ke sekolah.

“YAKKKK....”

Anak laki – laki itu lalu mendorong Lilac duduk di boncengannya, gadis asing itu melenguh kesal karena kesakitan, tetapi anak laki – laki itu tak peduli, dan tanpa ba-bi-bu dia yang mengayuh sepedanya. Bisa – bisa dia dikira laki – laki gemulai jika sampai dilihat dibonceng oleh seorang gadis jadi – jadian seperti anak perempuan di belakangnya. Lagipula mereka memang sepertinya satu sekolah yang sama dan tentu searah, jadi ia mempercepat kayuhan sepedanya.

Gadis berambut panjang dengan bando putih itu langsung refleks memeluk pinggang anak yang ia pikir adik kelasnya itu. Kayuhan sepeda pemuda asing itu semakin cepat. Mata Lilac sampai pedih terkena angin jalanan. Ia jadi menenggelamkan wajahnya pada punggung cowok itu. Harum maskulin milik anak laki – laki itu masuk ke dalam hidungnya. Harumnya seperti parfum yang mengingatkannya akan wangi musk dan citrus. Lilac mengerjap bingung dengan tingkah bodohnya barusan, mengapa ia jadi keterusan memeluk punggung anak laki – laki itu? Dia ini kakak kelasnya!

Aku kenapa malah dibonceng cowok asing begini sih?

Adik kelasku pula!

Aduh!

“Jangan tidur!!” Seru anak laki – laki itu dari depan tiba – tiba.

“YAA, Siapa juga yang tidur.” Teriak Lilac cukup keras. Mereka sedang di jalan raya besar soalnya.

Daerah Balai Kota Surabaya memang sudah masuk pusat kota, dan ia bisa melihat bangunan asri gedung putih yang menjadi maskot dari kotanya itu. Lilac jadi tak sengaja menyandarkan kepalanya ke punggung anak laki – laki itu. Ia suka merasakan sinar matahari pagi yang menyapu kulit wajahnya.

“Jangan bersandar di punggungku!!” Ujarnya lagi. Ckkk, sombong sekali! Anak siapa sih dia!! Lilac jadi kesal nih.

“Siapa juga yang bersandar, buat apa juga!!” Elak gadis bergigi tupai itu kesal, padahal nyatanya dia memang bersandar di punggung anak laki – laki itu.

“Bagus kalau begitu! Aku takut dengan liurmu!!!”

“YAA, Kamu kira aku anjing penyakitan apa?” Cebik Lilac di belakang. Mulutnya ya, mulutnya anak ini perlu masuk bangku sekolah! Begitu pikirnya tadi.

“Ya pasti, siapa juga yang mau terkena rabies!”

ARGHHHHH!!!

Jadi dia pikir aku anjing rabies? Lilac sungguh geram, dia sekarang merasa sakit hati. Mulut cowok ini tajam sekali. Kalau Lilac tidak ingat dia sedang dibonceng oleh anak ini, mungkin rambutnya yang hitam pasti sudah ia jambak dan tarik. Lilac bukanlah gadis yang sabar selama tujuh belas tahun ini. Dia terkenal gampang emosi dan kurang punya jatah sabar.

“Kamu... Kamu murid SMA Benediktus kan?” Cicit Lilac, dia takut dia salah minta bonceng di saat jam masuk sekolahnya sudah sangat mepet seperti ini.

“Hemm....” Anak itu hanya bergumam pelan.

“Terus namamu siapa?” Tanya Lilac kembali.

“Lilac!” Jawab anak itu. Suaranya teredam oleh bisingnya jalan raya.

“Hei, itu namaku tahukk!!!” Teriak gadis yang tahun ini duduk di kelas dua belas SMA itu.

“Jangan asal mengaku kamu!” Kata cowok itu seenaknya.

Lilac langsung menjatuhkan rahangnya. Orang mana di dunia ini yang tidak punya respons seperti itu, ada orang yang mengaku atas namanya, justru bilang dirinya yang asal mengaku!!? Hehh, dunia sudah amnesia! Lilac memelototi punggung cowok yang memboncengnya, si pemuda itu kembali sibuk mengayuh sepedanya.

“Itu memang namaku, tuan!!!” Jelas Lilac sekali lagi, tetapi anak laki – laki yang mengaku bernama Lilac itu tak mengindahkan tatapannya. Dia kembali fokus pada jalanan sedari tadi, tanpa sadar laju sepedanya tidak secepat tadi.

“Mana ad-“ Lilac tak jadi meneruskan ucapannya. Dia terkejut saat sepeda yang dikayuh anak itu berhenti di tepi perempatan. “Kok berhenti disini sih? Kurang jauh ini? Belum juga kita sampai di sekolah.”

“Kamu bisa naik sepeda kan?” Begitu kata yang tiba – tiba ditanyakan oleh anak laki – laki itu, Lilac sudah melongo dibuatnya. Dia bahkan sudah turun dari sepedanya.

“Hah!? Apa?” Ini bukan berarti karena Lilac telat mikir, cowok itu yang mendadak berubah pikiran dan ia memang tidak paham.

“Bawa sepedaku ke sekolah. Pakai saja!” Ucap pemuda itu tiba – tiba.

Cowok asing itu hanya melihat Lilac sekali, lalu berlari masuk ke dalam lorong kecil gang pertokoan, meninggalkan Lilac yang terbengong – bengong bodoh dengan semua hal darurat di hari Selasa ini. Kini yang tersisa di tepi jalan raya yang sudah tak lenggang itu hanya Lilac dan sepeda dari anak laki – laki itu saja. Gadis itu bahkan merasakan jika setir sepeda warna putih itu seberat truk untuk mengangkat peti emas rasanya.

“YAAAA COWOKK!!!! AKU INI WAKTUNYA BU MONA MONIKAHHH YAAAA!!!!” Teriak Lilac sudah ingin menangis telah ditinggalkan seorang diri di hari Selasa pagi. Selasa pagi dengan mata pelajaran bu Mona di jam pertama. Ia sudah ingin mengutuk semuanya sebelum dirinya mati rasanya.

ADUHHH!!!

ALAMAT NGERJAIN TUGAS SAMPAI LEMBUR – LEMBUR INI!!!!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status