The Wedding Dress [INDONESIA]
The Wedding Dress [INDONESIA]
Author: Rain
1

Chapter 1

Hujan deras mengguyur ibu kota sejak pagi. Bahkan ketika hari menjelang malam pun, awan masih saja menggantung mengeluarkan tetes demi tetes air yang membasahi bumi. Membuat setiap orang lebih memilih tidur di kasur empuknya daripada harus bergelut dengan aktifitas dunia. Namun, berbeda halnya dengan Jeffrey. Pria bertubuh L-Men itu baru saja keluar kantornya, menuju parkiran. Ia hendak pulang sebelum suara seperti sesuatu yang menabrak memekakan telinganya. 

Jeffrey mengalihkan pandangannya dan mendapati seorang pengantin wanita tergeletak kaku di atas aspal. Buru buru ia menghampiri wanita itu, tidak peduli badannya yang akan basah kuyup setelah ini. 

"Nona, hey nona! Kau bisa mendengarku?" ucap Jeffrey menepuk pelan pipi wanita itu.

Kepalanya celingukan berharap ada segelintir orang lewat. Tapi nyatanya, nihil. Hanya ada dirinya, pengantin wanita, dan rintik air hujan. Memang wajar, sekarang sudah pukul 11 malam dan Jeffrey baru saja menyelesaikan laporannya. 

Akhirnya pria itu mengangkat tubuh si pengantin wanita menuju tempat yang teduh. Ia berusaha menekan luka di beberapa bagian tubuh wanita. Sepertinya usahanya sia sia karena si pengantin telah kehilangan detak jantungnya. Wanita itu telah berpulang dengan damai. 

Tidak ada kartu identitas, tidak ada tetangga, tidak ada orang, siapa yang tau wanita ini? Jeffrey menepuk kepalanya lalu membawa gadis itu ke rumah sakit. Jauh lebih baik daripada ia membiarkannya tergeletak di jalanan. 

"Gadis malang. Kenapa wanita manis sepertimu malah berakhir seperti ini? Siapa pria sial yang kau tolak janji sucinya?" gumam Jeffrey sembari sesekali melirik wanita di belakang kursi kemudinya menggunakan spion belakang. 

Seperti katanya, Jeffrey tergopoh gopoh mengangkat wanita itu memasuki rumah sakit untuk diotopsi. Tidak ingin berlama lama dan terlilit masalah karena dirinya menjadi saksi mata, ia memutuskan untuk pulang. Biarkan semuanya menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit. Meski begitu, ia tentu saja siap jika sewaktu waktu dipanggil untuk bersaksi di pengadilan.

Jeffrey melaju pulang ke rumah yang ia tempati seorang diri. Benar, orang tuanya menolak ikut pindah rumah dengan Jeffrey karena mungkin keduanya sangat menyayangi kampung halamannya.

Apa boleh buat, mau tidak mau terpaksa Jeffrey pindah seorang diri mengikuti tempat dimana ia bekerja. Cukup khawatir mengingat dirinya adalah anak tunggal. Tapi bibi Nur tetangganya berjanji untuk memastikan kedua orang tua Jeff akan selalu baik baik saja. Setidaknya Jeffrey cukup lega dengan itu.

Pria itu menyempatkan untuk merebahkan diri di dalam kamarnya sebelum mandi. Hari ini sangat melelahkan. Kerja lembur, penemuan pengantin wanita yang tergeletak, hujan deras. Sempurna. Bajunya cukup kering terkena AC mobil.

Tak lama kemudian ia bangkit membuka lemari untuk mengambil baju tidur. Tapi, sepertinya lemari Jeffrey kedatangan anggota baru.

"Gaun pengantin?" gumam Jeffrey kebingungan.

Ia meraih gaun itu, mengangkatnya tinggi tinggi, "Mungkinkah ini gaun yang sama?"

Benar. Gaun pengantin yang ia temukan bersama wanita manis yang tergeletak di tengah jalan kini bertengger apik di lemarinya.

Jeffrey mendesah gusar, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang terpenting, tolong jangan ganggu aku. Setiap hari aku sangat lelah" ucap Jeff menunjuk gaun pengantin seakan akan gaun itu adalah manusia atau temannya.

Jeffrey tidak bohong mengenai ia lelah setiap hari. Ia harus bekerja ekstra untuk kenaikan jabatannya dari direktur utama menjadi CEO di perusahaannya seminggu lagi. Bapak CEO telah menganggap Jeffrey sebagai tangan kanannya dan percaya jika Jeff dapat memimpin perusahaan dengan baik.

Ia meletakkan gaun pengantin kembali ke tempat semula dan bergegas mandi. Besok ia sudah harus mulai bekerja lagi.

###

"Sudah ada beberapa dokumen yang saya terima. Kerja bagus!"

"Terimakasih pak. Untuk laporan yang lain saya target hari ini akan selesai,"

Jeffrey keluar dari ruangan bapak CEO dan kembali berkutat dengan berkas berkas dan komputer di meja pribadinya.

Panggilan di ponselnya membuat Jeff memalingkan mata dari komputernya. Disitu tertera dari pihak kepolisian.

"Hah... Seharusnya aku meninggalkan gadis itu di tengah jalan," gumam Jeffrey sebelum mengangkat telepon.

...

"Ya? Dompet saya?"

...

"Baik nanti saat istirahat makan siang saya akan ke sana"

Sambungan telepon telah terputus. Jeffrey pikir polisi menghubunginya untuk meminta kesaksian darinya. Ternyata hanya memberitahu kalau dompetnya terjatuh di depan rumah sakit.

Tak ingin ambil pusing, ia mengedikkan bahunya sejenak dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Saat jam makan siang tiba, Jeffrey menyambar kunci mobilnya untuk segera pergi ke kantor polisi. Ia tidak begitu sadar jika dompetnya terjatuh. Bahkan pagi tadi saat ia ke kantor karena buru buru tidak sempat untuk memeriksa ulang barang barangnya.

"Atas nama Jay Jeffrey?" tanya polisi memastikan ulang kartu identitasnya.

"Benar,"

"Ini dompet anda. Lain kali hati hati," ucap polisi.

Jeffrey sempat ingin menanyakan masalah pengantin kemarin, tapi waktunya terlalu singkat. Ia belum sarapan, belum makan siang, dan harus ke kantor polisi saat ini. Akhirnya ia urung dan kembali ke kantor.

###

Jeffrey tidak mengambil lembur hari ini. Ia harus ke rumah sakit karena sedikitnya ia masih penasaran dengan pengantin wanita itu.

Ia berjalan menuju meja resepsionis. Kebetulan wanita itu juga yang kemarin pertama kali menyapanya saat tiba di rumah sakit.

"Permisi, saya ingin menanyakan masalah mayat pengantin tanpa identitas yang semalam saya bawa kemari," ucap Jeffrey sopan.

Resepsionis itu terlihat mengerutkan keningnya dalam, "Catatan kematian terakhir pada pukul 3 sore. Pukul berapa anda memnawanya kemari?"

"Emh, sekitar 11 malam,"

"Tidak ada catatan lagi setelah pukul 9 malam, setelah masuknya pasien Demam Berdarah," ucap resepsionis membolak balik sebuah buku.

Jeffrey mendengus kasar, "Tidak ada? Kemarin malam saya membawanya kemari untuk diotopsi. Sepertinya ia korban tabrak lari. Keluarganya juga belum ditemukan?"

"Maaf tuan, siapa yang anda bicarakan? Tidak ada yang kemari setelah pukul 9 malam,"

Aneh. Jelas jelas Jeffrey membawanya kemari saat hujan deras sekitar pukul 11 malam. Ini semua semakin terdengar janggal.

Jeffrey mengangguk paham, "Ah baiklah, maaf mengganggu,"

Ia mengendarai mobil dengan tatapan kosong. Beruntung jalanan sepi saat ini. Pikirannya masih melayang pada gaun pengantin yang tiba tiba di dalam lemarinya, dan hilangnya ingatan petugas rumah sakit tentang mayat pengantin.

Mobilnya berdecit kala seorang wanita tiba tiba menyeberang jalan dengan menggendong belanjaannya. Bahkan beberapa barang wanita itu terjatuh di jalanan. Mungkin karena kaget. Sebagai pria yang bertanggung jawab, Jeffrey turun untuk membantu wanita itu.

"Maaf, seharusnya aku lebih berhati hati," ucap Jeffrey memunguti tomat yang berserakan.

"Tidak, aku yang minta maaf. Aku kurang fokus tadi,"

Saat Jeffrey hendak memasukkan tomat ke kantung plastik, tatapannya jatuh di wajah gadis itu.

"Kau?"

Comments (1)
goodnovel comment avatar
alanasyifa11
kayaknya bakal menarik nih,btw author bakal update tiap berapa hari yah..? author ada sosmed engga?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status