King and Queen Of Nagi (Indonesia)
King and Queen Of Nagi (Indonesia)
Author: Lailimanosa
Calon Kaisar

Shen Feng Rei adalah seorang putra mahkota dari kekaisaran Nagi yang akan naik tahta mengantikan kaisar sekarang yaitu ayahnya sendiri Shen Lun Tian. Feng Rei adalah sosok seorang putra mahkota yang sangat gagah dalam perang dan juga sosok yang sangat cerdas dalam kepemimpinan. Menjadikannya sebagai kandidat terkuat sebagai calon kaisar selanjutnya mengantikan ayahnya.

Feng Liu berumur dua puluh tahun saat dinobatkan menjadi seoarang putra mahkota. Reiwa tentu saja tahu bahwa saat ia dinobatkan menjadi seorang putra mahkota ia tidak akan bisa lagi memutuskan hal-hal secara pribadi tampa memikirkan tentang kerajaan dan juga rakyatnya termasuk gadis yang akan menjadi pendampinnya.

Sejak Feng Rei dinobatkan sebagai putra mahkota telah banyak bangsawan yang menawarkan putrinya sebagai calon permaisuri yang akan mendampinginya. Namun hingga sekarang belum menemukan sosok yang dapat memenuhi kriteria calon permaisuri yang Rei tentukan.

Sudah banyak calon yang telah mengikuti ujian yang ia syaratkan kepada ayahnya sang kaisar dalam memilih calon pendamping, namun sejauh ini belum ada yang berhasil melalui tantangan yang telah dibuatnya tersebut, walaupun hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa ia telah menyusun rencana sendiri dalam mencari calon permaisurinya.

Feng Rei tahu tidak ada yang menikah karena cinta di kerajaan, semua orang hanya menikah untuk kepentingan politik dan pribadi termasuk kedua orang tuanya, raja dan permaisuri yang menikah karena politik belaka walaupun akhirnya mereka saling menyayangi dan mencintai.

Namun Feng Rei percaya itu tidak akan terjadinya kepadanya, melihat bagaimana para pejabat yang berlomba-lomba menjilat kepada keluarga inti kerajaan membuatnya percaya bahwa tidak ada yang tulus selain hanya untuk kepentingan pribadi dan politik.

Oleh sebab itu ia memilih memendam perasaannya dan mengikuti tradisi yang ada dikerajaan dengan menikahi kandidat yang paling kuat dan dapat membantunya dalam menjalankan kerajaannya kelak.

***

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya seorang lelaki yang datang bersama wanita yang merupakan tabib muda dari kerajaan Nagi.

"Tidak ada hanya ingin mengobati sedikit luka." Jawab Feng Rei datar.

"Lalu kenapa kau tidak masuk saja, dan malah menunggu di sini." Ujar wanita yang menjadi tabib tersebut. Wanita itu melihat tangan Feng Rei yang terbalut perban seadanya.

"Aku melihatmu sibuk, jadi aku akan menunggu lagi pula ini bukanlah luka besar." Ujar Feng Rei tidak merasa sakit karena luka yang ia peroleh saat berburu di hutan.

"Kau selalu saja menganggap remeh luka-lukamu!" ujar wanita itu kesal.

"Jangan memarahinya terus Jiang'er atau dia semakin tidak akan mau datang untuk mengobati luka-lukanya." Ujar lelaki yang tadi datang bersamanya tadi.

"Kau sama saja dengan Feng Rei, Deng huo! selalu membuatku khawatir dengan kebodohan kalian." Marah Jiang'er.

"Hei, kami tidak bodoh Jiang'er. Hanya tidak ingin repot karena luka kecil seperti itu!" bantah Deng huo.

"Melihat pertengkaran kalian luka ku sudah sembuh." Ujar Feng Rei bosan melihat pertengkaran dua sahabatnya itu sejak kecil.

"Ah...maafkan aku Feng Rei, ini semua karena Deng huo! Aku jadi melupakanmu." Keluh Jiang'er.

"Hei, kenapa kau menyalahkanku. Kau sendiri yang ceroboh!" Deng huo tidak ingin disalahkan

"Terserah, jangan ganggu aku! aku akan mengobati luka Feng Rei." Ujar Jiang'er lalu membuka kotak obat kecil yang selalu ia bawa saat bertugas. Kotak itu berisi obat-obat dan alat-alat untuk pengobatan pertama kepada pasien. Dan sangat mudah dibawa kemana saja jika Jiang'er membutuhkannya.

"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Tanya Jiang'er sambil menbuka perban Feng Rei memberikan obat lalu membalutnya kembali.

"Aku mendapatkannya ketika berburu." Jawab Feng Rei.

"Kau selalu saja terluka jika berburu namun tidak pernah teluka saat berperang." Guman Jiang'er.

"Itu karena dia bermain-main saat berburu dan saat dia berperang atau berkelahi dia hanya akan fokus untuk membunuh lawannya." Jawab Deng huo dengan terkekeh.

Jiang'er yang mendengar ucapan Deng huo menjadi kesal karena mereka selalu dengan mudah mengucapkan kalimat membunuh dengan mudah sedangkan ia adalah seorang tabib yang bertugas untuk menyelamatkan nyawa orang lain. "aku heran kena bisa bersahabat dengan kalian." Ujar Jiang'er kesal.

"Kau tidak akan mengerti Jiang'er, jika kami tidak membunuh dan melawan mereka maka kami yang akan terbunuh, dan kau akan kehilangan kami. Aku yakin jika kami mati kau akan terus menaggis seperti bayi!" ledek Deng huo kepada Jiang'er.

"Aku tidak akan menangisi kematian kalian!" bantah Jiang'er.

"Coba saja, lalu siapa yang saat kami pergi berperang pertama kali menanggis tampa henti? Dan siapa yang terus berdoa di kuil? Ah siapa yang tiba-tiba ingin menjadi tabib karena tidak bisa mengobati luka pada awalnya?" ejek Deng huo membuat Jiang'er menjadi malu.

"Diam kau! Aku tidak seperti itu." Teriak Jiang'er.

"Siapa juga yang membicarakanmu!" jawab Deng huo mempermainkan Jiang'er.

Feng Rei yang melihat kedua sahabatnya terus berdebat memilih pergi meninggalkan mereka berdua menuju kediamannya, Deng huo yang menyadari kepergian Feng Rei pun menyusulnya dengan cepat meninggalkan Jiang'er yang masih kesal kepadanya.

"Deng huo!!!" suara Jiang'er mengema meneriakan nama sahabatnya yang selalu saja bersikap usil kepadanya. Dan sekarang malah meninggalkannya sendirian.

Deng huo berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Feng Rei, terlihat dibelakang Jiang'er mengejar mereka berdua dengan membawa kotak pengobatan miliknya. Jiang'er yang dasarnya juga memiliki kemampuan bela diri bisa menyusul kedua lelaki itu dengan mudah. Walaupun ia tidak sekuat dengan kedua lelaki itu setidaknya Jiang'er dapat menjaga dirinya dengan baik selama melawan musuh.

Jiang'er dan Deng huo akhirnya berjalan mengikuti Feng Rei menuju kediamannya, sesekali mereka berpapasan dengan pelayan-pelayan yang berkerja di kerajaan. Saat pelayan-pelayan itu melihat kedatangan ketiga orang itu maka mereka akan terkagum-kagum dengan kerupawanan mereka. Namun pelayan-pelayan itu hanya bisa melihat sesaat kerupawanan milik pemimpin mereka karena jika sampai mereka ketahuan menatap bangsawan dan calon kaisar yang jauh lebih tinggi dari kasta mereka, pelayan-pelayan itu akan mendapat hukuman yang berat.

"Sepertinya pelayan sedang mempersiapkan ujian untuk pemilihan calon permaisuri!" Ujar Deng huo saat memperhatikan peralatan yang dibawa pelayan-pelayan yang mereka jumpai.

"Pemilihan permaisuri, ku kira...?" Jiang'er tidak melanjutkan kata-katanya.

"Kau kira apa Jiang'er? Rei tidak akan memilih permaisurinya?" ujar Deng huo menyambung perkataan Jiang'er yang tidak di selesaikannya.

"Tidak! Ku kira Feng Rei akan menikahi wanita yang di sukainya, tampa melakukan ujian untuk memilih permaisuri." Jiang'er mengukapkan pikirannya.

"Tentu saja Feng Rei akan mencintai permaisurinya nanti, seperti kaisar dan permaisuri sekarang." Jawab deng huo.

Jiang'er terdiam mendengar perkataan Deng huo barusan, "Benarkah Feng Rei akan seperti kedua orang tuanya yang akhirnya saling menyayagi dan mencintai." Batin Jiang'er.

Feng Rei tidak menanggapi pembicaraan di antara kedua temannya tersebut dan malah menanyakan hal lain. "Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Feng Rei tampa menoleh kepada kedua temannya.

"Aku merindukanmu!" sahut Deng huo cepat.

"Pembohong!" Ujar Jiang'er sinis menatap Deng huo yang tersenyum atas jawabannya sendiri.

"Tentu saja aku tidak berbohong, aku merindukan Feng Rei dan juga sedang lapar dan ingin makan." Jawab Deng huo dengan wajah berpura-pura polos.

"Bilang saja kau ingin numpang makan!" teriak Jiang'er kepada Tsuna.

"terserah! Lalu kenapa kau juga mengikuti kami?!" tanya Deng huo.

"Hanya ingin." JawabJiang'er cuek mengacuhkan Deng huo lalu berjalan di samping Feng Rei.

TBC 

Follow,Vote dan Comment

Related chapters

DMCA.com Protection Status