Allysa
Allysa
Author: Mandja
Bab 1

12 Juli 2018

Dear Diary...

Senja telah pergi berganti dengan gelapnya malam.

Mulai terdengar nyanyian suara katak dan jangkrik bersahutan.

Terkadang, aku merasa mereka ingin menghiburku.

Aku yang kesepian.

Aku yang hanya menghabiskan hari - hari mudaku dengan kesendirian.

Tanpa kepastian.

Tanpa impian.

Adakah yang bisa mendengar jeritanku ?

Adakah yang mampu meredakan tangisku ?

Adakah yang sanggup mengerti perasaanku ?

Adakah seseorang.. ?

Atau.. Hanya katak, jangkrik, dan gelapnya malam ?

Lisa with ❤

Ku tutup buku bersampul biru di depanku, ku rebahkan diri di kasur empuk di kamarku, lalu ku pejamkan mata guna menetralisir pikiranku. Aku Lisa, Allyssa Kanza Mahardika. Aku berusia 17 tahun, kulitku langsat dan rambutku lurus kecoklatan. Tinggi badanku ideal, otakku pun bisa dimasukkan kategori pandai, sehingga aku juga selalu jadi murid favorit dulu di sekolah. Banyak pria yang mengidolakanku, banyak pula yang mendekatiku. Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk memiliki hubungan special dengan mereka, entahlah.

Namun kini sepertinya kesialan mendekatiku. Dengan paras cantik dan otak yang cerdas tak membuatku sanggup melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan untuk masa depanku. Aku tak ubahnya seperti mayat hidup. Sejak perusahaan ayahku gulung tikar, ayah memutuskan kami sekeluarga akan pindah ke sebuah desa yang terpencil. Aku dengar ayahku akan memulai usahanya disini. Kami sekeluarga harus berhemat demi bertahan hidup dan kelancaran bisnis baru ayahku, tapi entah bagaimana jalan pikiran dan tujuan orang tuaku, mereka sama sekali tidak mengizinkanku untuk membantu mereka bekerja, paling tidak untuk membeli kebutuhanku sendiri, jadi aku tidak perlu meminta dan merepotkan mereka.

Ku buka kelopak mataku pelan. Pikiranku melayang.

Orang tuaku tidak mampu untuk membiayai pendidikanku menuju jenjang yang lebih tinggi, namun mereka juga melarangku untuk menggapai mimpiku dengan caraku. Entahlah, memikirkannya membuatku semakin pusing. Jadilah aku seorang pengangguran yang tidak memiliki apapun bahkan sebuah mimpi.

"hufftt... " ku hembuskan nafas kasar.

Otakku lelah dan perlahan mataku mulai kembali terpejam. Kantuk menghampiriku sebelum kemudian..

"Lisaaaaa, turuuuuunnnn ...."

Terdengar suara ibuku memanggil, aku tersentak dan mendadak kantukku hilang. Ibu pasti memintaku untuk makan malam. Ya, di keluargaku memang seperti menjadi tradisi, kami sekeluarga membiasakan sarapan dan makan malam bersama, tentu saja itu semua demi terjaganya keharmonisan keluarga. Aku segera keluar kamar menuju meja makan dengan menuruni tangga karna kamarku memang terletak di lantai dua rumah baruku yang sederhana ini.

Sebenarnya aku sangat bersyukur dengan rumah sederhana ini yang masih terbilang rumah mewah jika di sebuah desa, karna rumah tetangga yang lain justru lebih sederhana lagi. Disini aku masih bisa menghirup udara segar dan mendengar nyanyian burung di waktu pagi. Tapi tetap saja aku sering kali merindukan rumah dimana aku dibesarkan. Disini aku juga sulit mendapatkan jaringan telephon, sehingga aku jarang sekali sibuk berkutat dengan handphone.

"anak ibu mikirin apa, ayo dimakan makanannya, nggak baik makan sambil melamun" tegur ibuku lembut membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum menanggapi.

"habis makan malam bantuin ibu cuci piring ya" pinta ibu.

Aku hanya mengangguk.

Aku memiliki kakak dan adik perempuan, sudah menjadi hal biasa aku berbagi tugas membersihkan rumah dengan mereka sejak kami sekeluarga pindah kesini beberapa bulan lalu, karna kami tidak lagi memiliki art. Sangat berbeda jauh dari kami sebelum bisnis ayahku bangkrut.

Setalah makan, aku merapikan piring dan membawanya ke dapur untuk mencuci piring. Ibu mengikutiku ke dapur merapikan makanan setelah kami makan malam bersama. Ibu kembali menegurku karna aku lebih banyak menghabiskan waktuku setiap hari hanya di kamar.

"kamu tahu kan ayahmu melarangmu bekerja nak" jawab ibu setelah aku mengutarakan lagi niatku untuk mencari pekerjaan.

"iya, tapi kenapa bu ?" sanggahku. 

"beri aku alasan kenapa aku harus tetap berdiam diri dirumah, sedangkan ekonomi keluarga sedang berantakan.. Paling tidak, biarkan aku bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri" aku mulai protes pada ibu.

Ibu terdiam, mungkin mereka mengkhawatirkan aku karna aku memang belum pernah memiliki pengalaman bekerja ataupun jauh dari mereka. Tapi, jika tidak dimulai dari sekarang, bagaimana aku bisa bertahan dengan kerasnya hidup kalau suatu hari nanti terjadi sesuatu pada orang tuaku yang aku jadikan sebagai sandaran hidupku, jelas aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, tapi kita hanya manusia, bahkan nyawa dalam diri kita saja hanya titipan yang setiap saat bisa saja diambil oleh Tuhan.

"bu, tolong beri Lisa kesempatan ... tolong ibu yakinkan ayah untuk mengizinkanku bekerja bu ... Lisa mohon" sambungku lagi.

Mataku mulai berkaca - kaca. Aku selalu ingin menangis jika membicarakan hal ini pada ibuku. Aku sudah menyelesaikan tugasku mencuci piring kotor dan peralatan lainnya.Segera aku pergi dari dapur menuju kamarku, meninggalkan ibuku yang masih terdiam. Aku tidak ingin ada orang yang tau aku menangis.

Sesampainya dikamar, aku duduk di meja rias dan mulai kembali menangis. Aku sungguh sangat lelah dengan kondisi ini, lalu ku ambil buku biruku dan mulai menuliskan sesuatu. Hal yang sering aku lakukan disaat aku tidak bisa mencurahkan perasaanku pada seseorang. 

Dear diary..

Harus bagaimana caraku menguatkan hatiku agar tidak rapuh ?

Harus bagaimana caraku menguatkan kakiku agar tidak lumpuh ?

Semuanya tidak semudah membalikkan tangan.

Aku berjalan terseok - seok untuk mempertahankan perjuanganku.

Aku tidak ingin selamanya bersandar !

Aku ingin bisa berdiri tegap dengan kedua kakiku..

Tuhaann...

Aku mohon, Tolong bantu aku..

Tolong restui perjuanganku..

Lisa with ❤

Selsai menulis, aku menyimpan buku biruku dilaci, dan mulai merebahkan tubuhku. Mata sembabku mulai mengantuk karna terlalu banyak menangis. Tanpa sadar aku sudah mulai tertidur saat ibu datang ke kamar dan menyelimuti tubuhku.

⭐️⭐️⭐️

Keesokan harinya seperti hari - hari biasanya, pagi hari aku membantu ibuku memasak dan membersihkan rumah. Setelah sarapan, terkadang aku menonton tv atau berdiam diri di kamar. Aku tidak memiliki teman sama sekali di tempat baruku ini. Sangat jarang aku melihat seorang gadis, sering kali perempuan seumuranku tapi sudah menikah. Aku lebih sering melihat segerombolan laki - laki yang nongkrong entah membicirakan apa, aku memutuskan untuk tidak keluar rumah kecuali saat hendak membeli sesuatu ditoko, karena kerap kali mereka yang nongkrong itu menggangguku. Sangat menyebalkan !

Siang ini aku putuskan untuk berdiam diri dikamar seperti biasanya, tiba - tiba ponselku berdering. Kulihat nama yang tertera dilayar handphone, segera ku geser ke atas tombol hijau begitu tahu siapa yang menelphon.

"halo Lisa ... Assalamualaikum" Terdengar suara Rani sahabatku menyapa dari sana.

"wa'alaikumsalam Rani, apa kabar kamu ?" Jawabku

"alhamdulillah baik, kamu apa kabar ? Ah akhirnya aku bisa denger suara kamu lagi, sombong banget di hubungin susah" Kata Rani mulai protes.

"hahaha, maaf disini jaringan sangat sulit ... aku malas pegang hp karena lemotnya jaringan" aku menjelaskan.

Rani adalah sahabatku sejak kami SMP, hingga saat SMA aku dan Rani bagai saudara kembar yang tak terpisahkan. Itulah yang dikatakan teman - teman lainnya karena melihat aku dan Rani kemana - mana sering bersama. Padahal wajah dan fisik kita berbeda, Rani bertubuh lebih pendek dariku, rambutnya juga lurus sebahu, kulitnya kecoklatan, Rani terlihat sangat manis.

Aku dan Rani berbincang lama di telephon, kami membicarakan banyak hal karena memang sudah lama tidak bertemu, Rani mengingatkan aku untuk datang ke rumahnya, membantunya menyiapakan pesta ulang tahunnya. Tentu saja aku pasti akan datang, aku berjanji padanya untuk membantunya.

⭐️⭐️⭐️

Saat makan malam, aku meminta izin pada ayah dan ibuku untuk pergi ke rumah Rani karena aku berjanji membantunya menyiapkan pesta ulang tahunnya. Ayah tiba - tiba bertanya padaku perihal keinginanku untuk bekerja. Sepertinya ibu sudah membicarakannya dengan ayah dan berhasil memberikan ayah pengertian tentang keinginanku itu. Di rumah ini mungkin hanya aku yang ingin bekerja karna kakakku sudah menikah dan adikku masih sekolah.

"kamu mau cari kerja apa Lisa, ijazahmu hanya tamatan SMA" pertanyaan ayah tadi saat makan malam terdengar ragu dengan kemampuanku. Aku berusaha meyakinkan ayah, tidak seperti biasanya yang selalu berakhir dengan aku menangis ketika aku, ayah dan ibu membicarakan niatku bekerja, tetapi kali ini ayah mengizinkanku. Sontak membuatku berteriak bahagia dan memeluk ibuku. Yes, terima kasih ibu, karena telah berhasil membujuk ayah. Saat ini aku kembali menulis di buku biruku tentang rasa bahagia dan syukurku mendapatkan kesempatan ini.

Dear Diary...

Hembusan angin surga akhirnya dapat kurasakan.

Lantunan nyanyian jangkrik seolah merdu terdengar.

Bintang - bintang gemerlap menunjukkan sinarnya.

Seolah - olah ikut berbahagia.

Terima kasih Tuhan..

Telah memberikanku kesempatan.

Aku akan berjuang.

Aku tidak akan mengecewakan.

Lisa with ❤

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status