Share

Part 3

Selamat membaca

============

"Surprise!" ucap seorang pria menyodorkan se-buket bunga lili segar ke hadapan wanita paruh baya.

Wanita itu tersenyum kemudian menerima buket bunga lili tersebut.

"Terima kasih bunganya putraku." ucapnya senang.

Ternyata yang memberikan bunga itu adalah putranya.

"Hei, kenapa wajahmu di tekuk cemberut seperti itu sayang?" tanya wanita itu kepada putra kesayangannya.

"Tidak apa-apa mama."

"Tidak apa-apa, tapi kok mukanya manyun gitu." sang ibu meraih dagu anaknya, sang anak menatapnya.

"Coba ceritakan sama mama." tuntutnya pada sang putra karena rasa penasaran.

Lelaki itu terlihat menarik nafasnya dalam, sebenarnya ia enggan untuk bercerita kepada sang mama. namun wanita paruh baya itu tetap memaksanya untuk bercerita.

"Mama, apakah salah jika aku merasa kasihan pada seseorang?"

Sang ibu tampak berpikir. "tentu tidak sayang, itu tandanya kamu masih memiliki hati yang bersih. hmmm, sekarang mama ingin tahu kamu kasihan pada orang lain itu siapa." tanya mamanya lagi penasaran.

"Seorang wanita ma."

"Apa? wanita?" pria itu mengangguk.

"Memang kenapa dengan wanita itu?"

"Wanita itu berparas sangat jelek ma, menyeramkan. aku kasihan padanya, karena rasa kasihan itulah aku membantunya." jelas pria itu menceritakan tentang Nara.

"Oh ya? memang kamu membantu dia seperti apa?"

"Aku memberinya salah satu kartu kredit gold milikku ma, aku juga menyuruh dia untuk mempermak wajahnya agar terlihat lebih cantik." ucap pria itu nyengir.

"Tapi dia malah menghina ku di hadapan banyak orang ma, lebih parahnya wanita jelek itu mengembalikan kartu kredit gold pemberian ku yang nyaris hancur. lihat ini ma!" tunjuknya mengeluarkan kartu kredit gold yang sudah lecek.

PLETAK.

"Awwhh! aduh ma sakit!" ringis pria itu kesakitan karena saat sebuah buku melayang ke arahnya.

"Kurang ajar kamu Arfaan! pantas saja wanita itu marah, ternyata itu yang kamu lakukan padanya." geram Santi sang ibu.

"Salahku dimana ma? aku hanya membantu finansial-nya, karena aku yakin dia pasti tidak mampu untuk mempercantik dirinya." omel pria yang bernama Arfaan itu.

"Astaga! ya Tuhan! apa salahku sampai bisa melahirkan putra se-kejam dirimu!" ucap Santi memohon ampun menautkan kedua tangannya sembari menengadahkan kepalanya ke atas.

"Mama lebay, hhh sudahlah, percuma saja aku bercerita sama mama." dengus Arfaan sebal.

"Mama tidak mau tahu ya Arfaan, kamu harus minta maaf sama gadis yang sudah kamu sakiti itu!!!" teriak Santi kencang saat Arfaan sudah pergi dari hadapannya.

*********

"Dia kenapa?" tanya Adam kepada Elma dan Tria.

Elma dan Tria saling pandang, bingung ingin menjelaskannya pada pria pemilik toko bunga ini. ya, Adam adalah anak dari bunda Karina.

"Tadi ada seorang pria yang menghina Nara." ucap Elma takut-takut.

"Apa? pria katamu? siapa dia?" pekik Adam, ia memberikan pertanyaan beruntun pada Elma dan Tria.

"Kami juga tidak tahu, sepertinya dia baru pertama kali membeli di toko bunga ini." tebak Tria.

Adam bangkit dan mendekati Nara yang tampak murung duduk sendirian di sudut ruangan itu.

"Nara...." panggil Adam dengan suara lembutnya.

"Eeh, bos Adam." ucap Nara berjengkit kaget.

"Kau melamun?" tanya Adam menyelidik.

Nara menggeleng. Adam mengambil tempat duduk di samping Nara.

"Kenapa wajahmu murung begitu Nara?"

"Aku tidak apa-apa bos, lihatlah! aku tersenyum." Nara memaksakan dirinya tersenyum.

Adam tahu jika Nara berusaha kuat di depannya, dan karena itu Adam ikut memberikan senyum termanisnya untuk Nara.

"Jika kau kurang enak badan, sebaiknya pulang dan beristirahat lah." Nara menggeleng.

"Tidak bos, aku sudah banyak sekali izin cuti."

"Lalu?" tanya Adam menyipit.

"Tentu saja aku harus rajin lagi bekerja setelah lama cuti bukan?"

"Ini perintah Nara, ayolah tidak apa-apa, sebaiknya kau pulang saja. kau terlihat sedang tidak enak badan."

"Tapi...."

"Tidak ada tapi-tapian Nara." Adam menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri tanda tidak boleh menolak perintahnya.

"Hhh, baiklah tuan pemaksa." ucap Nara akhirnya.

Adam terkikik mendengarnya, hati Adam menghangat melihat Nara kini sudah kembali ke sikapnya yang semula.

"Ayo ku antarkan, aku mau pergi juga." ajak Adam saat mereka sudah di luar toko bunga.

Nara mengangguk tersenyum, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Adam memasangkan saefty belt untuk Nara, tubuh Nara menengang dengan reaksi Adam.

"Nah, sudah." Adam mengangkat wajahnya yang tadi menunduk memasang saefty belt tersebut.

Wajah mereka bertemu saling pandang, kedua manik mata itu saling menatap dalam satu sama lain.

"Kau cantik Nara." puji Adam tiba-tiba.

"Haaah?" kaget Nara luar biasa.

"Kau cantik Nara." ulang Adam lagi.

"Terima kasih atas ejekannya bos." balas Nara tersenyum kecut.

"Eeh, siapa yang bilang kau jelek Nara?"

"Tidak penting siapa-siapa saja yang menghina diriku, karena pada dasarnya kenyatannya begitu kan?!"

Adam tertegun mendengar ucapan Nara yang terkesan ketus. tanpa berkata apa-apa lagi Adam menjalankan mobilnya.

Keheningan menyelimuti mereka berdua, Adam melirik Nara yang melihat ke arah luar dari balik kaca jendela mobil.

"Kau tidak tahu Nara, bahwa kau itu sebenarnya cantik. hatimu bersih dan itu yang membuat kecantikan alami terpancar darimu. jika mungkin wajahmu sering di olok-olok oleh orang lain, itu bukan suatu masalah, malah mereka yang bermasalah. karena mereka tidak bisa menilai kecantikan seseorang berdasarkan mata hatinya." ucap batin Adam yang kini kembali fokus menyetir.

TBC...

Gimana nih? Lanjut gak?

Voted dan komennya ya

Terima kasih 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status