Share

Part 5

Happy reading

=============

"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu Adam?" tanya Karina melihat putranya yang tersenyum sendiri.

"Tidak ada bu, hanya teringat Nara."

"Nara?" Adam mengangguk.

"Lalu kenapa kau tertawa saat mengingatnya?" tanya Karina lagi.

"Dia sangat lucu!" ucap Adam tanpa menoleh ke arah Karina.

"Apa kau kira Nara itu seorang badut!" sinis Karina menatap tajam putranya.

Adam yang mendengar nada sinis dari ucapan ibunya pun menoleh ke arah Karina.

"Oh ayolah ibu, aku tidak sedang mengejek Nara seperti orang lain yang selalu mengolok-ngoloknya." tegas Adam membantah ucapan sang ibu yang seakan menuduhnya.

"Apa kau menyukai Nara?" tanya Karina to the point.

"A--apa maksud ibu?" tanya Adam tergagap.

"Adam, aku ini ibumu, wanita yang mengandung dan melahirkan mu, merawat serta membesarkan mu hingga sampai sekarang ini, tentu saja aku mengerti bagaimana putraku, apa yang di sukainya dan apa yang di bencinya. jadi, kau tak bisa membohongi ibu mu ini nak." jelas Karina panjang lebar.

Adam memalingkan wajahnya ke arah lain, sungguh ia tak sanggup menatap ibunya.

"Jika kau menyukainya, maka segera lah kau mengatakannya, sebelum orang lain merebutnya lebih dulu." titah Karina mengingatkan sebelum ia beranjak pergi dari hadapan Adam.

Adam merenungkan semua ucapan Karina barusan, semakin cepat ia mengungkapkannya pada Nara, maka semakin cepat ia memiliki wanita itu menjadi kekasihnya. tapi apa Nara akan menerima cintanya? itulah hal yang di takuti Adam jika Nara menolaknya.

"Nara, apa benar jika dia kekasihmu?" tanya Rizka yang masih tak percaya.

Nara menolehkan kepalanya melihat ke arah Arfaan yang juga sedang menatapnya. kode kedipan sebelah mata Arfaan membuat Nara bingung.

"Kami juga sebentar lagi akan bertunangan." ucap Arfaan nyaring sambil matanya tak pernah lepas menatap Nara.

"Itu, benarkan sayang." ucap Arfaan dengan senyum seringainya.

Rizka yang merasa kesal pun menghentakkan kakinya berbalik pergi, semua orang juga pergi dari situ.

"Nara, jadi benar pria ini kekasihmu?" tanya Nazwa.

"Waaah, tampan sekali!" puji Mira.

"Nara jawab dong! tuan tampan ini benar kekasihmu?" tanya Via yang tadinya diam jadi ikut penasaran.

Kepala Nara pusing di serbu pertanyaan oleh ketiga sahabatnya. dengan kesal ia menarik kasar tangan Arfaan menjauh dari ketiga sahabatnya.

"E--eeh, apa-apaan kau ini menarik diriku se-enaknya!" cibir Arfaan kesal.

"Kau yang apa-apaan, kenapa kau mengatakan hal menjijikkan seperti itu di hadapan banyak orang?" Nara membalas dengan tak kalah sengit.

"Hei, hello gadis buruk rupa. kau itu sudah ku bantu bukannya berterima kasih, malah marah padaku." ucap Arfaan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

"Aku tidak pernah meminta bantuan mu, aku sudah terbiasa di hina banyak orang."

"Sudah hentikan! begini saja, buat permudah semua ini, karena dari awal aku yang membuat semua kekacauan ini. jadi, sudah terlanjur bagi kita untuk mengubah semuanya, sekarang kita jalani saja apa yang sudah terjadi."

"Maksudnya?" tanya Nara tak mengerti.

"Aduh! ternyata kau itu selain jelek, juga lambat berpikir ya ckck." ejek Arfaan.

"Baiklah, kita harus melanjutkan sandiwara ini. jika kita adalah sepasang kekasih, kau untuk menghindari hinaan dari para teman-teman dan haters mu dan aku untuk menghindari perjodohan yang selalu di atur ibuku, bagaimana? deal?"

Arfaan mengulurkan tangannya tanda agar kesepakatan mereka sah, Nara tampak berpikir akan hal itu. wanita itu menimbang-nimbang apakah pilihannya untuk setuju dengan kerja sama Arfaan membawa keberuntungan atau petaka.

Dengan sabar Arfaan menunggu Nara agar menjabat tangannya, Nara masih dia sembari menatap tangan kanan Arfaan yang terulur.

"Kau setuju tidak?" Arfaan menggoyang-goyangkan tangan kanannya yang terulur.

Nara terkesiap akan hal itu, ia mengulurkan tangan kanannya meraih tangan Arfaan untuk berjabat tangan tanda setuju.

Mereka berdua saling tatap sambil tangan kanan mereka yang masih saling mengait bersentuhan.

"Mulai hari ini kau resmi menjadi kekasih ku, kekasih pura-pura!" ucap Arfaan menekankan kata pura-pura.

Cepat Nara melepaskan tangannya, ia tatap wajah Arfaan.

"Baiklah." ucapnya bersikap santai.

"Sebaiknya kita kembali ke tempat ketiga sahabat mu, karena jika tidak mereka akan semakin kepo." ucap Arfaan yang tanpa permisi meraih pinggang Nara dengan sebelah tangannya.

"Ee--ehh apa-apaan kau ini! lepas!" teriak Nara tak suka.

"Ssssssttt, kau ini lupa ya? kita ini kan sepasang kekasih, jadi diamlah."

"Tapi tidak seperti ini, kita hanya pura-pura." Nara masih berusaha melepaskan dirinya yang di rangkul Arfaan.

"Jika ingin sandiwara kita terlihat sempurna, maka diamlah dan ikuti semua yang aku lakukan dan ku katakan. mengerti!" mau tidak mau Nara pasrah mengalah.

Percuma rasanya jika ingin berdebat dengan pria arogan itu.

Tbc...

Duh, kasian banget Abang Adam, ketinggalan 1 langkah lebih cepat

Voted dan komennya

Semoga suka

Terima kasih.

See you ❤️

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status