03 - Situs Kencan Online Internasional

*****

Keadaan hening menyambut Zeline. Sudah hampir lima tahun terakhir, Zeline memilih tinggal di sebuah komplek apartemen mewah sendirian. Zeline merupakan sulung dari dua bersaudara, ia memiliki adik laki-laki yang kini sedang kuliah di Singapura sedangkan kedua orangtuanya nomaden, tergantung bisnis mereka sedang dibangun di kota atau negara mana, di sanalah mereka akan menetap.

Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Zeline, bagaimana tidak, ia harus merias wajah tiga klien di tiga tempat berbeda. Memoles wajah seseorang tidak begitu melelahkan, hanya saja perjalanan dari satu klien ke klien lainnya memakan waktu begitu banyak. Kepadatan lalu lintas Ibukota, tentu sulit dihindarkan.

Zeline bekerja sebagai MUA freelance karena ia tidak ingin bekerja terikat kontrak sehingga kapanpun ia ingin libur tidak ada yang akan melarang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.17 WIB, namun, bel apartemennya tiba-tiba berbunyi. Zeline bergegas menuju pintu dan mengintip melalui interkom dari dalam rumahnya. Ternyata tiga wanita cantik sudah berdiri menunggu Zeline membukakan pintu.

"Haruskah, kalian bertamu hampir tengah malam begini?" sindir Zeline pada ketiga sahabatnya.

Mereka bertiga tampak tak acuh dan memilih masuk serta duduk di sofa tanpa perlu dipersilakan oleh Zeline. Zeline hanya bisa memutar bola matanya melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu.

Fini menghidupkan rokok, kepulan asap memenuhi ruangan tamu Zeline. Mesya menyusun sepuluh kaleng bir dingin serta tiga kotak pizza berukuran besar dari kantung masing-masing yang dibawanya.

"Kenapa kalian bertiga malam-malam kemari? Tidak ada jadwal kencan?" tanya Zeline sambil menggigit potongan pizza yang dibawa Mesya.

"Tunanganku sedang ke Malaysia."

Vera menelan gigitan pizza-nya lantas berujar, "Gebetanku sedang sibuk mengurusi deadline kantornya."

Zeline menatap Fini yang sibuk dengan rokoknya. "Tidak ada pria menarik yang bisa diajak berkelahi di ranjang."

Zeline bergedik ngeri mendengar perkataan Fini. Ia masih sulit menerima ucapan sahabatnya itu, jika sex merupakan sesuatu hal biasa baginya.

"Kau sudah mendaftarkan dirimu?" tanya Vera dan Mesya menatap Zeline dengan berbinar penuh harap.

Zeline menggeleng. "Aku belum punya waktu untuk melakukannya. Seharian ini aku sibuk."

Mesya mengambil Macbook dari dalam tasnya dan membuka salah satu situs kencan internasional. Ia mulai mengetik sesuatu secara serius dengan macbook-nya.

"Apa yang kau lakukan, Mey?" tanya Zeline penasaran.

Mesya mengangkat telapak tangannya agar Zeline diam. "Aku sedang mendaftarkanmu di sebuah situs."

"Situs porno kah?" Fini tertarik dan Vera melempari kepala Fini dengan kulit kacang dari tangannya.

"Shit!" umpat Fini atas lemparan Vera padanya.

"Kau lupa, jika sahabat kita satu ini masih perawan? Bagaimana mungkin dia bisa punya video mesum pribadi, jika dia saja takut dengan pistol panjang milik pria." Terdengar sekali ucapan Mesya seperti mengejek Zeline terang-terangan.

"Kau sudah berjanji, bukan. Jika memiliki kekasih kali ini, kau akan membuktikan ucapan Kami semua, jika sex itu tidak menyakitkan. Bahkan itu sesuatu hal yang menyenangkan." Vera seakan menodong Zeline dengan mengungkit ucapannya kemarin.

"Iya," jawab Zeline ragu.

"Aku sudah merekam jawabanmu, Dear!" kata Fini senang.

"Dasar Bitch!" umpat Zeline dan ketiga sahabat-nya hanya terkekeh.

Semua sahabatnya sibuk terfokus dengan kegiatan masing-masing. Zeline sibuk dengan remote TV di tangannya, lantas tak sengaja tangannya menekan tayangan film yang dimana pemain filmnya sedang berciuman mesra sambil meraba tubuh masing-masing. Tubuh Zeline meremang, sungguh, hal yang hanya dilakukannya hanyalah berciuman panas dengan para deretan mantan kekasihnya, tidak lebih dari itu. Padahal, bisa saja setelah ciuman itu dilanjutkan ke kegiatan selanjutnya, bermain kuda di kamar misalnya. Namun, karena ketakutan yang dialami Zeline, dirinya terpaksa menolak secara halus dan berakhir lagi-lagi dia diselingkuhi karena alasan yang sama.

✈✈✈✈✈

"Taraaaaa ... Akunmu sudah siap! Aku juga sudah memilihkan foto yang luar biasa, agar para pria tertarik padamu," ucap Mesya dengan bangga.

Zeline, Vera dan Fini mendekat ke arah Mesya.

Mereka semua terpaku pada situs yang sedari tadi menyita waktu Mesya.

"Kau yakin memilih foto ini? Ini terlalu sexy!" Zeline meragukan.

"Benar, yang ada para pria itu berpikir Zeline adalah seorang slut."

Profile :

Name : Zeline Zakeisha

Age : 25 y.o

Country : Indonesia

Account : Zeline.Z@hotmail.com

I'm single, Happy

Foto profil yang dipilihkan oleh Mesya adalah hasil dari photoshoot Zeline untuk sebuah brand pakaian dalam.

Mesya mengkode Fini untuk menanggapi protes Zeline dan Vera. Fini menyetujui ide kedua sahabatnya yang lain untuk mengganti foto profil itu.

"Dia terlihat benar-benar seperti jalang," ucap Fini jujur.

"Dia memiliki ratusan koleksi foto sexy yang membuat para pria meneteskan air liurnya. Namun, sayangnya, wanita seksi itu ternyata masih menjaga selaput daranya." Mesya, Vera dan Fini terkekeh geli, tak ayal membuat Zeline kesal.

"Kau liar, Zel. Namun, liar-mu hanya di depan kamera. Ckckck—sangat disayangkan!" sindir Fini.

"Ya, dan aku benci setelah memosting foto seksiku, banyak yang mengajakku bermain kuda-kudaan di ranjang. Damn! Menyeramkan," aku Zeline.

"Salah kau sendiri, kenapa memamerkan gunung kembar serta hutan belantara milikmu di sosmed. Kau membuat fantasi liar para pria, padahal kau sendiri—payah!" cemooh Mesya.

Zeline mendengkus. "Aku melakukannya karena kebutuhan pekerjaan, jika tidak karena sebuah kontrak bernilai ratusan juta, aku juga tentu akan menolaknya."

"Ya, ya, ya, terserah kau saja! Cepat kemarikan, ponselmu. Aku akan mendownload aplikasinya. Dengan begitu kau akan mudah berkomunikasi dengan calon kekasihmu."

"Ingat, pilih yang menarik, kekar berurat dan besar!" bisik Fini dan Zeline menoleh cepat.

"Memangnya aku sedang mengikuti kompetisi pemilihan bakso?" sindir Zeline dan Fini hanya berdecak kesal.

"Jangan main terlalu jauh. Nanti kau dan dia tidak akan pernah bisa bertemu, percuma," nasihat Vera.

"Betul. Pilihlah pria yang mudah dijangkau. Singapore, Malaysia atau Thailand. Tiket pesawat tidak begitu mahal dan waktu tempuh cukup sebentar," timpal Mesya.

"Pilihlah pria kaya, di mana pun ia berada pasti bisa menjangkaumu. Jelek tapi kaya tidak masalah, apalagi besar, panjang dan berurat!" celoteh Fini.

"Aku tidak suka pria jelek! Karena akan merusak keturunanku," ucap Zeline dan ketiga sahabatnya terkekeh.

"Keturunan? Melakukannya saja kau takut, bagaimana mungkin bisa punya keturunan? Kau pikir, anak itu hadir hasil dengan cara kau mencharger dirimu dengan kabel?" sindir Vera.

"Hmm, benar juga yah. Ah sudahlah, tidak perlu membahas masalah itu. Aku jadi pusing memikirkannya," keluh Zeline.

"Aku tinggal tidur duluan. Hari ini hari yang sangat melelahkan untukku," pamit Zeline dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ketiga sahabatnya yang lainnya.

Baru saja Zeline akan menyelimuti tubuhnya, ketiga sahabatnya masuk dan mengambil tempat saling berdempet di atas kasur.

"Kita sudah lama tidak berdesak-desakan seperti ini!"

"Aku rindu kebersamaan kita pada satu ranjang yang sama."

"Aku ingin mengenang di mana Zeline memelukku erat sepanjang malam."

Zeline menoleh ketiga temannya dan serentak mereka semua tertawa bahagia.

*****

Kalian adalah salah satu alasan mengapa sampai saat ini aku masih bahagia. Sahabat!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status