6. Another Man

Another Man

Segalanya berubah dalam sekejap mata, seperti angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba berubah menjadi badai topan yang menghancurkan segalanya. Maka, jangan mudah terperdaya dengan apa yang tampak di depan matamu.

"Kau berjalan sangat lambat," gerutu Chiaki, mereka memasuki sebuah hotel berbintang lima. 

Crystal mendengus, ia telah berjalan dengan langkah lebar untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Chiaki, tetapi faktanya ia tetap tertinggal di belakang pria itu. 

Chiaki menekan tombol lift. "Dasar, Siput." Ia itu mengejek Crystal dengan memanggilnya Siput saat Crystal telah berdiri di sampingnya. 

Crystal membeliak, menatap Chiaki dengan sorot mata jengkel. 

Sama sekali tidak lucu!

"Kenapa? Ingin memakiku?" Chiaki menaikkan sebelah alisnya. 

Crystal hanya memutar bola matanya enggan menanggapi ucapan Chiaki, ia tidak ingin membuang-buang tenaga dan emosinya untuk berdebat dengan pria berambut gondrong itu. Bahkan di dalam lift hingga lift berhenti di lantai paling atas mereka tidak terlibat pembicaraan, keduanya saling diam seolah-olah tidak saling mengenal.

Chiaki berjalan keluar dai lift sambil setengah bersiul, tangan kirinya sesekali menyugar rambutnya yang panjang sementara tangan kanannya memegang violin case diikuti Crystal yang terus menatap punggung pria yang sedikit tidak masuk akal, pria yang berubah-ubah sifatnya. 

Terkadang dingin, kaku, dan menjengkelkan. Tetapi, terkadang ia tidak bersikap dingin, tidak kaku, dan agak menyenangkan. 

Pria itu berhenti di sebuah pintu yang berada di paling ujung lorong, ia membuka pintu kamar hotel menggunakan sidik jarinya. "Masuklah," katanya dengan nada datar. 

Crystal melangkah ke dalam ruangan dan langsung terkesima melihat isi kamar yang sama sekali tidak terlihat jika itu adalah kamar hotel. Tempat itu lebih terlihat seperti tempat tinggal pada umumnya.

"Kau tinggal di sini?" tanya Crystal sambil melepaskan maskernya. 

"Ya." Chiaki meletakkan biola di atas meja yang terbuat dari kaca. 

"Tempat yang indah," gumam Crystal sambil mendekat ke arah dinding yang terbuat dari kaca tebal. "Apa kita berada di lantai paling atas?" 

Chiaki tersenyum samar. "Ya." 

Seperti halnya Chiaki, Crystal juga tersenyum samar, nyaris tidak terlihat. Salah satu tempat favoritnya adalah di atap bangunan rumahnya dulu, ia biasa bermain biola di sana sambil merasakan embusan angin menerpa tubuhnya. Rasanya seperti sedang mengadakan konser disaksikan oleh semesta. 

Ia juga menyukai peternakan milik keluarganya, di sana ia bisa menggesek biolanya disaksikan oleh sapi dan domba. Dulu saat usianya delapan tahun, setiap kali ia akan tampil di gereja, ia memilih berlatih di depan domba dan sapi untuk melatih rasa cemasnya. Dan cara itu benar-benar membantunya, ia tidak lagi merasa gugup karena ada orang lain menyaksikan permainan biolanya. 

"Apa yang ingin kau makan untuk makan malam?" tanya Chiaki yang berdiri tepat di samping Crystal, senyum samar masih tergambar di bibir tipisnya sementara matanya tidak benar-benar menatap keluar. Ekor mata pria itu diam-diam melirik wajah Crystal dari samping.

Salah satu keuntungan memiliki rambut panjang adalah ia bisa bersembunyi di balik rambutnya untuk mengamati orang lain.

"Apa saja," sahut Crystal, matanya terus menatap pemandangan kota Paris yang terhampar luas.

Chiaki memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya. "Kau tidak takut ketinggian?" 

"Aku menyukainya." 

"Bagus, kau bisa tinggal di sini tanpa masalah." 

Crystal menoleh ke arah Chiaki. "Bukankah... aku tinggal di...." 

"Di rumah membosankan," sahut Chiaki cepat sambil mengalihkan tatapannya ke luar.

Pria aneh, Crystal baru pertama kali menjumpai orang yang lebih tertarik tinggal di hotel ketimbang tinggal di rumah. 

"Buka pakaianmu," ucap Chiaki tiba-tiba. Nadanya acuh dan dingin.

Bibir Crystal terbuka, nyalinya sedikit menciut membayangkan pria itu akan menggunakan alat bantu seks seperti seminggu yang lalu. 

Namun, Crystal tidak membantah, ia perlahan-lahan menarik blouse-nya melalui kepalanya, membuka sepatunya, lalu membuka kancing celananya, dan melepaskannya. 

"Pergi, bersihkan tubuhmu di kamar mandi," titah Chiaki datar. 

Crystal diam-diam menelan ludah, ia benar-benar menghadapi pria aneh yang tidak masuk akal. Hanya menyuruhnya untuk membersihkan tubuh, bukankah terlalu berlebihan jika harus bertelanjang di depannya. Tetapi, mengingat ia telah terikat perjanjian dengan Chiaki meski belum ada kontrak tertulis yang ia tanda tangani, Crystal memilih mengejawantahkan perintah pria berambut gondrong di depannya lalu melangkah menuju kamar mandi tanpa menatap Chiaki. 

Di dalam kamar mandi yang dindingnya terbuat dari marmer berwarna hitam, Crystal mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Menikmati setiap buliran air yang berguguran di atas kepalanya sementara pikirannya sedikit terusik karena perilaku Chiaki yang menurutnya aneh. Sepertinya pria itu memang penyendiri seperti yang Donna katakan saat mereka berada di walk in closet tadi siang. 

Sebenarnya hingga sekarang Crystal masih penasaran bagaimana caranya ia bisa berakhir di tangan Chiaki, bagaimana pria itu menemukan dirinya yang berniat mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri di sungai Seine. Tetapi, menghadapi sikap Chiaki yang terkadang hangat, terkadang kaku, terkadang sinis, ia memutuskan menyimpan pertanyaan itu. Bagaimana cara Chiaki menemukannya, terserah. 

Ada hal penting yang harus ia hadapi, ia masih hidup. Karena ia masih hidup maka ia harus berjuang untuk kehidupannya yang mungkin masih panjang. 

Crystal menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang ia silangkan di depan dadanya, ia memejamkan matanya untuk menikmati setiap tetesan air dari atas kepalanya lalu mengalir melalui setiap jengkal tubuhnya. 

Ia membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya karena kucuran air shower yang mengguyur kepalanya terhenti. Yang ia dapati adalah Chiaki berdiri di depannya, menatapnya dengan tatapan lurus. 

"Ingin mencoba mati lagi?" 

Bibir Crystal terbuka. Bagaimana mungkin pria itu menganggapnya mencoba bunuh diri di bawah shower. Benar-benar pria tidak masuk akal. 

"Aku tidak mungkin tenggelam di sini." 

"Kau bisa mati kedinginan," ujar Chiaki dengan nada dingin. 

Tetap tidak masuk akal, ini bukan di Antartika, dan lagi pula aku mandi air hangat.

Namun, Crystal tidak mengucapkan kalimat sanggahannya, ia hanya membalas tatapan Chiaki dengan tatapan lurus. 

Chiaki meraih dagu Crystal, sedikit kasar. Tatapan matanya lurus langsung menatap mata Crystal. "Apa kau tahu untuk apa aku membawamu ke sini?" 

"Aku tidak tahu," sahut Crystal cepat.

"Untuk menghukummu karena kau tidak membalas pesanku," ucap Chiaki dengan nada geram. 

"Hah?" Crystal ternganga. 

Pria ini semakin aneh. 

"Aku tidak suka diabaikan, lain kali jangan pernah membuatku menunggu. Balas pesanku secepat mungkin." 

Crystal ingin menekan pelipisnya, tetapi ia tidak melakukannya. Chiaki ternyata mengirim pesan ke ponselnya dan pria itu jengkel karena ia tidak membalas pesan. 

Sedikit kekanakan. 

"Maafkan aku," ucap Crystal setelah menelan ludah. 

"Aku tidak memerlukan permintaan maafmu." 

"Jadi?" Crystal menatap Chiaki, bingung. 

Bukankah jika melakukan kesalahan memang seharusnya meminta maaf? 

"Ini peringatan terakhir, kau harus mengingatnya." 

Crystal mengangguk. 

Peringatan terakhir padahal belum ada peringatan pertama. Mungkin hanya Chiaki yang memiliki peraturan semacam itu. Mengingat hal itu, ingin rasanya Crystal tertawa geli. 

"Bagus, sekarang ambil barang di laci nomor tiga." Chiaki menjauhkan tangannya dari dagu Crystal. 

Crystal bergerak menjauh dari pria paling aneh di dunia, ia mendekati laci yang di maksud oleh Chiaki. Ia terbelalak melihat isi laci tersebut karena di dalamnya terdapat beberapa macam alat bantu seks. Ia menghela napasnya lalu mendorong laci kembali, ia tidak akan membiarkan ketakutannya menjadi kenyataan.

Ia berjalan menuju shower di mana Chiaki sedang melepaskan pakaiannya. Dengan gerakan kaku Crystal mengaitkan kedua lengannya di pinggang Chiaki. 

"Aku rasa, kita tidak memerlukan alat itu," ucap Crystal lirih. 

Chiaki melemparkan pakaiannya ke lantai begitu saja, ia menatap ke mata Crystal. "Aku tidak ingin bercinta dengan wanita yang di otaknya memikirkan pria lain." 

Crystal mengerutkan kedua alisnya. "Pria lain?" 

"Logika saja, tidak ada seorang gadis yang ingin bunuh diri kalau bukan urusan cinta." 

Ya, benar. Masuk akal. Awalnya Crystal curiga jika Chiaki mengetahui masalahnya hingga mencoba bunuh diri. "Kau pikir aku sudi memikirkannya lagi?" 

Chiaki memutar tombol shower dan dalam hitungan detik bibir Crystal telah di pagut oleh Chiaki, sedikit kasar, menuntut, tetapi sangat bergairah. 

"Aku beri tahu kau, aku bercinta setidaknya enam kali setiap hari, kau harus bersiap-siap dan juga... membiasakan dirimu," ucap Chiaki setelah cumbuan mereka terlepas. 

Enam kali? Chiaki pasti hanya menakutinya. Crystal menatap Chiaki dengan tatapan lurus. "Durasi?" 

Chiaki tersenyum miring. "Tiga puluh menit. Tetapi, jika kita melakukan dalam durasi panjang aku bisa berjam-jam." 

Bibir Crystal menganga. "Berjam-jam?" 

Chiaki melepas lengannya yang melingkar di pinggang Crystal, ia melangkah mendekati rak yang berisi handuk bersih. Mengambil satu lalu melingkarkan di pinggangnya, pria itu juga mengambil satu lagi handuk bersih lalu melingkarkan di dada Crystal. 

"Jika durasi panjang, maka dua kali dalam sehari cukup." 

Crystal tersenyum tipis, senyum mengejek. "Mengesankan." 

Namun, di dalam benaknya ia cukup penasaran. Ia ingin merasakan durasi panjang yang Chiaki katakan barusan. 

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan rate bintangnya kakak.

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status