9. A Present

Present

Terkadang kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya, betapa pun besarnya keinginanmu untuk menghentikan waktu, waktu terus berjalan dan menjadi sesuatu yang berbeda.

Chiaki datang saat Crystal sedang duduk di depan cermin dan Donna sedang mengaplikasikan make-up untuknya. Pria itu hanya melirik sekilas kepada Crystal tanpa menyapa kemudian memasuki kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, Chiaki keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar rendah di pinggangnya sambil memegangi handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.

Perlahan pria itu mendekati tempat di mana Crystal dan Donna berada, menyandarkan pinggulnya di sandaran sofa, matanya sedikit pun tidak melepaskan pandangannya dari Crystal.

"Donna, bisa kau tinggalkan kami?" tanya Chiaki dengan nada sopan.

Donna mengangguk dengan hormat. "Kau bisa memanggilku jika memerlukan bantuanku lagi," ucapnya kepada Crystal.

Crytsal mengangguk pertanda mengerti sambil matanya melepaskan Donna menjauhi dirinya, ia menggigit bibir bawahnya karena ia merasakan canggung setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Chiaki tadi malam.

"Crys." Chiaki tidak bergeming. "Kemarilah."

Crystal menelan ludah, ia merasakan pipinya memanas karena menyaksikan dada telanjang Chiaki yang tampak pada pantulan cermin di depannya. Perlahan ia bangkit dari duduknya dan mendekati pria itu.

Chiaki memberikan kode kepada Crystal untuk lebih mendekat. "Cium aku," titahnya.

Crystal tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bibirnya sedikit terbuka dan ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Chiaki terkekeh pelan. "Kenapa?"

Crystal menjilat bibirnya. Ia mendekati Chiaki dan perlahan mendekatkan wajahnya kepada Chiaki, mengecup pipi pria itu dengan singkat.

"Aku ingin kecupan mesra," ucap Chiaki dengan nada jail.

Crystal menatap Chiaki dengan tatapan protes. Memang ia adalah wanita simpanan Chiaki, tetapi Chiaki meminta kecupan mesra, rasanya terlalu berlebihan.

Chiaki meraih pinggang Crystal, tatapan matanya menyapu keseluruhan wajah cantik Crystal. "Lain kali jika aku datang, kau harus menyambutku."

"M-menyambut?"

Chiaki menaikkan sebelah alisnya. "Ya, menyambutku."

"Akan kugelarkan karpet merah nanti," ucap Crytsal seraya mengerucutkan bibirnya.

Chiaki menarik hidung Crystal pelan. "Aku menantikannya."

Crystal menatap Chiaki, bibirnya mengulas senyum tipis. "Bagaimana perjalananmu?"

Pria itu mengalungkan kedua lengannya di pinggang Crystal yang ramping, ia menatap mata biru gadis di depannya. "Membosankan."

"Kau bosan sepanjang waktu." Ia menatap Chiaki dengan tatapan geli karena pria itu sepertinya mudah bosan dalam banyak hal.

"Kurasa, aku tidak bosan sekarang." Tangannya telah menyusup ke dalam rok Crytsal dan menarik celana dalam gadis itu. "Dua puluh menit."

Crystal tidak yakin karena dua kali ia dan Chiaki bercinta, rasanya dua puluh menit adalah hal mustahil bagi pria itu.

"Aku ingin menciummu, tapi... aku khawatir merusak lipstikmu." Ia menyelipkan jarinya di antara kedua paha Crystal. "Aku menyukai kau sangat responsif."

Crystal membuka sedikit pahanya untuk memberikan akses lebih banyak kepada Chiaki, tangannya berpegangan pada kedua lengan Chiaki sementara tatapan mata mereka saling mengunci. Ia mengerang manakala satu jari Chiaki berada di dalam dirinya, tubuhnya menegang, dan puncak dadanya terasa sakit seolah memohon untuk disentuh.

"Chiaki, kumohon," erang Crystal manakala gairah sepenuhnya melingkupinya.

"Untuk apa?"

"Itu tidak cukup." Crystal memekik saat Chiaki memperdalam jemarinya, ia memindahkan tangannya di tengkuk Chiaki lalu dengan tidak tahu malu memagut bibir pria itu.

Chiaki menyambut ciuman dari Crystal, ia menyerahkan dirinya kepada Crystal yang dengan lapar tidak hanya menciuminya tetapi juga bercinta dengan lidahnya. Ciuman itu berlangsung panjang dan lama, sesekali mereka saling menjeda, menarik diri untuk sekedar menghirup udara lalu kembali saling memagut.

Chiaki telah polos karena Crystal dengan tidak sabar menarik handuk yang melilit di pinggangnya hingga merosot ke lantai dan menggenggam benda keras yang ada di antara kedua paha Chiaki. Dua puluh menit kemudian, seperti kata Chiaki, dengan posisi Crystal membelakangi Chiaki dan dada yang membungkuk di atas meja makan, Crytsal mendapatkan pelepasan di susul Chiaki.

Napas keduanya terengah-engah lalu perlahan mereka kembali berpijak ke bumi.

"Bagaimana?" Chiaki mengecup cuping telinga Crystal.

"Kau pasti memiliki banyak pengalaman."

Chiaki melepaskan penyatuan mereka, menggeser tubuh Crystal menghadap ke arahnya. "Dengan senang hati aku akan membagi pengalamanku padamu."

"Aku tersanjung." Seulas senyum samar tergambar di sudut bibir Crystal. "Terima kasih."

Chiaki tersenyum, ia menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Crytsal. "Apa perlu memanggil Donna untuk memperbaiki riasanmu?"

Crystal menggeleng. "Aku bisa melakukannya sendiri."

"Bagus. Aku akan bersiap, beri aku waktu sepuluh menit."

Sepuluh menit kemudian, Chiaki telah siap. Pria itu mengenakan celana kain dan jas dengan warna senada, gayanya tampak santai karena salah satu kancing kemeja tidak dikancingkan. Rambut gondrongnya disisir rapi ke arah belakang, pemandangan seperti itu membuat wajah Chiaki tampak lebih tampan.

"Kakekku mungkin sedikit cerewet dan menyebalkan, kau harus sabar menghadapinya," ucap Chiaki ketika mereka berdua telah duduk di kursi sebuah helikopter yang terbang di atas bangunan tinggi di Paris.

"Kakekmu?"

"Ya, kakekku. Dia berulang tahun ke tujuh puluh tahun hari ini."

"Kau tidak mengatakan kita pergi ke sana untuk merayakan ulang tahun kakekmu." Crystal melayangkan protesnya.

"Kau tidak suka bertemu kakekku?"

"Bukan begitu," desah Crystal.

"Lalu?"

"Kita tidak membawa hadiah untuk kakekmu."

Chiaki tertawa hingga bahunya terguncang. "Kakekku bukan anak kecil yang menginginkan hadiah."

Crystal memberengut. "Sama sekali tidak lucu."

"Kalau begitu kau saja kuhadiahkan pada kekekku."

Kali ini Crystal membeliak. "Kau...."

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan RATE.

Salam manis dari Cherry yang manis.

🔞

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status