10. Forget it

Forget it

Apa salahnya menerima kebaikan seseorang? Karena tidak semua orang memiliki motif terentu di balik kebaikannya.

Mereka belum melangkah memasuki tempat di mana pesta berlangsung tetapi Crystal telah merasa sangat gugup. Ia berulang kali menghela napasnya untuk mengatasi kegugupan yang ia alami meski hal itu sepertinya tidak banyak membantunya. Dilihat dari banyaknya mobil yang ada di halaman mansion itu, bisa dipastikan jika acara makan malam itu adalah sebuah pesta yang cukup besar. 

Perut Crystal seperti terjungkir balik dan membuatnya merasa sedikit mual hingga ia mendekati Maddie dan melingkarkan lengannya di lengan Maddie seolah ia meminta tolong pada pria itu. 

"Crystal, aku bisa terkena masalah," bisik Maddie yang nadanya terdengar panik meski raut wajahnya menggambarkan ketenangan. 

"Aku sangat gugup." Crystal tidak peduli dengan masalah yang akan Maddie dan dirinya hadapi nanti. 

Yang ia perlukan hanya rasa aman, seseorang yang bisa melindunginya. Dan lagi pula ia berada di Perancis yang berarti ia hanya bisa berbicara dengan orang yang bisa berbahasa Inggris, mungkin hanya ada beberapa orang yang bisa berbahasa Inggris di sana. 

"Kau pengawalku. Jadi, kau harus menjagaku dan melayaniku," ucap Crystal sedikit berbohong demi keamanan dirinya sendiri. 

Maddie justru terkikik. 

"Kenapa tertawa?" 

"Kudengar kau telah resmi sebagai musisi di Strom Studios?" 

Crystal menganggukkan kepalanya. "Ya, meski aku belum menandatangani kontrakku." 

"Aku CEO di sana."

"Hah?" Crystal mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia menjauhkan lengannya dari Maddie. "Tapi...." 

Penampilan Maddie tampak biasa saja, ia bahkan mengenakan pakaian yang mirip dengan bodyguard meski tidak sama persis. Crystal secara spontan mengamati penampilan Maddie. 

"Chiaki, Bajingan itu memintaku mengenakan pakaian bodoh ini." 

Crystal berdehem menutupi rasa canggungnya. 

"Ya, kau dan aku harus bersandiwara selama kau menjalani hubungan dengan Chiaki," ujar Maddie. Ia adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Storm, hingga ia diberi kepercayaan untuk menjadi tameng untuk menjadi kekasih Crystal di depan publik. 

"J-jadi, kau bosku?" tanya Crystal yang didera perasaan tidak nyaman setelah tahu siapa Maddie yang sesungguhnya.

Maddie mengangguk. "Tidak apa-apa, meski aku bosmu, tetap saja kaulah bosku yang sesungguhnya." 

"Maksudmu?" 

"Lupakan, kau lebih baik tenangkan dirimu karena kau akan memainkan biolamu nanti, bukan?" 

Crystal menggigit bibir bawahnya, meski pesta tidak terlalu besar, nyatanya ia tidak bisa untuk menyingkirkan ketakutannya. "Aku.... sepertinya aku perlu pergi ke toilet." 

"Ayo," ucap Maddie sambil melangkah di depan Crystal. 

Mereka berdua berjalan sedikit jauh mengitari bangunan mansion lalu tiba di mana di sana terdapat kolam renang yang sangat luas, di samping kolam renang terdapat taman yang di desain dengan sempurna, beberapa pohon palem yang berjejer rapi di sana di menambahkan kesan mewah. 

Maddie berhenti di depan bangunan kecil yang merupakan ruang ganti sekaligus berbilas. "Aku menunggumu di sini." 

Crystal mengangguk lalu melewati Maddie, ia memasuki bangunan yang meskipun hanya tempat berbilas tetapi interiornya cukup menarik. Dinding dan lantainya terbuat dari marmer didominasi oleh warna hitam dengan gurat-gurat berwarna putih susu, di depan meja wastafel bahkan terdapat lilin aroma terapi dan tanaman hias yang jelas sangat terawat. 

Ia menatap dirinya di dalam cermin, melihat dirinya yang cantik dibalut dengan gaun indah, juga perhiasan yang menempel di telinga dan lehernya yang berharga ribuan dolar. Semua yang ia kenakan adalah pilihan Chiaki, pria itu memiliki selera yang baik seolah memiliki selera yang sama dengannya. 

Seharusnya, mengenakan semua itu membuatnya tampil percaya diri. Tetapi, ia justru semakin merasa gelisah. Ia telah terlalu lama meninggalkan dunia hingar-bingar pesta, sosialita, dan perjamuan. Semua orang tahu jika ia terbuang dari rumahnya sendiri dan tidak memiliki apa-apa. 

Namun, sekarang ia mengenakan semua barang-barang mahal di tubuhnya, bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan? Ia akan semakin dicemooh, dicurigai melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mendapatkan kemewahan.

Crytsal hendak melepaskan anting-anting yang tergantung di telinganya. Tetapi, saat ia menyentuh telinganya, ia seolah mendengar bisikan halus. 

Tidak ada yang salah menjadi simpanan seorang pria, terlebih lagi Chiaki adalah pria lajang. 

Crystal menelan ludah. Benar, Chiaki adalah pria lajang, setidaknya biru informasi yang ia dapatkan dari internet. Tidak ada yang salah. Ia berhak mendapatkan kemewahan ini karena ia memberikan tubuhnya untuk Chiaki, ia tidak mendapatkan semua ini secara cuma-cuma. 

"Crystal...." Suara Maddie membuat Crystal menoleh ke arah pintu. "Kau terlalu lama, ada apa?" Pria itu melangkah mendekati Crystal. 

Crystal menggelengkan kepalanya kemudian menatap dirinya kembali di cermin, tangannya berada di atas meja yang terbuat dari marmer. "Kemunculanku malam ini... pasti akan menggemparkan media besok." 

Maddie memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana kain yang dikenakannya. "Jika kau belum siap untuk itu, kenapa kau menyanggupi untuk datang ke sini?" 

"Aku pikir, hanya makan malam biasa. Bukan pesta semacam ini." 

"Sampai kapan kau ingin bersembunyi?" 

Crystal menundukkan kepalanya. 

"Tidak ada seorang pun di dunia ini yang siap menghadapi kerasnya kehidupan. Tetapi, di sinilah kita berdiri. Kepahitan hidupmu mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan kepahitan yang orang lain hadapi. Di luar sana, Crys, ada banyak orang yang harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mendapat sepotong roti." Maddie berucap dengan sungguh-sungguh. "Kau menutup diri terlalu lama, aku tahu, tidak ada orang yang menutup diri tanpa sebab. Tapi, sampai kapan kau berkubang dalam ketakutan?" 

Crytsal mengangkat kepalanya, ia mundur satu langkah, menghela napasnya dalam-dalam, lalu berjalan mendekati Maddie. Ia menatap mata Maddie seraya berucap dengan lirih. "Maukah kau menjadi temanku?" Meski ia tidak mempercayai siapa pun lagi di dunia ini, tetapi dari kesan pertamanya berbicara dengan Maddie, ia ingin memiliki setidaknya satu teman, dan menurutnya Maddie bisa diandalkan sebagai teman.  Untuk saat ini.

Maddie mengerutkan kedua alisnya cukup dalam. "Kuharap pendengaranku salah." 

Kali ini Crystal yang mengerutkan keningnya. "Aku hanya satu kali menawarkan pertemanan." 

Maddie terkekeh. "Aku akan menerima tawaranmu dengan syarat kau berhasil melalui pesta ini dengan skor sembilan." 

"Hah?" Crystal terbelalak. "Skor?" 

"Skor permainan biolamu." 

Crystal menghela napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan lembut. "Ternyata kau bukan pria kaku seperti sikapmu di depan Chiaki." 

Maddie tersenyum miring, alisnya sedikit terangkat. "Kau tidak mengenal Chiaki." 

"Maksudmu?" 

"Kau akan bersyukur telah mengenalnya, tetapi kau juga harus waspada." Maddie mengusap salah satu alisnya yang tebal. "Lupakan kata-kataku barusan...."

Crytsal menatap Maddie dengan sungguh-sungguh. "Pria seperti apa Chiaki?" 

"Aku ingin melihat permainan biolamu malam ini," Ia mengulurkan satu tangannya tanpa menjawab pertanyaan Crytsal. "Jika kau bisa melewati malam ini dengan baik, aku jamin, kau akan kembali bersinar di atas panggung musik, Cryst." 

Senyum samar mengembang di bibir Crystal, sayangnya senyum itu adalah senyum sinis untuk mengejek dirinya sendiri yang seolah tidak mampu melawan ketakutannya. Tetapi, ia menerima uluran tangan Maddie dan mereka melangkah menjauhi tempat itu menuju tempat pesta berlangsung. 

Crystal Winter, datang bersama seorang pria di perayaan ulang tahun Edgar Storm, pendiri Strom Studios. 

Jelas besok wajahnya akan terpampang di beberapa berita online mengingat saat ia memasuki tempat pesta, hampir semua mata tertuju padanya, dua orang yang membawa kamera bahkan membidikkan blitz ke arahnya dan Maddie membuat Crystal merapatkan jaraknya kepada Maddie dan mau tidak mau Crystal harus bersikap manis dengan berusaha tersenyum, senyum palsu yang setengah mati ia paksakan. 

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tatapan matanya berhenti pada Chiaki yang sedang berdiri bersama seorang gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan. Crystal tahu siapa gadis itu, itu adalah Caren, penyanyi dengan bayaran fantastis yang berada di bawah naungan Storm Studios. 

Tatapannya beradu dengan Chiaki dari kejauhan, pria itu menatapnya dengan sorot mata yang seolah sedang memperingatkan membuatnya buru-buru beringsut untuk menjaga jaraknya dari Maddie, ia tidak ingin berurusan dengan pria yang memiliki sifat seperti angin yang berubah-ubah. 

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan RATE!

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status