12. Punishment

Punishment

Maddie menyerahkan biola di tangannya kepada Crystal, bibir pria itu membentuk sebuah lengkungan senyum sementara tatapannya menyorot seolah sedang meyakinkan Crystal. Crystal menerima biola dari tangan Maddie disertai ucapan terima kasih yang ia ucapkan dengan pelan.

Setelah Maddie dan Edgar turun dari panggung, Crystal berdiri dengan serelaks mungkin, menatap seluruh orang yang ada di depannya lalu tersenyum. Senyum seperti dulu setiap ia akan memainkan biola di atas panggung, setidaknya ia berusaha demikian.

Crystal meletakkan biola di antara dagu dan tulang bahunya, menempel pada lehernya. Jemarinya berada di nada senar G, ia mulai menggeseknya tetapi jauh di dalam benaknya penuh keraguan. Namun, ia berusaha melakukannya sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan Edgar, ia ingin memberikan yang terbaik untuk pria yang sangat ramah itu malam ini.

Bagi orang awam yang tidak mengerti musik klasik, mungkin ia tidak terdengar melakukan kesalahan, tetapi bagi orang yang mengerti betul musik klasik, ia melakukan kesalah pada beberapa nada di awal karena keraguannya. Tetapi, beruntungnya, Tian menolong. Pria itu mulai mengirinya menggunakan piano mengimbanginya memainkan ‘Summer No. 2 in G Minor' hingga dua belas menit berlalu dan lagu berakhir. 

Crystal tersenyum, ia menurunkan biolanya lalu membungkuk memberi hormat kepada semua orang yang mematung di tempatnya menyaksikan penampilannya kemudian setelah gemuruh tepuk tangan selesai, ia beringsut mendekati piano yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dengan tatapan dingin ia menatap Tian lalu berucap, “Terima kasih.” 

Tian hanya melempar senyum ramah ke arah Crystal sambil mengangguk pelan yang nyaris tidak terlihat. Matanya lalu mengiringi Crytsal yang melangkah turun dari panggung disambut oleh Maddie dan kembali bergabung bersama Regan dan Edgar.

Mereka kembali mengobrol beberapa menit sebelum akhirnya Edgar dan Regan memisahkan diri mereka hingga hanya tertinggal Crystal dan Maddie. 

“Aku benar-benar kagum, kau mampu menyelesaikannya dengan baik.” Maddie melirik biola yang telah dimasukkan ke dalam case-nya dan terletak di atas satu kursi di sampingnya.

Crystal tersenyum tipis. “Aku melakukan beberapa kesalahan di nada.” 

Ia berusaha melakukannya dengan baik, mengalahkan semua rasa takutnya menghadapi semua mata yang tertuju padanya. Semua mata yang menatapnya seolah tidak percaya jika Crystal Winter yang menghilang selama beberapa tahun, kini tiba-tiba berada di tengah-tengah panggung dan memainkan biola.

Di samping semua mata yang menatapnya, ia ingin membuktikan kepada Tian jika penghianatan Tian baginya tidak ada artinya, penghianat itu harus tahu jika dirinya tidak tumbang setelah dihancurkan berulang kali. 

“Oh, ya? Aku tidak tahu," ujar Maddie, ia mengerutkan keningnya.

Crytsal menyipitkan matanya menatap Maddie. “Kau seorang CEO ,di perusahaan musik, jangan katakan kau buta nada.”

Maddie bersedekap, ia tersenyum miring. “Crys, aku penikmat seni bukan seniman. Aku tidak perlu belajar nada.” 

Crystal menggeleng. “Payah.” 

“Aku bisa memainkan drum, asal kau tahu.” 

“Aku tidak yakin.”

Maddie terkekeh. “Ya, jangan meyakini sesuatu yang belum kau buktikan dengan matamu sendiri. Tapi, yang jelas aku menyukai musik klasik meski aku tidak mengerti.” 

Kerongkongan Crytsal terasa kering, ia menelan ludah. “Pemain piano itu... apa dia juga berada di bawah naungan studio yang kau pimpin?” 

Tidak mudah menanyakan itu, jika kepada Chiaki, Crystal tentu tidak akan berani bertanya.  Tetapi, kepada Maddie, ia berani menyuarakan pertanyaan yang mengganjal di benaknya.

Maddie melihat ke arah Tian sekilas. “Aku rasa tidak.” 

Crystal berdehem. “Kau tahu, 'kan? Seorang pemain biola memerlukan pemain piano sebagai pengiring. Apa kau tahu siapa pengiringku?” 

“Chiaki tidak mengatakan apa-apa padaku, kenapa?” 

“Kurasa, pianis itu cocok untuk menjadi pengiringku, permainan pianonya sempurna, ia bahkan langsung menolongku tadi saat aku sedang tidak yakin dan melakukan kesalah.” 

Sebuah rencana balas dendam kepada Tian tiba-tiba bercokol di otak Crystal, pria itu pernah berjanji akan mengantarkan dirinya ke puncak kesuksesan. Maka sekarang ia akan menuntutnya. Menjadikannya pengiring lalu menendangnya menjauh saat ia telah mendapatkan semua yang seharusnya menjadi miliknya sebagai ganti atas semua perbuatan yang pernah dilakukan Tian.

“Kau bisa membicarakannya bersama Chiaki,” sahut Maddie.

“Chiaki?" Crystal tertawa hambar. "Kau pasti bercanda. Pria aneh itu... sikap dan sifatnya berubah-ubah.” Ia mendengus.

Maddie mencondongkan tubuhnya ke depan. “Rayu dia, berikan semua yang ia inginkan darimu. Ia pasti akan memberikan apa saja yang kau inginkan.” 

“Apa maksudmu? Aku tidak memiliki apa-apa.”

Itu adalah ucapan spontan dari Crystal tanpa berpikir terlebih dulu, yang terlintas di otaknya hanyalah ia tidak memiliki apa-apa. Seperti itu kenyataannya.

Maddie terkekeh. “Di atas tempat tidur,” ucapnya pelan, tetapi menggoda.

Crystal membeliak, kedua pipinya terasa memanas mengingat di atas tempat tidur bukan Chiaki yang dipuaskan tetapi Chiaki-lah yang memuaskannya hingga ia lupa jika seharusnya ia yang menyenangkan Chiaki.

Maddie tertawa mengejek. “Kenapa kau merona?” 

“Aku tidak!” sahut Crystal cepat dan berdehem. “Tenteng pertemanan yang kutawarkan, bagaimana?” 

Maddie menyandarkan punggungnya ke kursi, ia tersenyum. “Baiklah, kurasa kau pantas berteman denganku.” 

Crystal mencebik. “Kau terlalu sombong, seharusnya aku yang berkata begitu.” 

Maddie tertawa sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Ia memeriksa pesan yang masuk lalu menatap Crystal. “Aku harus mengantarkanmu ke helikopter.” 

“Sebaiknya kita berpamitan pada Edgar,” ujar Crustal sambil bangkit dari duduknya. 

“Biar aku yang menyampaikan pada Edgar, lagi pula pria tua itu mungkin telah berada di kamarnya.” Maddie bangkit sambil meraih case biola dan mencangkingnya. 

Crystal mengedikkan bahunya, ia diam-diam menatap Tian sebelum akhirnya meninggalkan tempat pesta itu. 

“Beri aku kartu namamu,” ucap Crystal ketika mereka tiba hendak memasuki area helipad.

“Untuk apa?” 

“Aku ingin mengirimkan sebuah lagu untukmu, sebagai tanda pertemanan kita.”

“Aku terharu,” ucap Maddie dengan nada tidak terharu, tetapi cenderung mengejek. “Lagu klasik?” 

“Aku akan memainkan lagu yang cocok untukmu.” 

Maddie mengeluarkan ponselnya. “Sebutkan nomor ponselmu.” 

Crystal menyebutkan nomor ponselnya dengan cepat lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, mengecek pesan dari Maddie yang hanya berisi emoticon menjulurkan lidah.

“Omong-omong lagu apa yang akan kau persembahkan untukku?” Maddie mengulurkan biola di tangannya kepada salah satu bodyguard yang berada di depan pintu helikopter. 

Sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya Crystal berujar, “Pirates of the Caribbean.” Ia menyeringai jail ke arah Maddie lalu berbalik dan menaiki tangga helikopter. 

Di dalam helikopter, selain pilot dan co-pilot, hanya ada dirinya. Crystal sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui di mana pria aneh itu. Yang ia pikirkan hanya bagaimana nanti ia menyampaikan kepada Chiaki jika ia menginginkan Tian menjadi pengiringnya di setiap penampilannya, otaknya sibuk memikirkan cara agar ia bisa bersikap natural saat ia berusaha membujuk pria aneh itu. 

Crystal mengira ia akan diantar ke hotel tempat Chiaki tinggal, tetapi ia salah. Ternyata ia kembali ke tempat tinggalnya. Setelah mengganti pakaiannya dengan piama, Crystal mencuci wajahnya lalu menggosok gigi, bersiap-siap untuk tidur. 

Ia terkejut saat baru saja keluar dari kamar mandi karena Chiaki berdiri di kamarnya, pria itu masih mengenakan setelan jas. Kedua tangannya di masukkan ke saku, matanya menatap Crystal dengan tatapan dingin yang mengintimidasi. 

“Chiaki? Kau di sini?” sapa Crystal sambil melangkah mendekati Chiaki. 

Chiaki tidak memberikan respons, tatapan matanya hanya mengikuti Crystal yang semakin dekat padanya. 

“Apa kau akan menginap di sini? Biar kuminta Donna menyiapkan pakaian untukmu.” 

Chiaki menyipitkan kedua matanya lalu berujar, “Bersihkan dirimu.” 

“Hah?” Crystal mengerjapkan kedua matanya seolah ia tidak percaya dengan apa yang Chiaki ucapkan. “Chiaki, ini....” 

“Jangan sampai aku mengulangi perkataanku," potong Chiaki.

Crystal menelan ludah, sepertinya ia memang harus menerima hukuman dari Chiaki karena ia melanggar salah satu aturan pria itu. Ia menghela napasnya kemudian berbalik untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. 

“Apa kau tahu apa kesalahanmu?” Chiaki bersuara dengan nada dingin. 

Crystal berhenti, tanpa menoleh ia menjawab, “Aku meminum sampanye.” Nadanya terdengar jengkel, meski ia berusaha untuk menutupinya, nyatanya nada jengkelnya tidak bisa tersamarkan. 

“Ada banyak kesalahanmu dan kau harus menerima hukuman dariku, aku akan mengajarimu menjadi gadis yang patuh malam ini.” 

Bersambung....

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan rate RATE.

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status