14. Yours

Yours

Sepuluh menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka disusul langkah kaki seseorang memasuki kamar Crystal. Tetapi, Crystal terlalu enggan untuk membuka matanya, ia hanya berpikir jika orang yang memasuki kamarnya adalah Donna.

Crystal merasakan tangannya di raih oleh seseorang, dari rasa tangan yang menyentuh kulitnya jelas bukan tangan Donna, tetapi Chiaki. Pria itu perlahan melepaskan ikatan di tangan Crystal lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Crystal dan sebuah kecupan mendarat di kening Crystal membuat air mata Crystal semakin merangkak keluar dari kelopak matanya.

Pria seperti apa sebenarnya Chiaki? Pria itu terus saja berubah-ubah, ia mengira telah sedikit mengenal Chiaki selama beberapa hari kebersamaan mereka, tetapi nyatanya ia tidak mengenal pria itu. Sedikit pun tidak.

Tepat saat Chiaki beringsut hendak menjauh, Crystal membuka matanya lalu meraih pergelangan tangan Chiaki. "Biarkan aku mengenalmu," ucapnya dengan suara parau nyaris tersangkut di tenggorokan.

Chiaki menyingkirkan rambut di kening Crytsal dengan sangat hati-hati. "Kau akan membenciku jika kau mengenalku lebih dari ini."

Crystal bangkit, ia duduk sambil satu tangannya terus mencengkeram pergelangan tangan Chiaki. "Kau selalu mengatakan jika aku adalah wanitamu, maka biarkan aku mengemalmu." Ia menatap Chiaki dengan sungguh-sungguh.

Chiaki menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya Crystal. "Wanitaku tidak cengeng."

Crystal menggeleng dengan pelan. "Aku tidak cengeng."

Chiaki duduk di tepi tempat tidur. "Tidurlah."

Crystal menatap Chiaki seolah-olah ia takut jika pria itu meninggalkannya. "Aku ingin tidur dalam pelukanmu."

Bibir Chiaki mengulas senyum tipis, ia mengangguk. "Aku akan memelukmu."

Seolah tidak percaya dengan apa yang barusan Chiaki ucapkan, Crystal menatap Chiaki dengan tatapan takjub. Ia mengusap kelopak matanya yang masih sedikit sembab menggunakan punggung tangan kemudian berucap, "Terima kasih."

"Crys," ucap Chiaki ketika mereka telah berada di bawah selimut yang sama. Nada suaranya sangat lembut.

Crystal tidak menyahut dengan menggumam pelan, ia enggan menjauhkan wajahnya dari dada pria yang baru saja membuatnya menangis.

"Kau boleh mengenalku, tapi... ada beberapa hal yang harus kita sepakati."

"Sejak awal, aku telah bersedia menyepakati apa pun."

"Aku ingin kau mengukir namaku di tubuhmu."

Crystal tersenyum diam-diam dari balik dada Chiaki. "Aku akan melakukannya."

"Apa kau tahu konsekuensinya?"

"Namamu akan aku bawa hingga aku mati."

"Itu berarti, kau tidak akan kulepaskan, karena kau akan menjadi kelemahanku."

Cukup berat kedengarannya. Tetapi, ia menginginkan Chiaki. Bukan sekedar mengenal pria itu, ia menginginkan lebih dari itu. Seorang pria yang penyendiri dan penuh misteri, pasti memiliki rahasia besar. Dan untuk hal itu, Crystal tidak ingin mundur. "Aku tahu rasanya dikhianati, aku tidak akan mengkhianati."

"Jika kau mengkhianatiku, Cryst, aku tidak akan segan. Pikirkan kembali, kau masih memiliki jalan untuk mengurungkan niatmu."

Crystal mendongak, ia menatap Chiaki. "Aku sama sekali tidak perlu waktu untuk berpikir ulang."

"Aku ingin hanya aku yang bisa melihat namaku di tubuhmu." Chiaki menatap langsung ke mata Crystal.

Ada sedikit ragu menyelinap di benak Crystal, mungkinkah Chiaki sendiri yang akan menorehkan tato di tubuhnya. "Kau sendiri yang akan membuatnya?"

"Kau tidak percaya padaku?"

Crystal mengulurkan tangannya, ia menyentuh cambang di wajah Chiaki. "Kapan kau akan melakukannya?"

Chiaki tersenyum lembut, ia meraih telapak tangan Crystal lalu mendaratkan bibirnya di bagian dalam telapak tangan Crystal. Sangat lembut, bahkan seolah tidak pernah terjadi apa-apa yang membuat Crystal mengeluarkan air mata beberapa menit yang lalu. "Besok, setelah kau selesai berlatih."

Crystal mengangguk. Ia beringsut sedikit untuk mengecup bibir Chiaki dan berucap, "Selamat malam."

Chiaki sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengecup puncak kepala Crystal. "Selamat malam, Ma Chère." Ia lalu memeluk Crystal dengan perasaan bersalahnya karena telah melewati batas hingga membuat Crystal menangis.

Ia mengutuk dirinya, ia mengutuk kebodohannya yang tidak mampu mengendalikan rasa cemburunya saat Crystal diam-diam mencuri-curi pandang ke arah Tian.

Andai posisinya adalah seorang pengusaha biasa, akan mudah mendapatkan Crystal dan mendeklarasikan bahwa gadis itu miliknya. Tetapi, dengan pekerjaannya, ia tidak ingin membahayakan gadis yang ada di dalam dekapannya karena dunia yang ia geluti bukanlah dunia normal seperti yang tampak di permukaan.

Valerius Collin, ayah dari ibu kandung Chiaki adalah ketua mafia yang paling berbahaya di Italia, sedangkan Edgar Storm, pria itu di permukaan adalah pengusaha di dunia musik Eropa. Tetapi, faktanya pria itu juga pria yang berbahaya, pria itu adalah memimpin dunia hitam di Perancis.

Edgar memiliki banyak club malam dan tempat perjudian di beberapa tempat di Perancis yang cukup ternama, tetapi tidak seorang pun tahu siapa pemilik asli tempat itu selain Chiaki dan ayahnya. Begitu juga Valerius, di Italia, ia adalah pemilik sejumlah klub malam dan tempat perjudian di sana.

Chiaki adalah satu-satunya penerus kerajaan hitam di dua negara, ia adalah calon pemimpin dari dua klan yang bisa dikatakan sangat banyak memiliki musuh yang tidak bisa dianggap remeh.

Crystal tidak tahu apa pun tentang itu, ia tidak tahu jika keluarga Winter memproduksi wine dan sampanye yang dijual kepada keluarga Storm dan keluarga Collin. Bisnis mereka telah berjalan dengan sangat baik secara turun temurun, bahkan saat keluarga Storm mengalami masa sulit, keluarga Winter pernah menolong hingga mereka mampu bangkit kembali.

Atas dasar itulah, saat ia mendengar kabar bahwa orang tua Crystal tewas dalam sebuah kecelakaan, Edgar langsung berpikir untuk melindungi Crystal, satu-satunya keturunan resmi keluarga Winter.

Pria itu menugaskan Chiaki untuk mendapatkan Crystal bagaimanapun caranya mengingat gadis itu masih terlalu muda untuk mengurus hidupnya sendiri. Chiaki tidak keberatan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kakeknya, terlebih lagi, ia tahu betul siapa Crystal. Tetapi, ternyata ia kalah satu langkah, Jack telah mengacaukannya, pria itu telah menyingkirkan Crystal.

Keinginannya sangat kuat untuk memiliki gadis yang mencoba bunuh diri hanya karena seorang pria. Setiap kali ia mengingat Crystal yang dengan bodohnya mencoba bunuh diri karena Tian, dada Chiaki terasa membengkak, darahnya terasa menggelegak.

Ia mencintai Crystal, ia ingin Crystal hanya melihatnya, memikirkannya, bukan memikirkan Tian. Dengan perasaan setengah putus asa, ia kembali mengecup rambut di puncak kepala Crystal. Di dalam benaknya ia bersumpah, bertekad akan melepaskan diri dari dunia hitam, ia akan menikahi Crystal dan hidup sebagai pengusaha normal. Bukan dunia bawah tanah yang kelam berhujan peluru dan darah.

Paginya, Crystal membuka mata dan mendapati Chiaki masih terlelap di sampingnya. Entah perasaan macam apa yang melingkupinya, yang jelas ia merasa sangat bahagia terbangun di dalam pelukan Chiaki. Bibir Crystal tersenyum lebar, ia kemudian menggigit bibir bawahnya sambil matanya menatap bibir tipis Chiaki yang tampak merah dan lembut. Crystal memutuskan untuk kembali memejamkan matanya, ia membenamkan wajahnya di dada Chiaki, menikmati paginya yang menyenangkan.

Setelah beberapa saat ia mencoba memejamkan matanya, faktanya ia sama sekali tidak mendapatkan kantuknya. Crystal berniat meninggalkan tempat tidur, ia beringsut dengan hati-hati agar tidak membangunkan Chiaki.

Namun, pria itu justru mengeratkan lengan yang melingkar di pinggang Crytsal. "Mau ke mana?"

"A-aku ingin membuatkanmu sarapan," jawab Crystal acak, ia mendadak merasa gugup menghadapi Chiaki pagi itu.

Chiaki membuka matanya, ia menatap Crystal yang tampak berantakan pagi itu, tetapi masih terlihat cantik. "Apa kau tidak pernah berkeliling di rumah ini?"

Crystal menggeleng cepat, ia memang tidak pernah keluar dari kamar karena maid selalu mengantarkan kebutuhannya ke dalam kamar.

Chiaki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Dasar, Bodoh, tidak ada dapur di rumah ini."

Crystal mengerjapkan matanya. "Lalu makanan yang ada di rumah ini?"

"Hotel kami menyediakan untukmu," ujar Chiaki sambil memindahkan tubuh Crystal ke atas tubuhnya. "Bagaimana jika kau siapkan hal lain yang lebih menggoda di banding sarapan untukku?"

***

"Keparat kau, Chiaki!" umpat Jack setelah membaca berita pagi itu. Ia membanting iPad di tangannya hingga layar benda itu retak dan tidak berbentuk setelah menghantam lantai yang terbuat dari marmer.

Ma Chere = Sayangku

Bersambung....

Jangan lupa tingalkan jejak komentar dan Rate yah, rate gratis plis 🙄🙄🙄🙄🙄

Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Mersiana Handayani
bagus ceritanya.. nama peran crystal sama kayak di cerita FALLING INTO THE BEAST karya DAASAGATHA disayangi, dr keluarga kaya raya, dicintai oleh pria yg hidupnya penuh bahaya..
goodnovel comment avatar
teman delvin
Next dong kak
goodnovel comment avatar
Sherin Eyin
aku tunggu kelanjutannya lagi cherryyyyyy, semangatt
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status