Hello My Baby
Hello My Baby
Author: Anindya NF
Chapter One | Post It Girl

Tidak menarik dan selalu menjadi orang pesuruh karyawan lain padahal dirinya sudah menjadi pegawai kontrak. Tinggal dua tahun lagi kontraknya hingga ia bisa ditetapkan sebagai karyawan di perusahaan cabang Samudra Group.

"Fotokopi tiga rangkap, kasih ke gue sebelum jam sepuluh!" Reina menilik memastikan bahwa suara itu milik Sera.

Reina hanya bisa menghela napas lalu mengangguk, tidak bisakah mereka melihat dirinya sebagai karyawan biasa walau belum menjadi karyawan tetap?

Ia kemudian beranjak sembari membawa setumpuk kertas, Reina berani bertaruh ada lebih dari seratus lembar. Melihat ke arah jam tangannya apakah cukup setengah jam untuk memfotokopi berkas milik Sera? Ia harus segera sebelum terlambat dan Sera akan marah kepadanya.

Ia tak masalah sebenarnya jika dimintai tolong, tetapi bisakah dengan kalimat yang enak di dengar? Mereka yang butuh tetapi mereka yang semena-mena.

"Yah, keduluan Sera. Re, kalau udah beliin gue kopi ya di sebrang sana." Bagas, laki-laki yang menyebalkan. Apa gunanya OB/OG jika mereka terus menerus menyuruh Reina?

"Iya nanti kalau sempat," balas Reina sembari menuju tempat fotokopi.

"Ck, harus sempat dong. OB lagi ada tugas di ruang direktur dan biasanya lo yang gue suruh buat beli."

Itu kan dulu! - Reina membalas dalam hati.

"Hmm."

"Thanks, Re."

Setelah itu Bagas berlalu, tanpa ambil pusing Reina segera mengerjakan apa yang Sera suruh sebelum nenek lampir itu mengamuk.

Menjadi perantau memang menyusahkan dan penuh tantangan, beruntung ia mendapat sahabat saat masih kuliah dan bekerja di perusahaan yang sama namun divisi yang berbeda. Reina bahkan tinggal bersama dengan sahabatnya, Diah.

Lima menit lagi dan ia telah menyelesaikan fotokopi berkasnya, selanjutnya ia akan menghindar dari Bagas agar tidak disuruh lagi.

Namun, baru saja Reina berdoa agar Bagas tak muncul. Nyatanya Bagas sudah menunggu Reina tiga menit yang lalu di belakang tembok.

"Astaga, Bagas bikin jantungan!"

Beruntung kertasnya tidak berserakan karena ia belum menjadikannya dalam satu klip.

"Sini gue kasih ke Sera, sekarang beliin gue kopi dan ini catetan karena yang lain pada pengen kopi juga."

Reina masih bergeming saat Bagas mengambil alih tumpukan kertas itu dan memberinya post it bertuliskan kopi apa saja yang harus ia beli.

"Uangnya?"

"Ng, pake uang lo dulu. Bye gue tunggu kopinya di tempat gue!"

Melenggang pergi, kali ini Reina harus sabar ekstra setelah tenaga dan kini uang dari gajinya yang tak seberapa selalu habis karena dipaksa membelikan minuman maupun makanan oleh karyawan lain di divisi pemasaran ini.

De' Café di seberang jalan gedung perusahaan tempat Reina bekerja memang sudah menjadi langganan.

Bahkan barista yang menyiapkan kopi sudah hapal apa kesukaan Reina dan Diah. Kadang juga ia ditraktir oleh barista itu saat Reina datang seorang diri dan duduk melamun sembari menatap jalanan.

Beberapa pegawai juga mengenali Reina, istilahnya pelanggan tetap yang setiap minggunya bisa dihitung. Karena ia juga punya kupon beli dua gratis satu tentunya.

"Hei, seperti biasa?"

Reina mengangguk sembari menjatuhkan tangan di meja bar itu. Sembari memberikan secarik kertas pesanan karyawan lain.

"Lagi?"

"Ya, seperti biasa. Aku seperti sapi perah bagi mereka," jawab Reina.

Galang barista itu menggeleng, kenapa Reina tidak melawan mereka? Apakah karena status Reina di perusahaan itu?

"Kenapa nggak dilawan, Rei?" Suara Galang melembut sembari menatap Reina kasihan.

Reina pun menggeleng tak tahu, ia juga bingung bagaimana untuk tidak menuruti mereka, tukang suruh.

"Sudah aku tunggu di meja sana, milikku ku minum di sini saja." Galang mengangguk mengerti.

Nuansa cafe ini sungguh damai, menurut Reina. Semua serba dengan furnitur kayu berkualitas dan hiasan yang simpel cocok untuk melepas penat sejenak sembari berbincang santai.

Menikmati kendaraan yang berlalu lalang dan juga mendengar beberapa orang bercengkrama menceritakan sebuah cerita yang menyenangkan dan juga menyedihkan.

Reina butuh teman untuk mengobrol, tetapi siapa? Diah pasti sibuk dengan divisi keuangan yang sebentar lagi akhir tahun. Divisinya agak longgar karena semua perencanaan akan dirapatkan lagi tahun depan.

Satu minggu sebelum tahun baru, perusahaan mengadakan gathering dan semua karyawan wajib datang karena ini menggunakan akomodasi dari pemilik langsung.

Reina juga sadar diri, ia hanya karyawan kontrak mana mungkin bisa ikut kegiatan gathering itu? Toh ia sudah ada janji dengan teman laki-laki dari aplikasi dating.

"Ini minuman kakak dan pesanannya segera menyusul sepuluh menit lagi." Waiters cantik ini merupakan kekasih Galang, yah, wanita ini yang berbicara sendiri mengenai hubungan mereka berdua.

"Terima kasih, Winda."

Menyesap dinginnya Americano yang dingin membuat beban pikirannya sedikit menghilang.

Reina mengecek ponselnya dan segera membuka aplikasi dating, ia pernah bertemu empat kali dan menyenangkan orangnya. Ia bahkan akan dia ajak menikmati pergantian tahun di hotel yang mewah.

Sama sekaki Reina tidak ada pikiran negatif, ia sudah terbius oleh tutur kata yang bijak dan manis itu.

Tanpa sadar bibir Reina terukir senyum, ia sudah tak sabar dan rencananya mereka akan menginap di hotel selama satu hari satu malam.

Diah tak tahu tentang ini, bisa-bisa heboh dan Diah akan mencegahnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa ia layak dicintai dan dihargai.

Laki-laki bernama Andre inilah salah satunya, tidak terlalu tampan tapi sangat manis jika tersenyum. Lesung pipi pun dengan tubuh yang proporsional, Reina langsung jatuh hati saat pertama kali laki-laki itu berbicara.

.

.

.

T

B

C

Guys! Dankeschön

DMCA.com Protection Status