SURVIVAL LOVE
SURVIVAL LOVE
Author: Jemyadam
BAB 1 JEMY

Jemy adalah gadis keturunan Eropa dan Jawa, ibunya setengah berdarah Polandia dan ayahnya asli pribumi. Menjadi gadis yang cekatan dan ulet sudah menjadi kebiasaan hidupnya sehari-hari sebagai putri seorang jendral TNI. Sejak kecil Jemy sudah sangat mencintai dunia fashion dan bercita-cita sebagai fashion stylish hingga sekarang dia bisa benar-benar bekerja untuk salah satu Fashion Stylist ternama di Hollywood yang banyak menangani artis-artis papan atas. Walaupun sama sekali bukan jenis karir yang bakal membuat orang tuanya berbangga tapi Jemy senang menjalani kehidupannya sekarang. Dia bisa ikut menikmati fashion-fashion terbaik dunia dan bertemu orang-orang keren hampir setiap hari.

Jemy memiliki seorang kakak perempuan bernama Erica, sangat cantik, jenius dan sudah menjadi seorang dokter spesialis bedah.  Erica juga sangat beruntung karena akan dinikahi putra tunggal seorang pengusaha ternama tanah air. Mingu ini Erica akan bertunangan karena itu Jemy dipaksa ibunya untuk pulang ke Indonesia. Jemy sudah hampir terlambat untuk cek-in karena tadi masih harus menangani klien artisnya yang rewel dan juga sempat terjebak macet. Jadilah sampai di bandara dia dalam mood yang sedang sangat tidak sehat, 'plus' harus ikut mual karena pasangan tidak beradap yang berciuman dengan begitu fulgar di depan pintu keberangkatan. Jemy memang singgel dan tidak akan ada yang menciumnya seantusias itu di pintu bandara seperti adegan dalam film, tapi bukan berarti dirinya sedang iri, yang ada ia malah jijik.

Akhirnya Jemy lega setelah masuk di dalam kabin pesawat, dia segera bersandar dengan tenang di tempat duduknya yang lumayan lebar dan nyaman. Dia berharap nanti bisa segera tidur meskipun sebenarnya ia agak kesulitan tidur dalam perjalanan. Tapi gadis itu harus tidur jika tidak ingin muncul di depan kakaknya yang cantik dengan mata panda yang bergelambir dan jelek. Sebagai orang yang sangat perduli dengan fashion tentu hal macam itu bisa lebih mengerikan dari terkena kutukan. Jemy sengaja masih mengenakan kacamata hitam Gucci-nya agar tidak terlihat jelek jika sedang ketiduran.

Jemy memang tidak pernah merasa terlahir secantik Erica yang sempurna, tapi kata sang nenek, gadis banyak tingkah macam dirinya akan lebih sering bahagian. Sejak dulu Jemy ingin mempercayai teori dangkal neneknya itu meskipun belum pernah terbukti nyata karena faktanya dia masih singgel sampai usianya dua puluh empat tahu.

Seorang pemuda tampan dengan perawakan tinggi tegap baru datang dan duduk di sebelah Jemy. Pria itu sama sekali tak menghiraukannya karena langsung sibuk menelepon seseorang dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Jemy langsung mengumpat dalam hati begitu sadar jika pria tampan itu adalah pria yang tadi dia lihat berciuman dengan kekasihnya di depan pintu keberangkatan dan kali ini sedang bicara mesra di telepon dengan kekasihnya yang lain. Jemy pura-pura acuh dan hanya berdoa semoga Tuhan tidak mempertemukannya dengan mahluk seperti itu.

"Hay..., " pria itu malah langsung menyapa begitu dia selesai menutup teleponnya.

"Juga tinggal di LA?"dia juga langsung menebak mengunakan bahasa Indonesia.

Jemy pikir memang kelihatan sekali jika dirinya terlalu pribumi. Walau tingginya hampir seratus delapan puluh senti meter dan bermata coklat, tapi kulitnya tetap kulit pribumi.

"Perkenalkan namaku Adam." Pria itu mengulurkan tangan lebih dulu.

"Jemy." Jemy menyambut uluran tanganya dengan wajar.

Pria tampan itu tersenyum sambil mengenggam tangan Jemy, tidak mau melepaskan.

"Bagaimana jika untuk sebuah makan malam setelah kita kembali ke LA?" Kesannya memang terlalu berani dan terus terang untuk menggoda wanita yang juga baru ikut menyimak pembicaraan mesranya dengan seorang wanita.

"Kapan saja kau sempat, aku tidak keberatan untuk segera mengatur waktu." Bujuk rayu yang sangat manis dan mengesankan.

"Simpan kartu namaku," dia juga lebih dulu memberikan kartu nama. 

Jemy hanya melihat sekilas alamat yang tertera di kartu nama tersebut dan langsung tahu jika itu merupakan kawasan properti elit di mana hanya dihuni kalangan kelas atas super kaya yang sudah tidak perlu repot lagi harus bekerja seumur hidupnya. Jemy akui jika pria itu memang tampan dan wajar jika jadi terlalu percaya diri untuk terang-terangan menggodanya.

Jemy juga kembali memperhatikan penampilan pria di sebelahnya yang jelas memang tidak terlihat seperti pria miskin pembual yang cuma banyak bicara. Semua yang menempel  dari ujung rambut sampai ujung kaki pria itu merupakan barang high class yang  menurutnya   sangat boros untuk standar laki-laki. Walau Jemy juga penggila fashion branded tapi dia tidak pernah menginginkan laki-laki yang sejenis dengan dirinya. Dia  tetap suka laki-laki yang menyukai petualangan yang sesungguhnya bukan cuma sekedar petualangan menjelajahi wanita macam buaya hibrida yang sedang coba menggodanya ini.

Comments (7)
goodnovel comment avatar
Ootbaho
lanjuttttttttt
goodnovel comment avatar
FarikhaSP
Asyik juga ceritanya
goodnovel comment avatar
Nur Cahyani
lanjutttttt
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status