BAB 2 PERTUNANGAN

Sepertinya Jemy sudah terlambat untuk menghadiri acara pertunangan kakaknya karena tadi ada bebera E-mail pekerjaan yang mendadak harus segera dia kirim. Maka beginilah sekarang, dia harus berlarian di lobby hotel mengunakan heels yang lumayan runcing dan tinggi, entah bagaimana dia bisa tidak terjerat ujung gaun dan terjungkal. Kadang wanita memang bisa memiliki bakat yang tidak terduga.

Jemy mengenakan gaun warna emas super glossy ala Versace dengan taburan kristal swarovski dari samping pinggul hingga naik ke garis perutnya yang rata. Jemy tidak berani mengenakan gaun berbelahan tinggi jika harus muncul di depan orang tuanya. Karena itu sangat ajaib dia masih bisa berlari dengan pakaian yang merekat erat seperti itu.

Semua keluarga sedang mengucapkan selamat pada Erica ketika adik perempuannya sendiri baru nampak batang hidungnya. Erica langsung melambai pada Jemy yang sempat terlihat canggung karena datang seorang diri, terlambat, dan masih saja tanpa pasangan. Tapi Erica tetap bersyukur karena selebriti super sibuk itu masih mau meluangkan waktunya untuk pulang. Sejak kecil adik perempuannya memang paling berbeda. Selalu ingin menjadi selebriti terkenal dan harus tampil paling di depan jika sedang berada di atas panggung.

Jemy tersenyum membalas lambaian tangan saudarinya. Erica terlihat cantik seperti biasanya. Erica memang cantik, cantik dalam arti yang sesungguhnya. Tanpa perlu polesan ataupun barang mahal apa pun dia tetap akan terlihat  paling cantik dan mencolok di antara kerumunan. Tak peduli sekaya apapun pria yang akan mendapatkannya nanti dia tetap terlalu beruntung mendapatkan Erica. Selain cantik dan jenius Erica juga dikenal memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Bisa membaur dengan berbagai kalangan  dan pandai membawa diri. Bahkan namanya sudah sering disebut-sebut media sebagai aktivis muda yang brilian. Tak heran jika banyak yang mendukungnya untuk naik ke panggung politik, apa lagi dengan nama besar ayah mereka sebagai seorang Jenderal.

'Tapi apa tidak ada yang salah dengan pria yang sedang berjalan di sampingnya!' nampaknya Jemy baru sadar jika sepetinya pria tampan itu memang tidak asing.

"Kenalkan adik perempuanku yang sering kuceritakan," Erica memperkenalkan mereka bergantian.

Jemy masih cukup santai menyambut uluran tangan Adam Haris sama seperti kemarin dan Jemy yakin jika pria itu juga masih belum hilang ingatan jika juga sempat menggodanya di kabin pesawat.

Sepertinya Adam juga tidak kalah terkejut ketika Jemy sebagai adik Erica. 'Tapi tunggu saja setelah ini!' batin Jemy dalam hati. Walaupun bibirnya masih bisa pura-pura tersenyum begitu manis tapi sungguh cakarnya sedang ingin mencabut ubun-ubun pria brengsek itu.

Erica mengajak Jemy duduk satu meja. Berbincang dan membahas hal sepele mengenai pekerjaan adik perempuannya. Dari seluruh keluarganya, selama ini memang cuma Erica yang selalu bangga dengan apapun pekerjaannya. Walau sebenarnya Jemy sendiri tidak pernah ingin terlalu dibanggakan, apa lagi di depan calon kakak iparnya yang luar brengsek.

Tiba-tiba salah seorang saudara memanggil Erica untuk berpamitan pulang. Erica segera berdiri untuk menghampiri mereka karena memang seperti itu sifat Erica, dia tidak mau orang lain repot karena dirinya. Sementara kakaknya berdiri Jemy langsung mendorong kursi yang tadi di duduki Erica mengunankan ujung kakinya agar Adam tidak ikut berdiri.

Gadis itu langsung tersenyum dingin, sambil mengedikkan alis dan menegakkan punggungnya di sandaran kursi.

"Bagaimana pria sepertimu bisa bertemu dengan saudariku!" tuntut Jemy dengan tatapan yang jelas tidak sedang ingin main-main.

"Senang bertemu lagi denganmu, Adik Ipar," santai Adam justru tak terlalu menanggapi kekesalannya.

"Aku juga melihatmu mencium wanita itu di pintu bandara!" tambah Jemy dan baru kemudian Adam menautkan alisnya untuk memperhatikannya dengan lebih serius.

"Jangan salah paham," Adam buru-buru coba berkelit.

"Bahkan kau juga coba menggodaku setelah itu, jangan pura-pura hilang ingatan!" Jemy merasa tidak ada gunanya basa-basi dengan pria jenis ini.

Adam hanya diam tidak menyangkal, tapi tidak juga merasa bersalah sama sekali. Dia hanya balas menegakkan punggung di sandaran kursi untuk bisa memperhatikan dengan utuh wanita muda di depannya.

"Aku akan mengatakannya pada Erica!"

"Kau tidak akan mengatakan apa-apa." Adam masih sangat percaya diri dan terlalu santai menanggapi gertakan Jemy.

"Aku tidak main-main!" tekan Jemy dengan bibir mulai berdesis.

"Kami baru bertunangan dan kau lihat sendiri saudarimu sedang sangat bahagia, mustahil kau mau merusaknya hanya dengan lelucon macam itu."

"Kau bilang perselingkuhan hanya lelucon!" Jemy langsung melotot.

Berulang kali Jemy hanya tidak habis pikir bagaimana saudarinya bisa bertemu dengan mahluk seperti ini. Brengsek, sombong, dan tidak mau kalah.

"Ini adalah kehidupan nyata bukan Hollywood yang penuh drama.

Anda perlu tahu itu, Nona," kelit Adam."Saudarimu adalah dunia nyataku dan aku bisa membedakan itu, kau tidak perlu khawatir."

"Omong kosong! jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepala pria sepertimu!" Jemy langsung berdiri. "Nikmati dulu pestamu malam ini karena aku tidak pernah main-main dengan ucapanku seperti pria pengecut!"

Jemy benar-benar pergi meninggalkan pesta pertunangan saudarinya tanpa perlu merasa harus berpamitan lagi.

Jemy menyayangi Erica dan tidak akan rela jika sampai saudarinya tertipu dengan mulut manis pria brengsek macam itu.

Pria kaya yang merasa bisa mendapatkan segalanya bisa jauh lebih menyebalkan dari pria mata keranjang yang suka meremas bokong wanita.

Bukannya kembali ke kamar hotelnya, Jemy malah singgah di bar yang berada di loby hotel. Jemy hanya suntuk dan ingin memesan beberapa minuman ringan karena gadis itu memang tidak minum minuman beralkohol. Tak berapa lama seorang pemuda menghampiri tempat duduknya yang kosong.

"Sendirian? " tanya pemuda itu.

Jemy hanya mengedikkan sebenah alis untuk menanggapi dengan santai ketika pria yang mengaku bernama Arya itu ikut duduk di mejanya.

"Sepertinya dari pesta."

"Ya, pertunangan saudariku."Jemy balas memperhatikan pemuda di depannya.

Jemy masih duduk sambil menyilangkan kakinya yang ramping dan jenjang sambil mengetuk-ngetukkan ujung jari di tepi gelas koktail. Benar-benar wanita muda yang terlihat memiliki kepercayan diri ekstra.

"Apa kau adik perempuan Erica? "

Jemy cuma menyunggingkan sedikit senyum miring tapi tidak juga menyangkal.

"Karena kalian mirip."

"Baru kau yang bilang seperti itu!" Jemy cuma mengecapkan bibirnya yang masih semanis koktail.

"Aku sudah lama mengenal Adam."

"Oh, jadi kau temannya."  Jemy sudah hampir muak jika harus mendengar mengenai pria itu lagi.

"Saudarimu sangat beruntung," Arya menambahkan.

"Apa karena dia kaya? " cemooh Jemy terlalu terus terang sampai Arya mengerutkan alis cukup dalam.

"Semua orang pasti juga tahu hal itu, bahkan bar dan kursi yang kita duduki ini juga miliknya." Arya pilih menanggapinya dengan santai baru kemudian ikut menertawakannya.

"Tapi saudarimu juga luar biasa."

Berulang kali Jemy cuma mengedikkan alis untuk kembali membenarkan.

"Kupikir pestanya belum usai apa minuman di sana tidak enak? " canda Arya dan sepertinya Jemy juga mulai suka dengan gaya teman bicaranya.

"Apa kau juga bekerja untuknya?" tanya Jemy.

Arya mengikuti gaya Jemy dengan mengedikan sebelah alis. "Dia membayarku untuk mengurus bar."

Sebenarnya Arya juga sudah tahu jika gadis itu memang tidak suka dengan pestanya dan kabur kemari.

"Kudengar mereka nanti akan mengadakan pesta pernikahannya di luar  negeri?"

"Jika saudariku masih mau menikah dengan berengsek itu!"

"Hai Adik ipar, apa kau sedang membicarakanku?" sarkas Adam yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya tepat ketika Jemy menyebutnya 'brengsek!'

Jemy sendiri masih heran, entah dari mana makhluk itu  bisa tiba-tiba muncul. Jemy langsung melirik Arya yang buru-buru angkat tangan dan mengundurkan diri untuk kabur.

"Maaf, aku hampir lupa jika kursi yang kududuki juga milikmu." Jemy sudah hendak berdiri ketika Adam memaksanya untuk duduk lagi. Pria itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang dia lihat terakhir tadi.

"Kenapa kau kabur dari pesta? " cemooh Jemy untuk mengejek calon kakak iparnya yang sedang terlihat sagat tampan seperti boneka Ken.

"Kau yang mulai lebih dulu!"

"Jangan pikir kau bisa menyuapku!"

"Aku serius dengan Erica, jadi tolong jangan mengacau!"

"Dia saudariku dan kaulah pengacaunya di sini!" Jemy sudah berdiri sambil menggebrak meja. Bahkan jika Adam meminta kursinya Jemy tidak keberatan untuk melempar benda itu ke kepalanya yang sombong.

"Aku tetap akan membongkar skandal perselingkuhan kotormu itu di depan Erica, segera!"

"Kau tidak akan melakukanya!"

"Coba saja hentikan aku jika kau bisa!"

Nampaknya Adam juga baru sadar jika mungkin dirinya sudah mengganggu wanita yang salah. Jelas wanita keras kepala itu bukan jenis yang mudah diatasi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status