Episode 2

Seharian aku tidak memegang handphone,jadi aku enggak kepikiran buat tanya ke teman sekelas lewat chat. Beruntung, aku sempat minta nomor handphone temanku. Aku segera mengubunginya dan bertanya tentang scank monyet-monyet gila dan minuman ngeres.

Alhamdulillah, temanku cepat membalas dan memberitahu kepadaku. Ternyata, snack monyet-monyet gila itu momogi dan minuman ngeres itu marimas. Ya ampun, otakku enggak kepikiran sampai situ. Akupun langsung membeli momogi dan marimas di warung madura. Sialnya, di warung madura tidak ada momogi,adanya nabati sip. Harus beli di mana lagi ini? Sekarang sudah malam. Warung-warung yang ada di sekitar rumahku tidak menyediakan momogi. Kata mamah,besok aku harus ke pasar pagi-pagi sebelum berangkat sekolah.

***

Setelah solat subuh dan mandi, aku dan mamahku pergi ke pasar mencari momogi. Alhamdulillah momoginya ada, tapi aku harus membelinya 1 pack. Enggak apa-apalah sisanya bisa buat nyemil.

Sehabis pulang dari pasar, aku langsung siap-siap pakai seragam dan sarapan. By the way aku masih pakai seragam putih biru. Karena, kata kakak kelas belum resmi menjadi anak sma kalau belum melewati MOS.

Seperti biasa, dari pagi sampai sore kegiatannya itu-itu saja. Cuma yang membedakan adalah penyampaian materi yang di sampaikan oleh guru.

***

Akhirnya, hari ini adalah hari terakhir MOS. Seneng sih,tapi ada sedihnya juga, karena masa-masa MOS adalah masa yang akan menjadi kenangan bersama kakak kelas panitia dan teman-teman lainnya.

Kali ini aku membawa ratu perak, dan aku sudah tahu kalau itu adalah silver queen. Silver queen itukan ada yang ukuran kecil sampai besar yang iklannya katanya bisa di bagi-bagi. Saat aku beli di Alfamart, aku bingung mau beli ukuran yang mana. Di catatan aku, tidak tertulis ukurannya. Tadinya, aku mau beli yang besar. Tapi pas aku lihat,harganya mahal. Sayang uangnya, kalau mau beli yang besar. Karena,aku belum pernah makan silverqueen. Yang kecil aja belum pernah apalagi yang besar. Lalu, aku pilih harga yang paling murah. Namun setelah dilihat,ukurannya kecil banget. Akhirnya, aku beli yang ukuran sedang. Itu juga harganya lumayan mahal bagi aku.

Selain membawa silverqueen, aku juga di suruh bawa kado yang harganya lima belas ribu. Aku bingung, kira-kira mau beli kado apaan. Karena beli kadonya pakai uang mamah, jadi aku inisiatif nanya sama mamah.

"Mah! Beli kado yang harga lima belas ribu,kira-kira apa ya?"tanyaku pada mamah.

"Sendal jepiit swallow harganya lima belas ribu,"jawab mamah sambil tertawa.

"Masa sendal jepit lagi? Kan udah waktu SD,"ucapku mengingatkan mamah.

"Ya enggak apa-apa. Nanti juga orangnya enggak bakal tahu kalau kamu yang ngasih,"kata mamah.

"Beda, waktu itu tukar kado. Kalau sekarang aku yang kasih langsung kadonya," kataku.

"Ya udah, terserah kamu mau beli apa. Ini uangnya!" Mamah memberikanku uang untuk beli kado.

Flashback On

Dulu waktu aku kelas 6 SD, ada acara tukar kado di sekolah. Aku lupa,kalau besoknya itu harus membawa kado yang harganya sepuluh ribu. Karena aku baru ingatnya malam, jadi mamahku menyarankan untuk membeli sandal jepit swallow. Aku menolak ide mamah,tapi akhirnya aku setuju juga,karena bingung mau beli apa. Dan ternyata harga sandal jepit swallow lebih dari sepuluh ribu. 

Pas besoknya, ternyata ada yang kadonya lontong,ada yang ciki taro dan lain-lainnya. Aku enggak kepikiran untuk beli kado makanan. Karena aku ingin kado yang aku berikan itu terkesan. Meskipun kalau dipikir-pikir bisa juga sih makanan, biar enggak bingung.

Lalu,teman yang mendapatkan kado dari aku tertawa melihat isinya sandal jepit swallow. Aku hanya melihat dari jauh,karena aku malu kalau dia tahu bahwa itu kado dari aku.

Flashback Off

Sekarang aku memilih untuk membeli kado sebuah buku diary. Agar kakak kelas yang menerim kado ini bisa ingat aku terus. Biasanya kan diary itu di simpan baik-baik. Tapi,kalau memang tidak terkesan juga tidak apa-apa sih yang penting tugasku hanya ngasih kado saja.

***

Aku dipersilahkan untuk memberikan kado ke kakak kelas yang aku suka. Sebenarnya semuanya baik-baik tapi aku harus memilih satu, karena kadonya cuma satu. Dan aku juga di suruh memberikan silver queennya juga. Ternyata aja juga bawa silverqueen ukuran kecil. Wah tadi aku beli yang kecil aja ya, tapi malu juga kalau bawa yang kecil.

Semua peserta MOS dan kakak kelas bergembira setelah upacara penutupan MOS. Kakak kelas yang tadinya galak sudah pada sadar semua.

***

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswa SMA. Aku udah enggak sabar memakai seragam dan sepatu baru. Aku bangun pagi-pagi sekali dari hari biasanya.Setelah memakai seragam,aku langsung memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh mamahku. Aku ingin berangkat pagi-pagi untuk mencari tempat duduk agar tidak duduk di belakang. Bahkan katanya, ada yang rela berangkat ke sekolah habis subuh agar bisa dapat tempat duduk yang di depan. Aku sih tidak ingin duduk di paling depan banget,setidaknya di tengah-tengah saja.

Tetanggaku ada yang satu sekolah juga denganku, dia sudah kelas sebelas. Aku memutuskan untuk berangkat bersama-sama. Aku nyamper ke rumahnya ternyata dia belum siap padahal sudah hampir setengah tujuh. Setelah menunggu beberapa menit, kitapun berangkat. Saat sedang berjalan menuju jalan raya untuk naik angkot,tiba-tiba turun hujan deras sekali. Kitapun berteduh di salah satu teras rumah orang karena tidak membawa jas hujan ataupun payung. Beberapa menit kemudian,ibu dari temanku datang membawa payung. Dengan terpaksa, kami menerobos hujan yang masih deras karena sudah hampir jam 7. Meskipun memakai payung, baju kami tetap basah dan juga sepatu yang basah karena jalanan banjir.

Setelah sampai di jalan raya,kami langsung naik angkot yang desak-desakan. Enggak nyaman sih sebenarnya,tapi daripada kami kehujanan dan enggak nyampe-nyampe di sekolah lebih baik masuk angkot aja. Kebetulan jarak ke sekolahku tidak terlalu jauh mungkin cuma butuh 10 menit tapi karena hujan dan macet sampai 20 menit.

Pas sudah sampai di sekolah, hujannya sudah mulai reda meskipun masih rintik-rintik kecil. Gila! Hari pertama sekolah aku sampai di sekolah jam setengah 8. Tapi, tidak hanya kami saja yang datang terlambat. Beberapa murid yang lainnya juga datang bersamaan denganku dan mungkin ada lebih telat lagi. Namun sekolah memaklumi kondisi ini, gurunya juga pada terlambat.

Aku pikir teman-teman sekelasku juga mungkin banyak yang belum datang. Aku melewati kelas sebelas dan dua belas masih sepi dan banyak yang baru datang. Hingga aku sampai di kelasku, aku masuk dan memberi salam. Lalu aku melongo.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status