Episode 4

Aku tertidur,karena mata sudah ngantuk dan tidak ingat siapa nama temanku yang bijak di sekolah. Mungkin, besok aku akan mencoba mencari tahu namanya. Tapi, aku tidak bertanya langsung sama orangnya ya,karena malu kalau kenalan sama laki-laki. Nanti aku akan diam-diam mendengar orang lain memanggilnya.

Bangun tidur ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku pakai baju,lalu membersihkan tempat tidurku. Bantal guling aku tidak bau pesing ya,karena aku tidak ngompol.

Sepiring sarapan sudah aku habiskan dengan lahap. Aku segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat lagi. Pagi ini tidak hujan seperti kemarin. Alhamdulillah aku bisa datang awal waktu di sekolah.

Suasana di kelas sudah tidak mengheningkan cipta lagi. Beberapa orang ada yang mencoba berkenalan dengan teman-teman yang duduknya dekat dengan mereka. Begitu juga teman yang ada di depanku, mereka mengajak aku dan Sasya berkenalan.

"Hai! Nama kamu Hani kan?"tanya teman yang ada di depan tempat dudukku. Pasti karena kejadian kemarin dia jadi ingat namaku.

"Iya betul,kamu siapa?"jawabku membenarkan dan bertanya balik.

"Namaku Santi. Kalau kamu siapa?"jawab Santi dan bertanya menunjuk ke Sasya.

"Aku Sasya." Sasya tersenyum.

Santi duduk semeja dengan laki-laki, namanya Andre. Selain berkenalan dengan mereka,aku juga berkenalan dengan teman yang ada di bagian kanan & kiriku. Ada juga teman yang duduknya jauh dari tempat dudukku,dia datang ke tempatku untuk berkenalan.

Beberapa teman yang lain berkeliling tempat untuk berkenalan. Sedangkan aku dan Sasya memilih untuk diam di tempat duduk. 

"Sya! Yang lain pada muter-muter kenalan,kita enggak ikut muter juga?"tanyaku pada Sasya.

"Udah enggak usah! Biarin mereka saja yang ke sini,capek muter-muter. Kalau enggak ke sini juga enggak papa. Nanti juga kenal sendiri. Haha!" Sasya tertawa dengan ucapanya sendiri. Akupun mengikuti saran Sasya,meskipun ada beberapa orang yang belum sempat berkenalan.

Sejak hari pertama,Sasya memang orangnya kocak. Tapi,kocaknya tidak di depan umum hanya di depan orang yang dia kenal saja.

***

Bel berbunyi,menandakan waktu pulang. Aku bersiap-siap memasukan alat tulis ke dalam tas. Setelah baca doa pulang, aku dan Sasya berjalan bersama menuju gerbang. Sayangnya,kami tidak bisa naik angkot yang sama. Karena, rumah kami berbeda arah. Aku ke arah utara Sasya ke arah selatan. Kamipun berpisah di depan gerbang.

Aku menunggu angkot cukup lama. Angkotnya rata-rata penuh semua sampai berdesak-desakan. Setelah kakiku pegal berdiri,ada angkot kosong yang muncul. Aku langsung bergegas naik sebelum penuh lagi. Ketika aku sudah di dalam angkot,lalu ada teman kelasku yang naik di angkot yang sama.

"Hani! Kamu turun di mana?"tanya teman sekelasku itu yang aku sendiri belum tahu namanya,karena tadi belum berkenalan. Tapi,lagi-lagi dia sudah tahu nama aku pasti gara-gara kemarin.

"Aku turun di jalan pertiwi." Aku menjawab, tapi tidak bertanya balik karena sudah mau sampai.

"Kiri! Kiri! Aku duluan ya," pamitku pada temanku yang masih di dalam angkot.

Temanku mengangguk dan aku segera turun dari angkot. Aku pikir-pikir,mungkin aku harus kenalan sama temanku yang tadi di angkot,agar bisa pulang naik angkot bareng-bareng.

Ketika mau tidur,aku teringat kembali teman yang bijak itu. Tadi aku belum sempat kenalan sama dia,karena tempat duduknya agak jauh dari tempat dudukku. Dia juga tidak berkeliling untuk kenalan.

***

Selama satu minggu, belum ada kegiatan pembelajaran. Karena,setiap guru yang masuk kelas hanya menjelaskan tata tertib dan berkenalan. Satu hari aku bisa memperkenalkan diri sebanyak 4 sampai 5 kali di kelas. Guru yang masuk,selalu meminta untuk perkenalan. Lama-kelamaan selain hafal nama teman tapi juga hafal alamat dan hobinya. Hahaha!

Weekend minggu ini,aku memilih untuk ikut mamah ke pasar. Aku senang sekali jika ikut mamah ke pasar. Karena sehabis belanja, mamahku suka mengajakku makan bakso. Bakso adalah makan favoritku. 

Setelah pulang dari pasar,aku membantu mamah beres-beres rumah dan memasak. Meski mamah bisa melakukannya sendiri,tapi beliau selalu memgajarkanku beres-beres dan memasak. Karena,suatu saat nanti akupun akan menjadi istri dan ibu seperti mamah sekarang. Kalau aku sudah belajar sedikit-sedikit dari sekarang,nanti pada saatnya aku sudah bisa melakukannya sendiri tanpa butuh asisten rumah tangga. Karena,kita tidak tahu kedepannya kehidupan kita akan seperti apa, hanya Allah SWT yang maha mengetahui.

***

Hari ini hari senin lagi,tidak terasa satu minggu telah berlalu. Ini adalah hari pertama aku ikut upacara bendera di sekolah. Karena,senin kemaren hujan,jadi upacara ditiadakan.

Semua siswa berbaris berdasarkan kelasnya masing-masing. Aku terpesona dengan petugas upacara yang sangat rapi dan berwibawa. Tak lupa,kepala sekolah memberikan pidato sekaligus menyambut siswa-siswi baru.

Upacara selesai,peserta upacara bubar barisan. Untuk menuju kelas,harus jalan berdesak-desak. Kebetulan aku dan Sasya melewati kantin dan melihat banyak kakak kelas yang sedang membeli sesuatu di kantin.

"Hani! Beli minum dulu yuk! Haus nih,"kata Sasya sambil memegang lehernya.

"Ayo!" Aku menyetujui ajakan Sasya dan pergi ke kantin dulu.

Kantinya penuh banget,mengantrinya cukup  lama. Beberapa menit kemudian antrian sudah mulai sedikit, aku dan Sasya bisa langsung memesan minuman.

Minuman sudah di pesan,lalu kami duduk di kantin. Baru saja satu tegukan,tiba-tiba kakak kelas yang masih di kantin pada berlarian meninggalkan kantin. Aku dan Sasya bingung ada apa. Sekilas aku dengar kakak kelas berbisik 'ada bu Rini ada bu Rini' loh memangnya kenapa kalau ada guru? Bukannya boleh ya jajan di kantin setelah upacara? Tadi saja banyak yang ke kantin,cuma sekarang tinggal sedikit sih. Dan tiba-tiba bu Rini nongol dan teriak-teriak,'masuk kelas!! Suruh siapa jajan di kantin?! Ini bukan waktunya istirahat!! Masuk!!' aku dan Sasya segera pergi dari kantin dan meninggalkan minuman yang baru diminum satu teguk.

Ya Allah! Bagaimana nasib minumanku yang baru satu teguk aku minum? Apakah nanti pas istirahat masih ada atau sudah dibuang sama petugas kantin? Kalau di buang sayang banget! Tadi aku buru-buru pergi,karena enggak mau kena marah sama bu Rini.

Aku kira boleh jajan di kantin setelah upacara,ternyata itu ilegal. Ternyata mengikuti kakak kelas ke kantin sehabis upacara itu sesat guys. Aku tidak mau coba-coba lagi!

Saat aku dan Sasya sudah mau sampai di kelas,terlihat dari jendela sudah ada guru yang masuk.

"Eh! Ada guru!" Aku kaget melihat setelah melihat dari jendela.

"Waduh! Bagaimana ini? Kita masuk enggak? Kalau masuk malu tahu,nanti kalau ditanya kita habis darimana jawab apa? Masa mau bilang'habis dari kantin'? Sasya nyerocos sampai bikin aku makin panik.

Kami berdiri di depan pintu kelas,beruntungnya pintu kelasnya tertutup. Beberapa menit kami berdiri untuk memutuskan 'masuk atau tidak'. Kalau masuk, malu banget. Kalau enggak masuk kita bisa berdiri 2 jam sampai selesai pelajaran. Aduh! Dilema banget!

Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat bu Rini jalan menuju ke arah kelasku. Tanpa basa-basi aku langsung membuka pintu kelas dan mengucapkan salam.

"Wa'alaikumusalam. Kamu habis dari mana?"

"Habis dari kamar mandi,Bu,"bohongku. Suaraku bergetar saat berbicara. Jatungku berdetak kencang sekali,khawatir gurunya marah.

Aku dan Sasya menunduk malu. Alhamdulillah gurunya langsung mempersilakan kami untuk duduk. Lega sekali rasanya bisa langsung duduk!

Mataku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Gila! Hanya aku dan Sasya saja yang ke kantin dan tidak ada di kelas. Semuanya sudah siap dan duduk di tempat masing-masing. Untuk ke sekian kalinya aku mempermalukan diri di depan teman kelas.

Setelah jam pelajaran pertama selesai,aku dan teman-teman menunggu guru selanjutnya sambil mengobrol. 

"Han! Kamu berani banget bohong sama guru,"kata Sasya bikin aku kesal,karena tadi dia diam saja. Malah sekarang bicara seperti itu sama aku. 

"Terus kenapa tidak kamu saja tadi yang jawab? Memangnya kamu mau jawab apa tadi? Kalau aku enggak jawab kamu juga tetap diem aja kan? Ya sudah aku berbohong,agar kita enggak dimarahin. Untungnya selamatkan kita?"jawabku dengan nada kesal. Sasya diam saja melihat aku sedikit tinggi nadanya.

Santi yang mendengar percakapan kami, dia ikut berbicara juga.

"Kalian dari mana sih? Kok lama banget masuk kelas,"tanya Santi membalikan badannya ke arah aku dan Sasya.

"Tadi kita habis dari kantin,"jawab jujurku pada Santi.

"Eh! Memang boleh ke kantin ya?" Ini lagi Santi! Malah bertanya seperti itu. Jelas-jelas gara-gara ke kantin aku dan Sasya jadi terlambat masuk kelas,berarti kan waktunya belajar bukan istirahat.

"Tadinya kita pikir boleh,karena tadi banyak kakak kelas yang jajan setelah upacara. Tiba-tiba ada bu Rini datang,terus kita disuruh masuk kelas,"jelas Sasya kepada Santi memperagakan ekspresi tegangku saat ada bu Rini di kantin.

"Aku juga tadi sempat mau ke kantin dulu. Tapi enggak jadi. Aku takut kalau bukan waktu istirahat,"kata Santi.

Beberapa teman yang lainnya juga antusias mendengar cerita aku dan Sasya. Mereka berkumpul di tempatku,karena penasaran. Saat sedang asyik bercerita,tiba-tiba bu Rini datang. Waduh! Mau apa bu Rini ke kelas? Jangan-jangan mau menghukum aku dan Sasya! Aku deg-degan dan panik.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status